إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ
Sesungguhnya ia atas mereka tertutup rapat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌinnahaa 'alayhim mu'shadatunsesungguhnya ia atas mereka tertutup rapat
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- مُؤْصَدَةٌmu'shadatuntertutup rapat
Inti bacaan
Isolasi total tanpa jalan keluar: 'sesungguhnya ia atas mereka tertutup rapat', penegasan bahwa tidak ada celah pelarian dari konsekuensi yang telah dijelaskan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُؤْصَدَةٌ, mu'shadatun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: di sini dan di 90:20. Akarnya berarti menutup rapat. Ia dipakai di 3 ayat saja, yaitu 18:18, 90:20, dan ayat ini. Bentuknya menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan, sehingga yang tertulis bukan tertutup dengan sendirinya melainkan ditutupkan oleh pihak lain. Bahasa Indonesia menahannya dengan "tertutup rapat", dan kata rapat menahan sisi ketiadaan celahnya.
Pemakaian akar yang sama di 18:18 patut dibandingkan. Di sana tertulis (بِالْوَصِيدِ, bi-l-washiidi), di ambang pintu, tentang anjing yang membentangkan kedua kakinya di mulut gua tempat para pemuda tertidur. Di kisah itu tempat yang tertutup justru menjaga yang di dalamnya, dan mereka keluar utuh sesudah bertahun-tahun. Jadi akar yang sama memikul dua kedudukan yang berlawanan: yang satu menutup untuk memelihara, yang lain menutup untuk mengurung.
Kata ganti (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) di ayat ini berbentuk jamak, padahal tujuh ayat sebelumnya seluruhnya berbentuk tunggal. Di 104:1 disebut setiap pengumpat, di 104:2 sampai 104:3 dipakai bentuk tunggal untuk mengumpulkan, menghitung, dan mengira, dan di 104:4 dipakai bentuk tunggal untuk dilemparkan. Baru di sini bentuknya berubah menjadi jamak. Perubahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Yang bisa dicatat dari perubahan itu adalah bahwa kata (لِكُلِّ, li-kulli) di ayat pembuka memang sudah memuat banyak orang sejak awal. Bentuk tunggal di tengah surah menggambarkan satu orang sebagai wakil, dan bentuk jamak di sini mengembalikan gambarannya kepada semua yang memenuhi cirinya. Jadi surah ini dibuka dengan bentuk yang mencakup, menyempit menjadi satu gambaran, lalu melebar kembali di ujungnya.
Kata (إِنَّهَا, innahaa) di awal ayat adalah huruf penegas yang diikuti kata ganti perempuan yang menunjuk kembali kepada apinya. Penegasan itu dipakai justru pada keterangan yang paling menutup, yaitu ketiadaan jalan keluar. Ayat 104:7 menggambarkan gerakan ke dalam, dan ayat ini menutupnya dari luar. Kedua arah itu diletakkan berurutan tanpa kata sambung yang menerangkan hubungannya.
Susunan ayat ini juga tidak biasa. Ia dibuka dengan huruf penegas, lalu kata ganti yang menunjuk apinya, lalu (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) sebagai keterangan bagi siapa, baru sesudah itu sifatnya. Susunan yang mendahulukan sasaran sebelum sifatnya menaruh orangnya lebih dulu di dalam kalimat, dan sifat penutupnya jatuh sesudah kedudukan mereka ditetapkan. Yang dibaca lebih dahulu atas mereka, dan baru sesudah itu tertutup rapat.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa api tersebut mengurung mereka tanpa jalan keluar, dan letaknya tepat sesudah ayat yang menggambarkan gerakan ke dalam. Ayat 104:7 menyebut api yang naik sampai ke bagian terdalam, dan ayat ini menutupnya dari luar. Dua arah itu diletakkan berurutan tanpa satu kata sambung pun yang menerangkan hubungannya.
Bentuk katanya menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan, sehingga yang tertulis bukan tertutup dengan sendirinya melainkan ditutupkan. Bentuk yang sama sudah dipakai di 104:6 untuk api yang dinyalakan. Jadi dua keterangan pokok tentang tempat itu, yaitu bahwa ia menyala dan bahwa ia tertutup, keduanya dinyatakan sebagai pekerjaan yang dikerjakan pihak lain, bukan sebagai keadaan yang terjadi sendiri.
