وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌwa-innahu li-hubbi l-khayri la-syadiidunsesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  2. لِحُبِّli-hubbikarena cinta
  3. الْخَيْرِl-khayrikebaikan
  4. لَشَدِيدٌla-syadiidunbenar-benar keras

Inti bacaan

Diagnosis akar masalah materialisme: 'sesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan', identifikasi sumber ketidaksyukuran, kecintaan berlebihan terhadap kekayaan yang mengalahkan kesadaran spiritual.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (لِحُبِّ الْخَيْرِ, li-hubbi l-khayri) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (الْخَيْرِ, al-khayri) berasal dari akar yang berarti baik dan terpilih. Akar itu dipakai di 178 ayat dan artinya kebaikan, tetapi di sejumlah tempat ia dipakai untuk harta. Di 2:180 tertulis (إِنْ تَرَكَ خَيْرًا, in taraka khayran), jika ia meninggalkan harta, dalam pembicaraan tentang wasiat. Karena itu padanan "harta" dipakai di sini.

Pilihan itu sendiri menerangkan. Yang dicintai berlebihan dinamai dengan sebutan yang artinya kebaikan, bukan dengan sebutan yang artinya harta secara langsung. Jadi yang dikejar manusia memang disebut baik, dan yang salah bukan bendanya melainkan kadar kecintaannya. Al-Qur'an tidak mengubah nama bendanya menjadi sesuatu yang buruk untuk menyalahkan orang yang mengejarnya.

Kata (لَشَدِيدٌ, la-syadiidun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:7, 85:12, dan 100:8. Di 14:7 tertulis (إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ, inna 'adzaabii la-syadiidun), sesungguhnya azab-Ku benar-benar keras, dan kalimat itu datang persis sesudah janji tentang orang yang bersyukur. Di 85:12 ia dipakai untuk hantaman Tuhan.

Kesejajaran dengan 14:7 patut dicatat tersendiri. Di sana rangkaian itu menutup ancaman bagi orang yang tidak bersyukur, dan di sini ia menutup keterangan tentang manusia yang di 100:6 disebut ingkar. Jadi satu kata dipakai untuk kerasnya cinta manusia kepada harta dan untuk kerasnya balasan bagi ketidaksyukuran. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun.

Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum sifatnya, yaitu (لِحُبِّ الْخَيْرِ, li-hubbi l-khayri) lebih dulu, baru kemudian kata yang menyatakan kerasnya. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini bukan bahwa ia keras melainkan terhadap apa kerasnya itu tertuju.

Kedudukan huruf penegas di ayat ini sama dengan kedudukannya di 100:6 dan 100:7, yaitu di awal kalimat dan di depan kata terakhirnya. Jadi tiga pernyataan tentang manusia dibungkus dengan bungkus yang sama persis. Kesejajaran itu menyatakan bahwa ketiganya satu perkara, bukan tiga perkara yang kebetulan berdampingan, dan Al-Qur'an tidak perlu menyatakannya dengan kalimat penghubung.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa banyak harta yang membuat cinta itu berlebihan, tidak disebut cara memperolehnya, dan tidak disebut apa yang dikerjakannya dengan harta itu. Yang disebut cuma kerasnya kecintaan. Ketiadaan ukuran menutup jalan bagi orang yang hendak merasa aman dengan membandingkan dirinya kepada takaran tertentu.

Tafsiran

Ayat ini merinci sebab keingkaran tersebut: kecintaan berlebihan terhadap harta, dan pilihan katanya sendiri menerangkan. Yang dicintai berlebihan disebut dengan kata yang artinya kebaikan, bukan dengan kata yang artinya harta secara langsung. Jadi yang dikejar manusia memang disebut baik, dan yang salah bukan bendanya melainkan kadar kecintaannya.

