ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَtsumma kallaa sawfa ta'lamuunakemudian sekali-kali tidak, kelak kalian akan mengetahui

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  3. سَوْفَsawfakelak
  4. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Penguatan melalui pengulangan: 'sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui', repetisi yang menegaskan keseriusan peringatan, penekanan ganda yang memperkuat pesan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(jangan melakukan itu)" dan "(akibatnya)" tidak dipakai. Ayat ini mengulang 102:3 huruf per huruf, dan satu-satunya yang ditambahkan (ثُمَّ, tsumma) di depannya. Menyisipkan keterangan ke dalamnya akan menghapus kesamaan persis itu, padahal kesamaan persis itulah yang mengerjakan sesuatu di sini.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menandai urutan yang berjarak, bukan sekadar penambahan. Ia berbeda dari huruf sambung biasa yang cuma merangkai. Jadi yang dinyatakan bukan dua pengetahuan yang datang bersamaan melainkan dua pengetahuan yang datang berurutan dengan selang di antaranya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "kemudian", bukan "dan".

Kata (ثُمَّ, tsumma) dipakai 3 kali di dalam surah pendek ini, yaitu di ayat ini, di 102:7, dan di 102:8. Ketiganya menandai tahap yang menyusul tahap sebelumnya. Jadi separuh belakang surah ini tersusun sebagai tangga, dan tiap anak tangganya dimulai dengan kata yang sama.

Pengulangan utuh sebuah kalimat patut dicatat tersendiri. Bahasa biasanya menghindari mengulang kalimat yang sama persis, dan kalau pun mengulang ia menambahkan sesuatu untuk membedakan. Di sini yang ditambahkan cuma satu kata di depan, dan kata itu bukan penjelas melainkan penanda tahap. Jadi yang diulang memang seluruhnya, dengan sengaja, tanpa satu pun keterangan yang membedakan isinya.

Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menganggapnya sekadar penekanan. Kalau ia sekadar penekanan, kata penanda tahap di depannya tidak perlu ada, sebab penekanan tidak memerlukan jarak waktu. Yang tertulis dua kejadian, bukan satu kejadian yang disebut dua kali. Rangkaian (كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ, kallaa sawfa ta'lamuuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 102:3 dan 102:4, keduanya di dalam surah ini.

Hubungan ayat ini dengan 102:5 juga perlu dicatat. Tiga ayat berturut-turut dibuka dengan bantahan yang sama, yaitu 102:3, ayat ini, dan 102:5. Tiga bantahan beruntun tidak dipakai di banyak tempat, dan susunan itu membuat separuh depan surah ini terasa seperti pintu yang ditutup tiga kali. Yang ditutup bukan tiga hal yang berbeda, melainkan satu hal yang sama, dan pengulangan penutupan itulah yang menyatakan seberapa kuat pintunya didorong dari sisi sebelah.

Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menyimpulkan bahwa dua pengetahuan itu berbeda isinya. Al-Qur'an tidak menyebutkan isinya sama sekali, baik di ayat ini maupun di ayat sebelumnya. Yang disebutkan cuma bahwa keduanya akan datang dan bahwa yang kedua menyusul yang pertama. Menyimpulkan lebih dari itu berarti menambahkan sesuatu yang tidak tertulis, dan surah ini memang menahan diri dari menerangkannya.

Tafsiran

Ayat ini mengulang peringatan sebagai penekanan retoris, dan yang membedakannya dari ayat sebelumnya cuma satu kata di depan. Kata itu menandai urutan yang berjarak, bukan sekadar penambahan, sehingga yang dinyatakan bukan dua pengetahuan yang datang bersamaan melainkan dua pengetahuan yang datang berurutan dengan selang di antaranya.

Perbedaan itu menentukan cara membacanya. Kalau ayat ini sekadar penekanan, kata penanda tahap di depannya tidak perlu ada, sebab penekanan tidak memerlukan jarak waktu. Yang tertulis dua kejadian, bukan satu kejadian yang disebut dua kali. Al-Qur'an tidak menyebutkan apa yang membedakan keduanya, dan tidak disebutkannya adalah bagian dari caranya bekerja.

