وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ

Dan adapun orang yang ringan timbangannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُwa-ammaa man khaffat mawaaziinuhudan adapun orang yang ringan timbangannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. خَفَّتْkhaffatringan
  4. مَوَازِينُهُmawaaziinuhutimbangannya

Inti bacaan

Kontras dengan timbangan ringan: 'dan adapun orang yang ringan timbangannya', pengenalan kategori kedua yang hasilnya akan sangat berbeda.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (خَفَّتْ مَوَازِينُهُ, khaffat mawaaziinuhu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:9, 23:103, dan ayat ini. Ia selalu datang sebagai pasangan bagi rangkaian di 101:6, dan ketiga pasangnya berada di tiga surah: 7:8 dengan 7:9, 23:102 dengan 23:103, dan 101:6 dengan ayat ini.

Susunan ayat ini bercermin dengan 101:6. Kata pembukanya (وَأَمَّا, wa-ammaa) sejajar, kata orangnya sama, kata timbangannya sama, dan yang berbeda cuma kata kerjanya. Jadi dua golongan itu dibedakan oleh satu kata saja, dan seluruh sisanya identik. Perbedaan sekecil itu di dalam susunan yang sama persis membuat jarak di antara keduanya terbaca sebagai jarak yang tipis, bukan jurang yang lebar.

Kata (خَفَّتْ, khaffat) berarti menjadi ringan, bukan menjadi kosong. Jadi yang digambarkan bukan timbangan yang tidak berisi melainkan timbangan yang isinya tidak cukup berat. Perbedaan itu perlu dijaga: ada sesuatu di atasnya, dan sesuatu itu ternyata tidak menahan apa-apa. Bahasa Indonesia menahannya dengan "ringan", bukan dengan "kosong".

Kata (مَوَازِينُهُ, mawaaziinuhu) tetap berbentuk jamak di sini, sama seperti di 101:6. Jadi orang yang ringan timbangannya pun punya lebih dari satu timbangan. Yang berkurang bukan jumlah timbangannya melainkan bobot yang ada di atasnya. Akar yang berarti menimbang itu dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:9, 17:35, 55:9, dan 83:3.

Hubungan dengan 101:5 juga patut dicatat. Dua ayat sebelumnya menggambarkan gunung yang menjadi ringan sampai seperti bulu terurai, dan kata yang dipakai di sini berarti menjadi ringan pula. Jadi keringanan yang di sana menimpa gunung, di sini menjadi keadaan seseorang. Al-Qur'an tidak menyambungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa gambaran yang sama dipakai untuk dua hal yang berbeda dalam satu surah pendek.

Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menambahkan sebab yang tidak tertulis. Al-Qur'an tidak menyebutkan mengapa timbangannya ringan, baik di sini maupun di 7:9 dan 23:103. Tidak disebut kejahatan tertentu, tidak disebut keyakinan tertentu, dan tidak disebut kelalaian tertentu. Yang disebut cuma hasilnya, dan ketiadaan sebab membuat ayat ini tidak bisa dipakai untuk menuduh orang tertentu.

Perlu dicatat pula bahwa surah ini membagi manusia menjadi dua saja. Tidak ada golongan ketiga, tidak ada yang seimbang, dan tidak ada yang ditangguhkan. Pembagian dua tanpa sisa semacam itu tidak menyediakan tempat bagi orang yang merasa dirinya berada di antara keduanya, dan ketiadaan tempat itu memaksa pembacanya memilih salah satu untuk dirinya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menyebut golongan kedua, dan susunannya bercermin dengan 101:6. Kata pembukanya sejajar, kata orangnya sama, kata timbangannya sama, dan yang berbeda cuma kata kerjanya. Jadi dua golongan itu dibedakan oleh satu kata saja, dan seluruh sisanya identik.

Perbedaan sekecil itu di dalam susunan yang sama persis membuat jarak di antara keduanya terbaca sebagai jarak yang tipis. Yang memisahkan bukan dua kalimat yang berlainan bentuk, melainkan satu kata yang bertukar tempat. Susunan bercermin semacam ini dipakai juga di 7:8 dan 7:9 serta di 23:102 dan 23:103, dan ketiga pasangnya selalu datang bersama.

