بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا

Demi yang berlari kencang terengah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًاwa-l-'aadiyaati dhabhandemi yang berlari kencang terengah

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالْعَادِيَاتِwa-l-'aadiyaatidemi yang berlari kencang
  2. ضَبْحًاdhabhandengan terengah

Inti bacaan

Pembukaan Al-'Adiyat dengan citra dinamis kuda perang: 'demi (kuda) yang berlari kencang terengah', penggunaan gambaran fisik yang hidup dan bertenaga sebagai objek sumpah pembuka, energi dan kesungguhan yang tergambar dari deskripsi ini.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Tambahan kurung "(kuda)" tidak dipakai, sebab identitas (وَالْعَادِيَاتِ, wa-l-'aadiyaati) memang tidak disebutkan di dalam Arabnya. Yang tertulis cuma yang berlari kencang, tanpa disebutkan siapa atau apa yang berlari, dan ketiadaan penyebutan itu bertahan sampai ayat kelima.

Kata (ضَبْحًا, dhabhan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti berderap terengah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar. Surah ini memuat lima akar semacam itu, yaitu di 100:1, 100:2, 100:4, 100:6, dan 100:10, dan lima akar yang tidak dipakai di ayat lain mana pun berdesakan di dalam satu surah sebelas ayat.

Bentuk (وَالْعَادِيَاتِ, wa-l-'aadiyaati) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melampaui dan memusuhi. Ia dipakai di 92 ayat, dan pemakaiannya didominasi dua hal: kata untuk musuh, yang muncul 50 kali, dan kata kerja yang berarti melampaui batas, yang muncul 15 kali, antara lain di 2:61, 2:65, 2:178, 2:190, dan 5:87. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut permusuhan dan pelanggaran, di sini dipakai untuk menyebut yang berlari kencang.

Huruf pertama ayat ini huruf sumpah, dan sumpah itu berlanjut sampai 100:5. Jadi lima ayat pertama surah ini seluruhnya isi sumpah, dan jawaban sumpahnya baru datang di 100:6. Susunan semacam itu menahan pernyataan pokoknya selama lima ayat, dan yang ditahan selama itu jatuh lebih berat ketika akhirnya datang.

Padanan "yang berlari kencang terengah" menahan dua hal sekaligus. Yang pertama bentuk jamak perempuannya, yang di dalam bahasa Indonesia tidak perlu ditandai. Yang kedua kedudukan (ضَبْحًا, dhabhan) sebagai keterangan cara, bukan sebagai kata kerja kedua. Menerjemahkannya sebagai keterangan menjaga agar yang disebut satu perbuatan dengan satu caranya, bukan dua perbuatan yang berurutan.

Bentuk jamak perempuan pada (وَالْعَادِيَاتِ, wa-l-'aadiyaati) juga perlu dicatat. Bahasa Arab memakai bentuk jamak perempuan untuk kumpulan benda tak berakal maupun untuk kumpulan makhluk betina, sehingga bentuk itu sendiri tidak memastikan apa yang dimaksud. Ketidakpastian itu bertahan sampai akhir surah, sebab tidak ada satu pun ayat sesudahnya yang menamai pelakunya. Terjemahannya menahan ketidakpastian yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Yang tidak disebut di rangkaian sumpah ini juga menerangkan. Tidak disebut untuk apa mereka berlari, tidak disebut siapa yang menunggangi, dan tidak disebut apa hasil akhirnya. Yang disampaikan cuma gerak, bunyi, percikan, debu, dan penerobosan. Sebuah gambaran yang lengkap geraknya tetapi kosong keterangannya memaksa pendengarnya menyusun sendiri apa yang sedang dilihatnya.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi sesuatu yang berlari kencang terengah-engah, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa yang bersumpah tidak menyebutkan apa yang disumpahkan-Nya. Tidak tertulis siapa atau apa yang berlari. Yang tertulis cuma sifatnya, dan ketiadaan penyebutan itu bertahan sampai ayat kelima.

Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Surah ini memuat lima akar semacam itu, yaitu di 100:1, 100:2, 100:4, 100:6, dan 100:10. Lima akar yang tidak dipakai di ayat lain mana pun berdesakan di dalam satu surah sebelas ayat, dan kepadatan sebesar itu tidak terjadi di banyak tempat.