Kata penanda tahap itu dipakai 3 kali di dalam surah pendek ini, yaitu di ayat ini, di 102:7, dan di 102:8. Ketiganya menandai tahap yang menyusul tahap sebelumnya. Jadi separuh belakang surah ini tersusun sebagai tangga, dan tiap anak tangganya dimulai dengan kata yang sama.

Pengulangan utuh sebuah kalimat juga patut dicatat. Bahasa biasanya menghindari mengulang kalimat yang sama persis, dan kalau pun mengulang ia menambahkan sesuatu untuk membedakan. Di sini yang ditambahkan bukan penjelas melainkan penanda tahap. Rangkaian utuhnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya di dalam surah ini, berurutan di dua ayat yang bersebelahan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang ditambahkan Allah di depan ayat ini menandai urutan yang berjarak, bukan sekadar penambahan. Ia berbeda dari huruf sambung biasa yang cuma merangkai. Jadi yang dinyatakan bukan dua pengetahuan yang datang bersamaan melainkan dua pengetahuan yang datang berurutan dengan selang di antaranya. Kalau ayat ini sekadar penekanan, kata itu tidak perlu ada, sebab penekanan tidak memerlukan jarak waktu. Kata itu menandai jarak, dan jarak tidak diperlukan oleh penekanan.
  • Bahasa biasanya menghindari mengulang kalimat yang sama persis, dan kalau pun mengulang ia menambahkan sesuatu untuk membedakan. Di sini yang ditambahkan cuma satu kata di depan, dan kata itu bukan penjelas melainkan penanda tahap. Jadi Allah mengulang seluruhnya, dengan sengaja, tanpa satu pun keterangan yang membedakan isinya. Apa yang dikerjakan sebuah kalimat ketika ia dikembalikan utuh tanpa perubahan? Kalimat yang dikembalikan utuh menuntut dibaca ulang, bukan sekadar didengar.
  • Kata penanda tahap ini dipakai 3 kali di dalam surah pendek ini, yaitu di ayat ini, di 102:7, dan di 102:8. Ketiganya menandai tahap yang menyusul tahap sebelumnya. Jadi separuh belakang surah ini disusun Allah sebagai tangga, dan tiap anak tangganya dimulai dengan kata yang sama. Susunan bertangga membuat pembacanya tidak bisa berhenti di tengah tanpa merasa ada yang belum selesai. Susunan bertangga membuat pembacanya sulit berhenti sebelum anak tangga terakhir.
  • Yang tertulis dua kejadian, bukan satu kejadian yang disebut dua kali. Allah tidak menyebutkan apa yang membedakan keduanya, dan tidak disebutkannya adalah bagian dari caranya bekerja. Pembacanya tahu ada dua tahap dan tidak tahu apa isi masing-masing. Sesuatu yang diketahui jumlahnya tetapi tidak diketahui isinya menahan perhatian lebih lama daripada sesuatu yang diterangkan lengkap sekali jalan. Yang diketahui jumlahnya tetapi tidak isinya menahan perhatian paling lama.
  • Rangkaian utuh kata bantahan diikuti janji pengetahuan muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 102:3 dan 102:4, keduanya di dalam surah ini dan bersebelahan. Jadi susunan itu tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun. Yang langka bukan bahan-bahannya, sebab masing-masing sudah dikenal di banyak ayat. Yang langka penggabungannya, dan penggabungan itu cuma hidup di dua ayat ini. Penggabungan itu cuma hidup di dua ayat ini dan tidak di tempat lain.
  • Peringatan di ayat ini tidak dinaikkan bobotnya, tidak diperkeras kata-katanya, dan tidak ditambah rinciannya. Ia dikembalikan persis seperti semula. Allah tidak memerlukan kata yang lebih keras untuk mengulang, dan pengulangan tanpa penambahan justru menyatakan bahwa yang pertama sudah cukup. Yang tidak cukup bukan peringatannya, melainkan perhatian yang diberikan kepadanya. Yang tidak cukup bukan peringatannya, melainkan perhatian kepadanya.