وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihatnya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُwa-man ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarahudan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihatnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَعْمَلْya'malberamal
- مِثْقَالَmitsqaalaseberat
- ذَرَّةٍdzarratinzarah
- شَرًّاsyarrankeburukan
- يَرَهُyarahumelihatnya
Inti bacaan
Prinsip paralel untuk kejahatan: 'dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihatnya', penegasan simetris bahwa keadilan berlaku sama untuk kedua arah, tidak ada pelanggaran sekecil apa pun yang diabaikan, standar akuntabilitas yang menyeluruh dan presisi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini sama persis dengan 99:7 kecuali dua hal: huruf sambung di awalnya dan satu kata di tengahnya. Yang di 99:7 tertulis (خَيْرًا, khayran) dan di sini tertulis (شَرًّا, syarran). Seluruh sisanya identik, termasuk (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ, mitsqaala dzarratin) dan (يَرَهُ, yarah).
Kesejajaran serapat itu menentukan cara membacanya. Yang membedakan dua nasib cuma satu kata, dan susunan yang membungkusnya sama persis. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan di dalam bentuk kalimatnya: ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma apa yang dikerjakan. Al-Qur'an tidak memberi kalimat tambahan pada sisi mana pun.
Kata (شَرًّا, syarran) tidak bertakrif, sama seperti (خَيْرًا, khayran) di 99:7. Jadi yang disebut bukan keburukan tertentu yang sudah dikenal melainkan keburukan mana pun. Ketiadaan kata sandang itu menyingkirkan pembacaan bahwa yang dihitung cuma jenis tertentu, dan menyingkirkan juga pembacaan bahwa ada jenis yang terlalu ringan untuk masuk hitungan.
Kata (يَرَهُ, yarah) di ayat ini muncul untuk kedua kalinya berturut-turut, dan bersama 90:7 ia genap 3 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata ganti pada ujungnya menunjuk kepada apa yang dikerjakan, bukan kepada balasannya. Jadi yang dilihat perbuatannya sendiri, bukan pahala atau hukuman yang menggantikannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab melihat perbuatan sendiri berbeda dari menerima laporan tentangnya.
Penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan gambaran tempat, tidak berakhir dengan ancaman, dan tidak berakhir dengan ajakan. Ia berakhir dengan pernyataan bahwa seseorang akan melihat. Sebuah surah yang dibuka dengan bumi yang diguncang ditutup dengan mata seseorang yang tertuju kepada perbuatannya sendiri, dan jarak antara keduanya cuma delapan ayat.
Kata (وَمَنْ, wa-man) di awal ayat sejajar dengan (فَمَنْ, fa-man) di 99:7, dan yang berbeda cuma huruf sambungnya. Jadi dua ayat terakhir surah ini tersusun sebagai dua syarat yang bercermin, dan tidak ada golongan ketiga di antara keduanya. Pembagian dua tanpa sisa semacam itu tidak menyediakan tempat bagi orang yang merasa dirinya berada di tengah.
Yang tidak disebut di ayat penutup ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang terjadi sesudah ia melihat, tidak disebut apakah ia bisa menyesal, dan tidak disebut apakah ada jalan keluar. Surahnya berhenti pada penglihatan. Sebuah teks yang berhenti tepat di titik seseorang melihat perbuatannya sendiri meninggalkan sisanya kepada pembacanya, dan sisanya itu tidak selesai ketika bacaannya selesai.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan simetri keadilan: kejahatan sekecil apa pun juga akan diperlihatkan, dan susunannya sama persis dengan susunan 99:7 kecuali huruf sambung di awalnya dan satu kata di tengahnya.
Kesejajaran serapat itu menentukan cara membacanya. Yang membedakan dua nasib cuma satu kata, dan susunan yang membungkusnya sama persis. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan di dalam bentuk kalimatnya: ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma apa yang dikerjakan. Al-Qur'an tidak memberi kalimat tambahan pada sisi mana pun.
Kata ganti pada ujung kata kerjanya menunjuk kepada apa yang dikerjakan, bukan kepada balasannya. Jadi yang dilihat perbuatannya sendiri, bukan pahala atau hukuman yang menggantikannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab melihat perbuatan sendiri berbeda dari menerima laporan tentangnya. Yang menerima laporan masih bisa mempersoalkan penyusunnya; yang melihat sendiri tidak.
