فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ

Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍfa-huwa fii 'iisyatin raadhiyatinmaka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَهُوَfa-huwamaka dia
  2. فِيfiidalam
  3. عِيشَةٍ'iisyatinkehidupan
  4. رَاضِيَةٍraadhiyatinyang rida

Inti bacaan

Konsekuensi bagi timbangan berat: 'maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan', hasil positif yang jelas bagi yang amal baiknya mengungguli, kepuasan sebagai buah dari keseimbangan yang menguntungkan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ, 'iisyatin raadhiyatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:21 dan 101:7. Di 69:21 ia menutup gambaran tentang orang yang menerima kitabnya dengan tangan kanannya. Jadi kedua kemunculannya berada di ujung sebuah pembagian dua golongan, dan keduanya di sisi yang sama.

Kata (رَاضِيَةٍ, raadhiyatin) adalah bentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai. Artinya bukan kehidupan yang membuat orangnya rida, melainkan kehidupan yang rida. Susunan itu tidak biasa, sebab yang bisa rida biasanya orang dan bukan keadaan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kehidupan yang memuaskan", dan pilihan itu menjaga sisi keadaannya tanpa memaksakan pembacaan tunggal atas bentuk pelakunya.

Akar (عِيشَةٍ, 'iisyatin) berarti hidup. Akar itu dipakai di 8 ayat, yaitu 7:10, 15:20, 20:124, 28:58, 43:32, 69:21, 78:11, dan ayat ini. Di 20:124 tertulis (مَعِيشَةً ضَنْكًا, ma'iisyatan dhankan), kehidupan yang sempit, bagi siapa yang berpaling dari peringatan. Jadi akar yang sama memikul kehidupan yang sempit dan kehidupan yang rida, dan yang membedakannya cuma kata yang menyertainya.

Kata (فَهُوَ, fa-huwa) menghubungkan akibat kepada syarat di 101:6 tanpa jeda. Yang perlu dicatat adalah bahwa tidak ada satu pun keterangan tentang bagaimana perpindahan itu terjadi. Tidak disebut penghisaban, tidak disebut jalan yang dilalui, dan tidak disebut lamanya. Syarat langsung disusul akibat, dan kependekan itu membuat keduanya terbaca sebagai satu perkara.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa isi kehidupan itu, tidak disebut apa yang ada di dalamnya, dan tidak disebut berapa lama. Yang disebut cuma sifatnya. Sebuah janji yang menyebut sifat tanpa menyebut isi tidak bisa dibayangkan sebagai daftar, dan karena itu ia tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang sudah dikenal pembacanya.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut nama tempat. Golongan kedua di 101:9 diberi nama tempat kembalinya, sedangkan golongan pertama di sini cuma diberi keterangan tentang keadaannya. Ketidaksejajaran itu satu-satunya tempat dua sisi surah ini tidak bercermin sempurna. Yang satu diberi nama, yang lain diberi sifat, dan surah ini tidak menerangkan mengapa demikian.

Yang tidak dituntut di ayat ini juga menerangkan. Tidak dituntut kesempurnaan, tidak dituntut ketiadaan kesalahan, dan tidak dituntut jumlah tertentu. Yang disebut cuma berat timbangannya, dan berat adalah perkara perbandingan, bukan perkara kesempurnaan. Sesuatu yang berat tidak harus penuh, dan sesuatu yang penuh belum tentu berat.

Tafsiran

Ayat ini menyebut akibat bagi golongan pertama, dan yang disebut sifat kehidupannya, bukan isinya. Tidak disebut apa yang ada di dalamnya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut di mana. Sebuah janji yang menyebut sifat tanpa menyebut isi tidak bisa dibayangkan sebagai daftar.

Rangkaian yang dipakai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:21 dan ayat ini. Di 69:21 ia menutup gambaran tentang orang yang menerima kitabnya dengan tangan kanannya. Jadi kedua kemunculannya berada di ujung sebuah pembagian dua golongan, dan keduanya di sisi yang sama.

