Ayat 104:2
الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ
Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُalladzii jama'a maalan wa-'addadahuyang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- جَمَعَjama'amengumpulkan
- مَالًاmaalanharta
- وَعَدَّدَهُwa-'addadahudan menghitungnya
Inti bacaan
Identifikasi karakter yang dikutuk: 'yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya', penambahan detail tentang obsesi material yang menyertai kebiasaan buruk mengumpat, kombinasi keserakahan dan kejahatan lisan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyambung ayat sebelumnya dengan kata sambung yang menunjuk kembali kepada orang yang sama, lalu menyebut dua pekerjaan berurutan: (جَمَعَ, jama'a) dan (وَعَدَّدَهُ, wa-'addadahu). Yang pertama berarti mengumpulkan dan yang kedua berarti menghitung berulang. Yang dicela bukan pekerjaan pertamanya sendirian, sebab mengumpulkan harta tidak disebut salah di ayat mana pun tanpa keterangan lain. Yang ditambahkan di sini adalah pekerjaan yang kedua.
Kata (عَدَّدَهُ, 'addadahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti menghitung. Ia dipakai di 50 ayat, hampir seluruhnya untuk menyebut bilangan, jumlah hari, atau perhitungan waktu. Bentuk yang dipakai di sini bukan bentuk sederhana melainkan bentuk yang menyatakan pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang. Bahasa Indonesia menahannya dengan "menghitung-hitungnya", memakai perulangan kata untuk menahan perulangan yang ada di dalam bentuk Arabnya.
Kata (مَالًا, maalan) berasal dari akar yang berarti harta. Akar itu dipakai di 80 ayat. Ia tidak bertakrif di sini, sehingga yang disebut bukan harta tertentu yang sudah dikenal melainkan harta mana pun. Ketiadaan kata sandang itu menyingkirkan pembacaan bahwa yang dicela cuma orang dengan jumlah tertentu. Yang disebut cuma harta, tanpa ukuran, tanpa batas bawah, dan tanpa keterangan dari mana ia datang.
Kesejajaran dengan 57:20 perlu dicatat, sebab ayat itu menyebut kehidupan dunia sebagai perhiasan dan saling bermegah-megahan serta (تَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ, takaatsurun fii l-amwaali), berlomba-lomba dalam banyaknya harta. Rangkaian yang sama muncul di 102:1 sebagai pembuka surah tersendiri. Jadi apa yang di sini disebut sebagai ciri satu orang, di tempat lain disebut sebagai ciri kehidupan dunia seluruhnya, dan surah ini menyempitkannya kembali menjadi tabiat perseorangan.
Susunan kedua pekerjaan itu juga menerangkan. Mengumpulkan adalah pekerjaan yang berhenti ketika yang dikumpulkan sudah terkumpul, sedangkan menghitung berulang adalah pekerjaan yang tidak punya titik berhenti. Yang pertama menghasilkan sesuatu, yang kedua cuma menghasilkan angka yang sama berkali-kali. Menaruh keduanya berurutan menerangkan ke mana perhatian orang itu berpindah setelah pengumpulannya selesai, dan jawabannya bukan kepada penggunaannya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut dari mana harta itu datang, tidak disebut apakah ia diperoleh dengan jalan yang benar, dan tidak disebut apa yang tidak dikeluarkannya kepada orang lain. Ketiadaan keterangan itu memindahkan seluruh perhatian kepada hubungan orangnya dengan tumpukannya sendiri. Yang ditimbang bukan asal hartanya, melainkan tempat harta itu di dalam kepalanya.
Tafsiran
Ayat ini merinci ciri pengumpat tersebut: kegemaran mengumpulkan dan menghitung harta. Yang menyambungkan kedua ayat adalah kata penunjuk yang menunjuk kembali kepada orang yang sama, sehingga kebiasaan lisan di 104:1 dan kebiasaan tangan di sini melekat pada satu orang, bukan pada dua kelompok yang berbeda.
Yang dicela di sini bukan mengumpulkannya, melainkan menghitungnya berulang. Perbedaan itu penting sebab tanpanya ayat ini terbaca sebagai kutukan atas harta, dan itu bukan yang tertulis. Yang tertulis adalah dua pekerjaan berurutan, dan yang kedua tidak punya titik berhenti. Orang berhenti mengumpulkan ketika yang dikumpulkan sudah cukup; orang tidak pernah berhenti menghitung, sebab menghitung tidak menghasilkan apa pun kecuali angka yang sama sekali lagi.
