Ayat 99:7
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُfa-man ya'mal mitsqaala dzarratin khayran yarahumaka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihatnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- يَعْمَلْya'malberamal
- مِثْقَالَmitsqaalaseberat
- ذَرَّةٍdzarratinzarah
- خَيْرًاkhayrankebaikan
- يَرَهُyarahumelihatnya
Inti bacaan
Prinsip keadilan hingga skala terkecil untuk kebaikan: 'maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihatnya', jaminan bahwa tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang luput dari perhitungan, dorongan untuk tidak meremehkan tindakan baik yang tampak kecil.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ, mitsqaala dzarratin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:40, 34:22, 99:7, dan 99:8. Dua dari empat kemunculannya berada di dalam surah ini, berurutan di dua ayat terakhirnya. Di 4:40 tertulis bahwa Allah tidak menzalimi walau sebesar zarah, dan di 34:22 bahwa yang diseru selain Allah tidak memiliki sebesar zarah pun.
Kata (مِثْقَالَ, mitsqaala) berasal dari akar yang berarti berat, akar yang sama dengan (أَثْقَالَهَا, atsqaalahaa) di 99:2. Jadi akar itu muncul tiga kali di dalam surah delapan ayat ini: pada beban bumi di ayat kedua, lalu pada ukuran amal di ayat ini dan di 99:8. Akar yang sama juga dipakai untuk timbangan di 7:8, 23:102, dan 101:6.
Kata (يَرَهُ, yarah) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 90:7, 99:7, dan 99:8. Yang di 90:7 patut dicatat tersendiri, sebab di sana tertulis (أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ, a-yahsabu an lam yarahu ahadun), apakah dia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pertanyaan tentang yang mengira tidak dilihat siapa pun, dan untuk pernyataan bahwa ia akan melihat perbuatannya sendiri.
Bentuk (يَرَهُ, yarah) aktif, berbeda dari bentuk pasif (لِيُرَوْا, li-yurau) di 99:6. Jadi yang di ayat sebelumnya diperlihatkan, di sini melihat sendiri. Perubahan itu terjadi dalam dua ayat berturut-turut, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaannya dengan satu kalimat pun.
Kata (ذَرَّةٍ, dzarratin) menyebut sesuatu yang paling kecil yang bisa dibayangkan, dan akarnya berarti butiran kecil yang tersebar. Ia dipakai di 36 ayat. Ukuran itu dipilih untuk menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa yang dikerjakan terlalu kecil untuk dihitung. Sesuatu yang terlalu kecil untuk dicatat manusia ternyata tidak terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepadanya.
Kata (فَمَنْ, fa-man) di awal ayat menandai syarat yang berlaku bagi siapa saja, bukan bagi golongan tertentu. Pasangannya muncul di 99:8 dengan bentuk yang sejajar. Jadi dua ayat terakhir surah ini tersusun sebagai dua syarat yang bercermin, dan tidak ada golongan ketiga di antaranya. Susunan bercermin semacam itu dipakai juga di 101:6 sampai 101:9, dan di sana pun tidak ada golongan yang berada di tengah.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan ia melihatnya, tidak disebut di mana, dan tidak disebut apakah orang lain ikut melihat. Yang disebut cuma bahwa ia akan melihatnya. Sebuah janji yang tidak menyebutkan penontonnya memindahkan seluruh bobotnya kepada orang itu sendiri, dan yang menimbangnya tidak lagi punya siapa pun untuk dijadikan pembanding.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan sekecil apa pun akan diperlihatkan, dan ukuran yang dipakai sesuatu yang paling kecil yang bisa dibayangkan. Ukuran itu dipilih untuk menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa yang dikerjakan terlalu kecil untuk dihitung.
Rangkaian yang dipakai muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:40, 34:22, 99:7, dan 99:8. Dua dari empat kemunculannya berada di dalam surah ini, berurutan di dua ayat terakhirnya. Di 4:40 Allah menyatakan bahwa Dia tidak menzalimi walau sebesar zarah.
