بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

Apabila bumi diguncang dengan guncangannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَاidzaa zulzilati l-ardhu zilzaalahaaapabila bumi diguncang dengan guncangannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. زُلْزِلَتِzulzilatidiguncangkan
  3. الْأَرْضُl-ardhubumi
  4. زِلْزَالَهَاzilzaalahaaguncangannya

Inti bacaan

Pembukaan Az-Zalzalah dengan momen guncangan dahsyat: 'apabila bumi diguncang dengan guncangannya', penanda peristiwa besar yang mengawali rangkaian transformasi kosmik.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Ayat ini memakai akar yang sama dua kali berturut-turut, yaitu pada kata kerja (زُلْزِلَتِ, zulzilati) dan pada kata benda (زِلْزَالَهَا, zilzaalahaa). Keduanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akar yang berarti mengguncang itu berhuruf empat, yang jarang di dalam bahasa Arab, dan ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 2:214, 22:1, 33:11, dan ayat ini. Di 22:1 tertulis (إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ, inna zalzalata s-saa'ati), sesungguhnya guncangan hari Kiamat, dan di 2:214 serta 33:11 akar itu dipakai untuk orang beriman yang diguncang sebagai ujian.

Susunan yang mengulang (زُلْزِلَتِ, zulzilati) sebagai (زِلْزَالَهَا, zilzaalahaa) dipakai di dalam bahasa Arab untuk menegaskan, dan ia berbeda dari sekadar menambahkan kata sifat. Bahasa Indonesia menahannya dengan "diguncang dengan guncangannya", memakai perulangan yang sama untuk menahan penegasan yang sama. Menerjemahkannya menjadi "diguncang dahsyat" akan mengganti penegasan Arabnya dengan kata sifat yang tidak ada di dalamnya.

Kata (زِلْزَالَهَا, zilzaalahaa) memuat kata ganti kepemilikan: guncangannya sendiri, bukan guncangan mana pun. Jadi yang disebut bukan guncangan yang datang dari luar melainkan guncangan yang memang menjadi miliknya. Kepemilikan itu muncul lagi di 99:2 pada (أَثْقَالَهَا, atsqaalahaa) dan di 99:4 pada (أَخْبَارَهَا, akhbaarahaa). Tiga ayat pertama surah ini karena itu seluruhnya tentang apa yang menjadi milik bumi sendiri.

Bentuk (زُلْزِلَتِ, zulzilati) pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang mengguncangnya. Pelakunya baru muncul di 99:5, empat ayat kemudian, dan itu pun disebut sebagai Yang mewahyukan, bukan sebagai Yang mengguncang. Jadi seluruh gambaran di empat ayat pertama berjalan tanpa satu pun pelaku yang dinamai, dan pembacanya menunggu sampai lebih dari separuh surah untuk mengetahui siapa di baliknya.

Kata (إِذَا, idzaa) yang membuka ayat ini menandai waktu yang pasti datang, bukan pengandaian yang belum tentu terjadi. Bahasa Arab punya kata lain untuk yang belum tentu, dan Allah tidak memakai kata itu di sini. Jadi yang dibicarakan bukan kemungkinan melainkan kepastian yang belum sampai waktunya, dan seluruh surah ini berdiri di atas kepastian itu tanpa sekali pun menawar.

Yang dipilih sebagai pembuka juga menerangkan. Yang diguncang bumi, yaitu benda yang paling dipakai manusia sebagai ukuran ketetapan. Orang menyebut sesuatu kokoh bila ia sekokoh bumi, dan menyebut sesuatu pasti bila ia sepasti tanah yang dipijak. Ketika yang dipakai mengukur ketetapan ternyata bergerak, tidak ada lagi yang tersisa untuk dijadikan pegangan.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan gambaran guncangan dahsyat bumi pada Hari Kiamat, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa satu akar dipakai dua kali di dalam satu ayat pendek. Kata kerjanya dan kata bendanya berasal dari akar yang sama, dan masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akar itu berhuruf empat, yang jarang di dalam bahasa Arab, dan ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 2:214, 22:1, 33:11, dan ayat ini. Di 22:1 ia menyebut guncangan hari Kiamat, dan di 2:214 serta 33:11 ia dipakai untuk orang beriman yang diguncang sebagai ujian. Jadi akar yang sama memikul guncangan yang menguji dan guncangan yang mengakhiri.

