حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Hingga kalian menziarahi kubur.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَhattaa zurtumu l-maqaabirahingga kalian menziarahi kubur

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. حَتَّىٰhattaasampai
  2. زُرْتُمُzurtumukalian menziarahi
  3. الْمَقَابِرَl-maqaabirakubur-kubur

Inti bacaan

Batas akhir dari kelalaian tersebut: 'hingga kalian menziarahi kubur', pengakuan bahwa obsesi terhadap akumulasi berlanjut hingga kematian sendiri, kelalaian yang tidak berhenti bahkan menjelang akhir hidup.

Penjelasan pilihan kata

Kata (زُرْتُمُ, zurtumu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berkunjung. Ia dipakai di 6 ayat, yaitu 18:17, 22:30, 25:4, 25:72, 58:2, dan ayat ini. Yang paling perlu dicatat adalah bahwa empat di antaranya memakai akar itu sebagai kata benda yang berarti kepalsuan: di 22:30 tertulis (قَوْلَ الزُّورِ, qawla z-zuuri), perkataan dusta, dan di 25:72 tertulis (لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ, laa yasyhaduuna z-zuura), tidak memberikan kesaksian palsu. Yang di 18:17 dipakai untuk matahari yang condong menjauh dari gua.

Jadi dari 6 ayat yang memakai akar ini, cuma (زُرْتُمُ, zurtumu) di ayat inilah yang berarti menziarahi. Lima sisanya memikul makna condong menjauh dan kepalsuan. Yang bisa dicatat cuma bahwa akar yang menyimpan kedua makna itu dipakai satu kali untuk kunjungan, dan kunjungan yang dimaksud kunjungan ke kubur.

Kata (الْمَقَابِرَ, al-maqaabira) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya jamak dan menunjuk tempat, sehingga yang disebut bukan satu kubur melainkan pekuburan. Akarnya berarti kubur. Ia dipakai di 8 ayat, yaitu 9:84, 22:7, 35:22, 60:13, 80:21, 82:4, 100:9, dan ayat ini. Di 100:9 tertulis (بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ, bu'tsira maa fii l-qubuuri), dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur.

Yang paling menentukan di ayat ini adalah kata kerja (زُرْتُمُ, zurtumu) yang berarti menziarahi. Orang menziarahi tempat yang bukan tempat tinggalnya, dan ziarah menurut artinya berhenti sebentar lalu pergi. Jadi kata yang dipakai membawa gambaran singgah, bukan gambaran menetap. Ayat ini tidak menerangkan singgah itu sama sekali, dan tidak menerangkannya membuat pembacanya sendiri yang menimbang berapa lama singgahnya dan ke mana sesudahnya.

Kata (حَتَّىٰ, hattaa) di awal ayat berarti hingga, dan ia menandai batas akhir bagi kelalaian di 102:1. Jadi kelalaian itu tidak berhenti sebelum titik itu. Kalimatnya juga berhenti persis di situ, tanpa menyebutkan apa yang terjadi sesudahnya. Batas yang disebut bukan batas kesadaran melainkan batas kesempatan, dan surah ini melanjutkannya di 102:3 bukan dengan cerita melainkan dengan bantahan.

Dua ayat pertama surah ini menyimpan empat kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَلْهَاكُمُ, alhaakumu), (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru), (زُرْتُمُ, zurtumu), dan (الْمَقَابِرَ, al-maqaabira). Tidak ada satu pun di antaranya yang bisa diterangkan dengan menengok ke ayat lain, sebab tidak ada ayat lain yang memakainya. Jadi pembukaan surah ini disusun seluruhnya dari kata-kata yang berdiri sendirian, dan pembacanya dibiarkan menimbangnya tanpa pembanding. Yang biasa tidak memerlukan kata baru; yang tidak biasa memerlukannya, dan di sini keempatnya baru.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kelalaian tersebut berlanjut hingga ajal menjemput, dan kata yang dipakai untuk sampai ke sana adalah kata menziarahi. Orang menziarahi tempat yang bukan tempat tinggalnya, dan ziarah menurut artinya berhenti sebentar lalu pergi. Jadi kata yang dipakai membawa gambaran singgah, bukan gambaran menetap.

Akar kata itu sendiri patut dicatat, sebab dari 6 ayat yang memakainya cuma ayat inilah yang memakainya untuk menziarahi. Di 22:30 dan 25:72 akar yang sama muncul sebagai kata benda yang berarti kepalsuan, dan di 18:17 ia dipakai untuk matahari yang condong menjauh. Al-Qur'an tidak menghubungkan pemakaian-pemakaian itu dengan satu kalimat pun.

