وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ
Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِwa-takuunu l-jibaalu ka-l-'ihni l-manfuusyidan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَتَكُونُwa-takuunudan menjadi
- الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
- كَالْعِهْنِka-l-'ihniseperti bulu
- الْمَنْفُوشِl-manfuusyiyang dihamburkan
Inti bacaan
Perumpamaan kedua tentang kehancuran struktural: 'dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan', transformasi dari benda paling padat menjadi seringan bulu yang tertiup, penegasan skala perubahan kosmik.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (كَالْعِهْنِ, ka-l-'ihni) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 70:9 dan 101:5. Akarnya berarti bulu domba berwarna. Ia dipakai di 2 ayat itu saja, sehingga ia akar yang tidak punya pemakaian lain sama sekali. Di 70:9 tertulis (وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ, wa-takuunu l-jibaalu ka-l-'ihni), dan gunung-gunung menjadi seperti bulu. Jadi lima kata pertama ayat ini sama persis dengan seluruh isi 70:9.
Yang membedakan keduanya kata terakhirnya. Di sini ditambahkan (الْمَنْفُوشِ, al-manfuusyi), yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti dihambur seperti bulu. Ia dipakai di 2 ayat saja, yaitu 21:78 dan ayat ini. Di 21:78 tertulis (نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ, nafasyat fiihi ghanamu l-qaumi), ketika kambing-kambing milik kaum itu masuk merusak ladang pada malam hari. Jadi akar yang sama menyebut ternak yang menyebar tak terkendali dan bulu yang diurai sampai lepas seratnya.
Perbandingan yang dipakai menerangkan lewat berat. Gunung adalah benda paling padat dan paling berat yang dikenal manusia, dan bulu yang sudah diurai adalah keadaan paling ringan yang bisa dialami sebuah benda padat. Jadi yang digambarkan bukan gunung yang hancur melainkan gunung yang kehilangan beratnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "bulu yang dihambur-hamburkan", memakai perulangan untuk menahan sisi terurainya.
Hubungan dengan 101:4 juga terang. Dua ayat berturut-turut memakai perbandingan, dan keduanya tentang sesuatu yang menjadi ringan dan tersebar. Manusia menjadi seperti laron, gunung menjadi seperti bulu terurai. Yang paling banyak jumlahnya dan yang paling besar ukurannya sama-sama kehilangan bobotnya pada hari yang sama.
Kesejajaran itu menyiapkan 101:6. Dua ayat menggambarkan hilangnya berat pada segala sesuatu, lalu ayat berikutnya menyebut timbangan. Jadi ketika semua yang dahulu berat sudah kehilangan beratnya, yang tersisa untuk ditimbang bukan lagi benda. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan urutan ayatnya sendiri yang mengerjakannya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut apa yang membuat gunung menjadi begitu, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudahnya. Yang disebut cuma keadaan akhirnya. Sebuah gambaran yang menyebut hasil tanpa menyebut sebab tidak menyediakan tempat untuk bertanya bagaimana, dan yang tersisa cuma menerima gambarannya sebagaimana ia diberikan.
Perlu dicatat pula bahwa dua ayat perbandingan ini berdiri sejajar dalam susunannya. Keduanya memakai kata kerja yang sama artinya, keduanya memakai huruf perbandingan, dan keduanya ditutup oleh satu kata sifat yang menerangkan keadaan terurainya. Kesejajaran bentuk itu membuat kesejajaran isinya terbaca tanpa perlu dinyatakan, dan surah ini memang tidak menyatakannya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan perbandingan dengan gambaran kedua, dan lima kata pertamanya sama persis dengan seluruh isi 70:9. Yang membedakan keduanya cuma kata terakhirnya, yang di sini ditambahkan dan muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Perbandingannya menerangkan lewat berat. Gunung adalah benda paling padat dan paling berat yang dikenal manusia, dan bulu yang sudah diurai adalah keadaan paling ringan yang bisa dialami sebuah benda padat. Jadi yang digambarkan bukan gunung yang hancur melainkan gunung yang kehilangan beratnya. Hancur masih menyisakan puing yang berat; terurai tidak menyisakan apa pun yang bisa ditimbang.
