وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ
Dan sesungguhnya dia atas yang demikian itu benar-benar menjadi saksi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌwa-innahu 'alaa dzaalika la-syahiidundan sesungguhnya dia atas yang demikian itu benar-benar menjadi saksi
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
- عَلَىٰ'alaaatas
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- لَشَهِيدٌla-syahiidunbenar-benar saksi
Inti bacaan
Kesaksian yang tak terelakkan: 'dan sesungguhnya dia atas hal itu benar-benar menjadi saksi', pengakuan bahwa manusia sendiri, entah melalui nurani atau pengakuan langsung, menjadi bukti atas keingkarannya sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata tunjuk di ayat ini, (ذَٰلِكَ, dzaalika), memuat dzaalika yang menunjuk jauh, dan hal itu dikonfirmasi morfologi. Karena itu ia diterjemahkan "itu" dan bukan "ini"; draf yang sudah memakai bentuk jauh sejak awal memang tepat, dan tidak diubah. Yang ditunjuknya keingkaran yang baru disebut di 100:6.
Kata (لَشَهِيدٌ, la-syahiidun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berhuruf penegas ini. Akarnya berarti menyaksikan. Ia dipakai di 123 ayat, dan artinya menyaksikan, hadir, atau memberi kesaksian. Jadi akar yang sangat sering dipakai memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan sekali itu di sini.
Yang paling perlu diperhatikan adalah siapa yang menjadi saksi. Kata ganti pada (وَإِنَّهُ, wa-innahu) di awal ayat bisa menunjuk manusia yang disebut di 100:6, dan bisa juga menunjuk Yang disebut sesudahnya. Arabnya sendiri tidak memastikan. Terjemahan ini mengambil pembacaan yang pertama, yaitu manusia sendiri yang menjadi saksi atas keingkarannya, sebab kata ganti sebelumnya di ayat ini dan di 100:8 sama-sama menunjuk manusia.
Pembacaan itu menutup satu pintu yang biasa dipakai. Orang bisa mengatakan bahwa ia tidak tahu dirinya ingkar, dan ayat ini menyatakan bahwa ia tahu. Sebuah keingkaran yang disaksikan sendiri oleh pelakunya tidak bisa dibela dengan ketidaktahuan, dan yang tersisa cuma pembelaan bahwa ia lupa.
Susunan tiga ayat berturut-turut di 100:6, ayat ini, dan 100:8 seluruhnya memakai huruf penegas yang sama di awal dan di depan kata terakhirnya. Jadi tiga pernyataan tentang manusia disusun dengan bentuk yang sama persis, dan yang berbeda cuma isinya. Kesejajaran bentuk itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu rangkaian yang tidak terputus.
Kedudukan (عَلَىٰ ذَٰلِكَ, 'alaa dzaalika) di dalam kalimat juga didahulukan, sama seperti keterangan di 100:6 dan 100:8. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai susunan yang sama: huruf penegas, pokok kalimat, keterangan yang didahulukan, lalu kata terakhir yang juga berhuruf penegas. Kesejajaran serapat itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu kalimat panjang yang dipenggal menjadi tiga.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut kapan kesaksian itu diberikan, tidak disebut kepada siapa, dan tidak disebut apakah ia diucapkan. Yang disebut cuma bahwa ia saksi. Kesaksian yang tidak perlu diucapkan tidak bisa ditarik kembali, dan kesaksian yang diberikan seseorang atas dirinya sendiri tidak memerlukan pihak kedua untuk mengesahkannya. Yang disaksikan sendiri juga tidak bisa dibantah sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa manusia sendiri menjadi saksi atas keingkarannya, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa Arabnya tidak memastikan siapa yang menjadi saksi. Kata gantinya bisa menunjuk manusia yang disebut di 100:6, dan bisa juga menunjuk Yang disebut sesudahnya.
Terjemahan ini mengambil pembacaan yang pertama, sebab kata ganti sebelumnya di ayat ini dan di 100:8 sama-sama menunjuk manusia. Pembacaan itu menutup satu pintu yang biasa dipakai. Orang bisa mengatakan bahwa ia tidak tahu dirinya ingkar, dan ayat ini menyatakan bahwa ia tahu. Keingkaran yang disaksikan sendiri oleh pelakunya tidak bisa dibela dengan ketidaktahuan.
