لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
Pasti kalian akan melihat neraka yang menyala-nyala,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَla-tarawunna l-jahiimapasti kalian akan melihat neraka yang menyala-nyala
Terjemahan per kata (2 kata)
- لَتَرَوُنَّla-tarawunnapasti kalian akan melihat
- الْجَحِيمَl-jahiimaneraka yang menyala-nyala
Inti bacaan
Kepastian mutlak yang akan terjadi: 'pasti kalian akan melihat Jahim', penegasan tanpa keraguan bahwa konsekuensi dari kelalaian materialistis akan disaksikan langsung, bukan ancaman kosong melainkan kepastian yang akan terwujud.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (لَتَرَوُنَّ, la-tarawunna) dibuka huruf penegas dan ditutup huruf penegas lagi, sehingga tekanannya berlapis di kedua ujungnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan kata pasti di depan kalimatnya. Akar kata kerjanya berarti melihat dan menimbang. Ia dipakai di 297 ayat dan artinya melihat, akar yang sama yang dipakai untuk kata pembuka surah 107.
Yang paling perlu diperhatikan adalah letak ayat ini. Ayat 102:5 membuka pengandaian yang jawabannya tidak ada, dan ayat ini tidak mengisi kekosongan itu. Ia memulai kalimat baru dengan bentuk sumpah yang bertekanan. Jadi yang menyusul pengandaian yang menggantung bukan jawabannya, melainkan pernyataan yang jauh lebih keras. Kekosongan di 102:5 dibiarkan kosong selamanya.
Kata (الْجَحِيمَ, al-jahiima) dalam bentuk ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:31, 79:39, dan ayat ini. Akarnya berarti api yang menyala besar. Ia dipakai di 26 ayat, antara lain 2:119, 37:23, 56:94, 79:36, dan 83:16. Padanan "neraka yang menyala-nyala" menahan sisi berkobarnya, sebab akar ini menyebut api yang besar nyalanya dan bukan sekadar tempat.
Yang dijanjikan di ayat ini penglihatan, bukan penyiksaan. Yang tertulis kalian pasti akan melihatnya, dan tidak tertulis kalian akan dimasukkan ke dalamnya. Perbedaan itu menentukan, sebab melihat adalah sesuatu yang dikenakan kepada semua orang yang disapa surah ini, sedangkan masuk tidak disebut sama sekali. Ayat ini menjanjikan penyaksian sebagai kepastian, dan surah ini tidak melangkah lebih jauh dari itu.
Hubungan dengan 102:3 dan 102:4 juga terang. Dua ayat itu menjanjikan pengetahuan tanpa menyebutkan objeknya, dan di sini objek itu akhirnya muncul. Yang akan diketahui ternyata sesuatu yang akan dilihat, bukan sesuatu yang akan dipelajari. Pengetahuan yang datang lewat mata tidak memerlukan keterangan dan tidak menyediakan ruang untuk membantah.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut siapa yang memperlihatkannya, tidak disebut dari mana mereka melihatnya, dan tidak disebut berapa lama. Yang disebut cuma bahwa penglihatan itu pasti terjadi. Sebuah kepastian yang tidak dirinci tidak menyediakan satu pun sudut untuk ditawar, sebab menawar memerlukan rincian yang bisa dipersoalkan.
Bandingkan susunan ayat ini dengan susunan 102:5. Yang sebelumnya pengandaian yang menggantung, dibuka (لَوْ, lau); yang di sini pernyataan yang ditutup rapat di kedua ujungnya oleh huruf penegas. Perpindahan dari bentuk yang paling longgar kepada bentuk yang paling ketat terjadi tanpa satu pun kata penghubung. Yang tidak dijawab dibiarkan tidak terjawab, dan sebagai gantinya datang sesuatu yang tidak memerlukan jawaban sama sekali.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa mereka pasti akan menyaksikan neraka, dan letaknya persis sesudah pengandaian yang jawabannya tidak ada. Ayat 102:5 membuka kalimat yang menggantung, dan ayat ini tidak mengisi kekosongan itu melainkan memulai kalimat baru dengan bentuk yang jauh lebih keras.
Kata kerjanya dibuka huruf penegas dan ditutup huruf penegas lagi, sehingga tekanannya berlapis di kedua ujungnya. Bentuk seperti itu dipakai untuk perkara yang tidak menyediakan ruang tawar sama sekali. Yang tadinya diandaikan di 102:5 kini dinyatakan sebagai kepastian, dan pemindahan dari pengandaian ke kepastian terjadi tanpa satu pun kalimat penghubung.