Hubungan dengan 101:4 juga terang. Dua ayat berturut-turut memakai perbandingan, dan keduanya tentang sesuatu yang menjadi ringan dan tersebar. Manusia menjadi seperti laron, gunung menjadi seperti bulu terurai. Yang paling banyak jumlahnya dan yang paling besar ukurannya sama-sama kehilangan bobotnya pada hari yang sama.
Kesejajaran itu menyiapkan 101:6. Dua ayat menggambarkan hilangnya berat pada segala sesuatu, lalu ayat berikutnya menyebut timbangan. Ketika semua yang dahulu berat sudah kehilangan beratnya, yang tersisa untuk ditimbang bukan lagi benda. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan urutan ayatnya sendiri yang mengerjakannya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata bulu di ayat ini dipakai di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu 70:9 dan ayat ini, sehingga ia tidak punya pemakaian lain sama sekali. Akar kata terakhirnya juga cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 21:78 dan ayat ini. Jadi satu ayat pendek menyimpan dua akar yang hampir tak terpakai di tempat lain, dan keduanya dipakai Allah untuk menggambarkan hal yang sama. Dua akar yang hampir tak terpakai dipadatkan Allah ke dalam satu ayat pendek.
- Gunung adalah benda paling padat dan paling berat yang dikenal manusia, dan bulu yang sudah diurai adalah keadaan paling ringan yang bisa dialami sebuah benda padat. Jadi yang digambarkan Allah bukan gunung yang hancur melainkan gunung yang kehilangan beratnya. Hancur masih menyisakan puing yang berat; terurai tidak menyisakan apa pun yang bisa ditimbang lagi sesudahnya. Hancur masih menyisakan puing; terurai tidak menyisakan apa pun untuk ditimbang.
- Dua ayat berturut-turut memakai perbandingan, dan keduanya tentang sesuatu yang menjadi ringan dan tersebar. Manusia menjadi seperti laron, gunung menjadi seperti bulu terurai. Yang paling banyak jumlahnya dan yang paling besar ukurannya sama-sama kehilangan bobotnya pada hari yang sama. Allah menyandingkan yang terkecil dan yang terbesar, dan hasilnya sama untuk keduanya. Yang terkecil dan yang terbesar berakhir dalam keadaan yang sama persis.
- Dua ayat menggambarkan hilangnya berat pada segala sesuatu, lalu ayat berikutnya menyebut timbangan. Ketika semua yang dahulu berat sudah kehilangan beratnya, yang tersisa untuk ditimbang bukan lagi benda. Allah tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan urutan ayatnya sendiri yang mengerjakannya. Apa yang masih punya berat ketika gunung pun tidak lagi punya? Urutan ayatnya sendiri yang mengerjakan penyiapan itu, tanpa satu kalimat penjelas.
- Lima kata pertama ayat ini sama persis dengan seluruh isi 70:9. Yang membedakan keduanya cuma kata terakhirnya, yang ditambahkan di sini dan tidak ada di sana. Jadi Allah memakai kalimat yang sama di dua surah dan menambahkan satu kata di salah satunya. Satu kata tambahan itu mengubah gambaran dari bulu menjadi bulu yang sudah diurai sampai lepas seratnya. Satu kata tambahan mengubah bulu menjadi bulu yang sudah lepas seratnya.
- Akar kata terakhir ayat ini juga dipakai di 21:78, tempat Allah menyebut kambing-kambing yang masuk merusak ladang pada malam hari. Jadi satu akar menyebut ternak yang menyebar tak terkendali dan bulu yang diurai sampai lepas seratnya. Yang menyatukan keduanya bukan bendanya melainkan keadaannya, yaitu sesuatu yang tadinya terkumpul rapi lalu terlepas dan tidak bisa dikumpulkan kembali. Yang tadinya terkumpul rapi lalu terlepas dan tak bisa dikumpulkan kembali. Gunung dipilih karena ia benda yang paling tidak mungkin berubah dalam pengalaman manusia. Kalau yang paling berat pun disamakan dengan bulu, maka tidak ada satu pun benda yang selama ini kita jadikan ukuran kekukuhan yang masih berlaku pada hari itu.