فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا
Lalu menerbangkan debu dengannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًاfa-atsarna bihi naq'anlalu menerbangkan debu dengannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَثَرْنَfa-atsarnamaka menerbangkan
- بِهِbihidengannya
- نَقْعًاnaq'andebu
Inti bacaan
Detail visual pertempuran yang intens: 'lalu menerbangkan debu dengannya', kelanjutan citra dinamis pasukan berkuda yang menghasilkan kekacauan visual, kekuatan yang terlihat nyata melalui dampak fisiknya.
Penjelasan pilihan kata
Bentuk kata kerja (فَأَثَرْنَ, fa-atsarna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengepul naik. Ia cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 2:71, 30:9, 30:48, 35:9, dan ayat ini. Di 30:48 dan 35:9 akar itu dipakai untuk angin yang dikirim Allah lalu menggerakkan awan, dan di 2:71 ia dipakai untuk sapi yang tidak dipakai membajak tanah.
Ketiga pemakaian lain itu menyebut angin yang menggerakkan awan dan bajak yang membalik tanah, sedangkan di sini yang disebut debu yang diterbangkan. Ketiganya sama-sama tentang sesuatu yang diangkat dari tempatnya oleh gerak dari luar. Al-Qur'an tidak menghubungkan pemakaian-pemakaian itu dengan satu kalimat pun.
Kata (نَقْعًا, naq'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti debu yang membubung. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ia yang ketiga dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah 100:1 dan 100:2.
Bentuk (فَأَثَرْنَ, fa-atsarna) berubah dari tiga ayat sebelumnya. Tiga ayat pertama memakai bentuk pelaku, dan mulai ayat ini bentuknya kata kerja lampau berjenis perempuan jamak. Perubahan itu memindahkan gambarannya dari sifat yang melekat kepada perbuatan yang sudah terjadi. Jadi yang tadinya digambarkan sebagai apa adanya, di sini digambarkan sebagai apa yang dikerjakannya.
Kata (بِهِ, bihi) berbentuk tunggal laki-laki, padahal pelakunya jamak perempuan. Yang ditunjuknya karena itu bukan pelakunya melainkan sesuatu yang lain, dan yang paling dekat waktu di ayat sebelumnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "dengannya" tanpa memastikan apa yang ditunjuk, sebab Arabnya sendiri tidak memastikannya. Kata ganti yang sama muncul lagi di 100:5 dengan kedudukan yang sama.
Kata (بِهِ, bihi) di ayat ini berbentuk tunggal laki-laki, padahal pelakunya jamak perempuan. Yang ditunjuknya karena itu bukan pelakunya melainkan sesuatu yang lain, dan Arabnya sendiri tidak memastikan apa. Bahasa Indonesia menahannya dengan dengannya tanpa memastikan rujukannya, sebab memastikannya berarti menambahkan keputusan yang tidak diambil teksnya sendiri. Kata ganti yang sama muncul lagi di 100:5 dengan kedudukan yang sama persis.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut siapa yang menghirup debu itu, tidak disebut seberapa tebal, dan tidak disebut berapa lama ia bertahan. Yang disebut cuma bahwa ia diterbangkan. Debu adalah bekas paling ringan yang bisa ditinggalkan sebuah kegiatan besar, dan ia justru menutup pandangan orang yang berada di dalamnya. Yang paling dekat dengan pusat kegiatan adalah yang paling sedikit melihatnya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan debu yang beterbangan akibat serbuan tersebut, dan bentuk kata kerjanya berubah dari tiga ayat sebelumnya. Tiga ayat pertama memakai bentuk pelaku, dan mulai ayat ini bentuknya kata kerja lampau. Perubahan itu memindahkan gambarannya dari sifat yang melekat kepada perbuatan yang sudah terjadi.
Akar kata kerjanya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 2:71, 30:9, 30:48, 35:9, dan ayat ini. Di 30:48 dan 35:9 akar itu dipakai untuk angin yang dikirim Allah lalu menggerakkan awan, dan di 2:71 ia dipakai untuk sapi yang tidak dipakai membajak tanah. Jadi akar yang di tempat lain menyebut angin yang menggerakkan awan dan bajak yang membalik tanah, di sini menyebut debu yang diterbangkan.
