فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ
Pada tiang-tiang yang terjulur panjang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍfii 'amadin mumaddadatinpada tiang-tiang yang terjulur panjang
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيfiipada
- عَمَدٍ'amadintiang
- مُمَدَّدَةٍmumaddadatinyang panjang
Inti bacaan
Detail penutup tentang pengurungan: 'pada tiang-tiang yang terjulur panjang', gambaran fisik pemasungan yang melengkapi citra isolasi total, penutup surah dengan detail konkret tentang kondisi yang tak terhindarkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (عَمَدٍ, 'amadin) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: di 13:2, di 31:10, dan di ayat ini. Dua kemunculan yang pertama berbunyi sama persis, yaitu (بِغَيْرِ عَمَدٍ, bi-ghayri 'amadin), tanpa tiang, tentang langit yang ditinggikan Allah tanpa tiang yang bisa dilihat. Jadi dari 3 kemunculannya, dua menyatakan ketiadaan tiang pada yang paling luas, dan satu menyatakan adanya tiang pada yang paling menutup.
Akar yang berarti tiang penyangga itu dipakai di 7 ayat: 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan ayat ini. Di 4:93 dan 5:95 akar itu muncul sebagai (مُتَعَمِّدًا, muta'ammidan) yang berarti dengan sengaja. Jadi satu akar memikul dua makna yang bertetangga: tiang yang menopang, dan kesengajaan yang menopang perbuatan. Keduanya adalah sesuatu yang berdiri di belakang dan menahan supaya yang di atasnya tidak runtuh.
Pemakaian di 89:7 juga patut dicatat, sebab di sana tertulis (ذَاتِ الْعِمَادِ, dzaati l-'imaadi), yang mempunyai tiang-tiang tinggi, tentang Iram. Yang dibanggakan di sana justru tiangnya, dan surah 89 menyebutkannya di tengah rangkaian tentang kaum-kaum yang dibinasakan. Jadi akar yang sama menyebut kebanggaan yang runtuh dan pengurungan yang tidak runtuh.
Kata (مُمَدَّدَةٍ, mumaddadatin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti memanjangkan. Ia dipakai di 29 ayat, dan artinya memanjangkan atau mengulurkan. Akar itu dipakai di tempat lain untuk memanjangkan bayangan, memanjangkan waktu, dan menambah harta serta anak. Di sini yang dipanjangkan adalah tiang yang mengurung. Bahasa Indonesia menahannya dengan "yang terjulur panjang", memakai dua kata untuk menahan bentuk Arabnya yang sudah memuat perpanjangan di dalam katanya sendiri.
Susunan ayat penutup ini sama seperti penutup beberapa surah pendek lain: kalimat tanpa kata kerja, dibuka dengan keterangan tempat, dan berakhir tanpa satu pun kalimat penjelas. Surah ini dibuka dengan pekerjaan lisan yang paling ringan tampaknya dan ditutup dengan gambaran yang paling padat bendanya. Antara keduanya tidak ada satu pun ajakan, tidak ada satu pun peringatan yang dialamatkan langsung kepada pembacanya, dan tidak ada satu pun tawaran jalan keluar.
Bandingkan pembuka surah ini dengan penutupnya. Ia dibuka oleh (وَيْلٌ, waylun), sebuah seruan tentang keadaan yang menanti, dan ditutup oleh (مُمَدَّدَةٍ, mumaddadatin), sebuah sifat bagi benda. Yang dibuka sebagai seruan berakhir sebagai gambaran benda yang diam. Pergeseran itu terjadi dalam sembilan ayat saja, dan pembacanya dibawa dari sesuatu yang diserukan kepada sesuatu yang tinggal dilihat.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menggambarkan tiang-tiang panjang yang mengunci mereka di dalam Penghancur itu tanpa jalan keluar, dan kata yang dipakai untuk tiang cuma muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an. Dua kemunculan yang lain ada di 13:2 dan 31:10, dan keduanya berbunyi sama persis: langit yang ditinggikan tanpa tiang yang bisa dilihat.
Perbandingan itu menerangkan banyak. Yang paling luas berdiri tanpa tiang, dan yang paling menutup justru memakainya. Ketiadaan tiang di 13:2 adalah tanda kekuasaan yang tidak memerlukan penopang; adanya tiang di sini adalah tanda pengurungan yang tidak menyediakan celah. Satu kata dipakai untuk keduanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaiannya dengan satu kalimat pun.
