كَلَّا ۖ لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ
Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam Penghancur itu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا ۖ لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِkallaa la-yunbadzanna fii l-huthamatisekali-kali tidak, pasti dia akan dilemparkan ke dalam Penghancur itu
Terjemahan per kata (4 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَيُنْبَذَنَّla-yunbadzannasungguh ia akan dilemparkan
- فِيfiidalam
- الْحُطَمَةِl-huthamatiHutamah
Inti bacaan
Konsekuensi tegas bagi ilusi tersebut: 'sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam al-Hutamah', pembantahan langsung terhadap harapan keabadian melalui harta, digantikan dengan kepastian konsekuensi yang menghancurkan.
Penjelasan pilihan kata
Al-Hutamah diterjemahkan menjadi "Penghancur itu", bukan ditransliterasi polos. Kata (الْحُطَمَةِ, al-huthamati) secara morfologis transparan sebagai nomina intensif dari akar yang berarti meremukkan. Akar itu berarti menghancurkan atau meremukkan, sekategori dengan al-Qaari'ah dan Haawiyah, dan konsisten dengan Rangkaian 380. Menerjemahkannya menjaga agar pembaca Indonesia menerima keterangan yang sama dengan pembaca Arabnya, sebab nama itu di dalam bahasa aslinya memang menerangkan dirinya sendiri.
Akar yang berarti meremukkan itu dipakai di 6 ayat: 27:18, 39:21, 56:65, 57:20, lalu ayat ini dan 104:5. Yang paling menerangkan adalah 57:20, sebab di sana tertulis (حُطَامًا, huthaaman) untuk menggambarkan tanaman yang mengagumkan para petani lalu mengering, menguning, dan akhirnya hancur. Ayat 57:20 itu jugalah yang memuat (تَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ, takaatsurun fii l-amwaali), berlomba-lomba dalam banyaknya harta. Jadi satu akar dipakai di sana untuk menyebut apa yang terjadi pada harta dunia, dan di sini untuk menamai tempat yang menanti orang yang menumpuknya.
Kata kerja (لَيُنْبَذَنَّ, la-yunbadzanna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melemparkan. Ia dipakai di 12 ayat, dan pemakaiannya hampir selalu untuk melemparkan sesuatu yang tidak lagi dianggap berharga. Di 3:187 tertulis (فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ, fa-nabadzuuhu waraa-a zhuhuurihim), mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka, tentang perjanjian yang dibuang. Jadi kata kerja yang dipakai untuk membuang perjanjian di tempat lain, di sini dipakai untuk membuang orangnya.
Bentuk kata kerja (لَيُنْبَذَنَّ, la-yunbadzanna) juga pasif dan bertekanan ganda. Ia tidak melemparkan dirinya, dan tidak dikatakan siapa yang melemparkannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "pasti dia akan dilemparkan", memakai kata pasti untuk menahan tekanan yang di dalam Arabnya dibawa oleh huruf tambahan di awal dan akhir kata kerja. Orang yang di 104:2 mengumpulkan dengan kedua tangannya di sini diperlakukan sebagai sesuatu yang dilempar, bukan sebagai seseorang yang berjalan masuk.
Kata pembukanya (كَلَّا, kallaa) dipakai 33 kali di 15 surah, dan ia adalah bantahan yang berdiri sendiri sebelum kalimat berikutnya dimulai. Yang dibantah bukan perbuatan di 104:1 sampai 104:2, melainkan sangkaan di 104:3. Susunan itu menerangkan urutan perhatiannya: yang lebih dulu dibantah adalah salah hitungnya, baru sesudah itu akibatnya disebut.
Yang tidak disebut di ayat ini adalah siapa yang melemparkannya, dan penyembunyian pelakunya bukan kekurangan keterangan melainkan pilihan. Di 104:6 barulah pemilik tempat itu disebut, dan penyebutan itu menjawab pertanyaan yang ditinggalkan ayat ini tanpa pernah menyatakan bahwa ia sedang menjawabnya. Jarak dua ayat di antara keduanya membuat jawabannya datang sesudah pembacanya sempat bertanya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini mengancam pengumpat tersebut dengan hukuman dilemparkan ke dalam api penghancur, dan yang dibantah lebih dulu adalah sangkaannya. Kata bantahan di awal ayat berdiri sendiri sebelum kalimat berikutnya dimulai, sehingga yang ditolak bukan perbuatan mengumpulkan di 104:2 melainkan kesimpulan yang ditarik darinya di 104:3.
