جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah taman-taman Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya. Itu bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًاjazaa'uhum 'inda rabbihim jannaatu 'adnin tajrii min tahtihaa l-anhaaru khaalidiina fiihaa abadanbalasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah taman-taman Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya selama-lamanya
- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُradhiya llaahu 'anhum wa-radhuu 'anhu dzaalika li-man khasyiya rabbahuAllah rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya, itu bagi orang yang takut kepada Tuhannya
Terjemahan per kata (21 kata)
- جَزَاؤُهُمْjazaa'uhumbalasan mereka
- عِنْدَ'indadi sisi
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- جَنَّاتُjannaatutaman-taman
- عَدْنٍ'adninAdn
- تَجْرِيtajriimengalir
- مِنْmindari
- تَحْتِهَاtahtihaabawahnya
- الْأَنْهَارُl-anhaarusungai-sungai
- خَالِدِينَkhaalidiinakekal
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- أَبَدًاabadanselamanya
- رَضِيَradhiyarida
- اللَّهُllaahuAllah
- عَنْهُمْ'anhumdari mereka
- وَرَضُواwa-radhuudan mereka rida
- عَنْهُ'anhudarinya
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- لِمَنْli-manbagi orang yang
- خَشِيَkhasyiyatakut
- رَبَّهُrabbahuTuhannya
Inti bacaan
Hubungan timbal balik yang harmonis sebagai penutup: 'Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya. Itu bagi orang yang takut kepada Tuhannya', gambaran puncak relasi yang saling memuaskan, hasil dari kesadaran spiritual yang konsisten (rasa takut yang produktif).
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (جَنَّاتُ عَدْنٍ, jannaatu 'adnin) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 13:23, 16:31, 18:31, 20:76, 35:33, dan 98:8. Jadi ia rangkaian yang sudah dikenal dan bukan susunan yang khas bagi surah ini, dan yang khas justru apa yang menyusulnya.
Rangkaian (رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ, radhiya llaahu 'anhum wa-radhuu 'anhu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:119, 9:100, 58:22, dan 98:8. Susunannya berbentuk timbal balik: Yang memberi rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya. Jadi yang dinyatakan bukan satu arah melainkan dua arah yang bertemu.
Akar (رَضِيَ, radhiya) berarti rela menerima, akar yang sama dengan kata kerja di 93:5 dan kata sifat di 101:7. Di 93:5 yang rida orangnya sesudah diberi, dan di 101:7 yang rida kehidupannya. Jadi tiga surah memakai satu akar untuk tiga kedudukan yang berbeda: keadaan orangnya, keadaan kehidupannya, dan hubungan timbal balik antara hamba dan Tuhannya.
Rangkaian (خَشِيَ رَبَّهُ, khasyiya rabbahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti takut yang bercampur hormat. Ia dipakai di 40 ayat, dan artinya takut yang disertai pengetahuan tentang siapa yang ditakuti, bukan takut yang datang dari ketidaktahuan. Jadi yang disebut di ujung ayat ini bukan ketakutan yang membuat orang lari, melainkan yang membuat orang berhati-hati.
Susunan penutup surah ini juga patut dicatat. Ayat ini menutup dengan menyebut satu syarat, yaitu bagi orang yang takut kepada Tuhannya, sesudah menyebutkan seluruh balasannya. Jadi yang disebut lebih dulu apa yang diberikan, dan syaratnya menyusul di kata-kata terakhir. Urutan itu bisa saja dibalik, dan tidak dibalik.
Rangkaian (خَشِيَ رَبَّهُ, khasyiya rabbahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti takut yang bercampur hormat. Ia dipakai di 40 ayat, dan artinya takut yang disertai pengetahuan tentang siapa yang ditakuti, bukan takut yang datang dari ketidaktahuan. Jadi yang disebut di ujung ayat ini bukan ketakutan yang membuat orang lari, melainkan yang membuat orang berhati-hati terhadap apa yang dikerjakannya.
Yang disebut sebagai syarat cuma satu hal, padahal 98:5 menyebut tiga hal dan 98:7 menyebut dua hal. Jadi Al-Qur'an menutup surah ini dengan syarat yang paling pendek dari ketiganya, dan syarat itu menyangkut hubungan batin, bukan perbuatan yang terlihat. Yang terakhir disebut yang paling tidak bisa diperiksa orang lain, dan justru itu yang dijadikan penutup. Yang paling pendek justru yang paling tidak bisa diperiksa siapa pun selain dirinya. Yang paling pendek justru yang paling tidak bisa diperiksa siapa pun selain dirinya.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menyebutkan balasan bagi golongan yang disebut di 98:7, dan rangkaian yang menyebut tamannya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 13:23, 16:31, 18:31, 20:76, 35:33, dan 98:8. Jadi ia rangkaian yang sudah dikenal, dan yang khas justru apa yang menyusulnya.
