إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ
Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu benar-benar waskita terhadap mereka.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌinna rabbahum bihim yawma'idzin la-khabiirunsesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu benar-benar waskita terhadap mereka
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبَّهُمْrabbahumTuhan mereka
- بِهِمْbihimpada mereka
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- لَخَبِيرٌla-khabiirunbenar-benar mengetahui
Inti bacaan
Penutup dengan jaminan pengetahuan menyeluruh: 'sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu benar-benar waskita terhadap (keadaan) mereka', kesimpulan yang menegaskan bahwa pengawasan ilahi mencakup pemahaman mendalam, bukan sekadar observasi permukaan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(keadaan)" tidak dipakai. Kata (بِهِمْ, bihim) di dalam Arabnya sudah cukup sebagai keterangan bagi kata terakhirnya, dan menyisipkan kata benda akan menambah sesuatu yang tidak ada. Yang tertulis waskita terhadap mereka, bukan waskita terhadap keadaan mereka, dan perbedaan itu menjaga agar yang diketahui orangnya sendiri, bukan sekadar hal-ihwalnya.
Kata (لَخَبِيرٌ, la-khabiirun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berhuruf penegas ini, yaitu di 35:31 dan 100:11. Akarnya berarti tahu sampai ke dalamnya. Ia dipakai di 52 ayat, dan artinya mengetahui sesuatu sampai ke seluk-beluknya yang tersembunyi, bukan sekadar mengetahui bahwa sesuatu ada. Padanan "waskita" menahan sisi ketembusannya itu.
Susunan ayat ini menaruh (بِهِمْ, bihim) dan (يَوْمَئِذٍ, yawma-idzin) sebelum kata terakhirnya. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini dua hal: kepada siapa pengetahuan itu tertuju, dan kapan. Baru sesudah kedua keterangan itu datang kata yang menyatakan sifatnya.
Bentuk kata ganti pada (بِهِمْ, bihim) berubah dari ayat-ayat sebelumnya. Di 100:6 sampai 100:9 yang dipakai bentuk tunggal, yaitu manusia dan kata ganti yang menunjuknya. Di ayat ini bentuknya jamak, yaitu Tuhan mereka dan terhadap mereka. Jadi gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi semua orang, dan pelebaran itu terjadi tepat di ayat penutupnya.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa surah ini tidak ditutup dengan siksa. Sesudah menyebut keingkaran, kesaksian atas diri sendiri, kecintaan yang keras kepada harta, pembongkaran kubur, dan pengeluaran isi dada, yang datang di ujungnya bukan hukuman melainkan sifat Tuhan mereka. Al-Qur'an berhenti pada pernyataan bahwa Dia mengetahui, dan tidak melangkah ke apa yang dikerjakan-Nya sesudah mengetahui.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yawma-idzin) menunjuk hari yang sudah dikenal dari dua ayat sebelumnya, yaitu hari ketika kubur dibongkar dan isi dada dikeluarkan. Jadi ayat ini tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada keduanya. Yang dikeluarkan lalu diketahui, dan urutan itu tidak dibalik. Pengetahuan yang datang sesudah segala sesuatu dikeluarkan bukan lagi pengetahuan yang bisa disembunyikan sesuatu darinya.
Perlu dicatat pula bahwa (رَبَّهُمْ, rabbahum) di ayat ini dan (لِرَبِّهِ, li-rabbihi) di 100:6 memuat satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surah ini. Ia muncul 2 kali, yaitu di 100:6 dan 100:11, sekali dengan kata ganti tunggal dan sekali dengan kata ganti jamak. Jadi surah yang seluruhnya tentang keingkaran manusia menamai Yang diingkari cuma dengan sifat memelihara, dan tidak sekali pun dengan sifat menghukum.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan bahwa Tuhan mengetahui secara menyeluruh keadaan manusia pada hari itu, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa surah ini tidak ditutup dengan siksa. Sesudah menyebut keingkaran, kesaksian atas diri sendiri, kecintaan yang keras kepada harta, pembongkaran kubur, dan pengeluaran isi dada, yang datang di ujungnya bukan hukuman melainkan sifat Tuhan mereka.