Kesejajaran dengan 18:18 adalah yang paling patut diperhatikan. Akar yang sama dipakai di sana untuk ambang pintu gua tempat para pemuda tertidur, dan di kisah itu tempat yang tertutup justru memelihara yang di dalamnya sampai mereka keluar utuh. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: menutup untuk memelihara dan menutup untuk mengurung. Yang menentukan bukan penutupannya, melainkan siapa yang berada di dalamnya.
Perubahan bentuk kata gantinya juga menerangkan. Tujuh ayat sebelumnya seluruhnya berbentuk tunggal, dan di sini bentuknya berubah menjadi jamak. Kata setiap di ayat pembuka memang sudah memuat banyak orang sejak awal, sehingga bentuk tunggal di tengah surah cuma menggambarkan satu orang sebagai wakil. Di ujungnya gambaran itu melebar kembali kepada semua yang memenuhi cirinya.
Renungan dan Hikmah
- Bentuk kata yang dipakai Allah menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan, sehingga yang tertulis bukan tertutup dengan sendirinya melainkan ditutupkan. Bentuk yang sama sudah dipakai di ayat keenam untuk api yang dinyalakan. Jadi dua keterangan pokok tentang tempat itu, bahwa ia menyala dan bahwa ia tertutup, keduanya dinyatakan sebagai pekerjaan yang dikerjakan pihak lain, bukan sebagai keadaan yang terjadi sendiri. Keduanya berpangkal pada kehendak yang sama, dan kehendak itu sudah disebut namanya di ayat keenam.
- Akar kata ini dipakai di 3 ayat saja, dan salah satunya 18:18, tempat ia menyebut ambang pintu gua yang di dalamnya para pemuda tertidur lalu keluar utuh sesudah bertahun-tahun. Satu akar memikul dua kedudukan yang berlawanan: menutup untuk memelihara dan menutup untuk mengurung. Yang menentukan bukan penutupannya, melainkan siapa yang berada di dalamnya ketika ia ditutup. Gua yang sama bisa menjadi tempat berlindung dan bisa menjadi kurungan, dan yang membedakannya bukan pintunya.
- Ayat sebelumnya menggambarkan gerakan ke dalam, sampai ke bagian yang paling tidak terlihat. Ayat ini menutupnya dari luar. Allah meletakkan dua arah itu berurutan tanpa satu kata sambung pun yang menerangkan hubungannya. Yang dijangkau dari dalam tidak menyisakan tempat bersembunyi, dan yang ditutup dari luar tidak menyisakan tempat keluar. Kedua keterangan itu bekerja bersama tanpa pernah disandingkan dalam satu kalimat. Allah membiarkan pembacanya sendiri yang menyandingkan keduanya, dan penyandingan yang ditemukan sendiri lebih melekat daripada yang diterangkan.
- Tujuh ayat sebelumnya seluruhnya berbentuk tunggal, dan di sini bentuknya berubah menjadi jamak. Perubahan itu tidak diterangkan Allah dengan satu kalimat pun. Kata setiap di ayat pembuka memang sudah memuat banyak orang sejak awal, sehingga bentuk tunggal di tengah surah cuma menggambarkan satu orang sebagai wakil. Berapa banyak orang yang sebenarnya sedang dibicarakan sejak ayat pertama? Gambarannya menyempit menjadi satu sosok supaya bisa dilihat, lalu melebar kembali supaya tidak ada yang merasa aman.
- Huruf penegas di awal ayat diikuti kata ganti yang menunjuk kembali kepada apinya. Allah meletakkan penegasan itu justru pada keterangan yang paling menutup, yaitu ketiadaan jalan keluar. Penegasan dipakai ketika ada sesuatu yang mungkin diragukan, dan yang paling ingin diragukan orang memang bukan adanya api melainkan tidak adanya pintu. Yang paling diragukan itulah yang dikuatkan lebih dulu. Orang sanggup membayangkan siksa; yang tidak sanggup dibayangkannya adalah bahwa tidak ada pintu.
- Yang ditambahkan di ayat ini bukan besarnya api dan bukan lamanya. Yang ditambahkan cuma ketiadaan celah. Allah tidak memperbesar apinya, melainkan menutup jalan keluarnya. Perbedaan itu menentukan sebab besar dan kecil masih bisa dibayangkan bertingkat, sedangkan ada dan tidak ada jalan keluar tidak punya tingkat sama sekali. Yang tidak bertingkat tidak bisa ditawar dengan perbandingan. Allah menutup jalan penawaran itu dengan satu kata saja, tanpa menambah satu pun keterangan tentang besarnya.