Akar yang sama memikul makna kesengajaan di 4:93 dan 5:95, dan di 89:7 ia menyebut Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi, di tengah rangkaian tentang kaum yang dibinasakan. Jadi akar ini menyebut penopang bangunan, penopang perbuatan, kebanggaan yang runtuh, dan pengurungan yang tidak runtuh. Yang menjadi kebanggaan di satu tempat menjadi pengurung di tempat lain.
Susunan penutupnya sama seperti penutup beberapa surah pendek lain: kalimat tanpa kata kerja, dibuka dengan keterangan tempat, dan berakhir tanpa satu kalimat penjelas. Surah ini dibuka dengan pekerjaan lisan yang tampaknya paling ringan dan ditutup dengan gambaran yang paling padat bendanya. Di antara keduanya tidak ada satu pun ajakan dan tidak ada satu pun tawaran jalan keluar, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai untuk tiang muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua kemunculan lainnya di 13:2 dan 31:10 berbunyi sama persis: langit yang ditinggikan Allah tanpa tiang yang bisa dilihat. Jadi yang paling luas berdiri tanpa tiang, dan yang paling menutup justru memakainya. Ketiadaan tiang di sana adalah tanda kekuasaan yang tidak memerlukan penopang; adanya tiang di sini adalah tanda pengurungan yang tidak menyediakan celah. Satu kata dipakai untuk keduanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaiannya dengan satu kalimat pun.
- Akar kata ini dipakai di 7 ayat, dan di 4:93 serta 5:95 ia muncul dengan arti dengan sengaja. Jadi satu akar memikul dua makna yang bertetangga: tiang yang menopang bangunan, dan kesengajaan yang menopang perbuatan. Keduanya adalah sesuatu yang berdiri di belakang dan menahan supaya yang di atasnya tidak runtuh. Apa yang sebenarnya sedang ditopang seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu dengan sengaja berkali-kali? Yang berulang dengan sengaja membangun sesuatu, dan yang dibangunnya berdiri terus sesudah perbuatannya berhenti.
- Akar yang sama dipakai di 89:7 untuk menyebut Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi, dan surah itu menyebutkannya di tengah rangkaian tentang kaum-kaum yang dibinasakan Allah. Yang dibanggakan di sana justru tiangnya. Jadi akar ini menyebut kebanggaan yang runtuh dan pengurungan yang tidak runtuh. Yang menjadi kebanggaan di satu tempat menjadi pengurung di tempat lain, dan bendanya sama. Yang berubah cuma kedudukan orangnya terhadap benda itu: dahulu ia berdiri di bawahnya, kemudian ia terkurung olehnya.
- Kata terakhir surah ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 29 ayat dengan arti memanjangkan atau mengulurkan. Akar itu dipakai di tempat lain untuk memanjangkan bayangan, memanjangkan waktu, dan menambah harta serta anak. Di sini yang dipanjangkan Allah adalah tiang yang mengurung. Akar yang biasanya menyertai penambahan dan kelapangan dipakai sekali ini untuk sesuatu yang justru mempersempit. Panjang yang sama bisa berarti kelapangan dan bisa berarti kurungan, dan yang menentukan arah pemakaiannya.
- Surah ini dibuka dengan pekerjaan lisan yang tampaknya paling ringan, yaitu mengumpat dan mencela, dan ditutup dengan gambaran yang paling padat bendanya, yaitu tiang yang terjulur panjang. Allah tidak menaruh satu pun kalimat yang menghubungkan kedua ujung itu. Jarak antara keduanya justru bagian dari caranya bekerja, sebab yang dianggap ringan di pangkal ternyata berujung pada yang paling tidak bisa digeser.
- Sembilan ayat berlalu tanpa satu pun ajakan, tanpa satu pun peringatan yang dialamatkan langsung kepada pembacanya, dan tanpa satu pun tawaran jalan keluar. Allah tidak menutupnya dengan kecuali orang yang bertobat, sebagaimana ditutupkan pada beberapa surah lain. Yang disediakan cuma gambarannya, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri di mana ia berdiri terhadap gambaran itu.