فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
Maka tempat berpulangnya adalah jurang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌfa-ummuhu haawiyatunmaka tempat berpulangnya adalah jurang
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَأُمُّهُfa-ummuhumaka tempat kembalinya
- هَاوِيَةٌhaawiyatunHawiyah
Inti bacaan
Konsekuensi tegas bagi timbangan ringan: 'maka tempat berpulangnya adalah Hawiyah', nasib yang jelas bagi yang amal baiknya tidak cukup berbobot, penggunaan istilah 'tempat berpulang' yang ironis untuk destinasi yang sesungguhnya mengerikan.
Penjelasan pilihan kata
Haawiyatun adalah partisip aktif indefinit dari akar yang berarti jatuh meluncur. Akar itu berarti jatuh atau ambruk, dan ia diterjemahkan menjadi "jurang" dan bukan ditransliterasi. Sama seperti al-Qaari'ah, kata (هَاوِيَةٌ, haawiyatun) secara morfologis transparan sebagai partisip aktif Arab biasa, bukan nama diri yang buram seperti Saqar, Sijjin, Illiyyin, Tasnim, atau Zabaniyah. Karena itu menerjemahkannya menjaga agar pembaca Indonesia menerima keterangan yang sama dengan pembaca Arabnya.
Bentuk (هَاوِيَةٌ, haawiyatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti jatuh meluncur. Ia dipakai di 37 ayat, dan hampir seluruh pemakaian lainnya berpusat pada dua hal: jatuh dan hawa nafsu. Di 53:1 tertulis (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa), demi bintang ketika ia jatuh. Di 20:81 tertulis (فَقَدْ هَوَىٰ, fa-qad hawaa), maka sungguh ia telah jatuh. Di 14:43 tertulis (وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ, wa-af'idatuhum hawaa-un), dan hati mereka kosong.
Kata (فَأُمُّهُ, fa-ummuhu) memakai kata yang di dalam bahasa Arab berarti ibu, dengan kata ganti kepemilikan. Padanan "tempat berpulangnya" menahan kedudukannya sebagai tempat kembali tanpa memaksakan pembacaan harfiah yang akan membingungkan pembaca Indonesia. Yang dipakai memang kata untuk ibu, dan kata itu di dalam bahasa Arab juga dipakai untuk pangkal atau tempat kembali dari sesuatu.
Susunan itu perlu dijaga. Ibu adalah tempat seseorang berasal dan tempat ia kembali ketika tidak ada tempat lain. Menaruh kata itu di sini menyebutkan tempat kembali dengan kata yang paling hangat yang dikenal manusia, lalu mengisinya dengan sesuatu yang berlawanan sama sekali. Al-Qur'an tidak menerangkan pertentangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (هَاوِيَةٌ, haawiyatun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan jurang tertentu yang sudah dikenal. Ketiadaan kata sandang itu berlawanan dengan (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) di 101:1 yang justru bertakrif. Jadi harinya disebut sebagai sesuatu yang sudah dikenal namanya, sedangkan tempat kembalinya disebut sebagai sesuatu yang belum dikenal, dan 101:10 menanyakannya justru karena itu.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang menaruhnya di sana. Tidak ada perbuatan sama sekali di dalamnya; yang ada cuma pokok kalimat dan keterangannya. Jadi yang digambarkan bukan sebuah tindakan melainkan sebuah keadaan yang sudah melekat. Kalimat tanpa perbuatan menyatakan keadaan, dan keadaan tidak punya awal yang bisa ditunjuk dan tidak punya pelaku yang bisa ditanyai. Susunan yang sama dipakai di 101:7 bagi golongan pertama, sehingga kedua akibat itu sama-sama digambarkan sebagai keadaan dan bukan sebagai peristiwa.
Tafsiran
Ayat ini menyebut akibat bagi golongan kedua, dan kata yang dipakai untuk tempat kembalinya adalah kata yang di dalam bahasa Arab berarti ibu. Ibu adalah tempat seseorang berasal dan tempat ia kembali ketika tidak ada tempat lain. Menaruh kata itu di sini menyebutkan tempat kembali dengan kata yang paling hangat yang dikenal manusia, lalu mengisinya dengan sesuatu yang berlawanan sama sekali.
