بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
الْقَارِعَةُ
Bencana Dahsyat itu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الْقَارِعَةُal-qaari'atuBencana Dahsyat itu
Terjemahan per kata (1 kata)
- الْقَارِعَةُal-qaari'atuhari Kiamat
Inti bacaan
Pembukaan Al-Qari'ah dengan nama yang menggetarkan: 'Al-Qari'ah (yang mengetuk keras)', penamaan langsung yang membawa konotasi kejutan dan intensitas, membuka surah dengan kata yang penuh muatan emosional.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Al-Qaari'ah, yang juga nama surah ini sendiri, diterjemahkan menjadi "Bencana Dahsyat itu" dan bukan ditransliterasi polos, konsisten dengan 69:4. Ini koreksi konsistensi lintas-surah bagi julukan Hari Kiamat yang sama, sebab (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) di dalam bahasa Arabnya memang menerangkan dirinya sendiri.
Bentuk (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) adalah bentuk pelaku dari akar yang berarti mengetuk keras. Akar itu berarti mengetuk atau memukul keras. Akar itu dipakai di 5 ayat, yaitu 13:31, 69:4, 101:1, 101:2, dan 101:3. Jadi tiga dari lima pemakaiannya berada di dalam surah ini sendiri, dan ketiganya di tiga ayat pertamanya secara berurutan.
Dua pemakaian di luar surah ini patut dicatat. Di 69:4 tertulis (بِالْقَارِعَةِ, bi-l-qaari'ati) dalam kalimat bahwa Samud dan Ad telah mendustakan Bencana Dahsyat itu. Jadi nama ini sudah dipakai untuk kaum-kaum terdahulu, dan bukan sebutan yang baru diperkenalkan di sini. Di 13:31 akar yang sama muncul dalam kalimat tentang bencana yang menimpa orang karena perbuatan mereka sendiri.
Ayat ini terdiri atas (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) saja, dan satu kata itu sudah menjadi satu ayat penuh. Tidak ada kata kerja, tidak ada keterangan, dan tidak ada kalimat. Yang ada cuma sebuah nama yang dilemparkan begitu saja kepada pendengarnya. Sebuah nama yang berdiri sendirian tanpa kalimat tidak menyatakan apa pun kecuali bahwa ia ada, dan justru ketiadaan keterangan itulah yang membuat dua ayat berikutnya diperlukan.
Padanan "Bencana Dahsyat itu" menahan dua hal sekaligus. Yang pertama sisi keterangannya, sebab kata Arabnya memang menerangkan sifat, bukan sekadar menamai. Yang kedua sisi ketertentuannya, sebab Arabnya memakai kata sandang, sehingga yang disebut bukan sembarang bencana melainkan yang sudah dikenal namanya. Menerjemahkannya menjaga agar pembaca Indonesia menerima keterangan yang sama dengan pembaca Arabnya.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut waktu, tidak menyebut tempat, dan tidak menyebut siapa yang mengalaminya. Ketiganya baru muncul di 101:4 dan sesudahnya. Jadi tiga ayat pertama surah ini bekerja seluruhnya dengan sebuah nama, tanpa satu pun keterangan yang bisa dipegang. Yang dipegang pendengarnya cuma bunyi nama itu dan arti yang terbawa oleh akarnya.
Bandingkan cara membuka ini dengan cara membuka surah 102 dan 104. Surah 102 dibuka dengan kalimat lengkap yang menyebut pelaku dan objeknya, dan surah 104 dibuka dengan seruan yang diikuti sifat orangnya. Surah ini dibuka dengan sebuah nama tanpa kalimat sama sekali. Perbedaan itu menentukan kecepatan pembacanya: yang diberi kalimat bisa langsung menimbang isinya, sedangkan yang diberi nama harus menunggu sampai ayat keempat.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan satu kata saja, dan satu kata itu sudah menjadi satu ayat penuh. Tidak ada kata kerja, tidak ada keterangan, dan tidak ada kalimat. Yang ada cuma sebuah nama yang dilemparkan begitu saja kepada pendengarnya.
Nama itu bentuk pelaku dari akar yang berarti mengetuk atau memukul keras, dan akar itu dipakai di 5 ayat saja: 13:31, 69:4, 101:1, 101:2, dan 101:3. Jadi tiga dari lima pemakaiannya berada di dalam surah ini, dan ketiganya berurutan di tiga ayat pertamanya. Sebuah akar yang jarang dipakai dipadatkan ke satu tempat.
