وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ

Dan tahukah engkau apakah Penghancur itu?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُwa-maa adraaka maa l-huthamatudan tahukah engkau apakah Penghancur itu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
  3. مَاmaaapakah
  4. الْحُطَمَةُl-huthamatuHutamah

Inti bacaan

Pertanyaan yang mengagungkan konsekuensi: 'dan tahukah engkau apakah al-Hutamah itu?', teknik retoris yang membangun kesadaran akan bobot tempat tersebut sebelum penjelasan diberikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memakai formula baku (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka) yang diikuti pengulangan nama yang baru disebut, konsisten dengan koreksi 104:4. Rangkaian itu dipakai 12 kali di 10 surah, antara lain di 69:3, 82:17, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan ayat ini. Di semua kemunculannya ia mendahului sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan membandingkannya kepada yang sudah dikenal pembacanya.

Kata (الْحُطَمَةُ, al-huthamatu) di sini muncul 1 kali dalam bentuk ini, sedangkan bentuk (الْحُطَمَةِ, al-huthamati) di 104:4 juga muncul 1 kali. Keduanya kata yang sama dengan kedudukan i'rab yang berbeda: yang di 104:4 berada sesudah kata depan sehingga berbaris kasrah, yang di sini menjadi subjek pertanyaan sehingga berbaris dammah. Sebagai kata, ia disebut 2 kali, dan kedua penyebutannya ada di dalam surah ini sendiri, berurutan di dua ayat yang bersebelahan.

Pengulangan nama itu sendiri patut dicatat. Ayat sebelumnya sudah menyebutkannya, dan ayat ini menyebutkannya lagi di dalam sebuah pertanyaan. Yang biasa dikerjakan bahasa adalah mengganti sesuatu yang sudah disebut dengan kata ganti; di sini justru namanya diulang utuh. Pengulangan utuh menahan perhatian pada kata itu sendiri, dan menunda jawabannya satu ayat lagi.

Yang bertanya adalah Allah dan yang ditanya adalah pendengarnya, dan pertanyaan itu tidak menunggu jawaban dari yang ditanya. Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan tahukah engkau. Perbedaannya halus tetapi menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Padanan "dan tahukah engkau apakah" menahan sisi menantikan jawabannya, sementara sisi ketiadaan jalan itu terbawa oleh susunan seluruh rangkaiannya.

Bandingkan dengan 101:10 dan 97:2, yang memakai rangkaian yang sama untuk hari kiamat dan untuk malam kemuliaan. Di 97:2 yang ditanyakan sesuatu yang lebih baik dari seribu bulan; di 101:10 yang ditanyakan tempat kembali. Jadi rangkaian ini dipakai untuk yang paling tinggi maupun untuk yang paling dalam, dan yang menyatukan keduanya bukan arah nilainya melainkan bahwa keduanya berada di luar jangkauan pengalaman pembacanya.

Ayat ini tidak menambahkan satu pun keterangan baru tentang tempat yang ditanyakannya. Seluruh isinya pertanyaan, dan pertanyaan itu memakai nama yang sudah disebut sebelumnya. Sebuah ayat yang tidak menambah keterangan tetap menambah bobot, sebab yang dipindahkannya bukan pengetahuan melainkan kedudukan pembacanya terhadap apa yang dibacanya. Yang diberi tahu duduk sebagai penerima; yang ditanya harus berhenti lebih dulu dan mengakui bahwa ia tidak punya jawabannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan dahsyatnya Penghancur itu yang tak terbayangkan, dan caranya bukan dengan menambahkan keterangan melainkan dengan bertanya. Yang bertanya adalah Allah, dan pertanyaan itu tidak menunggu jawaban. Bentuknya berarti apa yang membuatmu tahu, dan bentuk itu menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, bukan sekadar menanyakan sudah tahu atau belum.

Rangkaian ini dipakai 12 kali di 10 surah, dan di semua kemunculannya ia mendahului sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan membandingkannya kepada yang sudah dikenal. Di 97:2 yang ditanyakan malam yang lebih baik dari seribu bulan, di 101:10 yang ditanyakan tempat kembali. Jadi rangkaian yang sama dipakai untuk yang paling tinggi maupun untuk yang paling dalam, dan yang menyatukan keduanya adalah bahwa keduanya berada di luar jangkauan pengalaman pembacanya.

