فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا
Lalu yang menyerbu di waktu subuh,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًاfa-l-mughiiraati shubhanlalu yang menyerbu di waktu subuh
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَالْمُغِيرَاتِfa-l-mughiiraatidan demi yang menyerbu
- صُبْحًاshubhandi waktu subuh
Inti bacaan
Sumpah ketiga dengan momentum waktu strategis: 'lalu (kuda) yang menyerbu di waktu subuh', penambahan elemen waktu yang menegaskan kesigapan dan kejutan, serangan yang direncanakan pada momen paling efektif.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(kuda)" tidak dipakai di ayat ini juga. Bentuk (فَالْمُغِيرَاتِ, fa-l-mughiiraati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyerbu mendadak. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 9:40, 9:57, 18:41, dan 67:30, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di dalam Al-Qur'an.
Tiga ayat lain yang memakainya patut dicatat. Di 9:57 ia menyebut gua tempat orang bersembunyi, di 18:41 dan 67:30 ia menyebut air yang menghilang menyusup ke dalam tanah, dan di 9:40 ia menyebut gua tempat dua orang berlindung. Jadi akar yang hampir selalu menyebut sesuatu yang masuk ke dalam dan hilang dari pandangan, di sini dipakai untuk serbuan yang datang menghambur.
Kata (صُبْحًا, shubhan) berkedudukan sebagai keterangan waktu, dan ini yang membedakannya dari kata kedua di 100:1 dan 100:2 yang keduanya keterangan cara. Jadi tiga ayat pertama surah ini ditutup oleh tiga kata berimbuhan sama, dan yang ketiga berpindah dari cara ke waktu. Akarnya berarti pagi. Ia dipakai di 43 ayat.
Waktu yang disebut menerangkan banyak. Subuh adalah saat orang paling tidak siap, sebab ia batas antara tidur dan bangun. Ayat ini tidak menerangkan kesesuaian itu dengan satu kalimat pun, dan tidak diterangkannya membuat pembacanya sendiri yang menemukannya. Yang datang pada saat orang paling lengah tidak memerlukan kekuatan sebanyak yang datang pada saat orang berjaga.
Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berupa bentuk pelaku, yaitu (وَالْعَادِيَاتِ, wa-l-'aadiyaati), (فَالْمُورِيَاتِ, fa-l-muuriyaati), dan (فَالْمُغِيرَاتِ, fa-l-mughiiraati). Bentuk pelaku menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang sedang terjadi. Baru di 100:4 dan 100:5 bentuknya berubah menjadi kata kerja. Jadi surah ini mulai dari sifat lalu berpindah ke perbuatan, dan perpindahan itu terjadi tepat di tengah rangkaian sumpahnya.
Kesejajaran tiga ayat pertama berakhir di sini, dan yang mengakhirinya perpindahan dari keterangan cara ke keterangan waktu. Dua ayat sebelumnya menjawab bagaimana; ayat ini menjawab kapan. Sesudah pertanyaan kapan dijawab, gambarannya siap berpindah dari sifat ke perbuatan, dan perpindahan itu memang terjadi di 100:4. Jadi ayat ini berdiri sebagai engsel di tengah rangkaian sumpahnya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang diserbu, tidak disebut apa sebabnya, dan tidak disebut siapa yang menang. Ketiadaan keterangan itu menjaga agar gambarannya tidak terikat pada satu peristiwa tertentu. Sebuah gambaran yang tidak diikat pada satu kejadian tetap terbaca oleh siapa pun yang membacanya, di mana pun ia berada.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian sumpah dengan sesuatu yang menyerbu pada waktu subuh, dan waktu yang disebut menerangkan banyak. Subuh adalah saat orang paling tidak siap, sebab ia batas antara tidur dan bangun. Yang datang pada saat orang paling lengah tidak memerlukan kekuatan sebanyak yang datang pada saat orang berjaga.
Akar kata pertamanya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 9:40, 9:57, 18:41, dan 67:30, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai. Di 9:57 ia menyebut gua tempat orang bersembunyi, di 18:41 dan 67:30 ia menyebut air yang menghilang menyusup ke dalam tanah, dan di 9:40 ia menyebut gua tempat dua orang berlindung. Jadi akar yang hampir selalu menyebut sesuatu yang masuk ke dalam dan hilang dari pandangan, di sini dipakai untuk serbuan yang datang menghambur.