Di 69:4 nama yang sama dipakai dalam kalimat bahwa Samud dan Ad telah mendustakannya. Jadi ia bukan sebutan yang baru diperkenalkan di sini, melainkan nama yang sudah pernah didengar dan sudah pernah ditolak. Yang ditolak kaum-kaum terdahulu ternyata hal yang sama dengan yang sedang disebut sekarang.
Sebuah nama yang berdiri sendirian tanpa kalimat tidak menyatakan apa pun kecuali bahwa ia ada. Justru ketiadaan keterangan itulah yang membuat 101:2 dan 101:3 diperlukan, dan keduanya pun tidak menerangkan melainkan bertanya. Baru di 101:4 gambarannya mulai diberikan, dan gambaran itu pun bukan tentang bencananya melainkan tentang apa yang terjadi pada manusia dan gunung.
Renungan dan Hikmah
- Allah membuka surah ini dengan satu kata saja, dan satu kata itu sudah menjadi satu ayat penuh. Tidak ada kata kerja, tidak ada keterangan, dan tidak ada kalimat di dalamnya. Yang ada cuma sebuah nama yang dilemparkan begitu saja kepada pendengarnya. Sebuah nama yang berdiri sendirian tanpa kalimat tidak menyatakan apa pun kecuali bahwa ia ada, dan justru ketiadaan keterangan itulah yang membuat dua ayat berikutnya diperlukan. Yang diberi kalimat bisa langsung menimbang isinya; yang diberi nama harus menunggu.
- Akar nama ini dipakai di 5 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu 13:31, 69:4, 101:1, 101:2, dan 101:3. Jadi tiga dari lima pemakaiannya berada di dalam surah ini, dan ketiganya berurutan di tiga ayat pertamanya. Allah memadatkan sebuah akar yang jarang dipakai ke satu tempat, dan pemadatan itu sendiri sudah menyatakan sesuatu tentang bobot yang sedang ditimpakan kepada namanya. Tiga dari lima pemakaiannya berdesakan di tiga ayat pertama satu surah pendek.
- Di 69:4 nama yang sama dipakai Allah dalam kalimat bahwa Samud dan Ad telah mendustakannya. Jadi ia bukan sebutan yang baru diperkenalkan di sini, melainkan nama yang sudah pernah didengar dan sudah pernah ditolak. Yang ditolak kaum-kaum terdahulu ternyata hal yang sama dengan yang sedang disebut sekarang, dan penolakan mereka tidak membuatnya batal ataupun berkurang. Penolakan tidak pernah menjadi bukti bahwa yang ditolak itu tidak ada.
- Nama ini bentuk pelaku dari akar yang berarti mengetuk atau memukul keras, sehingga di dalam bahasa Arabnya ia menerangkan dirinya sendiri. Karena itu ia diterjemahkan, bukan ditransliterasi polos. Menerjemahkannya menjaga agar pembaca Indonesia menerima keterangan yang sama dengan pembaca Arabnya. Nama yang sudah menjadi keterangan bagi dirinya tidak memerlukan kalimat penjelas di belakangnya. Karena itu ia diterjemahkan, bukan dibiarkan sebagai bunyi asing yang tak berarti apa-apa.
- Akar yang dipakai Allah berarti mengetuk atau memukul keras, bukan menghancurkan dan bukan membakar. Mengetuk adalah sesuatu yang datang dari luar dan meminta perhatian, dan ia mengandaikan ada yang di dalam yang belum menyadarinya. Apa yang sedang dikerjakan seseorang sehingga ia perlu diketuk lebih dulu sebelum diberi tahu? Surah ini tidak menjawabnya, dan ketiadaan jawaban itu menyisakan pertanyaannya pada pembacanya. Yang mengetuk datang dari luar dan meminta perhatian dari yang di dalam.
- Arabnya memakai kata sandang, sehingga yang disebut bukan sembarang bencana melainkan yang sudah dikenal namanya. Ketertentuan itu bagian dari yang hendak dinyatakan Allah: pendengarnya dianggap sudah tahu apa yang sedang dibicarakan, sekalipun ayat ini tidak menerangkannya. Menyapa orang dengan sesuatu yang dianggap sudah diketahuinya bekerja berbeda dari memperkenalkan sesuatu yang baru. Menyapa dengan yang dianggap sudah diketahui bekerja berbeda dari memperkenalkan yang baru.