أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ
Maka tidakkah dia mengetahui apabila dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِa-fa-laa ya'lamu idzaa bu'tsira maa fii l-qubuurimaka tidakkah dia mengetahui apabila dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur
Terjemahan per kata (7 kata)
- أَفَلَاa-fa-laamaka tidakkah
- يَعْلَمُya'lamumengetahui
- إِذَاidzaaapabila
- بُعْثِرَbu'tsiradibongkar
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- الْقُبُورِl-qubuurikubur
Inti bacaan
Peringatan tentang konsekuensi yang terlupakan: 'maka, tidakkah dia mengetahui (apa yang akan dialaminya) apabila dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur', pertanyaan yang mengarahkan perhatian pada momen kebangkitan sebagai pengingat akan konsekuensi dari materialisme berlebihan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(apa yang akan dialaminya)" tidak dipakai. Kata kerja (يَعْلَمُ, ya'lamu) di ayat ini memang tidak menyebutkan objeknya secara terpisah, sebab yang menjadi objeknya seluruh kalimat waktu yang menyusul. Menyisipkan keterangan tambahan akan menambah sesuatu yang tidak ada di dalam Arabnya.
Kata (بُعْثِرَ, bu'tsira) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 82:4 dan ayat ini. Akarnya berarti menjungkirkan sampai isinya keluar. Ia berhuruf empat, yang jarang di dalam bahasa Arab, dan ia juga cuma dipakai di 2 ayat itu saja. Di 82:4 tertulis bahwa kuburan-kuburan dibongkar-balik, dan di sini yang dibongkar-balik apa yang ada di dalamnya.
Bentuk (بُعْثِرَ, bu'tsira) pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membongkarnya. Bentuk yang sama dipakai di 82:4. Jadi di kedua tempat itu pelakunya sengaja tidak disebut, dan yang tersisa cuma perbuatannya. Sesuatu yang dikerjakan tanpa pelaku yang disebut tidak bisa dilawan dan tidak bisa dimintai keterangan.
Kalimat ini dibuka dengan huruf tanya yang diikuti huruf pengingkaran, sehingga bentuknya menjadi pertanyaan yang menyatakan keheranan. Bukan menanyakan apakah ia tahu, melainkan menyatakan bahwa seharusnya ia tahu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "maka tidakkah dia mengetahui", memakai bentuk pertanyaan yang sama untuk menahan keheranan yang sama.
Letak ayat ini juga menerangkan. Tiga ayat sebelumnya menyatakan sifat manusia, dan ayat ini berpindah kepada apa yang akan terjadi. Perpindahan itu tidak diberi satu pun kalimat pengantar. Yang menghubungkan keduanya cuma huruf tanya di awal ayat, dan huruf itu menyiratkan bahwa sifat di tiga ayat sebelumnya seharusnya sudah cukup untuk membuat orang menoleh kepada apa yang akan datang.
Kata (إِذَا, idzaa) yang dipakai di ayat ini menandai waktu yang pasti datang, bukan waktu yang mungkin datang. Bahasa Arab punya kata lain untuk pengandaian yang belum tentu terjadi, dan yang dipakai di sini bukan kata itu. Jadi yang dibicarakan bukan kemungkinan melainkan kepastian yang belum sampai waktunya. Pertanyaan di awal ayat karena itu bukan menanyakan apakah hal itu terjadi, melainkan menanyakan mengapa yang pasti terjadi tidak diperhitungkan.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut kapan hari itu tiba, tidak disebut tandanya, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudahnya. Yang disebut cuma satu peristiwa: apa yang di dalam kubur dikeluarkan. Apa yang membuat seseorang sanggup hidup seakan hal itu tidak akan pernah terjadi kepadanya? Surah ini tidak menjawabnya, dan bentuk pertanyaannya menyerahkan jawabannya kepada yang ditanya.
Tafsiran
Ayat ini mempertanyakan kelalaian manusia terhadap kepastian kebangkitan dari kubur, dan bentuk pertanyaannya menyatakan keheranan, bukan permintaan keterangan. Bukan menanyakan apakah ia tahu, melainkan menyatakan bahwa seharusnya ia tahu.
Kata kerjanya yang menyebut pembongkaran muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 82:4 dan ayat ini. Akarnya berhuruf empat, yang jarang di dalam bahasa Arab, dan ia juga cuma dipakai di 2 ayat itu saja. Di 82:4 yang dibongkar-balik kuburan-kuburannya, dan di sini yang dibongkar-balik apa yang ada di dalamnya.
Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membongkarnya, dan bentuk yang sama dipakai di 82:4. Jadi di kedua tempat itu pelakunya sengaja tidak disebut, dan yang tersisa cuma perbuatannya. Sesuatu yang dikerjakan tanpa pelaku yang disebut tidak bisa dilawan dan tidak bisa dimintai keterangan.
Letak ayat ini juga menerangkan. Tiga ayat sebelumnya menyatakan sifat manusia, dan ayat ini berpindah kepada apa yang akan terjadi. Perpindahan itu tidak diberi satu pun kalimat pengantar. Yang menghubungkan keduanya cuma huruf tanya di awal ayat, dan huruf itu menyiratkan bahwa sifat di tiga ayat sebelumnya seharusnya sudah cukup untuk membuat orang menoleh kepada apa yang akan datang.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat ini dibuka dengan huruf tanya yang diikuti huruf pengingkaran, sehingga bentuknya menjadi pertanyaan yang menyatakan keheranan. Bukan menanyakan apakah ia tahu, melainkan menyatakan bahwa seharusnya ia tahu. Allah tidak sedang meminta keterangan dari yang ditanya. Sebuah pertanyaan yang menyatakan keheranan menuntut pengakuan, bukan jawaban, dan pengakuan lebih sulit diberikan daripada jawaban. Pengakuan lebih sulit diberikan daripada jawaban, dan itulah yang dituntut.
- Kata kerja yang menyebut pembongkaran muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 82:4 dan ayat ini. Akarnya berhuruf empat, yang jarang di dalam bahasa Arab, dan ia juga cuma dipakai di 2 ayat itu saja. Di 82:4 Allah menyebut kuburan-kuburannya yang dibongkar-balik, dan di sini yang dibongkar-balik apa yang ada di dalamnya. Akar berhuruf empat jarang dipakai, dan yang ini cuma hidup di dua ayat.
- Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang membongkarnya, dan bentuk yang sama dipakai di 82:4. Jadi di kedua tempat itu pelakunya sengaja tidak disebut Allah, dan yang tersisa cuma perbuatannya. Sesuatu yang dikerjakan tanpa pelaku yang disebut tidak bisa dilawan dan tidak bisa dimintai keterangan, dan bentuk itu sendiri sudah menyatakan siapa yang berkuasa. Bentuk itu sendiri sudah menyatakan siapa yang berkuasa, tanpa perlu menyebutkan nama-Nya di dalam kalimatnya.
- Tiga ayat sebelumnya menyatakan sifat manusia, dan ayat ini berpindah kepada apa yang akan terjadi. Allah tidak memberi satu pun kalimat pengantar untuk perpindahan itu. Yang menghubungkan keduanya cuma huruf tanya di awal ayat, dan huruf itu menyiratkan bahwa sifat di tiga ayat sebelumnya seharusnya sudah cukup untuk membuat orang menoleh kepada apa yang akan datang. Sifat di tiga ayat sebelumnya seharusnya sudah cukup untuk membuat orang menoleh kepada apa yang akan datang.
- Yang dibongkar-balik di ayat ini bukan kuburannya melainkan apa yang ada di dalamnya. Di 82:4 yang disebut kuburannya. Jadi dua ayat memakai kata kerja yang sama untuk dua hal yang berbeda kedudukannya: wadahnya di sana, isinya di sini. Apa yang selama ini tersimpan dan dianggap sudah selesai ternyata masih akan dikeluarkan dan diperiksa. Apa yang selama ini tersimpan dan dianggap sudah selesai ternyata masih akan dikeluarkan dan diperiksa?
- Ayat ini tidak menuduh manusia tidak diberi tahu. Bentuk pertanyaannya justru mengandaikan bahwa ia seharusnya tahu. Jadi yang disebut Allah bukan ketiadaan keterangan melainkan ketiadaan perhatian terhadap keterangan yang sudah ada. Seseorang bisa mengetahui sesuatu dan tetap hidup seakan tidak mengetahuinya, dan jarak antara keduanya itulah yang ditunjuk ayat ini. Jarak antara mengetahui dan memperhatikan itulah yang ditunjuk ayat ini. Pertanyaannya menyiratkan bahwa keterangannya sudah sampai, sebab yang belum tahu tidak ditanya dengan cara seperti itu. Yang dipersoalkan bukan ketiadaan kabar, melainkan kabar yang diterima tanpa mengubah apa pun pada penerimanya.