مَا الْقَارِعَةُ
Apakah Bencana Dahsyat itu?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَا الْقَارِعَةُmaa l-qaari'atuapakah Bencana Dahsyat itu
Terjemahan per kata (2 kata)
- مَاmaaapakah
- الْقَارِعَةُl-qaari'atuhari Kiamat
Inti bacaan
Pertanyaan retoris yang membangun rasa penasaran: 'apakah al-Qari'ah itu?', teknik yang mengundang perenungan sebelum penjelasan lebih lanjut diberikan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini konsisten dengan koreksi 101:1, sehingga (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) tetap diterjemahkan dan bukan ditransliterasi. Yang berubah dari ayat sebelumnya cuma satu kata di depan, yaitu kata tanya, sehingga ayat ini adalah ayat pertama ditambah satu kata.
Susunan pertanyaannya patut dicatat. Yang dipakai bukan kata ganti melainkan nama yang sama diulang utuh. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut dengan kata ganti supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Nama (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) disebut dua kali dalam dua ayat berturut-turut, dan kedua kalinya utuh.
Bentuk (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 101:1, 101:2, dan 101:3. Ketiganya berada di dalam surah ini, berurutan tanpa jeda. Jadi bentuk yang tidak dipakai di ayat lain mana pun diulang tiga kali dalam tiga ayat pertama sebuah surah pendek.
Pertanyaan ini tidak menunggu jawaban dari pendengarnya. Ia tidak menanyakan sesuatu yang bisa dijawab, sebab yang ditanyakan namanya sendiri, dan namanya sudah disebut satu ayat sebelumnya. Jadi yang dikerjakan pertanyaan ini bukan meminta keterangan melainkan menahan perhatian pada kata itu. Sebuah pertanyaan yang menanyakan hal yang baru saja disebutkan memaksa pendengarnya berhenti di kata itu, bukan melewatinya.
Susunan tiga ayat pertama surah ini menaik menurut jumlah katanya: satu kata, lalu dua kata, lalu empat kata. Tiap ayat memuat (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu), dan tiap kali sesuatu ditambahkan di depannya. Jadi yang bertambah bukan keterangannya melainkan jarak antara pendengarnya dan namanya. Semakin panjang ayatnya, semakin jauh nama itu didorong ke belakang, dan semakin lama pendengarnya menunggu untuk sampai kepadanya.
Perlu dicatat bahwa ayat ini tidak menambahkan satu pun keterangan baru. Ia mengulang, lalu bertanya. Keterangannya baru datang di 101:4, dua ayat kemudian, dan ketika datang pun ia bukan tentang bencananya melainkan tentang apa yang terjadi pada manusia dan gunung. Jadi surah ini menahan keterangan selama tiga ayat berturut-turut, dan penahanan itu bukan kekurangan bahan melainkan cara kerjanya.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menganggapnya sekadar pengulangan yang tidak perlu. Kalau ia sekadar pengulangan, kata tanya di depannya tidak diperlukan. Yang ditambahkan justru satu kata yang memindahkan kalimatnya dari pernyataan menjadi pertanyaan, dan memindahkan pendengarnya dari kedudukan menerima menjadi kedudukan ditanya. Perubahan kedudukan itu tidak bisa dikerjakan oleh pengulangan biasa.
Tafsiran
Ayat ini mempertanyakan hakikat Bencana Dahsyat tersebut, dan ia mengulang nama yang baru disebut. Yang berubah dari ayat sebelumnya cuma satu kata di depan. Jadi ayat ini adalah ayat pertama ditambah satu kata tanya. Yang dipakai bukan kata ganti melainkan nama yang sama diulang utuh.
Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut dengan kata ganti supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Nama itu disebut dua kali dalam dua ayat berturut-turut, dan kedua kalinya utuh. Bentuknya sendiri muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 101:1, 101:2, dan 101:3, dan ketiganya di dalam surah ini secara berurutan.