Al-Qur'an tidak mengubah nama bendanya menjadi sesuatu yang buruk untuk menyalahkan orang yang mengejarnya. Kata yang sama dipakai di 2:180 untuk harta yang ditinggalkan seseorang dalam pembicaraan tentang wasiat, dan di sana ia tidak dicela sama sekali. Yang berbeda di sini cuma kadarnya.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:7, 85:12, dan ayat ini. Di 14:7 ia menutup ancaman bagi orang yang tidak bersyukur, dan di 85:12 ia dipakai untuk hantaman Tuhan. Jadi satu kata dipakai untuk kerasnya cinta manusia kepada harta dan untuk kerasnya balasan bagi ketidaksyukuran. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun.

Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata sifatnya, yaitu cintanya kepada harta lebih dulu, baru kemudian kata yang menyatakan kerasnya. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan bukan bahwa ia keras melainkan terhadap apa kerasnya itu tertuju.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dicintai berlebihan disebut Allah dengan kata yang artinya kebaikan, bukan dengan kata yang artinya harta secara langsung. Jadi yang dikejar manusia memang disebut baik, dan yang salah bukan bendanya melainkan kadar kecintaannya. Al-Qur'an tidak mengubah nama bendanya menjadi sesuatu yang buruk untuk menyalahkan orang yang mengejarnya, dan ketelitian itu menjaga agar celaannya jatuh di tempat yang benar. Ketelitian itu menjaga agar celaannya jatuh di tempat yang benar.
  • Kata terakhir ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 14:7, 85:12, dan 100:8. Di 14:7 Allah memakainya untuk azab bagi orang yang tidak bersyukur, dan di 85:12 untuk hantaman-Nya. Jadi satu kata dipakai untuk kerasnya cinta manusia kepada harta dan untuk kerasnya balasan bagi ketidaksyukuran. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun.
  • Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata sifatnya, yaitu cintanya kepada harta lebih dulu, baru kata yang menyatakan kerasnya. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan, dan yang ditegaskan bukan bahwa ia keras melainkan terhadap apa kerasnya itu tertuju. Kekerasan cinta bukan cacat pada dirinya; yang menentukan ke mana ia diarahkan. Kekerasan cinta bukan cacat pada dirinya; yang menentukan ke mana ia diarahkan.
  • Tiga ayat berturut-turut menyusun satu gambaran: manusia ingkar, manusia menyaksikannya sendiri, dan cintanya kepada harta sangat keras. Allah menaruh yang ketiga sesudah dua yang pertama tanpa menyatakan bahwa ia sebabnya. Apa yang menghubungkan keingkaran kepada Yang memelihara dengan kecintaan kepada yang dipelihara-Nya? Surah ini meletakkan keduanya berdampingan dan berhenti di situ. Surah ini meletakkan keduanya berdampingan dan berhenti di situ tanpa menjelaskan.
  • Rangkaian dua kata yang menyebut kecintaan kepada harta itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata pertamanya dipakai di banyak tempat dan kata keduanya dipakai di 178 ayat, tetapi keduanya dirangkai persis begini cuma sekali. Allah memakai rangkaian yang tidak punya pembanding untuk menyebut perkara yang justru paling sehari-hari di dalam hidup manusia. Rangkaian tanpa pembanding dipakai untuk perkara yang paling sehari-hari.
  • Yang dicela Allah kadarnya, bukan bendanya. Kata yang sama dipakai di 2:180 untuk harta yang ditinggalkan seseorang dalam pembicaraan tentang wasiat, dan di sana ia tidak dicela sama sekali. Jadi benda yang sama bisa berdiri di dalam kalimat yang memuji dan di dalam kalimat yang mencela, dan yang memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain cuma seberapa keras ia dipeluk. Yang memindahkannya dari pujian ke celaan cuma seberapa keras ia dipeluk. Yang disebut berlebihan bukan hartanya melainkan cintanya, dan cinta tidak punya satuan yang bisa diperiksa dari luar. Karena itu ukuran ini tidak bisa dijawab dengan menunjukkan berapa banyak yang sudah dikeluarkan.