Kata hingga di awal ayat menandai batas akhir bagi kelalaian di 102:1. Kelalaian itu tidak berhenti sebelum titik itu, dan kalimatnya juga berhenti persis di situ. Yang disebut bukan batas kesadaran melainkan batas kesempatan. Sesuatu yang berhenti karena kehabisan waktu berbeda dari sesuatu yang berhenti karena orangnya berubah pikiran.

Bentuk jamak pada kata pekuburan juga menerangkan. Yang disebut bukan satu kubur melainkan tempat yang memuat banyak. Orang yang seumur hidup berlomba memperbanyak berakhir di tempat yang isinya tidak dihitung siapa pun, dan di sana banyaknya tidak lagi menjadi ukuran apa pun. Akar kata itu dipakai di 8 ayat, dan di 100:9 ia muncul dalam kalimat tentang dikeluarkannya apa yang ada di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai Allah berarti menziarahi, dan orang menziarahi tempat yang bukan tempat tinggalnya. Ziarah menurut artinya berhenti sebentar lalu pergi, sehingga kata ini membawa gambaran singgah dan bukan gambaran menetap. Ayat ini tidak menerangkan singgah itu sama sekali. Pembacanya sendiri yang harus menimbang berapa lama singgahnya dan ke mana sesudahnya, dan surah ini tidak menjawabnya sampai 102:8. Berapa lama sebenarnya seseorang berniat tinggal di tempat yang cuma diziarahinya?
  • Akar kata ini dipakai di 6 ayat, dan empat di antaranya memakainya sebagai kata benda yang berarti kepalsuan: 22:30 tentang perkataan dusta, 25:4, 25:72 tentang kesaksian palsu, dan 58:2. Yang di 18:17 dipakai untuk matahari yang condong menjauh. Jadi dari enam ayat itu, cuma ayat inilah yang memakainya untuk menziarahi. Allah tidak menghubungkan pemakaian-pemakaian itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dicatat cuma bahwa satu akar memikul dua dunia yang berjauhan.
  • Kata hingga di awal ayat menandai batas akhir bagi kelalaian di ayat sebelumnya, sehingga kelalaian itu tidak berhenti sebelum titik itu. Yang disebut Allah bukan batas kesadaran melainkan batas kesempatan. Sesuatu yang berhenti karena kehabisan waktu berbeda dari sesuatu yang berhenti karena orangnya berubah pikiran. Yang pertama tidak menyisakan pilihan sama sekali, dan yang kedua tidak pernah sempat terjadi di sini. Batas yang datang dari luar tidak menunggu kesiapan siapa pun.
  • Bentuk kata yang dipakai berbentuk jamak dan menunjuk tempat, sehingga yang disebut bukan satu kubur melainkan pekuburan. Akarnya dipakai di 8 ayat, yaitu 9:84, 22:7, 35:22, 60:13, 80:21, 82:4, 100:9, dan ayat ini. Orang yang seumur hidup berlomba memperbanyak berakhir di tempat yang isinya tidak dihitung siapa pun, dan di sana banyaknya berhenti menjadi ukuran apa pun. Di tempat itu banyaknya berhenti menjadi ukuran, dan tidak ada yang menghitungnya lagi.
  • Kalimat ini berhenti persis di titik itu, tanpa menyebutkan apa yang terjadi sesudahnya. Allah tidak melanjutkannya dengan cerita, melainkan dengan bantahan di ayat berikutnya. Sebuah kalimat yang berhenti di kubur dan disambung oleh kata sekali-kali tidak meninggalkan satu jeda yang harus dilalui pembacanya sendiri. Jeda itu tidak diisi apa pun, dan tidak diisinya membuatnya terasa lebih panjang daripada satu ayat. Jeda yang tidak diisi Allah terasa lebih panjang daripada satu ayat.
  • Kedua kata pokok di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata menziarahi tidak dipakai di ayat lain mana pun, dan kata pekuburan juga tidak. Jadi dua ayat pertama surah ini menyimpan empat kata yang tak punya pembanding sama sekali. Allah menyusun pembukaan surah ini seluruhnya dari kata-kata yang tidak bisa diterangkan dengan menengok ke ayat lain. Allah menyusun pembukaan surah ini dari kata-kata yang tak punya pembanding.