بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
وَالْعَصْرِ
Demi masa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْعَصْرِwa-l-'ashridemi masa
Terjemahan per kata (1 kata)
- وَالْعَصْرِwa-l-'ashridemi masa
Inti bacaan
Pembukaan Al-'Asr dengan sumpah demi waktu: 'demi masa', penggunaan konsep waktu yang universal sebagai objek sumpah pembuka, saksi atas kondisi manusia yang akan segera dijelaskan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka satu huruf, dan huruf itu yang menentukan seluruh bacaannya. Dalam (وَالْعَصْرِ, wa-l-'ashri), huruf (وَ, wa) di depan bukan kata sambung "dan" melainkan penanda sumpah. Penandaan korpus memisahkan keduanya dengan tegas: (وَ, wa) di ayat ini ditandai partikel, sedangkan dua (وَ, wa) di 103:3 ditandai kata sambung. Bedanya bukan urusan tata bahasa belaka. Dibaca "dan masa", ayat ini menyambungkan sesuatu kepada yang tidak ada, sebab tidak ada kalimat sebelumnya, ia pembuka surah. Dibaca "demi masa", ia berdiri sebagai sumpah, dan sumpah selalu menuntut ada yang disumpahkan. Tuntutan itu dibayar di ayat berikutnya.
Yang disumpahkan berbentuk (الْعَصْرِ, al-'ashri), bertakrif oleh (الْ, al-) dan berkasus genitif karena didahului penanda sumpah tadi. Bentuk persis ini dipakai sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ketakrifannya menutup satu kemungkinan baca: yang disumpahkan bukan sembarang penggal waktu, melainkan masa yang sudah dikenal, yang sedang berjalan atas siapa pun yang sedang membacanya.
Akarnya berarti memeras, dan di sinilah pilihan katanya diuji. Akar itu hanya dipakai di lima ayat, dan empat sisanya sama sekali tidak berbicara tentang waktu. Di 12:36 ia (أَعْصِرُ, a'shiru), memeras anggur. Di 12:49 ia (يَعْصِرُونَ, ya'shiruuna), mereka memeras hasil panen. Di 78:14 ia (الْمُعْصِرَاتِ, al-mu'shiraati), awan yang diperas sampai airnya tercurah. Di 2:266 ia (إِعْصَارٌ, i'shaarun), angin yang memuntir kebun sampai habis. Satu gambaran berulang di keempatnya, dan gambaran itu bukan gambaran waktu: sesuatu ditekan sampai isinya keluar.
Al-Qur'an memakai kata yang lain sama sekali ketika yang dimaksud sekadar rentang waktu. Di 76:1 disebut (حِينٌ, hiinun), sepenggal waktu, yang diambil dari (الدَّهْرِ, ad-dahri), waktu yang membentang panjang. Kata di ayat ini bukan salah satu dari keduanya, dan pemisahan itu yang membuat padanannya tidak boleh sembarang. Padanan "masa" dipilih karena ia menampung apa yang tidak tertampung padanan lain. "Waktu" terlalu lapang, ia menamai wadah yang kosong. "Zaman" condong ke penggalan sejarah yang sudah lewat, padahal yang disumpahkan justru sedang berlangsung. "Petang" memang salah satu arti kata ini dalam pemakaian sehari-hari, tetapi mempersempitnya ke satu potong hari akan memutus hubungannya dengan ayat sesudahnya, yang berbicara tentang seluruh keadaan manusia dan bukan keadaannya pada sore hari saja. "Masa" menahan dua-duanya sekaligus: ia menyebut waktu yang berjalan, dan ia tidak menutup gambaran perasan yang dibawa akarnya. Gambaran itu penting justru karena ayat berikutnya menyebut manusia berada dalam kerugian. Yang diperas kehilangan isinya sedikit demi sedikit tanpa terasa sedang kehilangan, dan itulah yang dipanggil menjadi saksi.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sumpah, dan yang dipilih sebagai saksi justru tidak bisa dilihat siapa pun. Sumpah pembuka di surah-surah sekitarnya memanggil hal-hal yang kasat mata: fajar di 89:1, matahari dan cahaya paginya di 91:1, malam yang menutupi di 92:1, waktu duha di 93:1, tin dan zaitun di 95:1, kuda yang berlari terengah di 100:1. Semuanya bisa ditunjuk dengan jari. Masa tidak bisa. Ia hanya disadari sesudah sebagian darinya habis.
Letaknya di dalam surah menerangkan kenapa saksi itu yang dipanggil. Sumpah ini tidak berdiri sendiri, ia menyiapkan pernyataan di 103:2 bahwa manusia berada dalam kerugian. Antara sumpah dan perkaranya tidak ada satu pun kalimat penyela. Saksi dan perkara berdempetan, dan yang membuat kesaksiannya sah adalah bahwa ia berlaku atas semua orang tanpa kecuali.
