الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ

Yang naik sampai ke hati.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِallatii taththali'u 'alaa l-af'idatiyang naik sampai ke hati

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. الَّتِيallatiiyang
  2. تَطَّلِعُtaththali'umelihat
  3. عَلَى'alaaatas
  4. الْأَفْئِدَةِl-af'idatihati

Inti bacaan

Detail kedalaman siksaan yang menembus: 'yang naik membakar sampai ke hati', deskripsi yang menegaskan bahwa konsekuensi ini menjangkau pusat kesadaran, bukan sekadar penderitaan permukaan.

Penjelasan pilihan kata

Kata "membakar" tidak dipakai dalam terjemahan ini. Kata kerja (تَطَّلِعُ, taththali'u) berasal dari akar yang berarti terbit dan naik. Akar itu berarti naik atau mencapai, dan tidak memuat makna membakar secara eksplisit. Yang tertulis murni gerakan naik tanpa verba tambahan, dan menambahkan kata membakar akan menyisipkan keterangan yang tidak ada di Arabnya. Akar yang berarti terbit dan naik itu dipakai di 18 ayat, antara lain untuk terbitnya matahari.

Bentuk (تَطَّلِعُ, taththali'u) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: di sini dan di 5:13. Yang di 5:13 dipakai dalam kalimat bahwa engkau senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, dan di sana artinya menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi. Jadi bentuk kata kerja yang sama dipakai untuk menemukan yang tersembunyi pada manusia dan untuk gerakan api ini. Kesejajaran itu tidak diterangkan di ayat mana pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya bergerak menuju sesuatu yang tidak terlihat dari luar.

Kata (الْأَفْئِدَةِ, al-af'idati) muncul 1 kali dalam bentuk ini. Akarnya berarti hati yang membara. Ia dipakai di 15 ayat, dan bentuk jamaknya muncul di 10 ayat sedangkan bentuk tunggalnya di 5 ayat. Yang dimaksud bukan jantung sebagai daging, melainkan pusat kesadaran tempat orang menimbang dan memutuskan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "hati", sebab kata itu sudah lama memikul kedudukan yang sama.

Yang paling menerangkan adalah tempat kata ini biasa muncul. Di 16:78, 23:78, 32:9, dan 67:23 tertulis rangkaian (السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ, as-sam'a wa-l-abshaara wa-l-af'idata), pendengaran dan penglihatan dan hati, dan di semua tempat itu ketiganya disebut sebagai pemberian Allah yang karenanya orang diperintahkan bersyukur. Di 17:36 rangkaian yang hampir sama, dengan (وَالْفُؤَادَ, wa-l-fu'aada) dalam bentuk tunggal, disebut sebagai yang akan diminta pertanggungjawabannya.

Jadi bagian yang dituju api di ayat ini adalah bagian yang di seluruh Al-Qur'an disebut sebagai pemberian dan sebagai yang akan ditanyai. Bukan kulit, bukan anggota badan yang mengerjakan, melainkan tempat keputusan diambil. Surah ini membuka dengan pekerjaan lisan di 104:1 dan menutup arahnya di sini, pada tempat asal pekerjaan lisan itu, sebab yang keluar dari mulut lebih dahulu ditimbang di sana.

Bentuk jamak pada (الْأَفْئِدَةِ, al-af'idati) juga patut dicatat. Bentuk tunggalnya dipakai di 5 ayat dan bentuk jamaknya di 10 ayat, dan yang dipakai di sini bentuk jamak. Padahal seluruh ayat sebelumnya di surah ini memakai bentuk tunggal untuk orangnya. Jadi jamak muncul lebih dulu di sini, satu ayat sebelum kata ganti jamak di 104:8, seakan gambarannya melebar bertahap dan bukan sekaligus.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa api tersebut menembus hingga ke bagian terdalam manusia, dan yang disebut adalah arahnya, bukan panasnya. Kata kerjanya berarti naik atau mencapai, tanpa memuat makna membakar. Yang tertulis gerakan menuju, dan tujuannya disebut dengan terang.

Yang dituju adalah bagian yang di seluruh Al-Qur'an punya kedudukan tertentu. Di 16:78 dan 32:9 ia disebut bersama pendengaran dan penglihatan sebagai pemberian yang karenanya orang diperintahkan bersyukur. Di 17:36 ia disebut sebagai salah satu yang akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi bagian yang dituju api ini adalah bagian yang dinamai pemberian di satu tempat dan dinamai tanggungan di tempat lain. Yang paling dekat dengan diri seseorang ternyata juga yang paling dahulu ditanyai.

