يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ

Pada hari manusia seperti laron yang berhamburan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِyawma yakuunu n-naasu ka-l-faraasyi l-mabtsuutsipada hari manusia seperti laron yang berhamburan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. يَكُونُyakuunuadalah
  3. النَّاسُn-naasumanusia
  4. كَالْفَرَاشِka-l-faraasyiseperti anai-anai
  5. الْمَبْثُوثِl-mabtsuutsiyang bertebaran

Inti bacaan

Perumpamaan dramatis kekacauan manusia: 'pada hari manusia seperti laron yang berhamburan', citra kepanikan tanpa arah yang jelas, kehilangan orientasi total di tengah krisis besar.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَالْفَرَاشِ, ka-l-faraasyi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menghamparkan. Ia dipakai di 6 ayat, yaitu 2:22, 6:142, 51:48, 55:54, 56:34, dan ayat ini. Di 2:22 tertulis (جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا, ja'ala lakumu l-ardha firaasyan), Dia menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan. Jadi akar yang menamai binatang di sini juga dipakai untuk menyebut bumi yang dihamparkan sebagai tempat tinggal.

Kata (الْمَبْثُوثِ, al-mabtsuutsi) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyebar berhamburan. Ia dipakai di 9 ayat, yaitu 2:164, 4:1, 12:86, 31:10, 42:29, 45:4, 56:6, 88:16, dan ayat ini. Di 2:164 dan 31:10 tertulis (بَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ, batstsa fiihaa min kulli daabbatin), Dia menebarkan di dalamnya segala jenis makhluk melata, dan di kedua tempat itu penebaran disebut sebagai tanda kekuasaan. Di 88:16 tertulis (زَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ, zaraabiyyu mabtsuutsatun), permadani yang terhampar, dan itu gambaran surga.

Jadi satu akar dipakai untuk tiga keadaan yang berbeda: makhluk yang ditebarkan Allah di bumi sebagai tanda, permadani yang terhampar di surga, dan manusia yang berhamburan pada hari itu. Bentuk (الْمَبْثُوثِ, al-mabtsuutsi) yang dipakai di sini bentuk yang dikenai pekerjaan, sehingga mereka bukan berhamburan sendiri melainkan dihamburkan.

Perbandingan yang dipakai patut dicatat tersendiri. Laron adalah binatang yang bergerak banyak tanpa arah dan yang terkenal karena mendatangi api. Bahasa Indonesia menahannya dengan "laron", bukan dengan kata umum seperti serangga, sebab gambaran yang dibawa Arabnya memang gambaran binatang kecil yang berhamburan dan tak punya tujuan yang bisa dibaca dari geraknya.

Kata (يَوْمَ, yauma) di awal ayat menandai waktu, dan ia menyambung kembali kepada nama di tiga ayat sebelumnya. Jadi ayat ini keterangan waktu bagi (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu), bukan kalimat baru yang berdiri sendiri. Sesudah tiga ayat menahan keterangan, yang akhirnya diberikan bukan keterangan tentang bencananya melainkan tentang apa yang terjadi pada manusia ketika ia datang.

Perlu dicatat bahwa ayat ini yang pertama memuat perbuatan di dalam surah ini. Tiga ayat sebelumnya seluruhnya tanpa perbuatan: sebuah nama, lalu nama itu ditanyakan, lalu ditanyakan sekali lagi. Baru di sini sesuatu terjadi. Jadi surah ini menahan gerak selama tiga ayat, dan gerak yang pertama kali muncul adalah gerak manusia yang dihamburkan, bukan gerak bencananya sendiri.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut ke mana mereka berhamburan, tidak disebut apa yang mereka cari, dan tidak disebut apakah mereka saling melihat. Gambaran yang dibiarkan tanpa arah itu sejalan dengan perbandingannya, sebab gerak laron memang tidak menerangkan tujuan apa pun kepada yang melihatnya.

Tafsiran

Ayat ini akhirnya memberikan gambaran sesudah tiga ayat menahannya, dan yang digambarkan bukan bencananya melainkan apa yang terjadi pada manusia. Kata waktu di awal ayat menyambung kembali kepada nama di tiga ayat sebelumnya, sehingga ayat ini keterangan waktu dan bukan kalimat baru yang berdiri sendiri.

Perbandingannya laron, yaitu binatang yang bergerak banyak tanpa arah dan yang terkenal karena mendatangi api. Yang dipilih bukan binatang yang kuat dan bukan binatang yang besar. Manusia yang biasanya menghitung dirinya menurut kedudukan dan kepemilikan digambarkan dengan makhluk yang tidak punya keduanya, dan yang geraknya tidak menerangkan tujuan apa pun.

