ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Kemudian pasti kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِtsumma la-tus'alunna yawma'idzin 'ani n-na'iimikemudian pasti kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan
Terjemahan per kata (5 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- لَتُسْأَلُنَّla-tus'alunnasungguh kalian akan ditanya
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- عَنِ'anitentang
- النَّعِيمِn-na'iimikenikmatan
Inti bacaan
Penutup surah dengan pertanggungjawaban atas kenikmatan: 'kemudian pasti kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan', pengingat bahwa bahkan kesenangan dan kemewahan yang dinikmati akan dimintai pertanggungjawaban, tidak ada aspek kehidupan yang luput dari evaluasi.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (لَتُسْأَلُنَّ, la-tus-alunna) berbentuk pasif dan bertekanan berlapis, dibuka huruf penegas dan ditutup huruf penegas lagi. Ia muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:56, 16:93, dan 102:8. Di 16:93 tertulis (وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, wa-la-tus-alunna 'ammaa kuntum ta'maluuna), dan pasti kalian akan ditanya tentang apa yang kalian kerjakan. Akarnya berarti bertanya dan meminta. Ia dipakai di 118 ayat.
Perbedaan antara ayat ini dan 16:93 patut dicatat. Di sana yang ditanyakan perbuatan, dan di sini yang ditanyakan (النَّعِيمِ, an-na'iimi), kenikmatan. Jadi bentuk kata kerja yang sama dipakai untuk dua pertanyaan yang berbeda sasarannya: yang satu tentang apa yang dikerjakan seseorang, yang lain tentang apa yang diterimanya.
Kata (النَّعِيمِ, an-na'iimi) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 26:85, 31:8, 37:43, 56:12, 68:34, 83:24, dan ayat ini. Enam di antaranya berupa rangkaian (جَنَّاتِ النَّعِيمِ, jannaati n-na'iimi), yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34, dan di sana ia menyebut surga yang dijanjikan. Jadi kata yang di enam tempat menyebut balasan yang dijanjikan, di sini menjadi hal yang ditanyakan.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yawma-idzin) menunjuk hari yang sudah dikenal dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu hari ketika apinya dilihat. Jadi pertanyaan ini tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada penglihatan di 102:6 dan 102:7. Yang melihat lalu ditanya, dan urutan itu tidak dibalik.
Susunan penutup surah ini juga perlu dicatat. Ia dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) untuk ketiga kalinya, sesudah 102:4 dan 102:7, sehingga tangga yang dimulai di tengah surah berakhir di sini. Yang paling menentukan adalah bahwa ujung tangga itu bukan siksa dan bukan penglihatan, melainkan pertanyaan. Surah yang dibuka dengan perlombaan memperbanyak ditutup dengan permintaan pertanggungjawaban atas apa yang diterima, bukan atas apa yang dikejar.
Yang tidak disebut di ayat penutup ini juga menerangkan. Tidak disebut siapa yang bertanya, tidak disebut apa jawabannya, dan tidak disebut apa yang terjadi sesudah pertanyaan itu. Surahnya berhenti pada pertanyaan yang belum dijawab. Sebuah teks yang berhenti pada pertanyaan meninggalkan pekerjaan itu pada pembacanya, dan pekerjaan itu tidak selesai ketika bacaannya selesai. Yang ditutup dengan jawaban bisa ditinggalkan; yang ditutup dengan pertanyaan ikut pulang bersama yang membacanya. Surah ini dibuka dengan menyebut apa yang mengambil perhatian seseorang, dan ditutup dengan menyerahkan perhatian itu kembali kepadanya dalam bentuk pertanyaan yang belum punya jawaban.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan bahwa setiap kenikmatan dunia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari itu, dan yang paling perlu diperhatikan adalah apa yang ditanyakan. Bukan dosa, bukan kelalaian, dan bukan perlombaan yang disebut di 102:1, melainkan kenikmatan.
Kata yang dipakai untuk kenikmatan muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, dan enam di antaranya berupa rangkaian yang menyebut surga yang dijanjikan, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34. Jadi kata yang di enam tempat menyebut balasan yang dijanjikan, di sini menjadi hal yang ditanyakan. Yang di tempat lain diberikan sebagai upah, di sini diminta pertanggungjawabannya.
