Ayat 105:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap pasukan bergajah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِa-lam tara kayfa fa'ala rabbuka bi-ashaabi l-fiilitidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap pasukan bergajah
Terjemahan per kata (7 kata)
- أَلَمْa-lamtidakkah
- تَرَtaraengkau memperhatikan
- كَيْفَkayfabagaimana
- فَعَلَfa'alamelakukan
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- بِأَصْحَابِbi-ashaabiterhadap para penghuni
- الْفِيلِl-fiiligajah
Inti bacaan
Pembukaan Al-Fil dengan ajakan mengingat peristiwa historis: 'tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap ?', rujukan pada peristiwa terkenal yang menjadi bukti perlindungan terhadap tempat suci, pengingat akan intervensi ilahi dalam sejarah nyata.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. "Al-fiil" diterjemahkan "gajah" mengikuti pembacaan yang mapan secara leksikal. Identitas pelaku tidak ditambahkan nama dari luar, misalnya nama pemimpin pasukan, yang tidak eksplisit dalam Arab, konsisten dengan disiplin anti-penyisipan sejarah yang berlaku di seluruh korpus ini.
Bentuk (الْفِيلِ, l-fiili) berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an: ia muncul sekali, dan akarnya berarti gajah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Hewan yang menamai surah ini karena itu tidak pernah disebut lagi di mana pun, dan tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk membandingkan pemakaiannya. Ketakrifannya menunjuk gajah yang sudah dikenal oleh yang disapa, bukan gajah mana pun secara umum.
Ayat ini dibuka dengan susunan (أَلَمْ تَرَ, a-lam tara), gabungan huruf tanya dengan kata penyangkal, yang secara harfiah berarti "tidakkah engkau melihat". Bentuk semacam itu bukan pertanyaan yang menunggu jawaban, melainkan pernyataan yang dibungkus pertanyaan supaya pendengarnya sendiri yang menyimpulkan. Padanan "tidakkah engkau memperhatikan" menahan bentuk itu. Kata kerjanya berbentuk tunggal orang kedua, jadi yang disapa satu orang, sedangkan yang disebut sesudahnya sekumpulan besar orang.
Yang dikenai perbuatan disebut (بِأَصْحَابِ الْفِيلِ, bi-ashhaabi l-fiili), yaitu pemilik atau penyerta gajah. Kata (أَصْحَابِ, ashhaabi) berasal dari akar yang berarti menemani. Akar itu hadir di 89 ayat dan hampir selalu dipakai untuk menyebut golongan yang dikenali lewat sesuatu yang menyertainya, seperti penghuni suatu tempat atau pemilik suatu perkara. Jadi mereka tidak dinamai dengan nama sendiri, melainkan dengan benda yang mereka bawa. Padanan "pasukan bergajah" menahan sisi berkelompok itu, dan sekaligus menjaga supaya yang disebut bukan satu orang pemimpin.
Yang disebut sebagai pelaku adalah (رَبُّكَ, rabbuka), Tuhanmu, dengan kata ganti yang menempel pada orang yang disapa. Pilihan itu perlu diperhatikan: yang bertindak tidak disebut dengan nama-Nya, melainkan lewat hubungan-Nya dengan yang mendengar. Kata kerjanya (فَعَلَ, fa'ala) berbentuk lampau dan bermakna umum, yaitu berbuat atau bertindak, tanpa merinci caranya. Rinciannya baru datang di tiga ayat berikutnya. Susunan itu menahan: peristiwanya disebut sudah terjadi lebih dulu, caranya menyusul kemudian. Yang ditetapkan lebih awal pelakunya, bukan metodenya, dan urutan itu berlaku juga di 106:1 yang menyebut apa yang sudah diterima sebelum menyebut apa yang diminta.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan mengingatkan kegagalan pasukan bergajah yang hendak menyerang. Yang dipakai bukan cerita yang diuraikan, melainkan pertanyaan yang mengandaikan pendengarnya sudah tahu.
Bentuk bertanya semacam itu menentukan kedudukan seluruh surah. Sebuah kabar yang diberitakan menuntut pendengarnya percaya kepada yang memberitakan. Sebuah pertanyaan tentang apa yang sudah diketahui tidak menuntut apa-apa, ia hanya meminta yang ditanya menghubungkan sendiri apa yang sudah ada di ingatannya. Karena itu surah ini tidak berisi pembuktian sama sekali, dan tidak memerlukannya.
