كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
Sekali-kali tidak! Sekiranya kalian mengetahui dengan pasti,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِkallaa law ta'lamuuna 'ilma l-yaqiinisekali-kali tidak, sekiranya kalian mengetahui dengan pasti
Terjemahan per kata (5 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَوْlawsekiranya
- تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui
- عِلْمَ'ilmapengetahuan
- الْيَقِينِl-yaqiiniyang meyakinkan
Inti bacaan
Pengandaian tentang keyakinan penuh: 'sekali-kali tidak! Sekiranya kalian mengetahui dengan pasti', pengakuan bahwa jika kesadaran akan konsekuensi hadir dengan kepastian penuh sejak awal, perilaku akan berubah drastis, kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan keyakinan yang mendalam.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(jangan melakukan itu)" dan "(niscaya kalian tidak akan melakukannya)" tidak dipakai. Yang kedua itu yang paling penting, sebab kalimat pengandaian di ayat ini memang tidak punya jawaban di dalam Arabnya. Kata (لَوْ, lau) membuka pengandaian, dan yang biasanya menyusul adalah kalimat jawaban yang dimulai dengan huruf tertentu. Di sini kalimat jawabannya tidak ada.
Ketiadaan jawaban itu bukan kekurangan melainkan pilihan. Sebuah pengandaian yang jawabannya dibuang menyerahkan pengisian kepada pembacanya, dan apa pun yang diisikannya akan terasa lebih berat daripada kalimat yang tertulis. Menyisipkan jawaban ke dalam terjemahan berarti mengambil kembali pekerjaan yang sudah diserahkan.
Rangkaian (عِلْمَ الْيَقِينِ, 'ilma l-yaqiini) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Susunan semacam ini punya dua saudara: (عَيْنَ الْيَقِينِ, 'ayna l-yaqiini) di 102:7, yang juga muncul 1 kali, dan (حَقُّ الْيَقِينِ, haqqu l-yaqiini) yang muncul 2 kali, yaitu di 56:95 dan 69:51. Jadi ketiga susunan itu tersebar di 4 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, dan dua dari empatnya ada di dalam surah ini.
Akar (الْيَقِينِ, al-yaqiini) berarti yakin. Akar itu dipakai di 28 ayat, antara lain 2:4, 15:99, 32:12, 56:95, 69:51, dan ayat ini. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyifati orang yang meyakini, dan di keempat ayat bersusunan itu ia menjadi kata kedua yang menerangkan derajat. Padanan "mengetahui dengan pasti" menahan susunan itu tanpa mengubahnya menjadi kata sifat.
Kata (كَلَّا, kallaa) di awal ayat ini adalah yang ketiga berturut-turut, sesudah 102:3 dan 102:4. Tiga ayat berurutan dibuka dengan kata yang sama, dan tiap kali yang menyusul berbeda. Yang pertama dan kedua menjanjikan pengetahuan yang akan datang; yang ketiga berbalik menyebut pengetahuan yang belum ada sekarang. Jadi kata yang sama dipakai untuk memutus dua arah yang berlawanan, yaitu ke depan dan ke sekarang.
Yang perlu dijaga dalam membaca ayat ini adalah tidak menganggapnya menuduh mereka tidak diberi tahu. Peringatan sudah datang dua kali berturut-turut, dan surah ini tidak menambah keterangan baru di sini. Yang disebut bukan ketiadaan keterangan melainkan ketiadaan kepastian di dalam diri orangnya. Seseorang bisa tahu sesuatu dan tetap hidup seakan tidak tahu, dan jarak antara keduanya itulah yang ditunjuk ayat ini. Jarak semacam itu tidak bisa ditutup dengan menambah keterangan, sebab keterangannya memang sudah cukup sejak awal. Yang kurang bukan bahan yang masuk, melainkan apa yang dikerjakan orangnya terhadap bahan itu sesudah ia masuk.
Tafsiran
Ayat ini membuka pengandaian tentang pengetahuan pasti yang seharusnya mengubah sikap mereka, dan yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa pengandaian itu tidak punya jawaban. Kata yang membukanya biasanya diikuti kalimat jawaban, dan di sini kalimat jawabannya tidak ada.
Ketiadaan itu bukan kekurangan melainkan pilihan. Sebuah pengandaian yang jawabannya dibuang menyerahkan pengisian kepada pembacanya, dan apa pun yang diisikannya akan terasa lebih berat daripada kalimat yang tertulis. Kalimat yang selesai bisa ditimbang, disetujui, atau ditolak; kalimat yang menggantung tidak menyediakan satu pun dari ketiganya.
