بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Berlomba memperbanyak telah melalaikan kalian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُalhaakumu t-takaatsuruberlomba memperbanyak telah melalaikan kalian

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. أَلْهَاكُمُalhaakumumelalaikan kalian
  2. التَّكَاثُرُt-takaatsuruberbangga memperbanyak

Inti bacaan

Pembukaan At-Takathur dengan diagnosis kelalaian: 'berlomba memperbanyak (harta) telah melalaikan kalian', identifikasi langsung akar masalah, kompetisi materialistis yang mengalihkan fokus dari hal-hal yang lebih bermakna.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Tambahan kurung "(harta)" tidak dipakai, sebab objek (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) memang tidak dirinci eksplisit dalam Arabnya. Yang tertulis cuma berlomba memperbanyak, tanpa disebutkan memperbanyak apa, dan ketiadaan objek itu adalah bagian dari yang hendak dinyatakan.

Kedua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk (أَلْهَاكُمُ, alhaakumu) tidak dipakai di ayat lain mana pun, dan bentuk (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) juga tidak. Jadi sebuah surah dibuka dengan dua kata yang tidak punya pembanding, dan keduanya sudah cukup untuk membentuk kalimat lengkap tanpa kata ketiga.

Susunan kalimatnya juga perlu dicatat. Kata kerjanya lebih dulu, lalu kata ganti kalian yang menjadi objeknya, baru sesudah itu pelakunya, yaitu (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) itu sendiri. Jadi yang mengerjakan sesuatu di kalimat ini bukan manusianya melainkan perlombaannya, dan manusianya berkedudukan sebagai yang dikenai. Bahasa Indonesia menahannya dengan "berlomba memperbanyak telah melalaikan kalian", menaruh perlombaan sebagai pelaku persis seperti Arabnya.

Akar (أَلْهَاكُمُ, alhaakumu) berarti lalai karena hiburan. Akar itu dipakai di 15 ayat, antara lain 6:32, 29:64, 47:36, 57:20, dan 62:11. Di 6:32, 47:36, dan 57:20 tertulis (لَعِبٌ وَلَهْوٌ, la'ibun wa-lahwun), permainan dan senda-gurau, dan ketiganya menyifati kehidupan dunia. Jadi akar yang di tempat lain dipakai untuk menyifati dunia seluruhnya, di sini dipakai untuk sesuatu yang dikerjakan dunia itu kepada manusianya.

Akar (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) berarti banyak. Akar itu dipakai di 162 ayat, dan dua di antaranya patut disandingkan. Di 108:1 tertulis (الْكَوْثَرَ, al-kautsara), kelimpahan yang diberikan, dan di sini tertulis perlombaan memperbanyak. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: yang satu diterima sebagai pemberian, yang lain dikejar sebagai perlombaan. Ayat 57:20 menyandingkan keduanya lebih jauh lagi, sebab di sana tertulis (تَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ, takaatsurun fii l-amwaali) di dalam rangkaian yang juga menyebut permainan dan senda-gurau.

Yang tidak dinyatakan di ayat ini juga menerangkan. Tidak dinyatakan bahwa perlombaan itu terlarang, tidak dinyatakan bahwa yang dikumpulkan harus dilepaskan, dan tidak dinyatakan berapa banyak yang dianggap berlebihan. Yang dinyatakan cuma akibatnya pada perhatian orangnya. Sebuah teguran yang menunjuk akibat, bukan perbuatan, tidak bisa dijawab dengan mengubah jumlah; ia cuma bisa dijawab dengan mengubah ke mana perhatian diarahkan.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan teguran atas kelalaian akibat berlomba memperbanyak, dan yang paling perlu diperhatikan adalah siapa pelakunya di dalam kalimat. Kata kerjanya lebih dulu, lalu kalian sebagai objeknya, baru sesudah itu perlombaan sebagai pelakunya. Jadi manusianya bukan yang mengerjakan melainkan yang dikenai.

Susunan itu menerangkan sesuatu yang tidak dinyatakan dengan kalimat mana pun. Orang biasanya merasa sedang memilih ketika ia mengejar sesuatu, dan ayat ini menaruh kejaran itu sebagai pihak yang bergerak sementara orangnya menjadi sasaran. Yang dikira dikendalikan ternyata yang mengendalikan.