Kesejajaran dengan 5:13 patut dicatat tersendiri. Bentuk kata kerja yang sama dipakai di sana untuk menemukan pengkhianatan yang selama ini tersembunyi. Keduanya bergerak menuju sesuatu yang tidak terlihat dari luar, dan itulah yang menyatukan kedua pemakaiannya. Yang bisa disembunyikan seseorang dari sesamanya tidak bisa disembunyikan dari yang bergerak ke sana.

Susunan surah ini juga terang di sini. Ia dibuka dengan pekerjaan mulut di 104:1, lalu pekerjaan tangan di 104:2, lalu kesimpulan pikiran di 104:3. Di ayat ini arah geraknya kembali ke tempat asal ketiganya. Yang keluar dari mulut dan yang dikerjakan tangan lebih dahulu ditimbang di satu tempat, dan tempat itulah yang disebut sekarang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut arah geraknya, bukan panasnya. Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti naik atau mencapai, dan akar itu dipakai di 18 ayat antara lain untuk terbitnya matahari. Tidak ada kata membakar di dalam Arabnya, dan menambahkannya akan menyisipkan keterangan yang tidak ada. Yang tertulis gerakan menuju, dan yang menentukan bobotnya bukan seberapa panas melainkan sampai ke mana ia naik. Sesuatu yang panas masih bisa dijauhi; sesuatu yang naik ke dalam tidak menyediakan jarak untuk dijauhi.
  • Bagian yang dituju di ayat ini disebut di 16:78, 23:78, 32:9, dan 67:23 bersama pendengaran dan penglihatan sebagai pemberian Allah yang karenanya orang diperintahkan bersyukur, dan di 17:36 sebagai salah satu yang akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi yang dituju adalah bagian yang dinamai pemberian di satu tempat dan dinamai tanggungan di tempat lain. Yang paling dekat dengan diri seseorang ternyata juga yang paling dahulu ditanyai.
  • Bentuk kata kerja yang dipakai muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:13 dan di 104:7, dan yang di 5:13 dipakai untuk menemukan pengkhianatan yang selama ini tersembunyi. Keduanya bergerak menuju sesuatu yang tidak terlihat dari luar, dan itulah yang menyatukan kedua pemakaiannya. Apa yang bisa disembunyikan seseorang dari sesamanya seumur hidup, dan berapa lama ia bisa disembunyikan dari yang bergerak ke sana? Allah memakai kata kerja yang sama untuk keduanya, dan pemakaian itu sendiri sudah menjawab.
  • Yang dimaksud bukan jantung sebagai daging, melainkan pusat kesadaran tempat orang menimbang dan memutuskan. Akarnya dipakai di 15 ayat, dengan bentuk jamak di 10 ayat dan bentuk tunggal di 5 ayat. Allah tidak menyebut anggota badan yang mengerjakan, dan tidak menyebut kulit yang paling dulu tersentuh, melainkan tempat keputusan diambil. Yang dijangkau adalah asal perbuatan, bukan alat yang menjalankannya. Memperbaiki alat tanpa memperbaiki asalnya cuma mengubah bentuk perbuatannya, bukan perbuatannya.
  • Surah ini dibuka dengan pekerjaan mulut, lalu pekerjaan tangan, lalu kesimpulan pikiran. Di ayat ini arah geraknya kembali ke tempat asal ketiganya. Yang keluar dari mulut dan yang dikerjakan tangan lebih dahulu ditimbang di satu tempat, dan tempat itulah yang disebut Allah sekarang. Susunan yang berakhir di tempat asalnya membuat seluruh surah menutup lingkarannya sendiri tanpa satu pun kalimat yang menerangkan bahwa ia sedang menutup.
  • Kebiasaan yang dicela di ayat pembuka adalah kebiasaan yang terlihat orang lain: umpatan terdengar dan celaan tampak. Yang dituju di ayat ini justru bagian yang tidak terlihat siapa pun. Allah memindahkan perkaranya dari yang terlihat kepada yang tersembunyi, dan pemindahan itu menutup kemungkinan seseorang memperbaiki tampilannya saja. Yang dijangkau bukan bagaimana ia terlihat, melainkan dari mana penampilan itu berasal.