Nama tempatnya sendiri bentuk pelaku dari akar yang berarti jatuh atau ambruk, dan bentuk itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 37 ayat, dan hampir seluruh pemakaian lainnya berpusat pada dua hal: jatuh dan hawa nafsu. Di 53:1 ia dipakai untuk bintang yang jatuh, di 20:81 untuk orang yang telah jatuh, dan di 14:43 untuk hati yang kosong.
Nama itu tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan jurang tertentu yang sudah dikenal. Ketiadaan kata sandang itu berlawanan dengan nama harinya di 101:1 yang justru bertakrif. Jadi harinya disebut sebagai sesuatu yang sudah dikenal namanya, sedangkan tempat kembalinya disebut sebagai sesuatu yang belum dikenal.
Perbedaan itu menyiapkan 101:10. Sesuatu yang belum dikenal memang perlu ditanyakan, dan pertanyaan yang sama yang dipakai untuk nama harinya di 101:3 kini dipakai lagi untuk nama tempatnya. Surah ini memakai formula itu dua kali: sekali di pangkal dan sekali di ujung, dan keduanya untuk hal yang belum bisa dijangkau pendengarnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai Allah untuk tempat kembalinya adalah kata yang di dalam bahasa Arab berarti ibu, dengan kata ganti kepemilikan. Ibu adalah tempat seseorang berasal dan tempat ia kembali ketika tidak ada tempat lain. Menaruh kata itu di sini menyebutkan tempat kembali dengan kata yang paling hangat yang dikenal manusia, lalu mengisinya dengan sesuatu yang berlawanan sama sekali. Al-Qur'an tidak menerangkan pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus merasakannya.
- Nama tempat itu bentuk pelaku dari akar yang berarti jatuh atau ambruk, dan bentuknya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Karena namanya sendiri sudah menerangkan, ia diterjemahkan dan bukan ditransliterasi, sama seperti nama hari di ayat pertama. Nama yang menerangkan dirinya tidak memerlukan kalimat penjelas, dan Allah memang tidak menambahkan satu pun di ayat ini. Nama yang menerangkan dirinya tidak memerlukan kalimat penjelas di belakangnya, dan Allah memang tidak menambahkan satu pun.
- Akar nama ini dipakai di 37 ayat, dan hampir seluruh pemakaian lainnya berpusat pada dua hal: jatuh dan hawa nafsu. Di 53:1 Allah memakainya untuk bintang yang jatuh, di 20:81 untuk orang yang telah jatuh, dan di 14:43 untuk hati yang kosong. Jadi satu akar memikul jatuhnya benda, jatuhnya orang, kosongnya hati, dan kecenderungan yang diikuti tanpa timbangan. Satu akar memikul jatuhnya benda, jatuhnya orang, dan kosongnya hati.
- Nama tempat ini tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan jurang tertentu yang sudah dikenal. Ketiadaan kata sandang itu berlawanan dengan nama harinya di ayat pertama yang justru bertakrif. Jadi harinya disebut Allah sebagai sesuatu yang sudah dikenal namanya, sedangkan tempat kembalinya disebut sebagai sesuatu yang belum dikenal, dan ayat berikutnya menanyakannya justru karena itu. Yang belum dikenal memang perlu ditanyakan, dan ayat berikutnya menanyakannya.
- Yang digambarkan Allah bukan seseorang yang dilemparkan, melainkan seseorang yang pulang. Kata yang dipakai kata untuk tempat kembali, dan tempat kembali itu bernama jatuh. Ke mana seseorang pulang ketika seluruh hidupnya diarahkan kepada sesuatu yang tidak menahan bobot? Surah ini menjawabnya dengan satu kata, dan kata itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Yang digambarkan bukan seseorang yang dilemparkan, melainkan seseorang yang pulang.
- Ayat ini dan 101:7 sama-sama menyebut akibat, dan keduanya menyusul syarat yang susunannya identik. Yang membedakan seluruh nasibnya cuma satu kata di ayat syaratnya. Allah menyusun kedua sisi dengan bentuk yang sejajar sampai ke ujungnya, dan kesejajaran itu membuat perbedaan hasilnya terasa lebih tajam daripada kalau keduanya digambarkan dengan cara yang berbeda. Kesejajaran bentuknya membuat perbedaan hasilnya terasa lebih tajam. Yang berbeda cuma ujungnya, dan justru ujung itu yang menentukan seluruh isi kalimatnya. Dua jalan yang berangkat dari susunan kata yang sama berpisah di kata terakhir.