Kata yang menyebut ukuran itu berasal dari akar yang sama dengan kata yang menyebut beban bumi di 99:2. Jadi akar itu muncul tiga kali di dalam surah delapan ayat ini, dan akar yang sama juga dipakai untuk timbangan di 7:8, 23:102, dan 101:6. Yang dikeluarkan bumi dan yang ditimbang untuk manusia dinamai dengan akar yang satu.
Kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 90:7, 99:7, dan 99:8. Yang di 90:7 patut dicatat tersendiri, sebab di sana ia dipakai dalam pertanyaan apakah dia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pertanyaan tentang yang mengira tidak dilihat siapa pun, dan untuk pernyataan bahwa ia akan melihat perbuatannya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Ukuran yang dipakai Allah sesuatu yang paling kecil yang bisa dibayangkan, dan akarnya dipakai di 36 ayat. Ukuran itu dipilih untuk menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa yang dikerjakan terlalu kecil untuk dihitung. Sesuatu yang terlalu kecil untuk dicatat manusia ternyata tidak terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepadanya pada hari itu. Yang terlalu kecil untuk dicatat manusia ternyata tidak terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepadanya. Yang paling kecil sekalipun tetap masuk ke dalam hitungan yang diperlihatkan.
- Rangkaian yang menyebut ukuran itu muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:40, 34:22, 99:7, dan 99:8. Dua dari empat kemunculannya berada di dalam surah ini, berurutan di dua ayat terakhirnya. Di 4:40 Allah menyatakan bahwa Dia tidak menzalimi walau sebesar zarah, dan di 34:22 bahwa yang diseru selain-Nya tidak memiliki sebesar zarah pun. Dua dari empat kemunculannya berdesakan di dua ayat terakhir surah ini.
- Kata yang menyebut ukuran berasal dari akar yang sama dengan kata yang menyebut beban bumi di 99:2. Jadi akar itu muncul tiga kali di dalam surah delapan ayat ini, dan akar yang sama juga dipakai Allah untuk timbangan di 7:8, 23:102, dan 101:6. Yang dikeluarkan bumi dan yang ditimbang untuk manusia dinamai dengan akar yang satu, tanpa satu kalimat pun yang menghubungkannya. Yang dikeluarkan bumi dan yang ditimbang untuk manusia dinamai dengan akar yang satu.
- Kata kerja terakhir ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 90:7, 99:7, dan 99:8. Di 90:7 Allah memakainya dalam pertanyaan apakah dia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pertanyaan tentang yang mengira tidak dilihat siapa pun, dan untuk pernyataan bahwa ia akan melihat perbuatannya sendiri. Yang mengira tidak dilihat siapa pun ternyata akan melihatnya sendiri.
- Bentuk kata kerjanya aktif, berbeda dari bentuk pasif di ayat sebelumnya. Jadi yang di ayat keenam diperlihatkan, di sini melihat sendiri. Perubahan itu terjadi dalam dua ayat berturut-turut, dan Allah tidak menerangkan perbedaannya dengan satu kalimat pun. Yang melihat sendiri tidak punya perantara yang bisa diragukan dan tidak punya penyampai yang bisa disalahkan. Yang melihat sendiri tidak punya penyampai yang bisa disalahkan atas apa yang disampaikannya.
- Kebaikan disebut Allah lebih dulu, dan keburukan menyusul di ayat berikutnya. Susunan itu bisa saja dibalik, dan tidak dibalik. Menaruh yang baik lebih dulu membuat pembacanya menerima janji sebelum menerima ancaman. Apa yang berubah pada seseorang yang diberi tahu bahwa kebaikan terkecilnya pun tercatat, sebelum ia diberi tahu bahwa keburukan terkecilnya juga? Susunan itu bisa saja dibalik Allah, dan tidak dibalik. Urutan itu memberi kesempatan kepada pembaca membaca dirinya dengan harapan lebih dahulu, sebelum ayat berikutnya menutup celah yang lain. Yang didahulukan bukan yang lebih ringan, melainkan yang lebih menguatkan.