Yang dijanjikan penglihatan, bukan penyiksaan. Yang tertulis kalian pasti akan melihatnya, dan tidak tertulis kalian akan dimasukkan ke dalamnya. Perbedaan itu menentukan, sebab melihat dikenakan kepada semua orang yang disapa surah ini, sedangkan masuk tidak disebut sama sekali. Surah ini menjanjikan penyaksian sebagai kepastian dan tidak melangkah lebih jauh dari itu.
Hubungan dengan 102:3 dan 102:4 juga terang. Dua ayat itu menjanjikan pengetahuan tanpa menyebutkan objeknya, dan di sini objek itu akhirnya muncul. Yang akan diketahui ternyata sesuatu yang akan dilihat, bukan sesuatu yang akan dipelajari. Pengetahuan yang datang lewat mata tidak memerlukan keterangan dan tidak menyediakan ruang untuk membantah.
Renungan dan Hikmah
- Ayat sebelumnya membuka pengandaian yang jawabannya tidak ada, dan ayat ini tidak mengisi kekosongan itu. Allah memulai kalimat baru dengan bentuk yang jauh lebih keras. Jadi yang menyusul pengandaian yang menggantung bukan jawabannya, melainkan pernyataan lain. Kekosongan di ayat kelima dibiarkan kosong selamanya, dan pembacanya tidak pernah diberi kalimat yang menutupnya. Pembacanya tidak pernah diberi kalimat yang menutup pengandaian itu, sampai surahnya habis.
- Yang dijanjikan Allah di ayat ini penglihatan, bukan penyiksaan. Yang tertulis kalian pasti akan melihatnya, dan tidak tertulis kalian akan dimasukkan ke dalamnya. Perbedaan itu menentukan, sebab melihat dikenakan kepada semua orang yang disapa surah ini, sedangkan masuk tidak disebut sama sekali. Surah ini menjanjikan penyaksian sebagai kepastian dan tidak melangkah lebih jauh dari itu. Yang dijanjikan penyaksian, dan surah ini tidak melangkah lebih jauh dari itu.
- Dua ayat sebelumnya menjanjikan pengetahuan tanpa menyebutkan objeknya, dan di sini objek itu akhirnya muncul. Yang akan diketahui ternyata sesuatu yang akan dilihat, bukan sesuatu yang akan dipelajari. Pengetahuan yang datang lewat mata tidak memerlukan keterangan dan tidak menyediakan ruang untuk membantah. Apa yang tersisa untuk diperdebatkan ketika sesuatu berdiri di depan mata sendiri? Pengetahuan lewat mata tidak memerlukan keterangan dan tidak menyediakan ruang membantah.
- Kata kerja di ayat ini dibuka huruf penegas dan ditutup huruf penegas lagi, sehingga tekanannya berlapis di kedua ujungnya. Bentuk seperti itu dipakai Allah untuk perkara yang tidak menyediakan ruang tawar sama sekali. Yang tadinya diandaikan di ayat kelima kini dinyatakan sebagai kepastian, dan pemindahan dari pengandaian ke kepastian terjadi tanpa satu pun kalimat penghubung di antaranya. Perpindahan dari pengandaian ke kepastian terjadi tanpa satu pun kalimat penghubung.
- Nama yang dipakai di ayat ini muncul 3 kali dalam bentuk ini di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:31, 79:39, dan ayat ini, sedangkan akarnya dipakai di 26 ayat. Akar itu menyebut api yang besar nyalanya, bukan sekadar tempat. Jadi yang dinamai bukan lokasi melainkan keadaan apinya, dan penamaan menurut sifat yang paling menonjol membuat namanya sendiri sudah menjadi keterangan. Nama yang diambil dari sifat yang paling menonjol sudah menjadi keterangan bagi dirinya.
- Akar kata kerja di ayat ini akar yang dipakai di 297 ayat dan artinya melihat, akar yang sama yang membuka surah 107 dengan pertanyaan tahukah engkau. Di sana orang diajak melihat sesuatu yang bisa diabaikannya; di sini Allah menyatakan bahwa ada yang pasti akan dilihatnya tanpa bisa diabaikan. Yang bisa dipilih sekarang berubah menjadi yang tidak bisa dihindari kelak. Yang bisa dipilih sekarang berubah menjadi yang tidak bisa dihindari kelak.