فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا
Lalu yang memercikkan bunga api,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًاfa-l-muuriyaati qadhanlalu yang memercikkan bunga api
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَالْمُورِيَاتِfa-l-muuriyaatidan demi yang memercikkan api
- قَدْحًاqadhanmemercik
Inti bacaan
Sumpah kedua dengan detail visual yang tajam: 'lalu (kuda) yang memercikkan bunga api', kelanjutan citra dinamis, detail sensorik yang menghidupkan gambaran kekuatan dan kecepatan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(kuda)" tidak dipakai di ayat ini, sama seperti di 100:1, sebab pelakunya memang tidak disebutkan di dalam Arabnya. Bentuk (فَالْمُورِيَاتِ, fa-l-muuriyaati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berbentuk jamak perempuan seperti kata di ayat sebelumnya.
Kata (قَدْحًا, qadhan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti memercikkan api. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ia yang kedua dari lima akar semacam itu di dalam surah ini. Kedudukannya sama dengan kata kedua di 100:1, yaitu keterangan cara bagi kata pertamanya.
Akar (فَالْمُورِيَاتِ, fa-l-muuriyaati) berarti menyalakan api dengan gesekan. Akar itu dipakai di 31 ayat. Akar itu memikul dua hal yang bertetangga: menyalakan api dengan menggosok, dan menutupi atau menyembunyikan sesuatu. Jadi yang di sini memercikkan api berasal dari akar yang juga dipakai untuk menutupi, dan api memang keluar dari sesuatu yang tersembunyi di dalam batu sampai ia digosok.
Huruf sambung di awal ayat menandai urutan yang rapat, bukan urutan yang berjarak. Jadi percikan api ini terjadi tepat sesudah lari kencang di 100:1, bukan pada kesempatan lain. Lima ayat pertama surah ini seluruhnya dirangkai dengan huruf sambung yang sama, sehingga kelimanya terbaca sebagai satu adegan yang berjalan terus tanpa jeda.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menganggapnya gambaran yang berdiri sendiri. Ia bagian dari sumpah yang belum selesai, dan jawabannya baru datang di 100:6. Membacanya sebagai gambaran tersendiri berarti berhenti di tengah kalimat panjang yang belum punya pokoknya, dan surah ini memang menyusun kelima ayatnya supaya berhenti di tengah terasa mustahil.
Dua kata di ayat ini, (فَالْمُورِيَاتِ, fa-l-muuriyaati) dan (قَدْحًا, qadhan), bersusun sama persis dengan dua kata di 100:1: bentuk pelaku jamak perempuan, lalu keterangan cara yang berupa kata benda tak bertakrif. Kesejajaran itu berlanjut ke 100:3, sehingga tiga ayat pertama surah ini punya rangka yang sama. Pengulangan rangka semacam itu membangun irama yang membuat pendengarnya menunggu ayat berikutnya, dan penungguan itulah yang dipakai sampai jawabannya datang di 100:6.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut apa yang digosok sampai memercik, tidak disebut apakah apinya menyala terus, dan tidak disebut apa gunanya. Percikan itu bukan tujuan siapa pun; ia cuma tanda bahwa geraknya cukup keras untuk membuat benda keras beradu. Yang ditinggalkan sebuah kegiatan tidak selalu sama dengan yang dituju olehnya, dan yang paling terlihat sering justru yang paling tidak disengaja.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah demi sesuatu yang memercikkan bunga api, dan pelakunya tetap tidak disebutkan. Bentuknya jamak perempuan seperti kata di ayat sebelumnya, dan kedudukan kata keduanya juga sama, yaitu keterangan cara.
Kata kedua muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ia yang kedua dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah kata kedua di 100:1. Dua ayat berturut-turut karena itu ditutup oleh dua kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun.