Kata sifatnya bentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai. Artinya bukan kehidupan yang membuat orangnya rida, melainkan kehidupan yang rida. Susunan itu tidak biasa, sebab yang bisa rida biasanya orang dan bukan keadaan. Yang digambarkan karena itu bukan sekadar keadaan yang menyenangkan penghuninya, melainkan keadaan yang tidak lagi menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Akar kata kehidupannya dipakai di 8 ayat, dan di 20:124 ia muncul sebagai kehidupan yang sempit bagi siapa yang berpaling dari peringatan. Jadi akar yang sama memikul kehidupan yang sempit dan kehidupan yang rida, dan yang membedakannya cuma kata yang menyertainya. Kehidupan tetap kehidupan; yang berbeda apa yang melekat padanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata sifat di ayat ini bentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai. Artinya bukan kehidupan yang membuat orangnya rida, melainkan kehidupan yang rida. Susunan itu tidak biasa, sebab yang bisa rida biasanya orang dan bukan keadaan. Yang digambarkan Allah karena itu bukan sekadar keadaan yang menyenangkan penghuninya, melainkan keadaan yang tidak lagi menyimpan sesuatu yang belum selesai di dalamnya. Keadaan yang rida tidak lagi menyimpan sesuatu yang belum selesai di dalamnya.
  • Yang disebut Allah sifat kehidupannya, bukan isinya. Tidak disebut apa yang ada di dalamnya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut di mana. Sebuah janji yang menyebut sifat tanpa menyebut isi tidak bisa dibayangkan sebagai daftar, dan karena itu ia tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang sudah dikenal pembacanya. Yang tidak bisa dibandingkan juga tidak bisa dianggap kurang. Yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga tidak bisa dianggap kurang.
  • Rangkaian ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:21 dan 101:7. Di 69:21 ia menutup gambaran tentang orang yang menerima kitabnya dengan tangan kanannya. Jadi kedua kemunculannya berada di ujung sebuah pembagian dua golongan, dan keduanya di sisi yang sama. Allah memakai rangkaian yang sama untuk menutup dua gambaran yang bentuknya sejajar di dua surah berbeda. Allah memakai rangkaian yang sama untuk menutup dua gambaran yang bentuknya sejajar.
  • Akar kata kehidupan di ayat ini dipakai di 8 ayat, yaitu 7:10, 15:20, 20:124, 28:58, 43:32, 69:21, 78:11, dan ayat ini. Di 20:124 Allah menyebut kehidupan yang sempit bagi siapa yang berpaling dari peringatan-Nya. Jadi akar yang sama memikul kehidupan yang sempit dan kehidupan yang rida, dan yang membedakannya cuma kata yang menyertainya. Kehidupan tetap kehidupan; yang berbeda apa yang melekat padanya. Kehidupan tetap kehidupan; yang berbeda apa yang melekat padanya.
  • Kata penghubung di awal ayat menghubungkan akibat kepada syarat di ayat sebelumnya tanpa jeda. Tidak ada satu pun keterangan tentang bagaimana perpindahan itu terjadi. Tidak disebut penghisaban, tidak disebut jalan yang dilalui, dan tidak disebut lamanya. Allah menyusul syarat dengan akibat secara langsung, dan kependekan itu membuat keduanya terbaca sebagai satu perkara yang tidak terputus. Kependekan itu membuat keduanya terbaca sebagai satu perkara yang tak terputus.
  • Ayat sebelumnya menyebut berat, dan ayat ini menyebut hasilnya. Yang tidak disebut Allah berapa berat yang diperlukan. Tidak ada angka, tidak ada takaran, dan tidak ada perbandingan dengan orang lain. Berapa berat yang cukup, dan siapa yang tahu ia sudah sampai ke sana? Ketiadaan angka menutup jalan untuk merasa aman lewat perhitungan, dan yang tersisa cuma berharap kepada Yang menimbang. Yang tersisa cuma berharap kepada Yang menimbang, bukan menghitung sendiri.