يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Dia mengira bahwa hartanya mengekalkannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُyahsabu anna maalahu akhladahudia mengira bahwa hartanya mengekalkannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. يَحْسَبُyahsabumenyangka
  2. أَنَّannabahwa
  3. مَالَهُmaalahuhartanya
  4. أَخْلَدَهُakhladahumengekalkannya

Inti bacaan

Ilusi keabadian melalui kekayaan: 'dia mengira bahwa hartanya mengekalkannya', pengungkapan kesalahan mendasar dalam berpikir, anggapan keliru bahwa akumulasi material bisa memberikan keabadian.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja pembuka ayat ini adalah (يَحْسَبُ, yahsabu), yang dipakai 15 kali di 12 surah, antara lain di 18:104, 24:39, 63:4, dan 75:3, dan berarti mengira atau menyangka. Akarnya berarti menghitung dan menyangka. Ia dipakai di 102 ayat, dan akar yang sama memikul dua makna yang bertetangga: menghitung dan mengira. Bahasa Arab meletakkan keduanya dalam satu akar sebab keduanya adalah pekerjaan yang sama, yaitu menyimpulkan sesuatu dari angka. Jadi orang yang di 104:2 sibuk menghitung, di sini digambarkan sedang menghitung juga, cuma kali ini hasilnya keliru.

Kata (أَخْلَدَهُ, akhladahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kekal. Ia dipakai di 86 ayat, dan itu menjadikannya salah satu akar yang paling sering muncul dalam pembicaraan tentang akhirat. Hampir seluruh pemakaiannya menyebut kekal di dalam surga atau kekal di dalam neraka. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an dipakai untuk keadaan sesudah mati, di sini dipakai satu kali untuk sesuatu yang disangka bisa dikerjakan oleh harta sebelum mati.

Bentuk yang dipakai di 7:176 patut dibandingkan, sebab di sana tertulis (أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ, akhlada ilaa l-ardhi), ia cenderung kepada bumi. Bentuk kata kerjanya sama, dan yang berbeda cuma sasarannya. Di 7:176 orangnya yang mencondongkan diri kepada bumi; di sini hartanya yang disangka mengekalkan dirinya. Kedua ayat menggambarkan gerakan yang sama, yaitu melekatkan diri kepada yang tidak menetap, dan cuma arah kalimatnya yang dibalik.

Kata (مَالَهُ, maalahu) memuat kata ganti kepemilikan: hartanya, miliknya sendiri. Kepemilikan itu perlu dicatat sebab di 104:6 kepemilikan yang berbeda muncul, yaitu (نَارُ اللَّهِ, naaru llaahi), api Allah. Surah ini menaruh dua penyandaran itu berjarak tiga ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun. Yang disandarkan kepada dirinya sendiri ternyata tidak menolong, dan yang menanti disandarkan kepada Allah.

Susunan waktu di dalam ayat ini juga tidak biasa. Kata kerja pertamanya, (يَحْسَبُ, yahsabu), berbentuk sekarang, yaitu ia sedang mengira, sedangkan kata kerja kedua di dalam sangkaannya, (أَخْلَدَهُ, akhladahu), berbentuk lampau, yaitu telah mengekalkannya. Jadi yang disangkanya bukan bahwa hartanya akan mengekalkannya nanti, melainkan bahwa hartanya sudah mengekalkannya sekarang. Sangkaan itu dinyatakan sebagai perkara yang sudah selesai, dan justru bentuk selesai itulah yang membuatnya paling jauh dari kenyataan.

Yang tidak dikatakan di ayat ini juga perlu dicatat. Tidak dikatakan bahwa hartanya akan habis, tidak dikatakan bahwa ia akan jatuh miskin, dan tidak dikatakan bahwa hartanya diambil darinya. Yang dibantah di 104:4 bukan jumlah hartanya melainkan kesimpulan yang ditariknya. Jadi seseorang bisa berakhir dengan seluruh tumpukannya masih utuh, dan sangkaan di ayat ini tetap saja keliru.

Tafsiran

Ayat ini menyoroti anggapan keliru bahwa harta dapat mengekalkan hidupnya, dan yang disebut adalah sangkaannya, bukan ucapannya. Tidak dikatakan bahwa ia berkata demikian. Dikatakan bahwa ia mengira demikian. Perbedaan itu menentukan, sebab orang yang mengatakannya bisa dibantah dengan kalimat, sedangkan orang yang cuma mengiranya tidak pernah sampai kepada tahap harus membelanya.