Akar kata pertamanya dipakai di 92 ayat, dan pemakaiannya didominasi kata untuk musuh dan kata kerja yang berarti melampaui batas. Jadi akar yang hampir selalu menyebut permusuhan dan pelanggaran, di sini dipakai untuk menyebut yang berlari kencang. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Huruf pertama ayat ini huruf sumpah, dan sumpahnya berlanjut sampai 100:5. Jadi lima ayat pertama surah ini seluruhnya isi sumpah, dan jawabannya baru datang di 100:6. Susunan semacam itu menahan pernyataan pokoknya selama lima ayat, dan yang ditahan selama itu jatuh lebih berat ketika akhirnya datang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah bersumpah tanpa menyebutkan apa yang disumpahkan-Nya. Tidak tertulis siapa atau apa yang berlari; yang tertulis cuma sifatnya. Ketiadaan penyebutan itu bertahan sampai ayat kelima, sehingga lima ayat berlalu tanpa satu pun nama benda yang bisa dipegang. Yang dipegang pembacanya cuma gerak, bunyi, percikan, debu, dan serbuan, tanpa satu pun pelaku yang dinamai di dalam kalimatnya. Ketiadaan nama itu bertahan sampai surahnya habis, dan tidak pernah ditutup oleh satu ayat pun sesudahnya.
  • Kata kedua ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Surah ini memuat lima akar semacam itu, yaitu di 100:1, 100:2, 100:4, 100:6, dan 100:10. Lima akar yang tidak dipakai di ayat lain mana pun berdesakan di dalam satu surah sebelas ayat, dan kepadatan sebesar itu tidak terjadi di banyak tempat di dalam Al-Qur'an. Lima kata yang tak punya kerabat berdesakan di dalam sebelas ayat.
  • Akar kata pertama ayat ini dipakai di 92 ayat, dan pemakaiannya didominasi dua hal: kata untuk musuh, yang muncul 50 kali, dan kata kerja yang berarti melampaui batas, yang muncul 15 kali, antara lain di 2:61, 2:65, 2:178, 2:190, dan 5:87. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut permusuhan dan pelanggaran, di sini dipakai Allah untuk menyebut yang berlari kencang. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang menemukannya.
  • Huruf pertama ayat ini huruf sumpah, dan sumpahnya berlanjut sampai ayat kelima. Jadi lima ayat pertama surah ini seluruhnya isi sumpah, dan jawabannya baru datang di ayat keenam. Allah menahan pernyataan pokoknya selama lima ayat, dan yang ditahan selama itu jatuh lebih berat ketika akhirnya datang. Berapa lama seseorang sanggup menunggu sebelum ia berhenti mendengarkan? Yang ditahan selama lima ayat jatuh lebih berat ketika akhirnya datang.
  • Kata kedua ayat ini menyebut bunyi napas, bukan bentuk atau warna. Jadi yang lebih dulu disampaikan Allah kepada pendengarnya bunyi, bukan gambar. Sesuatu yang dikenali lewat bunyinya sebelum bentuknya terasa lebih dekat dan lebih mendesak daripada sesuatu yang dilihat dari jauh. Surah ini membangun gambarannya dari telinga ke mata, bukan sebaliknya. Surah ini membangun gambarannya dari telinga ke mata, bukan sebaliknya.
  • Kata kedua berkedudukan sebagai keterangan cara, bukan sebagai kata kerja kedua. Menerjemahkannya sebagai keterangan menjaga agar yang disebut satu perbuatan dengan satu caranya, bukan dua perbuatan yang berurutan. Ketelitian itu menentukan gambarannya: yang bergerak tidak berlari lalu terengah, melainkan berlari dengan cara yang membuatnya terengah sejak awal. Yang bergerak tidak berlari lalu terengah, melainkan berlari dengan cara yang membuatnya terengah sejak awal. Yang disumpahkan bukan kudanya melainkan caranya berlari, dan cara selalu lebih menerangkan daripada benda. Sesuatu yang dikenali dari caranya tidak bisa ditiru dengan memiliki barangnya.