Kesejajaran dengan 57:20 menerangkan lebih jauh. Di sana berlomba dalam banyaknya harta disebut sebagai salah satu ciri kehidupan dunia, disandingkan dengan permainan, kelengahan, dan perhiasan. Rangkaian yang sama dibuka lagi di 102:1. Jadi yang di sini digambarkan sebagai tabiat satu orang di tempat lain digambarkan sebagai tabiat dunia, dan pembacanya bisa menemukan dirinya di dalam salah satunya tanpa pernah merasa ia sedang membaca tentang orang lain.
Yang paling patut diperhatikan adalah bahwa mulut dan tangan disebut bersama. Mengecilkan orang lain dan menumpuk untuk diri sendiri berjalan searah, sebab keduanya bekerja dengan cara yang sama: menambah bagi diri sendiri dengan mengurangi bagi yang lain.
Renungan dan Hikmah
- Yang dicela Allah bukan mengumpulkan harta, melainkan menghitungnya berulang. Perbedaan ini menentukan, sebab tanpanya ayat ini terbaca sebagai kutukan atas kekayaan, dan itu bukan yang tertulis. Yang tertulis dua pekerjaan berurutan, dan yang kedua ditambahkan sesudah yang pertama selesai. Orang berhenti mengumpulkan ketika yang dikumpulkan sudah cukup, tetapi orang tidak pernah berhenti menghitung, sebab menghitung tidak menghasilkan apa-apa kecuali angka yang sama sekali lagi.
- Bentuk yang dipakai Allah untuk kata menghitung bukan bentuk sederhana, melainkan bentuk yang menyatakan pekerjaan berulang-ulang. Kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 50 ayat untuk bilangan, jumlah hari, dan perhitungan waktu. Jadi akar yang biasanya dipakai untuk menghitung sesuatu yang memang perlu dihitung, di sini dipakai satu kali saja untuk menghitung yang tidak perlu dihitung ulang.
- Kata harta di ayat ini tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan harta tertentu yang sudah dikenal melainkan harta mana pun. Ketiadaan keterangan itu menyingkirkan pembacaan bahwa yang dicela cuma orang dengan jumlah tertentu. Berapa banyak harta yang membuat seseorang masuk ke dalam ayat ini? Allah tidak menyebutkan angkanya sama sekali, dan yang tidak disebutkan itulah yang membuat ayat ini tidak bisa dilempar kepada orang lain yang lebih kaya.
- Kata sambung di awal ayat menunjuk kembali kepada orang yang sama. Kebiasaan lisan di ayat sebelumnya dan kebiasaan tangan di sini melekat pada satu orang, bukan pada dua kelompok yang berbeda. Allah menyandingkan keduanya tanpa menerangkan hubungannya. Mengecilkan orang lain dan menumpuk untuk diri sendiri ternyata bekerja dengan cara yang sama, yaitu menambah bagi diri sendiri dengan mengurangi bagi yang lain. Keduanya memakai orang lain sebagai bahan, bukan sebagai sesama.
- Berlomba dalam banyaknya harta disebut di 57:20 sebagai salah satu ciri kehidupan dunia, disandingkan dengan permainan, kelengahan, dan perhiasan, lalu dibuka lagi sebagai surah tersendiri di 102:1. Jadi yang di sini digambarkan Allah sebagai tabiat satu orang, di tempat lain digambarkan sebagai tabiat dunia seluruhnya. Pembacanya bisa menemukan dirinya di dalam salah satunya tanpa pernah merasa sedang membaca tentang orang lain.
- Mengumpulkan adalah pekerjaan yang berhenti ketika yang dikumpulkan sudah terkumpul. Menghitung berulang tidak punya titik berhenti sama sekali. Allah menaruh keduanya berurutan, dan susunan itu menerangkan ke mana perhatian orang itu berpindah sesudah pengumpulannya selesai. Perhatiannya tidak berpindah kepada penggunaannya, tidak kepada orang yang membutuhkannya, dan tidak kepada apa pun di luar tumpukan itu sendiri. Yang terkumpul berhenti menjadi alat dan berubah menjadi tujuan. Menghitung ulang apa yang sudah dimiliki adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai, sebab hasilnya selalu berubah dan selalu bisa dibandingkan lagi dengan milik orang lain.
