فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihatnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُfa-man ya'mal mitsqaala dzarratin khayran yarahumaka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihatnya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  2. يَعْمَلْya'malberamal
  3. مِثْقَالَmitsqaalaseberat
  4. ذَرَّةٍdzarratinzarah
  5. خَيْرًاkhayrankebaikan
  6. يَرَهُyarahumelihatnya

Inti bacaan

Prinsip keadilan hingga skala terkecil untuk kebaikan: 'maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihatnya', jaminan bahwa tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang luput dari perhitungan, dorongan untuk tidak meremehkan tindakan baik yang tampak kecil.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ, mitsqaala dzarratin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:40, 34:22, 99:7, dan 99:8. Dua dari empat kemunculannya berada di dalam surah ini, berurutan di dua ayat terakhirnya. Di 4:40 tertulis bahwa Allah tidak menzalimi walau sebesar zarah, dan di 34:22 bahwa yang diseru selain Allah tidak memiliki sebesar zarah pun.

Kata (مِثْقَالَ, mitsqaala) berasal dari akar yang berarti berat, akar yang sama dengan (أَثْقَالَهَا, atsqaalahaa) di 99:2. Jadi akar itu muncul tiga kali di dalam surah delapan ayat ini: pada beban bumi di ayat kedua, lalu pada ukuran amal di ayat ini dan di 99:8. Akar yang sama juga dipakai untuk timbangan di 7:8, 23:102, dan 101:6.

Kata (يَرَهُ, yarah) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 90:7, 99:7, dan 99:8. Yang di 90:7 patut dicatat tersendiri, sebab di sana tertulis (أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ, a-yahsabu an lam yarahu ahadun), apakah dia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pertanyaan tentang yang mengira tidak dilihat siapa pun, dan untuk pernyataan bahwa ia akan melihat perbuatannya sendiri.

Bentuk (يَرَهُ, yarah) aktif, berbeda dari bentuk pasif (لِيُرَوْا, li-yurau) di 99:6. Jadi yang di ayat sebelumnya diperlihatkan, di sini melihat sendiri. Perubahan itu terjadi dalam dua ayat berturut-turut, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaannya dengan satu kalimat pun.

Kata (ذَرَّةٍ, dzarratin) menyebut sesuatu yang paling kecil yang bisa dibayangkan, dan akarnya berarti butiran kecil yang tersebar. Ia dipakai di 36 ayat. Ukuran itu dipilih untuk menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa yang dikerjakan terlalu kecil untuk dihitung. Sesuatu yang terlalu kecil untuk dicatat manusia ternyata tidak terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepadanya.

Kata (فَمَنْ, fa-man) di awal ayat menandai syarat yang berlaku bagi siapa saja, bukan bagi golongan tertentu. Pasangannya muncul di 99:8 dengan bentuk yang sejajar. Jadi dua ayat terakhir surah ini tersusun sebagai dua syarat yang bercermin, dan tidak ada golongan ketiga di antaranya. Susunan bercermin semacam itu dipakai juga di 101:6 sampai 101:9, dan di sana pun tidak ada golongan yang berada di tengah.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kapan ia melihatnya, tidak disebut di mana, dan tidak disebut apakah orang lain ikut melihat. Yang disebut cuma bahwa ia akan melihatnya. Sebuah janji yang tidak menyebutkan penontonnya memindahkan seluruh bobotnya kepada orang itu sendiri, dan yang menimbangnya tidak lagi punya siapa pun untuk dijadikan pembanding.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan sekecil apa pun akan diperlihatkan, dan ukuran yang dipakai sesuatu yang paling kecil yang bisa dibayangkan. Ukuran itu dipilih untuk menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa yang dikerjakan terlalu kecil untuk dihitung.

Rangkaian yang dipakai muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:40, 34:22, 99:7, dan 99:8. Dua dari empat kemunculannya berada di dalam surah ini, berurutan di dua ayat terakhirnya. Di 4:40 Allah menyatakan bahwa Dia tidak menzalimi walau sebesar zarah.