Kata bendanya memuat kata ganti kepemilikan: guncangannya sendiri, bukan guncangan mana pun. Yang disebut bukan guncangan yang datang dari luar melainkan yang memang menjadi miliknya. Kepemilikan itu muncul lagi di 99:2 dan 99:4, sehingga tiga ayat pertama surah ini seluruhnya tentang apa yang menjadi milik bumi sendiri.

Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang mengguncangnya. Pelakunya baru muncul di 99:5, empat ayat kemudian, dan itu pun disebut sebagai Yang mewahyukan, bukan sebagai Yang mengguncang. Seluruh gambaran di empat ayat pertama berjalan tanpa satu pun pelaku yang dinamai, dan pembacanya menunggu sampai lebih dari separuh surah untuk mengetahui siapa di baliknya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai satu akar dua kali di dalam satu ayat pendek, yaitu pada kata kerjanya dan pada kata bendanya, dan masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Susunan semacam itu dipakai di dalam bahasa Arab untuk menegaskan, dan ia berbeda dari sekadar menambahkan kata sifat. Menerjemahkannya menjadi diguncang dahsyat akan mengganti penegasan Arabnya dengan kata sifat yang tidak ada di dalamnya. Perulangan itu menegaskan tanpa menambahkan satu pun kata sifat baru.
  • Akar kata ini berhuruf empat, yang jarang di dalam bahasa Arab, dan ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 2:214, 22:1, 33:11, dan 99:1. Di 22:1 Allah memakainya untuk guncangan hari Kiamat, dan di 2:214 serta 33:11 untuk orang beriman yang diguncang sebagai ujian. Jadi satu akar memikul guncangan yang menguji dan guncangan yang mengakhiri, dan keduanya datang dari Yang sama. Akar berhuruf empat jarang dipakai, dan yang ini cuma hidup di empat ayat.
  • Kata bendanya memuat kata ganti kepemilikan: guncangannya sendiri, bukan guncangan mana pun. Jadi yang disebut Allah bukan guncangan yang datang dari luar melainkan yang memang menjadi milik bumi. Kepemilikan itu muncul lagi di dua ayat berikutnya, sehingga tiga ayat pertama surah ini seluruhnya tentang apa yang menjadi milik bumi sendiri, bukan tentang apa yang ditimpakan kepadanya. Yang menjadi milik sesuatu tidak bisa dianggap gangguan yang datang dari luar.
  • Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang mengguncangnya. Pelakunya baru muncul di 99:5, empat ayat kemudian, dan itu pun disebut sebagai Yang mewahyukan, bukan sebagai Yang mengguncang. Seluruh gambaran di empat ayat pertama berjalan tanpa satu pun pelaku yang dinamai. Siapa yang sedang bekerja di balik sesuatu yang tampak terjadi dengan sendirinya? Allah menahan nama-Nya sampai lebih dari separuh surahnya berlalu.
  • Yang diguncang bumi, yaitu benda yang paling dipakai manusia sebagai ukuran ketetapan. Orang menyebut sesuatu kokoh bila ia sekokoh bumi, dan menyebut sesuatu pasti bila ia sepasti tanah yang dipijak. Allah membuka surah ini dengan menggoyahkan justru ukuran itu sendiri. Ketika yang dipakai mengukur ketetapan ternyata bergerak, tidak ada lagi yang tersisa untuk dijadikan pegangan. Ketika ukuran ketetapan itu sendiri bergerak, tidak ada lagi yang bisa dijadikan pegangan.
  • Kata yang membuka ayat ini menandai waktu yang pasti datang, bukan pengandaian yang belum tentu terjadi. Bahasa Arab punya kata lain untuk yang belum tentu, dan Allah tidak memakai kata itu di sini. Jadi yang dibicarakan bukan kemungkinan melainkan kepastian yang belum sampai waktunya, dan seluruh surah ini berdiri di atas kepastian itu tanpa sekali pun menawar. Seluruh surah ini berdiri di atas kepastian itu tanpa sekali pun menawar. Kata itu menaruh peristiwanya di antara yang pasti terjadi dan yang belum diketahui waktunya. Dua hal itu jarang berkumpul dalam pengalaman sehari-hari. Yang pasti biasanya sudah terjadwal, dan yang tak berjadwal biasanya belum pasti.