Yang disangka juga perlu dicatat. Bukan kenyamanan, bukan kemudahan, bukan keselamatan dari kesulitan, melainkan kekekalan. Akar kata yang dipakai adalah akar yang di 86 ayat lain dipakai untuk keadaan sesudah mati. Jadi yang dipinjamkan kepada harta di sini adalah pekerjaan yang di seluruh Al-Qur'an cuma menjadi urusan akhirat.

Hubungan dengan 104:2 berjalan lewat akar yang sama. Akar kata mengira dan akar kata menghitung bertetangga dalam bahasa Arab, sebab keduanya adalah pekerjaan menyimpulkan sesuatu dari angka. Orang yang sibuk menghitung tumpukannya sedang menyimpulkan sesuatu darinya, dan yang disimpulkannya di sini adalah bahwa tumpukan itu menahan hidupnya. Tiga ayat pertama surah ini karena itu tersusun menurun: mulutnya bekerja, tangannya menumpuk, lalu pikirannya menarik kesimpulan.

Bandingkan dengan 7:176, tempat bentuk kata kerja yang sama dipakai untuk orang yang mencondongkan diri kepada bumi. Kedua ayat menggambarkan gerakan yang sama, yaitu melekatkan diri kepada yang tidak menetap. Yang berbeda cuma arah kalimatnya, dan di sini arahnya dibalik sehingga hartanya yang seakan mengerjakan sesuatu kepada dirinya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut sangkaannya, bukan ucapannya. Tidak dikatakan bahwa ia berkata demikian; dikatakan bahwa ia mengira demikian. Perbedaan itu menentukan, sebab orang yang mengucapkannya bisa dibantah dengan kalimat, sedangkan orang yang cuma mengiranya tidak pernah sampai kepada tahap harus membelanya. Sangkaan yang tidak pernah diucapkan juga tidak pernah diuji, dan karena itu bisa bertahan seumur hidup tanpa sekali pun berhadapan dengan bantahan.
  • Yang disangka bukan kenyamanan, bukan kemudahan, dan bukan keselamatan dari kesulitan, melainkan kekekalan. Akar kata yang dipakai Allah di sini dipakai di 86 ayat lain, dan hampir seluruhnya untuk menyebut kekal di dalam surga atau kekal di dalam neraka. Jadi yang dipinjamkan kepada harta di ayat ini adalah pekerjaan yang di seluruh Al-Qur'an cuma menjadi urusan akhirat, dan pinjaman itu terjadi satu kali saja. Yang dipinjami tidak pernah sanggup mengembalikannya.
  • Akar kata mengira dan akar kata menghitung bertetangga dalam bahasa Arab, sebab keduanya adalah pekerjaan menyimpulkan sesuatu dari angka. Orang yang di ayat sebelumnya sibuk menghitung tumpukannya, di sini sedang menyimpulkan sesuatu darinya. Allah menyusun tiga ayat pertama surah ini menurun: mulutnya bekerja, tangannya menumpuk, lalu pikirannya menarik kesimpulan. Yang paling keliru justru langkah terakhir, dan langkah itu tidak akan ada tanpa dua langkah sebelumnya.
  • Kata harta di ayat ini memuat kata ganti kepemilikan: hartanya, miliknya sendiri. Tiga ayat kemudian muncul penyandaran yang berbeda, yaitu api Allah. Surah ini menaruh dua kepemilikan itu berjarak tiga ayat tanpa menghubungkannya dengan satu kalimat pun. Yang disandarkan kepada dirinya sendiri ternyata tidak menolong, dan yang menanti disandarkan kepada Allah. Milik siapa yang akhirnya menentukan?
  • Kata kerja pertamanya berbentuk sekarang, yaitu ia sedang mengira, sedangkan kata kerja di dalam sangkaannya berbentuk lampau, yaitu telah mengekalkannya. Jadi yang disangkanya bukan bahwa hartanya akan mengekalkannya nanti, melainkan bahwa hartanya sudah mengekalkannya sekarang. Allah menyatakan sangkaan itu sebagai perkara yang sudah selesai, dan bentuk selesai itulah yang membuatnya paling jauh dari kenyataan. Sesuatu yang dianggap sudah beres tidak pernah diperiksa lagi.
  • Bentuk kata kerja yang sama dipakai di 7:176 untuk orang yang mencondongkan diri kepada bumi. Kedua ayat menggambarkan gerakan yang sama, yaitu melekatkan diri kepada yang tidak menetap, dan yang berbeda cuma arah kalimatnya. Di 7:176 orangnya yang condong; di sini hartanya yang seakan mengerjakan sesuatu kepada dirinya. Allah membalik arahnya justru untuk menunjukkan bahwa yang dianggap mengerjakan sesuatu itu sebenarnya tidak mengerjakan apa-apa. Yang dilekati diam saja, dan yang melekat menyangka dirinya dipegang.