Nama tempatnya diambil dari pekerjaan yang dikerjakannya. Ia tidak dinamai menurut panasnya, tidak menurut luasnya, dan tidak menurut siapa penghuninya, melainkan menurut apa yang terjadi pada apa saja yang masuk ke dalamnya. Sebuah nama yang menerangkan pekerjaannya sendiri tidak memerlukan keterangan tambahan.
Kesejajaran dengan 57:20 adalah yang paling patut diperhatikan. Akar yang menamai tempat ini adalah akar yang di sana dipakai untuk menggambarkan tanaman yang mengagumkan, lalu mengering, lalu hancur menjadi remah. Ayat yang sama menyebut berlomba dalam banyaknya harta. Jadi apa yang menanti orangnya dinamai dengan akar yang sudah lebih dulu dipakai untuk menyebut nasib yang ditumpuknya. Yang dikumpulkannya berakhir sebagai remah, dan tempat yang menantinya bernama peremuk.
Cara ia sampai ke sana juga menerangkan. Kata kerjanya berbentuk pasif, dan akarnya di 12 ayat lain hampir selalu dipakai untuk melemparkan sesuatu yang sudah tidak dianggap berharga, termasuk di 3:187 untuk perjanjian yang dibuang ke belakang punggung. Orang yang menghitung tumpukannya berkali-kali di sini diperlakukan seperti barang yang tidak dihitung sama sekali.
Renungan dan Hikmah
- Allah membuka ayat ini dengan bantahan yang berdiri sendiri sebelum kalimat berikutnya dimulai. Yang ditolak bukan perbuatan mengumpulkan di ayat kedua, melainkan kesimpulan yang ditarik darinya di ayat ketiga. Susunan itu menerangkan urutan perhatiannya: yang lebih dulu dibantah adalah salah hitungnya, baru sesudah itu akibatnya disebut. Kata bantahan itu dipakai 33 kali di 15 surah, antara lain di 74:16, 75:11, 96:6, dan 102:3, dan tiap kali ia memutus sesuatu sebelum kalimat baru dimulai.
- Nama tempat itu diambil dari pekerjaan yang dikerjakannya. Ia tidak dinamai menurut panasnya, tidak menurut luasnya, dan tidak menurut siapa penghuninya, melainkan menurut apa yang terjadi pada apa saja yang masuk ke dalamnya. Nama yang menerangkan pekerjaannya sendiri tidak memerlukan keterangan tambahan, dan karena itu Allah menyebutnya lebih dulu sebelum menerangkannya di tiga ayat berikutnya. Yang dinamai menurut pekerjaannya tidak bisa dibayangkan sedang menganggur.
- Akar yang menamai tempat ini dipakai di 6 ayat, dan salah satunya 57:20, tempat tanaman yang mengagumkan para petani digambarkan mengering, menguning, lalu hancur menjadi remah. Ayat yang sama menyebut berlomba-lomba dalam banyaknya harta. Jadi Allah menamai tempat yang menantinya dengan akar yang sudah lebih dulu dipakai untuk menyebut nasib yang ditumpuknya. Yang dikumpulkan berakhir sebagai remah, dan yang menanti pengumpulnya bernama peremuk.
- Kata kerja yang dipakai Allah muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 12 ayat hampir selalu untuk melemparkan sesuatu yang sudah tidak dianggap berharga. Di 3:187 akar itu dipakai untuk perjanjian yang dilemparkan ke belakang punggung. Orang yang menghitung tumpukannya berkali-kali di sini diperlakukan seperti barang yang tidak dihitung sama sekali, dan perlakuan itu adalah kebalikan persis dari kesibukannya sendiri.
- Bentuk kata kerjanya pasif: ia tidak melemparkan dirinya, dan tidak dikatakan siapa yang melemparkannya. Yang dipakai untuk mengumpulkan adalah kedua tangannya sendiri, sedangkan yang dipakai untuk memindahkannya ke sana bukan tangannya lagi. Siapa yang masih memegang kendali ketika seseorang sampai di ujung perhitungannya? Ayat ini menjawabnya dengan bentuk kata kerja, bukan dengan kalimat penjelas. Bentuk pasif memindahkan pelakunya keluar dari kalimat, dan yang keluar dari kalimat justru yang paling menentukan.
- Tekanan pada kata kerjanya dibawa oleh huruf tambahan di awal dan di akhir sekaligus, dan bahasa Indonesia menahannya dengan kata pasti. Allah tidak menyatakannya sebagai kemungkinan atau sebagai peringatan yang masih terbuka, melainkan sebagai perkara yang sudah ditetapkan. Susunan berlapis semacam itu dipakai justru ketika yang dibantah adalah keyakinan yang sudah mengeras, sebab keyakinan yang mengeras tidak goyah oleh pernyataan yang setengah.