إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

Sesungguhnya manusia benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌinna l-insaana li-rabbihi la-kanuudunsesungguhnya manusia benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
  3. لِرَبِّهِli-rabbihikepada Tuhannya
  4. لَكَنُودٌla-kanuudunbenar-benar sangat ingkar

Inti bacaan

Pernyataan inti tentang watak manusia: 'sesungguhnya manusia benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya', transisi dari citra perang menuju kritik tajam terhadap kecenderungan mengingkari nikmat, watak yang perlu disadari dan dilawan secara aktif.

Penjelasan pilihan kata

Kata (لَكَنُودٌ, la-kanuudun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti ingkar tak berterima kasih. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ia yang keempat dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah 100:1, 100:2, dan 100:4.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa jawaban sumpah lima ayat itu ternyata satu kalimat pendek tentang manusia. Bukan tentang hari akhir, bukan tentang balasan, dan bukan tentang alam. Lima ayat penuh gerak dipakai untuk membawa pendengarnya kepada satu pernyataan tentang dirinya sendiri.

Kata (الْإِنْسَانَ, al-insaana) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Jadi tidak ada pengecualian yang dinyatakan di dalam ayat ini, dan tidak ada golongan yang disebut terkecuali. Pengecualiannya memang tidak pernah datang di surah ini, berbeda dari pola surah 103 yang menyusulkan pengecualian di ayat berikutnya.

Kata (لِرَبِّهِ, li-rabbihi) menyebut Yang diingkari dengan kata yang berarti pemelihara dan pengasuh, bukan dengan kata yang berarti penguasa atau hakim. Pilihan itu menentukan bobot keingkarannya: yang diingkari bukan pihak yang jauh dan menakutkan, melainkan Yang memelihara dan menumbuhkannya. Ingkar kepada yang memelihara lebih berat daripada ingkar kepada yang tidak dikenal.

Huruf penegas dipakai dua kali di dalam ayat pendek ini, yaitu di awal kalimat dan di depan kata terakhirnya. Tekanan berlapis semacam itu dipakai untuk perkara yang diperkirakan akan dibantah. Jadi Al-Qur'an sendiri mengandaikan bahwa pernyataan ini tidak akan diterima dengan mudah oleh yang mendengarnya, dan 100:7 menjawab bantahan yang belum diucapkan itu.

Kedudukan (لِرَبِّهِ, li-rabbihi) di dalam kalimat juga perlu dicatat. Ia didahulukan sebelum kata terakhirnya, padahal susunan biasa menaruhnya sesudahnya. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini kepada siapa keingkaran itu tertuju. Jadi yang ditekankan bukan bahwa manusia ingkar, melainkan bahwa yang diingkarinya Yang memelihara dirinya sendiri.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut wujud keingkarannya, tidak disebut sejak kapan, dan tidak disebut apa yang membuatnya begitu. Yang disebut cuma sifatnya. Sebuah pernyataan yang menyebut sifat tanpa menyebut wujudnya tidak bisa dijawab dengan menunjuk satu perbuatan yang sudah diperbaiki, sebab yang dinyatakan bukan perbuatan melainkan kecenderungan. Kecenderungan tidak selesai dengan satu perbaikan.

Tafsiran

Ayat ini beralih menegur sifat ingkar manusia terhadap Tuhannya, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa jawaban sumpah lima ayat itu ternyata satu kalimat pendek tentang manusia. Bukan tentang hari akhir, bukan tentang balasan, dan bukan tentang alam. Lima ayat penuh gerak dipakai untuk membawa pendengarnya kepada satu pernyataan tentang dirinya sendiri.

Kata yang menyebut sifat itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ia yang keempat dari lima akar semacam itu di dalam surah ini, sesudah 100:1, 100:2, dan 100:4. Jadi sifat yang paling pokok di surah ini dinamai dengan kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun, sehingga tidak ada tempat lain untuk membandingkannya.

Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Tidak ada pengecualian yang dinyatakan di dalam ayat ini, dan pengecualiannya memang tidak pernah datang di surah ini. Ini berbeda dari pola surah 103, yang menyusulkan pengecualian di ayat berikutnya.

Yang diingkari disebut dengan kata yang berarti pemelihara dan pengasuh, bukan dengan kata yang berarti penguasa atau hakim. Pilihan itu menentukan bobot keingkarannya: yang diingkari bukan pihak yang jauh dan menakutkan, melainkan Yang memelihara dan menumbuhkannya. Ingkar kepada yang memelihara lebih berat daripada ingkar kepada yang tidak dikenal.

Renungan dan Hikmah

  • Jawaban sumpah lima ayat itu ternyata satu kalimat pendek tentang manusia. Bukan tentang hari akhir, bukan tentang balasan, dan bukan tentang alam. Allah memakai lima ayat penuh gerak untuk membawa pendengarnya kepada satu pernyataan tentang dirinya sendiri. Perbandingan panjangnya menyatakan sesuatu: yang dipakai menyiapkan jauh lebih panjang daripada yang disiapkan. Yang dipakai menyiapkan jauh lebih panjang daripada yang disiapkan, dan yang disiapkan cuma satu kalimat pendek.
  • Kata yang menyebut sifat itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ia yang keempat dari lima akar semacam itu di dalam surah ini. Jadi sifat yang paling pokok di surah ini dinamai Allah dengan kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun, sehingga tidak ada tempat lain untuk membandingkan dan melunakkannya. Tidak ada satu pun tempat lain untuk membandingkannya, dan karena itu tidak ada jalan untuk melunakkannya.
  • Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Tidak ada pengecualian yang dinyatakan Allah di dalam ayat ini, dan pengecualiannya memang tidak pernah datang di surah ini. Ini berbeda dari pola surah 103, yang menyusulkan pengecualian di ayat berikutnya. Di mana berdiri pembacanya kalau tidak ada satu pun yang dikecualikan? Pengecualiannya memang tidak pernah datang di surah ini sampai ayat terakhirnya selesai dibaca.
  • Yang diingkari disebut Allah dengan kata yang berarti pemelihara dan pengasuh, bukan dengan kata yang berarti penguasa atau hakim. Pilihan itu menentukan bobot keingkarannya: yang diingkari bukan pihak yang jauh dan menakutkan, melainkan Yang memelihara dan menumbuhkannya. Ingkar kepada yang memelihara lebih berat daripada ingkar kepada yang tidak dikenal sama sekali. Ingkar kepada yang memelihara lebih berat daripada ingkar kepada yang tidak dikenal.
  • Huruf penegas dipakai dua kali di dalam ayat pendek ini, yaitu di awal kalimat dan di depan kata terakhirnya. Tekanan berlapis semacam itu dipakai untuk perkara yang diperkirakan akan dibantah. Jadi Al-Qur'an sendiri mengandaikan bahwa pernyataan ini tidak akan diterima dengan mudah, dan ayat berikutnya menjawab bantahan yang bahkan belum sempat diucapkan. Ayat berikutnya menjawab bantahan yang bahkan belum sempat diucapkan.
  • Lima ayat sebelumnya seluruhnya tentang apa yang terjadi di luar: gerak, bunyi, api, debu, dan kumpulan. Ayat ini berpindah ke dalam diri manusia tanpa satu pun kalimat penghubung. Allah tidak menerangkan apa hubungan antara adegan di luar itu dan sifat di dalam ini. Perpindahan yang tidak dijembatani membuat pembacanya sendiri yang harus mencari sambungannya. Perpindahan yang tidak dijembatani membuat pembacanya sendiri yang mencari sambungannya. Perpindahan itu mendadak dan tidak dijembatani. Pembaca yang baru saja mengikuti debu dan derap tiba-tiba mendapati dirinya yang sedang dibicarakan, dan tidak ada satu kata pun yang menyiapkannya untuk itu.