بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

Celakalah setiap pengumpat lagi pencela,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍwaylun li-kulli humazatin lumazatincelakalah setiap pengumpat lagi pencela

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَيْلٌwayluncelakalah
  2. لِكُلِّli-kullibagi setiap
  3. هُمَزَةٍhumazatinpencela
  4. لُمَزَةٍlumazatinpengumpat

Inti bacaan

Pembukaan Al-Humazah dengan kutukan tegas: 'celakalah setiap pengumpat lagi pencela', kecaman terhadap dua bentuk kejahatan lisan, mengumpat di belakang dan mencela secara terbuka, keduanya sama-sama merusak.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Ayat pembuka ini menaruh dua kata berdampingan yang tidak dipakai di mana pun lagi: (هُمَزَةٍ, humazatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan (لُمَزَةٍ, lumazatin) juga 1 kali, keduanya di ayat ini. Jadi sebuah surah dibuka dengan dua kata yang tidak punya pembanding di ayat lain, dan keduanya diletakkan berurutan tanpa satu pun kata penghubung di antaranya.

Pola bunyi (هُمَزَةٍ, humazatin) dan (لُمَزَةٍ, lumazatin) sama persis, yaitu fu'alah, dan pola itu dipakai untuk menyatakan sesuatu yang dikerjakan berulang sampai menjadi tabiat. Yang disebut karena itu bukan orang yang sekali terpeleset lidahnya, melainkan orang yang memang begitu kebiasaannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "pengumpat lagi pencela", bukan "yang mengumpat dan mencela", sebab bentuk pertama menyebut tabiat sedangkan bentuk kedua menyebut perbuatan yang bisa saja sekali terjadi.

Akar (هُمَزَةٍ, humazatin) berarti mencela dari belakang. Akar itu dipakai di 3 ayat: di sini, di 23:97, dan di 68:11. Di 23:97 tertulis (هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ, hamazaati sy-syayaathiini), bisikan-bisikan setan yang darinya orang diperintahkan berlindung. Di 68:11 tertulis (هَمَّازٍ, hammaazin), sifat yang disandingkan dengan menyebarkan fitnah ke sana-sini. Jadi akar yang sama dipakai untuk pekerjaan setan dan untuk pekerjaan manusia, dan Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Akar (لُمَزَةٍ, lumazatin) berarti mencela di hadapan. Akar itu dipakai di 4 ayat: di sini, di 9:58, di 9:79, dan di 49:11. Yang paling menerangkan adalah 49:11, sebab di sana tertulis (وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ, wa-laa talmizuu anfusakum), janganlah kalian mencela diri kalian sendiri. Yang dicela di situ orang lain, tetapi kalimatnya menyebutnya diri sendiri. Sebuah larangan yang menukar sasaran seperti itu menutup jarak yang biasa dipakai orang untuk merasa aman: yang dicela bukan orang lain, melainkan sesuatu yang juga miliknya sendiri.

Kata (لِكُلِّ, li-kulli) di ayat ini dipakai 30 kali di 19 surah, antara lain di 4:11, 7:34, 16:89, 50:32, dan ayat ini, dan artinya bagi setiap. Tidak ada nama di sini. Bandingkan dengan 111:1 yang menyebut nama diri terang-terangan; di sini yang dipakai justru sebutan yang berlaku bagi siapa saja yang memenuhi cirinya. Perbedaan itu menentukan cara membacanya. Yang menyebut nama menutup pintu bagi satu orang; yang menyebut setiap menutup pintu bagi semua orang, termasuk pembacanya sendiri.

Kata pembukanya (وَيْلٌ, waylun) dirangkai dengan huruf lam, dan rangkaian itu dipakai di 12 ayat, antara lain 2:79, 83:1, 107:4, dan ayat ini. Padanan "celakalah" menahan bobot ancamannya tanpa menambahkan keterangan tentang bentuk celakanya, sebab ayat ini memang belum menyebutkannya. Yang disebut lebih dulu cuma keadaan yang menanti, dan rincian tempatnya baru muncul di 104:4.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan celaan bagi pengumpat dan pencela, dan yang dicela adalah dua kebiasaan lisan yang arahnya berbeda. Yang satu bekerja di belakang punggung orang, yang lain bekerja di hadapannya. Keduanya disebut berurutan tanpa dibedakan bobotnya, sehingga tidak ada satu pun di antaranya yang bisa dianggap lebih ringan.