Kata yang dipakai untuk saksi muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berhuruf penegas ini, sedangkan akarnya dipakai di 123 ayat. Jadi akar yang sangat sering dipakai memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan sekali itu di sini. Bentuk yang langka dipakai untuk perkara yang paling sulit diakui.
Susunan tiga ayat berturut-turut di 100:6, ayat ini, dan 100:8 seluruhnya memakai huruf penegas yang sama di awal dan di depan kata terakhirnya. Jadi tiga pernyataan tentang manusia disusun dengan bentuk yang sama persis, dan yang berbeda cuma isinya. Kesejajaran bentuk itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu rangkaian yang tidak terputus.
Renungan dan Hikmah
- Yang menjadi saksi atas keingkaran itu manusia sendiri. Pembacaan ini menutup satu pintu yang biasa dipakai orang: bahwa ia tidak tahu dirinya ingkar. Allah menyatakan bahwa ia tahu. Keingkaran yang disaksikan sendiri oleh pelakunya tidak bisa dibela dengan ketidaktahuan, dan yang tersisa cuma pembelaan bahwa ia lupa, dan lupa bukan pembelaan yang menyelamatkan. Yang tersisa cuma pembelaan bahwa ia lupa, dan lupa tidak menyelamatkan siapa pun.
- Kata ganti di awal ayat bisa menunjuk manusia yang disebut di ayat sebelumnya, dan bisa juga menunjuk Allah yang disebut sesudahnya. Arabnya sendiri tidak memastikan. Terjemahan ini mengambil pembacaan yang pertama sebab kata ganti sebelumnya di ayat ini dan di ayat berikutnya sama-sama menunjuk manusia, dan ketidakpastian itu dicatat alih-alih ditutup diam-diam. Ketidakpastian itu dicatat alih-alih ditutup diam-diam, sebab menutupnya berarti memutuskan yang tidak diputuskan teksnya.
- Kata yang dipakai untuk saksi muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berhuruf penegas ini, sedangkan akarnya dipakai di 123 ayat. Jadi akar yang sangat sering dipakai memberi satu bentuk yang cuma muncul sekali, dan sekali itu di sini. Allah memakai bentuk yang langka untuk perkara yang paling sulit diakui seseorang tentang dirinya. Allah memakai bentuk langka untuk perkara yang paling sulit diakui seseorang.
- Tiga ayat berturut-turut, yaitu ayat keenam, ayat ini, dan ayat kedelapan, seluruhnya memakai huruf penegas yang sama di awal dan di depan kata terakhirnya. Jadi tiga pernyataan tentang manusia disusun Allah dengan bentuk yang sama persis, dan yang berbeda cuma isinya. Kesejajaran bentuk itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu rangkaian yang tidak terputus. Kesejajaran itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu kalimat panjang yang dipenggal.
- Kata tunjuk di ayat ini memuat bentuk yang menunjuk jauh, dan hal itu dikonfirmasi morfologi. Karena itu ia diterjemahkan itu dan bukan ini. Yang ditunjuknya keingkaran yang baru disebut di ayat sebelumnya, dan menunjuknya dari jauh menaruh jarak antara orangnya dan perbuatannya. Bagaimana seseorang bisa menjadi saksi atas sesuatu yang ditunjuknya dari kejauhan? Menunjuknya dari jauh menaruh jarak antara orangnya dan perbuatannya sendiri, padahal ia saksinya.
- Ayat ini tidak menyatakan bahwa manusia keliru memahami dirinya. Ia menyatakan bahwa manusia menyaksikan dirinya. Jadi yang digambarkan Allah bukan kekeliruan melainkan pilihan yang diambil dengan mata terbuka. Sesuatu yang dikerjakan tanpa tahu masih bisa diperbaiki dengan pemberitahuan; sesuatu yang dikerjakan sambil menyaksikan diri sendiri memerlukan yang lain sama sekali. Yang dikerjakan sambil menyaksikan diri sendiri memerlukan obat yang lain sama sekali. Menjadi saksi atas diri sendiri berarti keterangan yang memberatkan sudah tersedia sejak sekarang, di dalam orangnya. Tidak ada yang perlu dikumpulkan dari luar, dan tidak ada saksi lain yang perlu dihadirkan untuk menguatkan.