Ayat 99:8
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihatnya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُwa-man ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarahudan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihatnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَعْمَلْya'malberamal
- مِثْقَالَmitsqaalaseberat
- ذَرَّةٍdzarratinzarah
- شَرًّاsyarrankeburukan
- يَرَهُyarahumelihatnya
Inti bacaan
Prinsip paralel untuk kejahatan: 'dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihatnya', penegasan simetris bahwa keadilan berlaku sama untuk kedua arah, tidak ada pelanggaran sekecil apa pun yang diabaikan, standar akuntabilitas yang menyeluruh dan presisi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini sama persis dengan 99:7 kecuali dua hal: huruf sambung di awalnya dan satu kata di tengahnya. Yang di 99:7 tertulis (خَيْرًا, khayran) dan di sini tertulis (شَرًّا, syarran). Seluruh sisanya identik, termasuk (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ, mitsqaala dzarratin) dan (يَرَهُ, yarah).
Kesejajaran serapat itu menentukan cara membacanya. Yang membedakan dua nasib cuma satu kata, dan susunan yang membungkusnya sama persis. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan di dalam bentuk kalimatnya: ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma apa yang dikerjakan. Al-Qur'an tidak memberi kalimat tambahan pada sisi mana pun.
Kata (شَرًّا, syarran) tidak bertakrif, sama seperti (خَيْرًا, khayran) di 99:7. Jadi yang disebut bukan keburukan tertentu yang sudah dikenal melainkan keburukan mana pun. Ketiadaan kata sandang itu menyingkirkan pembacaan bahwa yang dihitung cuma jenis tertentu, dan menyingkirkan juga pembacaan bahwa ada jenis yang terlalu ringan untuk masuk hitungan.
Kata (يَرَهُ, yarah) di ayat ini muncul untuk kedua kalinya berturut-turut, dan bersama 90:7 ia genap 3 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata ganti pada ujungnya menunjuk kepada apa yang dikerjakan, bukan kepada balasannya. Jadi yang dilihat perbuatannya sendiri, bukan pahala atau hukuman yang menggantikannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab melihat perbuatan sendiri berbeda dari menerima laporan tentangnya.
Penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan gambaran tempat, tidak berakhir dengan ancaman, dan tidak berakhir dengan ajakan. Ia berakhir dengan pernyataan bahwa seseorang akan melihat. Sebuah surah yang dibuka dengan bumi yang diguncang ditutup dengan mata seseorang yang tertuju kepada perbuatannya sendiri, dan jarak antara keduanya cuma delapan ayat.
Kata (وَمَنْ, wa-man) di awal ayat sejajar dengan (فَمَنْ, fa-man) di 99:7, dan yang berbeda cuma huruf sambungnya. Jadi dua ayat terakhir surah ini tersusun sebagai dua syarat yang bercermin, dan tidak ada golongan ketiga di antara keduanya. Pembagian dua tanpa sisa semacam itu tidak menyediakan tempat bagi orang yang merasa dirinya berada di tengah.
Yang tidak disebut di ayat penutup ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang terjadi sesudah ia melihat, tidak disebut apakah ia bisa menyesal, dan tidak disebut apakah ada jalan keluar. Surahnya berhenti pada penglihatan. Sebuah teks yang berhenti tepat di titik seseorang melihat perbuatannya sendiri meninggalkan sisanya kepada pembacanya, dan sisanya itu tidak selesai ketika bacaannya selesai.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan simetri keadilan: kejahatan sekecil apa pun juga akan diperlihatkan, dan susunannya sama persis dengan susunan 99:7 kecuali huruf sambung di awalnya dan satu kata di tengahnya.
Kesejajaran serapat itu menentukan cara membacanya. Yang membedakan dua nasib cuma satu kata, dan susunan yang membungkusnya sama persis. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan di dalam bentuk kalimatnya: ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma apa yang dikerjakan. Al-Qur'an tidak memberi kalimat tambahan pada sisi mana pun.