Kata kerjanya berarti menjadi ringan, bukan menjadi kosong. Jadi yang digambarkan bukan timbangan yang tidak berisi melainkan timbangan yang isinya tidak cukup berat. Ada sesuatu di atasnya, dan sesuatu itu ternyata tidak menahan apa-apa. Perbedaan itu menutup pembacaan bahwa yang dibicarakan orang yang tidak pernah mengerjakan apa pun.

Hubungan dengan 101:5 juga patut dicatat. Dua ayat sebelumnya menggambarkan gunung yang menjadi ringan sampai seperti bulu terurai, dan kata yang dipakai di sini berarti menjadi ringan pula. Jadi keringanan yang di sana menimpa gunung, di sini menjadi keadaan seseorang. Al-Qur'an tidak menyambungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja yang dipakai Allah berarti menjadi ringan, bukan menjadi kosong. Jadi yang digambarkan bukan timbangan yang tidak berisi melainkan timbangan yang isinya tidak cukup berat. Ada sesuatu di atasnya, dan sesuatu itu ternyata tidak menahan apa-apa. Perbedaan itu menutup pembacaan bahwa yang dibicarakan orang yang tidak pernah mengerjakan apa pun sepanjang hidupnya. Ada sesuatu di atasnya, dan sesuatu itu ternyata tidak menahan apa-apa.
  • Susunan ayat ini bercermin dengan ayat keenam. Kata pembukanya sejajar, kata orangnya sama, kata timbangannya sama, dan yang berbeda cuma kata kerjanya. Jadi dua golongan itu dibedakan Allah oleh satu kata saja, dan seluruh sisanya identik. Perbedaan sekecil itu di dalam susunan yang sama persis membuat jarak di antara keduanya terbaca sebagai jarak yang tipis, bukan jurang yang lebar. Yang memisahkan bukan dua kalimat berlainan bentuk, melainkan satu kata yang bertukar.
  • Kata timbangan tetap berbentuk jamak di sini, sama seperti di ayat keenam. Jadi orang yang ringan timbangannya pun punya lebih dari satu timbangan. Yang berkurang bukan jumlah timbangannya melainkan bobot yang ada di atasnya. Allah tidak menggambarkan seseorang yang tidak punya apa-apa untuk ditimbang, melainkan seseorang yang punya dan ternyata tidak cukup. Yang digambarkan bukan orang yang tak punya apa-apa, melainkan yang punya dan tak cukup.
  • Rangkaian ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:9, 23:103, dan ayat ini, dan ia selalu datang sebagai pasangan bagi rangkaian di ayat keenam. Ketiga pasangnya berada di tiga surah: 7:8 dengan 7:9, 23:102 dengan 23:103, dan 101:6 dengan ayat ini. Allah tidak pernah menyebut satu sisi tanpa menyebut sisi yang lain. Allah tidak pernah menyebut satu sisi tanpa menyebut sisi yang lain.
  • Dua ayat sebelumnya menggambarkan gunung yang menjadi ringan sampai seperti bulu terurai, dan kata yang dipakai di sini berarti menjadi ringan pula. Jadi keringanan yang di sana menimpa gunung, di sini menjadi keadaan seseorang. Allah tidak menyambungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa gambaran yang sama dipakai untuk dua hal berbeda dalam satu surah pendek. Gambaran yang sama dipakai untuk dua hal berbeda dalam satu surah pendek.
  • Surah ini membagi manusia menjadi dua saja, dan tidak menyediakan golongan ketiga. Tidak ada yang seimbang, tidak ada yang ditangguhkan, dan tidak ada yang belum diputuskan. Di mana berdiri orang yang merasa dirinya berada di antara keduanya? Allah tidak menyediakan tempat itu di dalam surah ini, dan ketiadaan tempat itulah yang membuat pembacanya harus memilih salah satu untuk dirinya. Ketiadaan tempat di tengah memaksa pembacanya memilih salah satu untuk dirinya. Ketiadaan golongan ketiga menutup tempat yang paling banyak dihuni orang dalam bayangannya sendiri, yaitu tempat di tengah. Hampir semua orang menempatkan dirinya di sana, tidak cukup baik untuk merasa aman dan tidak cukup buruk untuk merasa terancam, dan surah ini tidak menyediakan tempat itu sama sekali.