Al-Qur'an berhenti pada pernyataan bahwa Dia mengetahui, dan tidak melangkah ke apa yang dikerjakan-Nya sesudah mengetahui. Sebuah penutup yang berhenti pada pengetahuan menyerahkan sisanya kepada pembacanya, dan yang dibayangkannya sendiri jarang lebih ringan daripada yang dituliskan.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berhuruf penegas ini, yaitu di 35:31 dan ayat ini, sedangkan akarnya dipakai di 52 ayat. Artinya mengetahui sesuatu sampai ke seluk-beluknya yang tersembunyi, bukan sekadar mengetahui bahwa sesuatu ada. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Dia mendapat kabar, melainkan bahwa tidak ada bagian yang luput.
Bentuk kata gantinya berubah dari ayat-ayat sebelumnya. Di 100:6 sampai 100:9 yang dipakai bentuk tunggal, dan di ayat ini bentuknya jamak. Jadi gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi semua orang, dan pelebaran itu terjadi tepat di ayat penutupnya. Yang tunggal masih bisa dianggap orang lain; yang jamak mulai sulit dipastikan tidak memuat pembacanya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini tidak ditutup dengan siksa. Sesudah menyebut keingkaran, kesaksian atas diri sendiri, kecintaan yang keras kepada harta, pembongkaran kubur, dan pengeluaran isi dada, yang datang di ujungnya bukan hukuman melainkan sifat Tuhan mereka. Allah berhenti pada pernyataan bahwa Dia mengetahui, dan tidak melangkah ke apa yang dikerjakan-Nya sesudah mengetahui. Sebuah penutup yang berhenti pada pengetahuan menyerahkan sisanya kepada pembacanya.
- Kata terakhir ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berhuruf penegas ini, yaitu di 35:31 dan 100:11, sedangkan akarnya dipakai di 52 ayat. Artinya mengetahui sesuatu sampai ke seluk-beluknya yang tersembunyi, bukan sekadar mengetahui bahwa sesuatu ada. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Allah mendapat kabar, melainkan bahwa tidak ada bagian yang luput. Yang dinyatakan bukan bahwa Dia mendapat kabar, melainkan bahwa tak ada yang luput.
- Yang tertulis waskita terhadap mereka, bukan waskita terhadap keadaan mereka. Menyisipkan kata benda akan menambah sesuatu yang tidak ada di dalam Arabnya. Perbedaan itu menjaga agar yang diketahui Allah orangnya sendiri, bukan sekadar hal-ihwalnya. Diketahui seluruhnya sebagai diri berbeda dari diketahui sebagai kumpulan perbuatan yang bisa dihitung satu per satu. Diketahui sebagai diri berbeda dari diketahui sebagai kumpulan perbuatan.
- Susunan ayat ini menaruh keterangan tentang kepada siapa dan kapan sebelum kata terakhirnya. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini dua hal sekaligus: kepada siapa pengetahuan itu tertuju, dan pada hari apa. Baru sesudah kedua keterangan itu datang kata yang menyatakan sifat-Nya, dan urutan itu menaruh manusia lebih dulu di dalam kalimat. Urutan itu menaruh manusia lebih dulu di dalam kalimat, baru sifat-Nya.
- Di ayat keenam sampai kesembilan yang dipakai bentuk tunggal, dan di ayat ini bentuknya jamak. Jadi gambaran yang tadinya satu sosok melebar menjadi semua orang, dan pelebaran itu terjadi tepat di ayat penutupnya. Yang tunggal masih bisa dianggap orang lain; yang jamak mulai sulit dipastikan tidak memuat pembacanya sendiri. Di mana berdiri seseorang ketika yang disebut sudah menjadi mereka semua? Yang jamak mulai sulit dipastikan tidak memuat pembacanya sendiri.
- Di ayat keenam tertulis Tuhannya, dengan kata ganti tunggal, dan di sini tertulis Tuhan mereka. Jadi hubungan yang di pangkal digambarkan sebagai hubungan satu orang dengan Yang memeliharanya, di ujung digambarkan sebagai hubungan semua orang dengan Yang memelihara mereka. Yang tidak berubah cuma kata untuk Yang memelihara itu sendiri, dan kata itulah satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surah ini. Kata itu satu-satunya nama Allah yang dipakai di seluruh surah ini. Perpindahan dari tunggal ke jamak di kata terakhir surah menarik pembacanya keluar dari kesendirian. Yang tadi disebut manusia seorang diri, di penutup disebut sebagai bagian dari kumpulan yang seluruhnya diketahui.