Kata yang menyebut ukuran itu berasal dari akar yang sama dengan kata yang menyebut beban bumi di 99:2. Jadi akar itu muncul tiga kali di dalam surah delapan ayat ini, dan akar yang sama juga dipakai untuk timbangan di 7:8, 23:102, dan 101:6. Yang dikeluarkan bumi dan yang ditimbang untuk manusia dinamai dengan akar yang satu.

Kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 90:7, 99:7, dan 99:8. Yang di 90:7 patut dicatat tersendiri, sebab di sana ia dipakai dalam pertanyaan apakah dia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pertanyaan tentang yang mengira tidak dilihat siapa pun, dan untuk pernyataan bahwa ia akan melihat perbuatannya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ukuran yang dipakai Allah sesuatu yang paling kecil yang bisa dibayangkan, dan akarnya dipakai di 36 ayat. Ukuran itu dipilih untuk menutup satu pembelaan yang paling sering dipakai, yaitu bahwa yang dikerjakan terlalu kecil untuk dihitung. Sesuatu yang terlalu kecil untuk dicatat manusia ternyata tidak terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepadanya pada hari itu. Yang terlalu kecil untuk dicatat manusia ternyata tidak terlalu kecil untuk diperlihatkan kembali kepadanya. Yang paling kecil sekalipun tetap masuk ke dalam hitungan yang diperlihatkan.
  • Rangkaian yang menyebut ukuran itu muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:40, 34:22, 99:7, dan 99:8. Dua dari empat kemunculannya berada di dalam surah ini, berurutan di dua ayat terakhirnya. Di 4:40 Allah menyatakan bahwa Dia tidak menzalimi walau sebesar zarah, dan di 34:22 bahwa yang diseru selain-Nya tidak memiliki sebesar zarah pun. Dua dari empat kemunculannya berdesakan di dua ayat terakhir surah ini.
  • Kata yang menyebut ukuran berasal dari akar yang sama dengan kata yang menyebut beban bumi di 99:2. Jadi akar itu muncul tiga kali di dalam surah delapan ayat ini, dan akar yang sama juga dipakai Allah untuk timbangan di 7:8, 23:102, dan 101:6. Yang dikeluarkan bumi dan yang ditimbang untuk manusia dinamai dengan akar yang satu, tanpa satu kalimat pun yang menghubungkannya. Yang dikeluarkan bumi dan yang ditimbang untuk manusia dinamai dengan akar yang satu.
  • Kata kerja terakhir ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 90:7, 99:7, dan 99:8. Di 90:7 Allah memakainya dalam pertanyaan apakah dia mengira tidak ada seorang pun yang melihatnya. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk pertanyaan tentang yang mengira tidak dilihat siapa pun, dan untuk pernyataan bahwa ia akan melihat perbuatannya sendiri. Yang mengira tidak dilihat siapa pun ternyata akan melihatnya sendiri.
  • Bentuk kata kerjanya aktif, berbeda dari bentuk pasif di ayat sebelumnya. Jadi yang di ayat keenam diperlihatkan, di sini melihat sendiri. Perubahan itu terjadi dalam dua ayat berturut-turut, dan Allah tidak menerangkan perbedaannya dengan satu kalimat pun. Yang melihat sendiri tidak punya perantara yang bisa diragukan dan tidak punya penyampai yang bisa disalahkan. Yang melihat sendiri tidak punya penyampai yang bisa disalahkan atas apa yang disampaikannya.
  • Kebaikan disebut Allah lebih dulu, dan keburukan menyusul di ayat berikutnya. Susunan itu bisa saja dibalik, dan tidak dibalik. Menaruh yang baik lebih dulu membuat pembacanya menerima janji sebelum menerima ancaman. Apa yang berubah pada seseorang yang diberi tahu bahwa kebaikan terkecilnya pun tercatat, sebelum ia diberi tahu bahwa keburukan terkecilnya juga? Susunan itu bisa saja dibalik Allah, dan tidak dibalik. Urutan itu memberi kesempatan kepada pembaca membaca dirinya dengan harapan lebih dahulu, sebelum ayat berikutnya menutup celah yang lain. Yang didahulukan bukan yang lebih ringan, melainkan yang lebih menguatkan.