Pengulangan namanya juga patut diperhatikan. Ayat sebelumnya baru saja menyebutnya, dan ayat ini menyebutnya lagi utuh, bukan dengan kata ganti. Bahasa biasanya mengganti yang sudah disebut dengan kata ganti untuk menghemat; di sini penghematan itu sengaja tidak dipakai. Nama yang diulang utuh menahan perhatian pada kata itu sendiri, dan jawabannya ditunda satu ayat lagi.

Penundaan itu bekerja pada pembacanya. Antara pertanyaan di ayat ini dan jawabannya di 104:6 ada satu jarak yang harus dilalui, dan di jarak itu pembacanya sendiri yang mengisi. Apa pun yang dibayangkannya di sana akan berhadapan dengan jawaban yang sesungguhnya sesudahnya, dan jawaban itu ternyata bukan tentang panas melainkan tentang siapa pemilik apinya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang bertanya Allah, dan pertanyaan itu tidak menunggu jawaban dari yang ditanya. Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan tahukah engkau. Perbedaannya halus tetapi menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Yang ditanya karena itu tidak sedang diuji, melainkan sedang diberi tahu bahwa ia memang belum punya bahan untuk menjawabnya.
  • Rangkaian pertanyaan ini dipakai 12 kali di 10 surah, antara lain di 69:3, 82:17, 90:12, dan 101:3, dan di semua kemunculannya ia mendahului sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan membandingkannya kepada yang sudah dikenal. Di 97:2 yang ditanyakan malam yang lebih baik dari seribu bulan; di 101:10 yang ditanyakan tempat kembali. Jadi Allah memakai rangkaian yang sama untuk yang paling tinggi maupun untuk yang paling dalam, dan yang menyatukan keduanya bukan arah nilainya melainkan letaknya di luar pengalaman pembacanya.
  • Ayat sebelumnya baru saja menyebut nama itu, dan ayat ini menyebutnya lagi utuh, bukan dengan kata ganti. Bahasa biasanya mengganti yang sudah disebut dengan kata ganti untuk menghemat, dan di sini penghematan itu sengaja tidak dipakai Allah. Nama yang diulang utuh menahan perhatian pada kata itu sendiri. Apa yang terjadi pada sebuah kata ketika ia disebut dua kali berturut-turut tanpa diringkas? Ia berhenti menjadi sekadar sebutan dan mulai terbaca sebagai perkara tersendiri.
  • Bentuk yang dipakai di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuk yang dipakai di ayat sebelumnya juga 1 kali. Keduanya kata yang sama dengan kedudukan i'rab yang berbeda, sebab yang satu berada sesudah kata depan dan yang lain menjadi subjek pertanyaan. Sebagai kata ia disebut 2 kali, dan kedua penyebutannya ada di dalam surah ini sendiri, berurutan di dua ayat yang bersebelahan. Bentuk dan kata memberi dua angka yang berbeda, dan dua-duanya benar.
  • Antara pertanyaan di ayat ini dan jawabannya di ayat berikutnya ada satu jarak yang harus dilalui, dan di jarak itu pembacanya sendiri yang mengisi. Allah menunda jawabannya satu ayat, dan penundaan itu bekerja. Apa pun yang dibayangkan pembacanya di sana akan berhadapan dengan jawaban yang sesungguhnya sesudahnya, dan jawaban itu ternyata bukan tentang panasnya melainkan tentang siapa pemilik apinya.
  • Ayat ini menegaskan bobot tempat itu tanpa menambahkan satu pun keterangan baru tentangnya. Yang dikerjakan Allah cuma bertanya. Sebuah pertanyaan yang tidak menambah keterangan ternyata bisa menambah bobot, sebab ia memindahkan pekerjaan menimbang dari penulisnya kepada pembacanya. Yang diberi tahu menerima keterangan; yang ditanya harus berhenti dan mengakui bahwa ia tidak punya jawabannya. Pengakuan itulah yang menyiapkan pembacanya untuk jawaban di ayat berikutnya.