Bentuk kata kerjanya pasif dan bertekanan berlapis, dan ia muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an. Di 16:93 yang ditanyakan perbuatan, dan di sini yang ditanyakan kenikmatan. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk dua pertanyaan yang berbeda sasarannya: yang satu tentang apa yang dikerjakan seseorang, yang lain tentang apa yang diterimanya.
Perbedaan itu memindahkan seluruh pembacaan surah ini. Orang menyiapkan diri untuk ditanya tentang apa yang dikerjakannya, sebab itu yang terasa menjadi tanggungannya. Ditanya tentang apa yang diterimanya adalah perkara lain, sebab yang diterima tidak terasa sebagai pilihan. Surah yang dibuka dengan perlombaan memperbanyak ditutup dengan pertanyaan tentang yang sudah ada di tangan, bukan tentang yang dikejar.
Renungan dan Hikmah
- Yang ditanyakan Allah di ayat penutup ini bukan dosa, bukan kelalaian, dan bukan perlombaan yang disebut di ayat pertama, melainkan kenikmatan. Orang menyiapkan diri untuk ditanya tentang apa yang dikerjakannya, sebab itu yang terasa menjadi tanggungannya. Ditanya tentang apa yang diterimanya adalah perkara lain sama sekali, sebab yang diterima tidak pernah terasa sebagai pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Yang tidak terasa sebagai pilihan justru yang paling akhir ditanyakan.
- Kata yang dipakai untuk kenikmatan muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, dan enam di antaranya berupa rangkaian yang menyebut surga yang dijanjikan, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34. Jadi kata yang di enam tempat menyebut balasan yang dijanjikan Allah, di sini menjadi hal yang ditanyakan. Yang di tempat lain diberikan sebagai upah, di sini diminta pertanggungjawabannya. Yang di tempat lain diberikan sebagai upah, di sini diminta pertanggungjawabannya.
- Bentuk kata kerja di ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:56, 16:93, dan ayat ini. Di 16:93 yang ditanyakan apa yang kalian kerjakan, dan di sini yang ditanyakan kenikmatan. Jadi Allah memakai bentuk yang sama untuk dua pertanyaan yang berbeda sasarannya: yang satu tentang apa yang dikerjakan seseorang, yang lain tentang apa yang diterimanya tanpa ia minta. Orang menyiapkan jawaban untuk yang pertama dan jarang untuk yang kedua.
- Ayat ini dibuka dengan kata penanda tahap yang ketiga kalinya, sesudah ayat keempat dan ketujuh, sehingga tangga yang dimulai di tengah surah berakhir di sini. Yang paling menentukan adalah bahwa ujung tangga itu bukan siksa dan bukan penglihatan, melainkan pertanyaan. Apa yang akan dijawab seseorang ketika yang ditanyakan justru hal-hal yang selama ini dianggapnya haknya? Tangga yang dimulai di tengah surah berakhir bukan pada siksa, melainkan pada pertanyaan.
- Kata yang menunjuk hari di ayat ini menunjuk hari yang sudah dikenal dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu hari ketika apinya dilihat. Jadi pertanyaan ini tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada penglihatan di dua ayat sebelumnya. Yang melihat lalu ditanya, dan Allah tidak membalik urutan itu. Pertanyaan yang datang sesudah penglihatan tidak lagi bisa dijawab dengan dugaan. Pertanyaan yang datang sesudah penglihatan tidak bisa lagi dijawab dengan dugaan.
- Surah ini dibuka dengan perlombaan mengejar yang belum ada dan ditutup dengan pertanyaan tentang yang sudah ada di tangan. Allah tidak menanyakan seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan seseorang. Yang ditanyakan apa yang sudah diterimanya, dan yang sudah diterima itu tidak pernah masuk hitungan orang yang sibuk mengejar. Yang dihitung selalu yang belum didapat, dan yang tidak dihitung itulah yang akhirnya ditanyakan. Yang dihitung selalu yang belum didapat, dan yang tidak dihitung itulah yang ditanyakan.