فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
Maka adapun orang yang berat timbangannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُfa-ammaa man tsaqulat mawaaziinuhumaka adapun orang yang berat timbangannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- مَنْmanorang yang
- ثَقُلَتْtsaqulatberat
- مَوَازِينُهُmawaaziinuhutimbangannya
Inti bacaan
Kriteria hasil positif berdasarkan timbangan: 'maka adapun orang yang berat timbangannya', pengenalan konsep evaluasi kuantitatif terhadap amal, sistem penilaian yang terukur dan adil.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ, tsaqulat mawaaziinuhu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:8, 23:102, dan ayat ini. Pasangannya, yaitu rangkaian yang memakai kata kerja berlawanan, juga muncul 3 kali, yaitu di 7:9, 23:103, dan 101:8. Jadi keenam kemunculannya tersusun sebagai tiga pasang yang selalu datang berdampingan.
Kata (مَوَازِينُهُ, mawaaziinuhu) berbentuk jamak, sehingga yang disebut bukan satu timbangan melainkan beberapa. Akarnya berarti menimbang. Ia dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 83:3. Di 7:8 tertulis bahwa timbangan pada hari itu adalah kebenaran, dan di 17:35 serta 83:3 akar yang sama dipakai untuk menakar dalam urusan jual beli sehari-hari. Jadi akar yang menyebut alat ukur di pasar juga dipakai untuk menyebut alat ukur pada hari itu.
Kata kerja (ثَقُلَتْ, tsaqulat) berasal dari akar yang berarti berat. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 7:8, 9:38, 21:47, 99:7, dan 99:8. Di 99:7 dan 99:8 akar itu muncul dalam kalimat tentang siapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan sebesar zarah. Jadi ia dipakai untuk yang paling ringan sekalipun, dan bukan cuma untuk yang berat.
Letak ayat ini sesudah dua perbandingan patut dicatat. Dua ayat sebelumnya menggambarkan segala sesuatu kehilangan beratnya, dan ayat ini justru menyebut berat sebagai ukuran. Jadi ketika benda-benda sudah tidak lagi punya bobot, yang ditimbang bukan benda. Al-Qur'an tidak menyebutkan apa yang ditimbang di ayat ini, dan tidak menyebutkannya membuat pembacanya sendiri yang harus menimbang apa yang dimilikinya.
Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) menandai pembagian menjadi dua golongan, dan pasangannya muncul di 101:8 dengan bentuk yang sejajar. Jadi empat ayat terakhir surah ini tersusun sebagai dua pasang yang saling bercermin: syarat lalu akibat, syarat lalu akibat. Susunan bercermin membuat perbedaan di antara keduanya terbaca tanpa perlu dinyatakan.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menambahkan objek yang tidak tertulis. Al-Qur'an tidak menyebutkan apa yang ditimbang, baik di sini maupun di 7:8 dan 23:102. Menyisipkan keterangan tentang amal atau niat berarti menutup sesuatu yang di ketiga tempat itu dibiarkan terbuka. Yang disebut cuma hasil penimbangannya, dan hasil tanpa satuan tidak bisa dihitung sendiri oleh yang akan ditimbang.
Perlu dicatat pula bahwa yang ditimbang milik orangnya sendiri. Kata ganti pada (مَوَازِينُهُ, mawaaziinuhu) menunjuk kepadanya, sehingga timbangan itu bukan timbangan umum melainkan timbangan yang melekat pada tiap orang. Jadi tidak ada perbandingan antarmanusia di dalam ayat ini. Yang ditimbang punya dirinya, dan hasilnya tidak bergantung pada apa yang ada di timbangan orang lain.
Tafsiran
Ayat ini memperkenalkan ukuran sesudah dua ayat menggambarkan hilangnya berat pada segala sesuatu. Dua ayat sebelumnya menyebut manusia menjadi seperti laron dan gunung menjadi seperti bulu terurai, dan ayat ini justru menyebut berat sebagai ukuran. Jadi ketika benda-benda sudah tidak lagi punya bobot, yang ditimbang bukan benda.
Rangkaian yang dipakai muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:8, 23:102, dan ayat ini, dan pasangannya yang memakai kata kerja berlawanan juga muncul 3 kali, yaitu di 7:9, 23:103, dan 101:8. Keenam kemunculannya tersusun sebagai tiga pasang yang selalu datang berdampingan. Al-Qur'an tidak pernah menyebut yang satu tanpa menyebut yang lain.