Kata ganti pada ujung kata kerjanya menunjuk kepada apa yang dikerjakan, bukan kepada balasannya. Jadi yang dilihat perbuatannya sendiri, bukan pahala atau hukuman yang menggantikannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab melihat perbuatan sendiri berbeda dari menerima laporan tentangnya. Yang menerima laporan masih bisa mempersoalkan penyusunnya; yang melihat sendiri tidak.
Penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan gambaran tempat, tidak berakhir dengan ancaman, dan tidak berakhir dengan ajakan. Ia berakhir dengan pernyataan bahwa seseorang akan melihat. Sebuah surah yang dibuka dengan bumi yang diguncang ditutup dengan mata seseorang yang tertuju kepada perbuatannya sendiri, dan jarak antara keduanya cuma delapan ayat.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini sama persis dengan ayat sebelumnya kecuali huruf sambung di awalnya dan satu kata di tengahnya. Yang membedakan dua nasib cuma satu kata, dan susunan yang membungkusnya sama persis. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan di dalam bentuk kalimatnya: ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma apa yang dikerjakan. Allah tidak memberi kalimat tambahan pada sisi mana pun. Ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma yang dikerjakan.
- Kata yang menyebut keburukan tidak bertakrif, sama seperti kata yang menyebut kebaikan di ayat sebelumnya. Jadi yang disebut Allah bukan keburukan tertentu yang sudah dikenal melainkan keburukan mana pun. Ketiadaan kata sandang menyingkirkan pembacaan bahwa yang dihitung cuma jenis tertentu, dan menyingkirkan juga pembacaan bahwa ada jenis yang terlalu ringan untuk masuk hitungan. Tidak ada jenis yang terlalu ringan untuk masuk hitungan pada hari itu.
- Kata ganti pada ujung kata kerjanya menunjuk kepada apa yang dikerjakan, bukan kepada balasannya. Jadi yang dilihat perbuatannya sendiri, bukan pahala atau hukuman yang menggantikannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab melihat perbuatan sendiri berbeda dari menerima laporan tentangnya. Yang menerima laporan masih bisa mempersoalkan penyusunnya; yang melihat sendiri tidak punya siapa pun untuk dipersoalkan. Melihat perbuatan sendiri berbeda sama sekali dari menerima laporan tertulis tentangnya.
- Surah ini tidak berakhir dengan gambaran tempat, tidak berakhir dengan ancaman, dan tidak berakhir dengan ajakan. Ia berakhir dengan pernyataan bahwa seseorang akan melihat. Allah menutup surah yang dibuka dengan bumi yang diguncang dengan mata seseorang yang tertuju kepada perbuatannya sendiri, dan jarak antara keduanya cuma delapan ayat. Jarak antara bumi yang diguncang dan mata yang melihat cuma delapan ayat.
- Kata kerja terakhir ayat ini muncul untuk kedua kalinya berturut-turut, dan bersama 90:7 ia genap 3 kali di seluruh Al-Qur'an. Dua dari tiga kemunculannya ada di dua ayat terakhir surah ini. Jadi Allah memadatkan bentuk yang langka itu ke penutup satu surah pendek, dan yang ketiga berada di sebuah pertanyaan tentang orang yang mengira tidak dilihat siapa pun. Dua dari tiga kemunculannya ada di dua ayat terakhir surah ini sendiri.
- Seseorang mengingat perbuatan besarnya dan melupakan yang kecil-kecil, sebab yang kecil tidak terasa mengubah apa pun. Allah menyatakan bahwa yang sekecil itu pun akan dilihatnya kembali. Berapa banyak hal yang sudah dikerjakan seseorang hari ini yang tidak akan diingatnya besok? Surah ini berhenti di situ tanpa menambahkan satu pun kalimat penutup yang melunakkan. Surah ini berhenti di situ tanpa satu pun kalimat penutup yang melunakkan. Yang terlalu kecil untuk diingat justru yang paling banyak jumlahnya, dan karena itu timbangannya bisa jauh lebih berat daripada beberapa perbuatan besar yang kita ingat betul. Perbuatan besar dihitung orangnya sendiri; yang kecil-kecil tidak pernah dihitung siapa pun kecuali oleh yang menyebutkannya di ayat ini.