كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَkallaa sawfa ta'lamuunasekali-kali tidak, kelak kalian akan mengetahui

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. سَوْفَsawfakelak
  3. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Peringatan pertama tentang kesadaran mendatang: 'sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui', teguran yang disertai jaminan bahwa pemahaman penuh akan konsekuensi akan datang, meski terlambat.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(akibat perbuatan kalian itu)" tidak dipakai. Kata kerja (تَعْلَمُونَ, ta'lamuuna) di ayat ini memang tidak menyebutkan objeknya, dan menyisipkan keterangan tentang apa yang akan diketahui berarti menutup sesuatu yang sengaja dibiarkan terbuka. Yang tertulis cuma bahwa kelak kalian akan mengetahui, tanpa disebutkan mengetahui apa.

Rangkaian (سَوْفَ تَعْلَمُونَ, sawfa ta'lamuuna) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:67, 6:135, 7:123, 11:39, 11:93, 16:55, 26:49, 30:34, 39:39, 102:3, dan 102:4. Di hampir seluruh kemunculannya ia berupa ancaman yang menutup sebuah bantahan, dan di hampir seluruhnya pula objeknya tidak dirinci. Jadi bentuk yang dipakai di sini bentuk yang sudah dikenal, dan yang khas justru apa yang mendahuluinya.

Rangkaian utuh (كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ, kallaa sawfa ta'lamuuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 102:3 dan 102:4, keduanya di dalam surah ini sendiri dan berurutan. Jadi susunan lengkapnya tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan kedua pemakaiannya bersebelahan.

Kata (كَلَّا, kallaa) dipakai 33 kali di 15 surah, antara lain 74:16, 75:11, 96:6, 102:3, dan 104:4. Ia bantahan yang berdiri sendiri sebelum kalimat berikutnya dimulai. Yang dibantah di sini bukan perbuatan berlomba di 102:1, melainkan anggapan yang menyertainya, yaitu bahwa keadaan itu bisa berlangsung tanpa perhitungan. Bantahan yang berdiri sendiri seperti ini memutus lebih dulu, baru menyusun.

Kata (سَوْفَ, sawfa) menunjuk masa depan yang agak jauh, bukan yang segera. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kelak", bukan "segera". Jarak waktu itu bagian dari yang hendak dinyatakan: pengetahuan yang dijanjikan bukan pengetahuan yang datang besok, dan justru karena jauh ia mudah diabaikan. Yang menunda selalu punya alasan bahwa waktunya belum tiba.

Yang tidak diberikan di ayat ini juga patut dicatat. Tidak diberikan tanggalnya, tidak diberikan tandanya, dan tidak diberikan cara mengenalinya ketika ia datang. Yang diberikan cuma kepastian bahwa ia akan datang. Sebuah janji tanpa tanggal tidak bisa disiapkan dengan menghitung mundur, dan karena itu ia menuntut kesiapan yang berjalan terus-menerus, bukan kesiapan yang dipasang menjelang waktunya.

Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menganggap bantahannya menjawab pertanyaan yang belum diajukan. Dua ayat sebelumnya tidak memuat satu pun pertanyaan, dan tidak memuat satu pun pembelaan yang diucapkan orang. Yang dibantah karena itu bukan kalimat yang tertulis, melainkan sikap yang tergambar dari dua ayat itu. Membantah sikap memerlukan kata yang berdiri sendiri, sebab tidak ada kalimat lawan yang bisa ditunjuk.

Tafsiran

Ayat ini memperingatkan bahwa akibat kelalaian tersebut akan segera diketahui, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa objeknya tidak disebut. Tidak tertulis mengetahui apa. Sebuah ancaman yang tidak menyebutkan isinya bekerja berbeda dari ancaman yang merinci, sebab yang tidak dirinci diisi sendiri oleh yang mendengarnya.

Rangkaian yang dipakai muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di hampir seluruh kemunculannya ia berupa ancaman yang menutup sebuah bantahan tanpa merinci objeknya. Di 6:135 dan 11:93 ia menutup perintah untuk berbuat menurut kedudukan masing-masing, dan di 39:39 ia menutup kalimat yang sama bentuknya. Jadi bentuk yang dipakai di sini bentuk yang sudah dikenal.