Ayat 104:3
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
Dia mengira bahwa hartanya mengekalkannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُyahsabu anna maalahu akhladahudia mengira bahwa hartanya mengekalkannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- يَحْسَبُyahsabumenyangka
- أَنَّannabahwa
- مَالَهُmaalahuhartanya
- أَخْلَدَهُakhladahumengekalkannya
Inti bacaan
Ilusi keabadian melalui kekayaan: 'dia mengira bahwa hartanya mengekalkannya', pengungkapan kesalahan mendasar dalam berpikir, anggapan keliru bahwa akumulasi material bisa memberikan keabadian.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja pembuka ayat ini adalah (يَحْسَبُ, yahsabu), yang dipakai 15 kali di 12 surah, antara lain di 18:104, 24:39, 63:4, dan 75:3, dan berarti mengira atau menyangka. Akarnya berarti menghitung dan menyangka. Ia dipakai di 102 ayat, dan akar yang sama memikul dua makna yang bertetangga: menghitung dan mengira. Bahasa Arab meletakkan keduanya dalam satu akar sebab keduanya adalah pekerjaan yang sama, yaitu menyimpulkan sesuatu dari angka. Jadi orang yang di 104:2 sibuk menghitung, di sini digambarkan sedang menghitung juga, cuma kali ini hasilnya keliru.
Kata (أَخْلَدَهُ, akhladahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kekal. Ia dipakai di 86 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul dalam pembicaraan tentang akhirat. Hampir seluruh pemakaiannya menyebut kekal di dalam surga atau kekal di dalam neraka. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an dipakai untuk keadaan sesudah mati, di sini dipakai satu kali untuk sesuatu yang disangka bisa dikerjakan oleh harta sebelum mati.
Bentuk yang dipakai di 7:176 patut dibandingkan, sebab di sana tertulis (أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ, akhlada ilaa l-ardhi), ia cenderung kepada bumi. Bentuk kata kerjanya sama, dan yang berbeda cuma sasarannya. Di 7:176 orangnya yang mencondongkan diri kepada bumi; di sini hartanya yang disangka mengekalkan dirinya. Kedua ayat menggambarkan gerakan yang sama, yaitu melekatkan diri kepada yang tidak menetap, dan cuma arah kalimatnya yang dibalik.
Kata (مَالَهُ, maalahu) memuat kata ganti kepemilikan: hartanya, miliknya sendiri. Kepemilikan itu perlu dicatat sebab di 104:6 kepemilikan yang berbeda muncul, yaitu (نَارُ اللَّهِ, naaru llaahi), api Allah. Surah ini menaruh dua penyandaran itu berjarak tiga ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun. Yang disandarkan kepada dirinya sendiri ternyata tidak menolong, dan yang menanti disandarkan kepada Allah.
Susunan waktu di dalam ayat ini juga tidak biasa. Kata kerja pertamanya, (يَحْسَبُ, yahsabu), berbentuk sekarang, yaitu ia sedang mengira, sedangkan kata kerja kedua di dalam sangkaannya, (أَخْلَدَهُ, akhladahu), berbentuk lampau, yaitu telah mengekalkannya. Jadi yang disangkanya bukan bahwa hartanya akan mengekalkannya nanti, melainkan bahwa hartanya sudah mengekalkannya sekarang. Sangkaan itu dinyatakan sebagai perkara yang sudah selesai, dan justru bentuk selesai itulah yang membuatnya paling jauh dari kenyataan.
Yang tidak dikatakan di ayat ini juga perlu dicatat. Tidak dikatakan bahwa hartanya akan habis, tidak dikatakan bahwa ia akan jatuh miskin, dan tidak dikatakan bahwa hartanya diambil darinya. Yang dibantah di 104:4 bukan jumlah hartanya melainkan kesimpulan yang ditariknya. Jadi seseorang bisa berakhir dengan seluruh tumpukannya masih utuh, dan sangkaan di ayat ini tetap saja keliru.
Tafsiran
Ayat ini menyoroti anggapan keliru bahwa harta dapat mengekalkan hidupnya, dan yang disebut adalah sangkaannya, bukan ucapannya. Tidak dikatakan bahwa ia berkata demikian. Dikatakan bahwa ia mengira demikian. Perbedaan itu menentukan, sebab orang yang mengatakannya bisa dibantah dengan kalimat, sedangkan orang yang cuma mengiranya tidak pernah sampai kepada tahap harus membelanya.
Yang disangka juga perlu dicatat. Bukan kenyamanan, bukan kemudahan, bukan keselamatan dari kesulitan, melainkan kekekalan. Akar kata yang dipakai adalah akar yang di 86 ayat lain dipakai untuk keadaan sesudah mati. Jadi yang dipinjamkan kepada harta di sini adalah pekerjaan yang di seluruh Al-Qur'an cuma menjadi urusan akhirat.