Rangkaian yang menyebut rida muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:119, 9:100, 58:22, dan 98:8. Susunannya berbentuk timbal balik: Yang memberi rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya. Jadi yang dinyatakan bukan satu arah melainkan dua arah yang bertemu, dan susunan timbal balik semacam itu jarang dipakai untuk hubungan antara hamba dan Tuhannya.
Akar kata rida itu sama dengan akar kata kerja di 93:5 dan kata sifat di 101:7. Di 93:5 yang rida orangnya sesudah diberi, dan di 101:7 yang rida kehidupannya. Jadi tiga surah memakai satu akar untuk tiga kedudukan yang berbeda, dan yang di sini paling penuh sebab ia memuat kedua arahnya sekaligus.
Susunan penutupnya juga patut dicatat. Ayat ini menutup dengan menyebut satu syarat, yaitu bagi orang yang takut kepada Tuhannya, sesudah menyebutkan seluruh balasannya. Jadi yang disebut lebih dulu apa yang diberikan, dan syaratnya menyusul di kata-kata terakhir. Urutan itu bisa saja dibalik, dan tidak dibalik.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian yang menyebut rida muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:119, 9:100, 58:22, dan 98:8. Susunannya berbentuk timbal balik: Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya. Jadi yang dinyatakan bukan satu arah melainkan dua arah yang bertemu, dan susunan timbal balik semacam itu jarang dipakai untuk hubungan antara hamba dan Tuhannya. Menyebut kedua arah itu di satu kalimat menutup pembacaan bahwa hubungan ini sepihak. Yang satu rida terhadap yang lain, dan yang lain rida terhadap-Nya. Dari dua kata itu, yang lebih mengejutkan tentu yang pertama, sebab tidak ada kewajiban apa pun yang membuat-Nya perlu rida terhadap siapa pun.
- Akar kata rida di ayat ini sama dengan akar kata kerja di 93:5 dan kata sifat di 101:7. Di 93:5 yang rida orangnya sesudah diberi Allah, dan di 101:7 yang rida kehidupannya. Jadi tiga surah memakai satu akar untuk tiga kedudukan yang berbeda, dan yang di sini paling penuh sebab ia memuat kedua arahnya sekaligus.
- Rangkaian yang menutup ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 40 ayat. Artinya takut yang disertai pengetahuan tentang siapa yang ditakuti, bukan takut yang datang dari ketidaktahuan. Jadi yang disebut Allah di ujung ayat ini bukan ketakutan yang membuat orang lari, melainkan yang membuat orang berhati-hati terhadap apa yang dikerjakannya.
- Ayat ini menutup dengan menyebut satu syarat, yaitu bagi orang yang takut kepada Tuhannya, sesudah menyebutkan seluruh balasannya. Jadi yang disebut lebih dulu apa yang diberikan, dan syaratnya menyusul di kata-kata terakhir. Urutan itu bisa saja dibalik, dan Allah tidak membaliknya. Yang mendengar janjinya lebih dulu menerima syaratnya dengan cara yang berbeda. Menaruh syaratnya di belakang, sesudah seluruh balasan disebutkan, mengubah nada kalimatnya. Pembaca lebih dahulu mendengar apa yang disediakan, baru kemudian mendengar untuk siapa. Kalau urutannya dibalik, kalimatnya akan terbaca seperti seleksi. Dengan urutan ini ia terbaca seperti undangan yang keterangannya menyusul.
- Rangkaian yang menyebut tamannya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 13:23, 16:31, 18:31, 20:76, 35:33, dan 98:8. Jadi ia rangkaian yang sudah dikenal dan bukan susunan yang khas bagi surah ini. Yang khas justru apa yang menyusulnya, yaitu rida yang timbal balik. Apa yang lebih berharga bagi seseorang: tempat yang dijanjikan, atau diridai oleh Yang menjanjikannya?
- Yang disebut sebagai syarat cuma satu hal, yaitu takut kepada Tuhannya. Padahal 98:5 menyebut tiga hal dan 98:7 menyebut dua hal. Jadi Allah menutup surah ini dengan syarat yang paling pendek dari ketiganya, dan syarat itu menyangkut hubungan batin, bukan perbuatan yang terlihat. Yang terakhir disebut yang paling tidak bisa diperiksa orang lain. Yang terakhir disebut justru yang paling tidak bisa diperiksa oleh orang lain. Satu syarat jauh lebih sulit dipenuhi daripada daftar panjang, dan itu bukan kelakar. Daftar bisa dikerjakan satu per satu sampai selesai, dan orangnya tahu kapan ia sudah sampai di ujung. Satu keadaan batin tidak punya ujung yang bisa ditandai, sehingga tidak ada hari ketika seseorang boleh berhenti memeriksanya.