Pertanyaan ini tidak menunggu jawaban dari pendengarnya. Ia tidak menanyakan sesuatu yang bisa dijawab, sebab yang ditanyakan namanya sendiri, dan namanya sudah disebut satu ayat sebelumnya. Jadi yang dikerjakannya bukan meminta keterangan melainkan menahan perhatian pada kata itu.
Susunan tiga ayat pertama surah ini menaik menurut jumlah katanya: satu, lalu dua, lalu empat. Tiap ayat memuat nama yang sama, dan tiap kali sesuatu ditambahkan di depannya. Yang bertambah bukan keterangannya melainkan jarak antara pendengarnya dan namanya. Semakin panjang ayatnya, semakin jauh nama itu didorong ke belakang, dan semakin lama pendengarnya menunggu untuk sampai kepadanya.
Renungan dan Hikmah
- Yang dipakai Allah bukan kata ganti melainkan nama yang sama diulang utuh. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut dengan kata ganti supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Nama itu disebut dua kali dalam dua ayat berturut-turut, dan kedua kalinya utuh. Pengulangan utuh menahan perhatian pada kata itu sendiri, bukan pada kalimat yang memuatnya. Pengulangan utuh memaksa pendengarnya berhenti di kata itu, bukan melewatinya.
- Pertanyaan ini tidak menunggu jawaban dari pendengarnya. Ia tidak menanyakan sesuatu yang bisa dijawab, sebab yang ditanyakan namanya sendiri, dan namanya sudah disebut satu ayat sebelumnya. Jadi yang dikerjakan Allah bukan meminta keterangan melainkan menahan perhatian pada kata itu. Sebuah pertanyaan tentang hal yang baru saja disebutkan memaksa pendengarnya berhenti di sana, bukan melewatinya. Yang ditanya tidak sedang diuji, melainkan sedang ditahan perhatiannya.
- Susunan tiga ayat pertama surah ini menaik menurut jumlah katanya: satu kata, lalu dua kata, lalu empat kata. Tiap ayat memuat nama yang sama, dan tiap kali sesuatu ditambahkan di depannya. Yang bertambah bukan keterangannya melainkan jarak antara pendengarnya dan namanya. Berapa lama seseorang sanggup menunggu sebelum ia menuntut keterangan atas sesuatu yang menakutkannya? Semakin panjang ayatnya, semakin jauh nama itu didorong ke belakang.
- Bentuk nama ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 101:1, 101:2, dan 101:3, dan ketiganya berada di dalam surah ini secara berurutan tanpa jeda. Jadi bentuk yang tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun diulang tiga kali dalam tiga ayat pertama sebuah surah pendek. Kepadatan semacam itu tidak terjadi tanpa maksud pada teks yang tiap katanya diperhitungkan. Kepadatan semacam itu tidak terjadi tanpa maksud pada teks yang tiap katanya diperhitungkan.
- Ayat ini tidak menambahkan satu pun keterangan baru tentang apa yang sedang dibicarakan. Ia mengulang, lalu bertanya. Keterangannya baru datang di 101:4, dua ayat kemudian, dan ketika datang pun ia bukan tentang bencananya melainkan tentang apa yang terjadi pada manusia dan gunung. Allah menunda keterangannya, dan penundaan itu bekerja pada orang yang menunggunya. Penundaan itu bekerja pada orang yang menunggunya, bukan pada teksnya.
- Perbedaan antara ayat ini dan ayat sebelumnya cuma satu kata. Sebuah kata tanya ditaruh di depan, dan seluruh sisanya tetap. Perubahan sekecil itu sudah cukup untuk memindahkan kalimatnya dari pernyataan menjadi pertanyaan, dan memindahkan pendengarnya dari menerima menjadi ditanya. Allah tidak memerlukan kalimat baru untuk memindahkan kedudukan orang yang mendengarnya. Allah tidak memerlukan kalimat baru untuk memindahkan kedudukan pendengarnya. Mengulang nama alih-alih memakai kata ganti membuat namanya terdengar tiga kali dalam tiga ayat pendek. Pengulangan seperti itu bekerja pada telinga sebelum bekerja pada pikiran, dan itulah yang membuat namanya melekat sebelum artinya diterangkan.