Yang paling perlu diperhatikan dari pembuka ini adalah bahwa tidak ada nama di dalamnya. Al-Qur'an bisa menyebut nama ketika hendak menyebut nama, dan 111:1 membuktikannya. Di sini yang dipakai justru sebutan yang berlaku bagi setiap orang yang memenuhi cirinya. Teguran yang menyebut nama bisa dibaca orang lain sebagai bukan dirinya; teguran yang menyebut setiap tidak menyediakan pintu itu bagi siapa pun.

Kesejajaran dengan 23:97 patut dicatat tersendiri. Akar yang dipakai untuk menyebut orang ini juga dipakai untuk menyebut bisikan setan yang darinya orang diperintahkan berlindung. Sebuah kebiasaan lisan yang dianggap ringan ternyata dinamai dengan akar yang sama dengan pekerjaan yang orang mencari perlindungan darinya.

Kesejajaran yang kedua ada di 49:11. Larangan mencela di sana dirumuskan sebagai larangan mencela diri sendiri, padahal yang dicela orang lain. Rumusan itu memindahkan akibat perbuatan dari sasarannya kembali kepada pelakunya, dan surah ini mengerjakan pemindahan yang sama sepanjang sembilan ayatnya: yang dikumpulkan tidak menolong, dan yang dilontarkan kembali kepada pelontarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak menyebut satu pun nama di ayat ini. Yang dipakai (لِكُلِّ, li-kulli), bagi setiap, sebuah kata yang dipakai 30 kali di 19 surah, antara lain di 4:11, 7:34, 16:89, dan 50:32, dan artinya berlaku bagi siapa saja yang memenuhi cirinya. Bandingkan dengan 111:1 yang menyebut nama diri terang-terangan. Teguran yang menyebut nama bisa dibaca orang lain sebagai bukan dirinya. Teguran yang menyebut setiap tidak menyediakan pintu itu bagi siapa pun, termasuk bagi orang yang sedang membacanya.
  • Dua kata pertama yang menyebut orangnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya ada di ayat ini juga. Allah membuka surah dengan sepasang kata yang tidak punya pembanding di ayat mana pun. Yang disebut sekali tidak bisa dipahami dengan menengok ke tempat lain, sehingga pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbangnya. Kelangkaan itu sendiri sudah menyatakan sesuatu tentang bobot yang sedang ditimpakan. Yang biasa tidak perlu kata baru; yang tidak biasa memerlukannya.
  • Dua kebiasaan lisan disebut Allah berurutan, dan arahnya berbeda. Yang satu bekerja di belakang punggung orang, yang lain di hadapannya. Keduanya diletakkan bersebelahan tanpa satu pun kata penghubung, dan tanpa keterangan mana yang lebih ringan. Orang biasa membedakan keduanya untuk membela salah satunya: yang berterus terang merasa lebih jujur, yang diam-diam merasa lebih menjaga perasaan. Ayat ini tidak menyediakan pembelaan itu untuk keduanya.
  • Pola bunyi kedua kata itu menyatakan sesuatu yang dikerjakan berulang sampai menjadi tabiat. Yang disebut Allah karena itu bukan orang yang sekali terpeleset lidahnya, melainkan orang yang memang begitu kebiasaannya. Perbedaan ini menentukan siapa yang sedang ditegur. Sekali terpeleset masih bisa diterangkan sebagai kekhilafan yang disesali; yang berulang sudah berhenti menjadi kekhilafan dan berubah menjadi pilihan yang diambil terus-menerus.
  • Akar yang dipakai di ayat ini juga dipakai di 49:11, dan di sana larangannya berbunyi janganlah kalian mencela diri kalian sendiri, padahal yang dicela orang lain. Allah memindahkan sasaran perbuatan itu kembali kepada pelakunya di dalam kalimat larangannya sendiri. Siapa yang sungguh dirugikan ketika seseorang membuka aib orang lain? Surah ini menjawabnya sepanjang sembilan ayat, dan jawabannya bukan orang yang dibicarakan.
  • Akar kata pertamanya dipakai di 3 ayat, dan salah satunya 23:97, tempat orang diperintahkan berlindung kepada Allah dari bisikan-bisikan setan. Satu akar dipakai untuk pekerjaan setan dan untuk kebiasaan manusia. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan tidak diterangkannya membuat pembacanya sendiri yang harus menemukannya. Sesuatu yang dianggap ringan ternyata dinamai dengan akar yang sama dengan yang orang mencari perlindungan darinya.