Ketiganya sama-sama tentang sesuatu yang diangkat dari tempatnya oleh gerak dari luar. Yang di 30:48 dan 35:9 diangkat oleh kehendak Allah dan berujung pada hujan yang menghidupkan; yang di sini diangkat oleh gerak yang keras dan berujung pada pandangan yang tertutup. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ia yang ketiga dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah 100:1 dan 100:2. Tiga ayat dari empat ayat pertama karena itu ditutup oleh kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerja di ayat ini cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 2:71, 30:9, 30:48, 35:9, dan ayat ini. Di 30:48 dan 35:9 Allah memakainya untuk angin yang Dia kirim lalu menggerakkan awan, dan di 2:71 untuk sapi yang tidak dipakai membajak tanah. Jadi satu akar menyebut angin yang berujung pada hujan, bajak yang membalik tanah, dan debu yang menutup pandangan. Yang di 30:48 dan 35:9 berujung pada hujan; yang di sini berujung pada pandangan yang tertutup.
- Kata kedua ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ia yang ketiga dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah 100:1 dan 100:2. Jadi tiga dari empat ayat pertama ditutup Allah oleh kata yang tidak punya kerabat di ayat mana pun, dan kepadatan itu terjadi di dalam empat ayat berturut-turut. Kepadatan itu terjadi di dalam empat ayat berturut-turut, bukan tersebar di seluruh surahnya.
- Bentuk kata kerjanya berubah dari tiga ayat sebelumnya. Tiga ayat pertama memakai bentuk pelaku, dan mulai ayat ini bentuknya kata kerja lampau. Perubahan itu memindahkan gambarannya dari sifat yang melekat kepada perbuatan yang sudah terjadi. Jadi yang tadinya digambarkan Allah sebagai apa adanya, di sini digambarkan sebagai apa yang dikerjakannya. Yang tadinya digambarkan sebagai apa adanya kini digambarkan sebagai apa yang dikerjakannya.
- Yang digambarkan debu yang terangkat dari tempatnya oleh gerak dari luar. Akar yang sama dipakai Allah untuk angin yang mengangkat awan dan berujung pada hujan yang menghidupkan. Di sini yang terangkat justru menutup pandangan. Apa yang membedakan sesuatu yang terangkat lalu menghidupkan dari sesuatu yang terangkat lalu membutakan? Surah ini tidak menjawabnya dengan satu kalimat pun. Surah ini tidak menjawabnya dengan satu kalimat pun, dan pembacanya yang menimbang.
- Kata ganti di ayat ini berbentuk tunggal laki-laki, padahal pelakunya jamak perempuan. Yang ditunjuknya karena itu bukan pelakunya melainkan sesuatu yang lain, dan Arabnya sendiri tidak memastikan apa. Terjemahannya menahan ketidakpastian itu tanpa menutupnya. Kata ganti yang sama muncul lagi di ayat berikutnya dengan kedudukan yang sama persis. Terjemahannya menahan ketidakpastian itu alih-alih menutupnya diam-diam dengan satu pilihan yang tak diambil teksnya.
- Dari seluruh gerak yang digambarkan Allah di empat ayat pertama, yang tersisa dan terlihat cuma debu. Bukan hasil, bukan barang, dan bukan sesuatu yang bisa dibawa pulang. Debu adalah bekas paling ringan yang bisa ditinggalkan sebuah kegiatan besar, dan ia menutup pandangan orang yang berada di dalamnya. Yang paling sibuk sering yang paling tidak bisa melihat apa yang sedang dikerjakannya. Yang paling sibuk sering yang paling tidak bisa melihat apa yang dikerjakannya. Debu itu bagian yang paling ringan dari seluruh adegan, dan justru itu yang tampak dari jauh. Yang menyaksikan dari kejauhan tidak melihat kudanya, tidak melihat pengendaranya, dan cuma melihat bekas yang naik ke udara.