Susunan yang dipakai untuk menyebut derajat kepastian muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia punya dua saudara. Yang satu di 102:7 dan juga muncul 1 kali; yang lain muncul 2 kali, yaitu di 56:95 dan 69:51. Jadi ketiga susunan itu tersebar di 4 ayat saja, dan dua dari empatnya ada di dalam surah ini. Surah sependek ini memuat separuh dari seluruh pemakaian tata nama itu.
Kata bantahan di awal ayat ini juga yang ketiga berturut-turut, sesudah 102:3 dan 102:4. Tiga ayat berurutan dibuka dengan kata yang sama, dan tiap kali yang menyusul berbeda. Dua yang pertama menjanjikan pengetahuan yang akan datang; yang ketiga berbalik menyebut pengetahuan yang belum ada sekarang. Jadi kata yang sama dipakai untuk memutus dua arah yang berlawanan.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat pengandaian di ayat ini tidak punya jawaban di dalam Arabnya. Kata yang membukanya biasanya diikuti kalimat jawaban, dan di sini kalimat jawabannya tidak ada. Allah membiarkan bagian itu kosong, dan kekosongan itu bukan kekurangan melainkan pilihan. Kalimat yang selesai bisa ditimbang, disetujui, atau ditolak; kalimat yang menggantung tidak menyediakan satu pun dari ketiganya kepada pembacanya. Kalimat yang menggantung tidak bisa ditutup pembacanya dengan menyetujui atau menolak.
- Sebuah pengandaian yang jawabannya dibuang menyerahkan pengisian kepada pembacanya, dan apa pun yang diisikannya akan terasa lebih berat daripada kalimat yang tertulis. Menyisipkan jawaban ke dalam terjemahan berarti mengambil kembali pekerjaan yang sudah diserahkan Allah. Apa yang akan berubah pada hidup seseorang seandainya ia benar-benar tahu apa yang menantinya? Menyisipkan jawabannya ke dalam terjemahan berarti mengambil kembali pekerjaan itu.
- Susunan yang dipakai di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia punya dua saudara: satu di 102:7 yang juga muncul 1 kali, dan satu lagi yang muncul 2 kali di 56:95 dan 69:51. Jadi ketiga susunan itu tersebar di 4 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Surah sependek ini memuat separuh dari seluruh pemakaian tata nama derajat kepastian yang dipakai Allah. Surah sependek ini memuat separuh dari seluruh pemakaian tata nama itu, dan itu bukan kebetulan susunan.
- Kata bantahan di awal ayat ini yang ketiga berturut-turut, sesudah dua ayat sebelumnya. Tiga ayat berurutan dibuka Allah dengan kata yang sama, dan tiap kali yang menyusul berbeda. Dua yang pertama menjanjikan pengetahuan yang akan datang; yang ketiga berbalik menyebut pengetahuan yang belum ada sekarang. Jadi kata yang sama dipakai untuk memutus dua arah yang berlawanan, yaitu ke depan dan ke sekarang. Satu pintu yang ditutup tiga kali menyatakan seberapa kuat ia didorong dari sebelah.
- Ayat ini tidak menuduh mereka tidak diberi tahu. Peringatan sudah datang dua kali berturut-turut di ayat sebelumnya, dan surah ini tidak menambah keterangan baru di sini. Yang disebut Allah bukan ketiadaan keterangan melainkan ketiadaan kepastian di dalam diri orangnya. Seseorang bisa tahu sesuatu dan tetap hidup seakan tidak tahu, dan jarak antara keduanya itulah yang ditunjuk ayat ini. Keterangannya sudah cukup sejak dua ayat sebelumnya, dan tetap tidak mengubah apa-apa.
- Bentuk pengandaian menyatakan bahwa yang diandaikan belum terjadi. Jadi yang dinyatakan Allah bukan bahwa mereka akan mengetahui, melainkan bahwa mereka belum mengetahui sekarang, sekalipun mereka mungkin mengira sudah. Pengetahuan yang belum sampai pada derajat kepastian tidak mengubah cara orang hidup, dan justru karena itu ia mudah disangka sudah cukup oleh yang memilikinya. Yang belum sampai pada kepastian paling mudah disangka sudah cukup.