Akar kata kedua di ayat ini dipakai di 9 ayat, dan dua di antaranya menyebut makhluk yang ditebarkan Allah di bumi sebagai tanda kekuasaan, yaitu 2:164 dan 31:10. Satu lagi di 88:16 menyebut permadani yang terhampar di surga. Jadi satu akar memikul penebaran yang menjadi tanda, penghamparan yang menjadi kenikmatan, dan penghamburan yang menjadi kekacauan.

Bentuk kata keduanya bentuk yang dikenai pekerjaan, sehingga mereka bukan berhamburan sendiri melainkan dihamburkan. Perbedaan itu menentukan. Yang berhamburan sendiri masih punya sisa kehendak yang menggerakkannya, sedangkan yang dihamburkan tidak punya sama sekali. Akar yang sama dipakai untuk menyebut bumi yang dihamparkan di 2:22 juga menamai binatangnya di sini, dan tempat tinggal yang dihamparkan itulah yang ditinggalkan pada hari yang digambarkan.

Renungan dan Hikmah

  • Perbandingan yang dipakai Allah laron, yaitu binatang yang bergerak banyak tanpa arah dan yang terkenal karena mendatangi api. Yang dipilih bukan binatang yang kuat dan bukan binatang yang besar. Manusia yang biasanya menghitung dirinya menurut kedudukan dan kepemilikan digambarkan dengan makhluk yang tidak punya keduanya, dan yang geraknya tidak menerangkan tujuan apa pun bagi yang melihatnya. Yang dipilih justru makhluk yang paling tidak diperhitungkan siapa pun.
  • Bentuk kata kedua di ayat ini bentuk yang dikenai pekerjaan, sehingga mereka bukan berhamburan sendiri melainkan dihamburkan. Perbedaan itu menentukan. Yang berhamburan sendiri masih punya sisa kehendak yang menggerakkannya; yang dihamburkan tidak punya sama sekali. Allah menaruh manusia pada kedudukan yang dikenai, sama seperti Dia menaruh mereka sebagai objek di ayat pertama surah 102. Yang dikenai tidak punya sisa kehendak yang bisa menggerakkannya sendiri.
  • Akar kata kedua dipakai di 9 ayat, yaitu 2:164, 4:1, 12:86, 31:10, 42:29, 45:4, 56:6, 88:16, dan ayat ini. Di 2:164 dan 31:10 ia menyebut makhluk yang ditebarkan Allah di bumi sebagai tanda kekuasaan, dan di 88:16 ia menyebut permadani yang terhampar di surga. Jadi satu akar memikul penebaran yang menjadi tanda, penghamparan yang menjadi kenikmatan, dan penghamburan yang menjadi kekacauan. Yang menyatukan ketiganya bukan keadaannya, melainkan bahwa ketiganya diatur Allah.
  • Akar kata pertama dipakai di 6 ayat, yaitu 2:22, 6:142, 51:48, 55:54, 56:34, dan ayat ini. Di 2:22 Allah menyebut bahwa Dia menjadikan bumi sebagai hamparan bagi manusia. Jadi akar yang menamai binatang di ayat ini juga dipakai untuk menyebut tempat tinggal yang disediakan bagi mereka. Tempat yang dihamparkan itulah yang ditinggalkan pada hari yang sedang digambarkan. Tempat yang dihamparkan itulah yang ditinggalkan pada hari yang digambarkan.
  • Sesudah tiga ayat menahan keterangan, yang akhirnya diberikan Allah bukan keterangan tentang bencananya melainkan tentang apa yang terjadi pada manusia. Bencananya sendiri tidak pernah digambarkan di seluruh surah ini. Yang digambarkan cuma bekasnya pada yang terkena. Apa yang lebih menerangkan tentang sebuah kejadian, gambaran kejadiannya sendiri atau gambaran orang yang mengalaminya? Bencananya sendiri tidak pernah digambarkan di seluruh sebelas ayat surah ini.
  • Laron muncul dalam jumlah yang banyak sekali dan tidak pernah dihitung siapa pun. Gambaran itu berhadapan dengan kebiasaan manusia menghitung dan membedakan dirinya dari yang lain. Pada hari itu yang tersisa cuma banyaknya, tanpa nama dan tanpa urutan. Allah memakai gambaran yang paling jauh dari cara manusia biasa memandang dirinya, dan jarak itulah yang membuat gambarannya bekerja. Allah memakai gambaran yang paling jauh dari cara manusia memandang dirinya. Laron bergerak banyak sekali tetapi tidak satu pun bergerak menurut tujuannya sendiri, dan di situlah letak perbandingannya.