Yang khas justru apa yang mendahuluinya. Rangkaian utuh dengan kata bantahan di depannya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya di dalam surah ini sendiri, berurutan di 102:3 dan 102:4. Jadi susunan lengkapnya tidak dipakai di tempat lain mana pun.

Kata yang menunjuk waktu di ayat ini juga menerangkan. Ia menunjuk masa depan yang agak jauh, bukan yang segera, dan jarak itu bagian dari yang hendak dinyatakan. Pengetahuan yang dijanjikan bukan pengetahuan yang datang besok, dan justru karena jauh ia mudah diabaikan. Orang yang menunda selalu punya alasan bahwa waktunya belum tiba, dan surah ini menjawab alasan itu dengan mengulang kalimatnya sekali lagi di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini tidak menyebutkan objeknya. Tidak tertulis mengetahui apa. Allah membiarkan bagian itu terbuka, dan menyisipkan keterangan ke dalamnya berarti menutup sesuatu yang sengaja dibiarkan. Sebuah ancaman yang tidak menyebutkan isinya bekerja berbeda dari ancaman yang merinci, sebab yang tidak dirinci diisi sendiri oleh yang mendengarnya, dan apa pun yang diisikannya akan terasa lebih dekat kepada dirinya. Yang diisi sendiri selalu terasa lebih dekat kepada dirinya.
  • Kata bantahan di awal ayat berdiri sendiri sebelum kalimat berikutnya dimulai, dan kata itu dipakai 33 kali di 15 surah, antara lain 74:16, 75:11, 96:6, dan 104:4. Yang dibantah Allah di sini bukan perbuatan berlomba di ayat pertama, melainkan anggapan yang menyertainya, yaitu bahwa keadaan itu bisa berlangsung tanpa perhitungan. Bantahan semacam ini memutus lebih dulu, baru menyusun. Yang dibantah bukan kalimat yang terucap, melainkan sikap yang tergambar.
  • Kata yang menunjuk waktu di ayat ini menunjuk masa depan yang agak jauh, bukan yang segera. Jarak waktu itu bagian dari yang hendak dinyatakan Allah. Pengetahuan yang dijanjikan bukan pengetahuan yang datang besok, dan justru karena jauh ia mudah diabaikan. Orang yang menunda selalu punya alasan bahwa waktunya belum tiba. Apa yang membuat sesuatu yang pasti terjadi terasa tidak mendesak? Jarak waktu itu sendiri yang membuat peringatannya paling mudah ditunda.
  • Rangkaian utuh dengan kata bantahan di depannya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 102:3 dan 102:4, keduanya di dalam surah ini sendiri dan berurutan. Jadi susunan lengkapnya tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun. Bagiannya masing-masing sudah dikenal, dan yang tidak dikenal cuma penggabungannya. Yang langka bukan bahan-bahannya, melainkan cara keduanya disusun bersama. Yang langka bukan bahannya, melainkan cara keduanya disusun bersama.
  • Surah ini tidak membantah bahwa orang berlomba memperbanyak. Perlombaan itu memang terjadi, dan ayat pertama menyebutkannya sebagai kenyataan. Yang dibantah Allah anggapan yang menyertainya, yaitu bahwa keadaan itu berjalan tanpa ujung dan tanpa perhitungan. Membantah anggapan berbeda dari melarang perbuatan, sebab yang dilarang bisa dihentikan dengan tangan, sedangkan yang dibantah harus dihentikan dengan mengubah cara memandang. Yang dilarang berhenti dengan tangan; yang dibantah berhenti dengan cara memandang.
  • Yang dijanjikan Allah di ayat ini pengetahuan, bukan siksa. Kalimatnya berbunyi kelak kalian akan mengetahui, dan pengetahuan itu datang sesudah kubur disebut di ayat sebelumnya. Jadi yang akan diperoleh bukan sesuatu yang bisa dipakai lagi. Pengetahuan yang datang ketika kesempatan sudah lewat berhenti menjadi bekal dan berubah menjadi beban, dan justru bentuk itulah yang dipakai sebagai ancaman. Bekal yang tiba sesudah perjalanan selesai berhenti menjadi bekal.