Akar kata pertamanya dipakai di 31 ayat, dan ia memikul dua hal yang bertetangga: menyalakan api dengan menggosok, dan menutupi atau menyembunyikan sesuatu. Jadi yang di sini memercikkan api berasal dari akar yang juga dipakai untuk menutupi. Api memang keluar dari sesuatu yang tersembunyi di dalam batu sampai ia digosok, dan akarnya menyimpan kedua sisi itu sekaligus.
Huruf sambung di awal ayat menandai urutan yang rapat, bukan urutan yang berjarak. Jadi percikan api ini terjadi tepat sesudah lari kencang di 100:1, bukan pada kesempatan lain. Lima ayat pertama surah ini seluruhnya dirangkai dengan huruf sambung yang sama, sehingga kelimanya terbaca sebagai satu adegan yang berjalan terus tanpa jeda sedikit pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata kedua ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ia yang kedua dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah kata kedua di 100:1. Jadi dua ayat berturut-turut ditutup Allah oleh dua kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun, dan pembacanya tidak punya tempat lain untuk menimbang keduanya. Pembacanya tidak punya tempat lain untuk menimbang keduanya selain kedua ayat pembuka surah ini sendiri.
- Akar kata pertama ayat ini dipakai di 31 ayat, dan ia memikul dua hal yang bertetangga: menyalakan api dengan menggosok, dan menutupi atau menyembunyikan sesuatu. Jadi yang di sini memercikkan api berasal dari akar yang juga dipakai Allah untuk menutupi. Api memang keluar dari sesuatu yang tersembunyi sampai ia digosok, dan akarnya menyimpan kedua sisi itu sekaligus. Api memang keluar dari sesuatu yang tersembunyi sampai ia digosok cukup keras.
- Huruf sambung di awal ayat menandai urutan yang rapat, bukan urutan yang berjarak. Jadi percikan api ini terjadi tepat sesudah lari kencang di ayat sebelumnya, bukan pada kesempatan lain. Lima ayat pertama surah ini seluruhnya dirangkai Allah dengan huruf sambung yang sama, sehingga kelimanya terbaca sebagai satu adegan yang berjalan terus tanpa jeda. Kelima ayat pembuka terbaca sebagai satu adegan yang berjalan tanpa jeda sedikit pun di antara bagiannya.
- Ayat ini bagian dari sumpah yang belum selesai, dan jawabannya baru datang di ayat keenam. Membacanya sebagai gambaran tersendiri berarti berhenti di tengah kalimat panjang yang belum punya pokoknya. Allah memang menyusun kelima ayat pembuka ini supaya berhenti di tengah terasa mustahil, dan pembacanya terbawa sampai ke ujungnya tanpa pilihan. Pembacanya terbawa sampai ke ujungnya tanpa diberi pilihan untuk berhenti.
- Yang digambarkan percikan api yang keluar dari benturan, bukan api yang dinyalakan dengan sengaja. Api semacam itu tidak dituju, tidak dipakai, dan tidak menerangi apa pun; ia cuma bekas dari gerak yang terlalu keras. Apa yang tersisa dari sebuah kegiatan selain bekas-bekas yang tidak berguna bagi siapa pun? Surah ini menyimpan pertanyaan itu tanpa mengucapkannya. Ia cuma bekas dari gerak yang terlalu keras, bukan tujuan siapa pun, dan tidak menerangi apa pun bagi yang melihatnya.
- Pelakunya tetap tidak disebutkan Allah di ayat ini, sama seperti di ayat pertama. Menyisipkan nama benda ke dalam terjemahan akan menutup sesuatu yang sengaja dibiarkan terbuka di dalam Arabnya. Yang tertulis cuma bentuk jamak perempuan tanpa kata benda yang menerangkannya, dan pembacanya dibiarkan menyusun gambarannya sendiri dari gerak dan bunyi saja. Pembacanya dibiarkan menyusun gambarannya sendiri dari gerak dan bunyi saja, tanpa satu nama benda pun. Menahan nama selama lima ayat membuat pendengarnya menyusun gambaran sendiri lebih dahulu. Ketika akhirnya pernyataannya datang, ia jatuh pada orang yang sudah terlanjur ikut membayangkan adegannya.