Objeknya juga sengaja tidak disebut. Tidak tertulis memperbanyak apa, sehingga yang dibicarakan bukan satu jenis barang tertentu. Harta memang yang paling mudah dibayangkan, tetapi ayat ini tidak menyempitkannya ke sana, dan pembacanya bisa mengisinya dengan apa pun yang sedang diperlombakannya sendiri.

Akar kata perlombaan itu juga dipakai di 108:1 untuk kelimpahan yang diberikan Allah. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: yang satu diterima sebagai pemberian, yang lain dikejar sebagai perlombaan. Ayat 57:20 menyandingkan keduanya lebih jauh, sebab di sana berlomba dalam banyaknya harta disebut di dalam rangkaian yang juga memuat permainan dan senda-gurau, dua kata yang akarnya sama dengan kata pertama surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Susunan kalimat yang dipakai Allah menaruh perlombaan sebagai pelakunya dan manusianya sebagai objek. Kata kerjanya lebih dulu, lalu kalian, baru sesudah itu perlombaannya. Jadi manusianya bukan yang mengerjakan melainkan yang dikenai. Orang biasanya merasa sedang memilih ketika ia mengejar sesuatu, dan ayat ini menaruh kejaran itu sebagai pihak yang bergerak sementara orangnya menjadi sasaran. Yang dikira dikendalikan ternyata yang mengendalikan. Yang bergerak lebih dulu bukan orangnya, melainkan yang dikejarnya.
  • Objek perlombaan itu sengaja tidak disebut Allah. Tidak tertulis memperbanyak apa, sehingga yang dibicarakan bukan satu jenis barang tertentu. Harta memang yang paling mudah dibayangkan, tetapi ayat ini tidak menyempitkannya ke sana. Ketiadaan objek itu membuat ayatnya tidak bisa dilempar kepada orang yang mengejar barang lain. Apa yang sedang diperbanyak seseorang tanpa pernah menyebutnya perlombaan? Ketiadaan objek membuat ayat ini tidak bisa dilempar kepada orang lain.
  • Kedua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya ada di sini. Allah membuka surah dengan sepasang kata yang tidak punya pembanding di ayat mana pun, dan keduanya sudah cukup untuk membentuk kalimat lengkap tanpa kata ketiga. Kelangkaan sebesar itu menahan perhatian pada kalimat ini sendiri, sebab tidak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya. Dua kata sudah cukup, dan Allah tidak menambahkan yang ketiga.
  • Akar kata perlombaan di ayat ini dipakai di 162 ayat, dan salah satunya 108:1, tempat Allah menyebut kelimpahan yang telah Dia berikan. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: yang satu diterima sebagai pemberian, yang lain dikejar sebagai perlombaan. Yang membedakan bukan banyaknya, melainkan dari mana ia datang dan bagaimana orangnya berdiri terhadapnya. Yang diberi bisa disyukuri; yang dikejar tidak pernah cukup untuk disyukuri. Yang diberi bisa disyukuri; yang dikejar tidak pernah sampai pada titik cukup.
  • Akar kata pertama surah ini dipakai di 15 ayat, dan di 6:32, 47:36, serta 57:20 ia muncul sebagai permainan dan senda-gurau yang menyifati kehidupan dunia. Jadi akar yang di tempat lain dipakai Allah untuk menyifati dunia seluruhnya, di sini dipakai untuk sesuatu yang dikerjakan dunia itu kepada manusianya. Yang disebut bukan sifat dunia lagi, melainkan akibatnya pada orang yang tinggal di dalamnya. Yang disebut bukan sifat dunia lagi, melainkan bekasnya pada penghuninya.
  • Kata yang dipakai Allah berarti melalaikan, bukan menyesatkan dan bukan membinasakan. Melalaikan berarti memalingkan perhatian dari sesuatu tanpa menghapus sesuatu itu. Yang dilalaikan tetap ada, tetap benar, dan tetap menanti; cuma perhatian orangnya yang berpindah. Karena itu kelalaian tidak pernah terasa sebagai kehilangan, sebab tidak ada yang hilang. Yang berpindah cuma ke mana mata memandang. Kelalaian tidak pernah terasa sebagai kehilangan, sebab memang tidak ada yang hilang.