Kata keduanya berkedudukan sebagai keterangan waktu, dan ini yang membedakannya dari kata kedua di 100:1 dan 100:2 yang keduanya keterangan cara. Jadi tiga ayat pertama ditutup oleh tiga kata berimbuhan sama, dan yang ketiga berpindah dari cara ke waktu. Perpindahan itu mengakhiri satu bagian dan menyiapkan bagian berikutnya.
Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berupa bentuk pelaku, dan bentuk pelaku menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang sedang terjadi. Baru di 100:4 dan 100:5 bentuknya berubah menjadi kata kerja. Jadi surah ini mulai dari sifat lalu berpindah ke perbuatan, dan perpindahan itu terjadi tepat di tengah rangkaian sumpahnya.
Renungan dan Hikmah
- Waktu yang disebut Allah subuh, yaitu saat orang paling tidak siap, sebab ia batas antara tidur dan bangun. Ayat ini tidak menerangkan kesesuaian itu dengan satu kalimat pun, dan tidak diterangkannya membuat pembacanya sendiri yang menemukannya. Yang datang pada saat orang paling lengah tidak memerlukan kekuatan sebanyak yang datang pada saat orang berjaga. Yang datang pada saat orang paling lengah tidak memerlukan kekuatan sebanyak yang datang pada saat berjaga.
- Akar kata pertama ayat ini cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 9:40, 9:57, 18:41, dan 67:30. Di 9:40 dan 9:57 ia menyebut gua tempat orang berlindung, dan di 18:41 serta 67:30 ia menyebut air yang menghilang menyusup ke dalam tanah. Jadi akar yang hampir selalu menyebut sesuatu yang masuk ke dalam dan hilang dari pandangan, di sini dipakai Allah untuk serbuan yang datang menghambur. Al-Qur'an tidak menghubungkan pemakaian-pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma kelangkaannya.
- Kata kedua ayat ini berkedudukan sebagai keterangan waktu, dan ini yang membedakannya dari kata kedua di dua ayat sebelumnya yang keduanya keterangan cara. Jadi tiga ayat pertama ditutup oleh tiga kata berimbuhan sama, dan yang ketiga berpindah dari cara ke waktu. Perpindahan sekecil itu mengakhiri satu bagian dan menyiapkan bagian berikutnya tanpa satu kalimat penanda. Dua ayat sebelumnya menjawab bagaimana; ayat ini menjawab kapan, dan sesudah itu gambarannya siap berpindah.
- Tiga ayat pertama surah ini seluruhnya berupa bentuk pelaku, dan bentuk pelaku menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang sedang terjadi. Baru di dua ayat berikutnya bentuknya berubah menjadi kata kerja. Jadi Allah mulai dari sifat lalu berpindah ke perbuatan, dan perpindahan itu terjadi tepat di tengah rangkaian sumpahnya, bukan di pangkal atau di ujungnya. Perpindahan itu terjadi di tengah, bukan di pangkal atau di ujung rangkaiannya.
- Ketiga bentuk pelaku di tiga ayat pertama masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi bukan cuma kata-kata penutupnya yang langka; kata-kata pokoknya pun tidak dipakai di ayat lain mana pun. Allah menyusun pembukaan surah ini seluruhnya dari kata yang tidak punya pembanding, dan pembacanya dibiarkan menimbangnya tanpa tempat lain untuk menengok. Pembacanya dibiarkan menimbangnya tanpa tempat lain untuk menengok.
- Kata yang dipakai Allah menyebut serbuan mendadak, bukan peperangan yang disiapkan. Serbuan mendadak tidak memberi kesempatan bersiap dan tidak menyisakan waktu untuk memilih. Bagaimana seseorang berjaga terhadap sesuatu yang justru datang ketika ia paling tidak menyangka? Surah ini tidak menjawabnya di sini, dan jawabannya menunggu sampai ayat kesembilan. Serbuan mendadak tidak memberi kesempatan bersiap dan tidak menyisakan waktu untuk memilih. Waktu yang dipilih juga waktu ketika orang paling percaya dirinya aman. Serbuan pada saat seperti itu tidak dikalahkan oleh kekuatan, melainkan oleh kesiagaan, dan kesiagaan sepenuhnya urusan yang diserbu.