Penutup surah ini juga patut dicatat. Ia tidak berakhir dengan gambaran tempat, tidak berakhir dengan ancaman, dan tidak berakhir dengan ajakan. Ia berakhir dengan pernyataan bahwa seseorang akan melihat. Sebuah surah yang dibuka dengan bumi yang diguncang ditutup dengan mata seseorang yang tertuju kepada perbuatannya sendiri, dan jarak antara keduanya cuma delapan ayat.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini sama persis dengan ayat sebelumnya kecuali huruf sambung di awalnya dan satu kata di tengahnya. Yang membedakan dua nasib cuma satu kata, dan susunan yang membungkusnya sama persis. Jadi tidak ada perbedaan perlakuan di dalam bentuk kalimatnya: ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma apa yang dikerjakan. Allah tidak memberi kalimat tambahan pada sisi mana pun. Ukurannya sama, cara melihatnya sama, dan yang berbeda cuma yang dikerjakan.
- Kata yang menyebut keburukan tidak bertakrif, sama seperti kata yang menyebut kebaikan di ayat sebelumnya. Jadi yang disebut Allah bukan keburukan tertentu yang sudah dikenal melainkan keburukan mana pun. Ketiadaan kata sandang menyingkirkan pembacaan bahwa yang dihitung cuma jenis tertentu, dan menyingkirkan juga pembacaan bahwa ada jenis yang terlalu ringan untuk masuk hitungan. Tidak ada jenis yang terlalu ringan untuk masuk hitungan pada hari itu.
- Kata ganti pada ujung kata kerjanya menunjuk kepada apa yang dikerjakan, bukan kepada balasannya. Jadi yang dilihat perbuatannya sendiri, bukan pahala atau hukuman yang menggantikannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab melihat perbuatan sendiri berbeda dari menerima laporan tentangnya. Yang menerima laporan masih bisa mempersoalkan penyusunnya; yang melihat sendiri tidak punya siapa pun untuk dipersoalkan. Melihat perbuatan sendiri berbeda sama sekali dari menerima laporan tertulis tentangnya.
- Surah ini tidak berakhir dengan gambaran tempat, tidak berakhir dengan ancaman, dan tidak berakhir dengan ajakan. Ia berakhir dengan pernyataan bahwa seseorang akan melihat. Allah menutup surah yang dibuka dengan bumi yang diguncang dengan mata seseorang yang tertuju kepada perbuatannya sendiri, dan jarak antara keduanya cuma delapan ayat. Jarak antara bumi yang diguncang dan mata yang melihat cuma delapan ayat.
- Kata kerja terakhir ayat ini muncul untuk kedua kalinya berturut-turut, dan bersama 90:7 ia genap 3 kali di seluruh Al-Qur'an. Dua dari tiga kemunculannya ada di dua ayat terakhir surah ini. Jadi Allah memadatkan bentuk yang langka itu ke penutup satu surah pendek, dan yang ketiga berada di sebuah pertanyaan tentang orang yang mengira tidak dilihat siapa pun. Dua dari tiga kemunculannya ada di dua ayat terakhir surah ini sendiri.
- Seseorang mengingat perbuatan besarnya dan melupakan yang kecil-kecil, sebab yang kecil tidak terasa mengubah apa pun. Allah menyatakan bahwa yang sekecil itu pun akan dilihatnya kembali. Berapa banyak hal yang sudah dikerjakan seseorang hari ini yang tidak akan diingatnya besok? Surah ini berhenti di situ tanpa menambahkan satu pun kalimat penutup yang melunakkan. Surah ini berhenti di situ tanpa satu pun kalimat penutup yang melunakkan. Yang terlalu kecil untuk diingat justru yang paling banyak jumlahnya, dan karena itu timbangannya bisa jauh lebih berat daripada beberapa perbuatan besar yang kita ingat betul. Perbuatan besar dihitung orangnya sendiri; yang kecil-kecil tidak pernah dihitung siapa pun kecuali oleh yang menyebutkannya di ayat ini.