Kata timbangannya berbentuk jamak, sehingga yang disebut bukan satu timbangan melainkan beberapa. Akarnya dipakai di 21 ayat, dan di 17:35 serta 83:3 akar yang sama dipakai untuk menakar dalam urusan jual beli sehari-hari. Jadi alat ukur di pasar dan alat ukur pada hari itu dinamai dengan akar yang sama, dan yang berbeda cuma apa yang ditaruh di atasnya.
Al-Qur'an tidak menyebutkan apa yang ditimbang di ayat ini. Tidak disebutkan amal, tidak disebutkan niat, dan tidak disebutkan sesuatu yang bisa dihitung sekarang. Yang disebut cuma hasilnya, yaitu berat atau ringan. Ketiadaan keterangan itu membuat pembacanya sendiri yang harus menimbang apa yang dimilikinya, dan menimbang tanpa mengetahui satuannya adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Renungan dan Hikmah
- Dua ayat sebelumnya menggambarkan segala sesuatu kehilangan beratnya, dan ayat ini justru menyebut berat sebagai ukuran. Jadi ketika benda-benda sudah tidak lagi punya bobot, yang ditimbang Allah bukan benda. Gunung yang paling berat sudah menjadi seperti bulu terurai, dan manusia yang paling banyak sudah menjadi seperti laron. Yang masih punya berat pada hari itu bukan sesuatu yang bisa dipegang tangan. Yang masih berbobot pada hari itu bukan sesuatu yang bisa dipegang tangan.
- Rangkaian ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:8, 23:102, dan ayat ini, dan pasangannya yang memakai kata kerja berlawanan juga muncul 3 kali, yaitu di 7:9, 23:103, dan 101:8. Keenam kemunculannya tersusun sebagai tiga pasang yang selalu datang berdampingan. Allah tidak pernah menyebut yang satu tanpa menyebut yang lain, dan tidak ada satu pun tempat yang memuat separuhnya saja. Tidak ada satu pun tempat yang memuat separuh pasangan itu saja.
- Kata timbangan di ayat ini berbentuk jamak, sehingga yang disebut bukan satu timbangan melainkan beberapa. Akarnya dipakai di 21 ayat, dan di 17:35 serta 83:3 akar yang sama dipakai untuk menakar dalam urusan jual beli sehari-hari. Jadi alat ukur di pasar dan alat ukur pada hari itu dinamai Allah dengan akar yang sama, dan yang berbeda cuma apa yang ditaruh di atasnya. Yang berbeda antara pasar dan hari itu cuma apa yang ditaruh di atasnya.
- Allah tidak menyebutkan apa yang ditimbang di ayat ini. Tidak disebutkan amal, tidak disebutkan niat, dan tidak disebutkan sesuatu yang bisa dihitung sekarang. Yang disebut cuma hasilnya, yaitu berat atau ringan. Apa yang sebenarnya punya bobot ketika yang berbobot menurut ukuran dunia sudah tidak berbobot lagi? Ketiadaan keterangan itu memaksa pembacanya menimbang sendiri. Menimbang tanpa mengetahui satuannya adalah pekerjaan yang tak pernah selesai.
- Akar kata kerja di ayat ini dipakai di 26 ayat, antara lain 7:8, 9:38, 21:47, 99:7, dan 99:8. Di 99:7 dan 99:8 akar itu muncul dalam kalimat tentang siapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan sebesar zarah. Jadi Allah memakainya untuk yang paling ringan sekalipun, dan bukan cuma untuk yang berat. Yang terlalu kecil untuk dicatat manusia tetap punya tempat di timbangan itu. Yang terlalu kecil untuk dicatat manusia tetap punya tempat di timbangan itu.
- Kata pembuka ayat ini menandai pembagian menjadi dua golongan, dan pasangannya muncul di 101:8 dengan bentuk yang sejajar. Jadi empat ayat terakhir surah ini disusun Allah sebagai dua pasang yang saling bercermin: syarat lalu akibat, syarat lalu akibat. Susunan bercermin membuat perbedaan di antara keduanya terbaca tanpa perlu dinyatakan dengan satu kalimat pun. Susunan bercermin membuat perbedaannya terbaca tanpa perlu dinyatakan. Dua nasib disusun dengan kalimat yang hampir sama panjangnya dan hampir sama bunyinya. Kesejajaran itu meniadakan kesan bahwa salah satunya lebih mungkin daripada yang lain, dan pembaca tidak diberi petunjuk apa pun tentang di sisi mana ia berdiri.