Hubungan dengan 104:2 berjalan lewat akar yang sama. Akar kata mengira dan akar kata menghitung bertetangga dalam bahasa Arab, sebab keduanya adalah pekerjaan menyimpulkan sesuatu dari angka. Orang yang sibuk menghitung tumpukannya sedang menyimpulkan sesuatu darinya, dan yang disimpulkannya di sini adalah bahwa tumpukan itu menahan hidupnya. Tiga ayat pertama surah ini karena itu tersusun menurun: mulutnya bekerja, tangannya menumpuk, lalu pikirannya menarik kesimpulan.
Bandingkan dengan 7:176, tempat bentuk kata kerja yang sama dipakai untuk orang yang mencondongkan diri kepada bumi. Kedua ayat menggambarkan gerakan yang sama, yaitu melekatkan diri kepada yang tidak menetap. Yang berbeda cuma arah kalimatnya, dan di sini arahnya dibalik sehingga hartanya yang seakan mengerjakan sesuatu kepada dirinya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut sangkaannya, bukan ucapannya. Tidak dikatakan bahwa ia berkata demikian; dikatakan bahwa ia mengira demikian. Perbedaan itu menentukan, sebab orang yang mengucapkannya bisa dibantah dengan kalimat, sedangkan orang yang cuma mengiranya tidak pernah sampai kepada tahap harus membelanya. Sangkaan yang tidak pernah diucapkan juga tidak pernah diuji, dan karena itu bisa bertahan seumur hidup tanpa sekali pun berhadapan dengan bantahan.
- Yang disangka bukan kenyamanan, bukan kemudahan, dan bukan keselamatan dari kesulitan, melainkan kekekalan. Akar kata yang dipakai Allah di sini dipakai di 86 ayat lain, dan hampir seluruhnya untuk menyebut kekal di dalam surga atau kekal di dalam neraka. Jadi yang dipinjamkan kepada harta di ayat ini adalah pekerjaan yang di seluruh Al-Qur'an cuma menjadi urusan akhirat, dan pinjaman itu terjadi satu kali saja. Yang dipinjami tidak pernah sanggup mengembalikannya.
- Akar kata mengira dan akar kata menghitung bertetangga dalam bahasa Arab, sebab keduanya adalah pekerjaan menyimpulkan sesuatu dari angka. Orang yang di ayat sebelumnya sibuk menghitung tumpukannya, di sini sedang menyimpulkan sesuatu darinya. Allah menyusun tiga ayat pertama surah ini menurun: mulutnya bekerja, tangannya menumpuk, lalu pikirannya menarik kesimpulan. Yang paling keliru justru langkah terakhir, dan langkah itu tidak akan ada tanpa dua langkah sebelumnya.
- Kata harta di ayat ini memuat kata ganti kepemilikan: hartanya, miliknya sendiri. Tiga ayat kemudian muncul penyandaran yang berbeda, yaitu api Allah. Surah ini menaruh dua kepemilikan itu berjarak tiga ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun. Yang disandarkan kepada dirinya sendiri ternyata tidak menolong, dan yang menanti disandarkan kepada Allah. Milik siapa yang akhirnya menentukan?
- Kata kerja pertamanya berbentuk sekarang, yaitu ia sedang mengira, sedangkan kata kerja di dalam sangkaannya berbentuk lampau, yaitu telah mengekalkannya. Jadi yang disangkanya bukan bahwa hartanya akan mengekalkannya nanti, melainkan bahwa hartanya sudah mengekalkannya sekarang. Allah menyatakan sangkaan itu sebagai perkara yang sudah selesai, dan bentuk selesai itulah yang membuatnya paling jauh dari kenyataan. Sesuatu yang dianggap sudah beres tidak pernah diperiksa lagi.
- Bentuk kata kerja yang sama dipakai di 7:176 untuk orang yang mencondongkan diri kepada bumi. Kedua ayat menggambarkan gerakan yang sama, yaitu melekatkan diri kepada yang tidak menetap, dan yang berbeda cuma arah kalimatnya. Di 7:176 orangnya yang condong; di sini hartanya yang seakan mengerjakan sesuatu kepada dirinya. Allah membalik arahnya justru untuk menunjukkan bahwa yang dianggap mengerjakan sesuatu itu sebenarnya tidak mengerjakan apa-apa. Yang dilekati diam saja, dan yang melekat menyangka dirinya dipegang.