Yang dipanggil sebagai saksi juga yang paling sering dijadikan tertuduh. Manusia terbiasa menyalahkan masa atas apa yang hilang darinya, menyebut zaman yang berubah atau waktu yang tidak cukup. Surah ini membalik kedudukan itu sejak kata pertamanya. Masa bukan terdakwa, ia saksi, dan kesaksiannya memberatkan pihak yang menuduhnya. Kalau masa berjalan sama rata bagi setiap orang sementara hasilnya berbeda-beda, maka yang membedakan bukan masa itu, melainkan apa yang dikerjakan di dalamnya. Kesimpulan itu tidak diucapkan di ayat ini, tetapi seluruh sisa surah berdiri di atasnya.
Renungan dan Hikmah
- Waktu dipakai Allah sebagai yang disumpahkan, sesuatu yang tidak berwujud. Bukan benda. Masa. Sumpah di surah-surah tetangganya memanggil yang bisa ditunjuk, fajar, matahari, malam, buah, kuda yang berlari. Semuanya bisa difoto. Yang dipanggil di sini tidak, dan itu bukan kekurangan melainkan justru syaratnya: saksi yang bisa dilihat hanya menyaksikan mereka yang kebetulan hadir di tempatnya, sedangkan masa hadir di setiap tempat, atas setiap orang, tanpa pernah sekali pun absen.
- Yang disumpahkan justru yang dikeluhkan manusia. Allah memakai waktu. Yang dianggap merugikan dijadikan saksi. Keluhan tentang zaman yang berubah dan hari yang terlalu pendek sudah begitu biasa sampai tidak terdengar lagi sebagai tuduhan. Ayat ini tidak membantahnya dengan menjelaskan, melainkan dengan memindahkan kedudukan: pihak yang selama ini didudukkan sebagai penyebab kerugian dipanggil naik menjadi saksi atas kerugian itu, dan kesaksiannya tidak menguntungkan yang memanggilnya ke pengadilan.
- Sumpahnya cuma dua kata. Yang terpendek. Untuk surah yang juga pendek. Panjang sebuah kalimat biasanya sepadan dengan beratnya, dan di sini kesepadanan itu dilanggar dengan sengaja. Dua kata dipakai untuk memanggil saksi bagi sebuah pernyataan tentang seluruh umat manusia. Yang menahan bobot itu bukan jumlah katanya melainkan cakupan saksinya, dan saksi yang mencakup semua orang memang tidak memerlukan kalimat panjang untuk diperkenalkan.
- Akar kata yang dipakai untuk masa di ayat ini adalah akar yang di empat tempat lain berarti memeras: memeras anggur, memeras hasil panen, awan yang diperas sampai airnya turun, angin yang memuntir kebun sampai habis. Yang diperas tidak merasakan dirinya sedang berkurang, sebab pengurangannya berlangsung setetes demi setetes. Begitulah masa bekerja atas seseorang yang tidak sedang memperhatikannya, dan itu sebabnya kerugian yang disebut ayat berikutnya jarang terasa sebagai kerugian pada saat sedang terjadi. Berapa banyak yang sudah terperas dari seseorang sebelum ia sempat memeriksa isinya sendiri?
- Masa adalah satu-satunya milik yang jumlahnya persis sama bagi orang kaya dan orang miskin dalam satu hari. Tidak ada yang bisa membelinya lebih banyak, menyimpannya untuk besok, atau meminjamnya dari orang lain. Justru kesamaan itu yang membuatnya sah menjadi saksi: kalau bekalnya sama sementara hasil akhirnya berbeda-beda, maka yang membedakan bukan bekalnya. Sumpah ini menutup satu pembelaan sebelum pembelaan itu sempat diucapkan. Allah memilih justru yang paling merata sebagai saksi, dan pilihan itu tidak menyisakan alasan bagi siapa pun.
- Kata yang disumpahkan bertakrif, dan ketakrifan itu menunjuk masa yang sudah dikenal, bukan masa mana pun secara umum. Yang dimaksud bukan waktu sebagai gagasan, melainkan waktu yang sedang berjalan atas orang yang sedang membaca kalimatnya. Sesuatu yang disebut sebagai saksi biasanya berada di luar perkara, sedangkan saksi ini justru sedang bekerja pada diri pembacanya saat kalimat ini dibaca. Sepanjang kalimat ini dibaca, sebagian kecil dari yang disumpahkan itu habis. Yang dipanggil Allah menjadi saksi bukan sesuatu di masa lampau, melainkan yang sedang bekerja pada pembacanya detik ini.