Letaknya persis sebelum surah 106 juga menerangkan sesuatu. Di sana disebut kebiasaan berdagang yang berjalan aman dua kali setahun, dan di sini disebut apa yang terjadi pada pihak yang hendak mengganggu. Dua surah berdampingan itu terbaca sebagai satu keterangan yang dipotong: yang satu menyebut sebabnya, yang lain menyebut akibatnya yang dinikmati sehari-hari. Keamanan yang di 106:1 dijadikan alasan untuk menyembah ternyata punya riwayat, dan riwayatnya diletakkan tepat di halaman sebelumnya. Dua surah itu juga memakai cara yang berbeda untuk menunjuk hal yang sama-sama sudah dikenal: yang ini bertanya, yang berikutnya langsung menyebut, dan keduanya sama-sama tidak menyodorkan bukti baru kepada pembacanya.
Renungan dan Hikmah
- Sebagian pembacaan kritis menghubungkan akar kata pada frasa ini dengan makna 'lemah dalam pertimbangan/penilaian', berbeda dari pembacaan mapan 'gajah' sebagai hewan tunggangan pasukan, pembacaan mapan dipilih di sini karena lebih kukuh secara leksikal. Bentuk yang dipakai di ayat ini pun berdiri sendirian di seluruh kitab, sehingga tidak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk mengujinya, dan pilihan itu diambil dengan menyadari batas tersebut.
- Allah tidak menceritakan peristiwanya, melainkan menanyakannya. Bentuk itu bukan pertanyaan yang menunggu jawaban, melainkan pernyataan yang dibungkus pertanyaan supaya yang mendengar sendiri yang menyimpulkan. Kabar yang diberitakan menuntut orang percaya kepada pembawanya; pertanyaan tentang yang sudah diketahui tidak menuntut apa-apa. Karena itu surah ini tidak memuat satu pun pembuktian, dan memang tidak memerlukannya. Allah menyusun kalimatnya supaya yang mendengar mengambil kesimpulannya sendiri, bukan menerimanya dari orang lain.
- Yang bertindak tidak disebut dengan nama-Nya, melainkan lewat hubungan-Nya dengan orang yang disapa: Tuhanmu. Kata ganti yang menempel itu menautkan peristiwa besar tersebut kepada satu orang yang sedang mendengar. Yang dibicarakan bukan kekuatan jauh yang pernah bertindak pada suatu masa, melainkan Pihak yang sudah punya hubungan dengan yang ditanya, dan hubungannya disebut sebelum perbuatannya diuraikan. Nama menyatakan siapa Dia; kata ganti yang menempel itu menyatakan siapa Dia bagi yang sedang ditanya.
- Hewan yang menamai surah ini tidak pernah disebut lagi di mana pun dalam Al-Qur'an, dan akarnya pun cuma dipakai di ayat ini. Sesuatu yang paling besar di antara yang dikenal manusia waktu itu ternyata cuma dapat satu penyebutan, sekali, lalu tidak dipakai lagi. Ukuran yang mengesankan tidak menghasilkan tempat yang lebih luas di dalam kitab ini. Allah menyebutnya sekali, secukupnya, lalu tidak kembali lagi kepadanya sepanjang sisa wahyu.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk tunggal orang kedua, jadi yang ditanya satu orang, sedangkan yang dibicarakan sekumpulan besar orang beserta pasukannya. Perbandingan itu terasa. Satu orang diminta memperhatikan apa yang terjadi pada rombongan besar, dan yang diminta darinya bukan takut melainkan memperhatikan. Apa yang biasanya dilihat seseorang ketika ia menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya runtuh?
- Kata kerja yang dipakai bermakna umum, yaitu berbuat, tanpa merinci caranya sama sekali. Rinciannya baru datang di tiga ayat berikutnya. Susunan itu menahan pembacanya: yang ditetapkan lebih dulu adalah bahwa Allah bertindak, dan bagaimana Dia bertindak menyusul kemudian. Yang diletakkan di depan pelakunya, bukan metodenya. Orang yang lebih dulu tahu siapa yang bertindak membaca rincian sesudahnya dengan cara yang berbeda dari orang yang cuma tahu apa yang terjadi.
Ayat 105:2
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
Bukankah Dia menjadikan tipu daya mereka sia-sia?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍa-lam yaj'al kaydahum fii tadhliilinbukankah Dia menjadikan tipu daya mereka sia-sia
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَلَمْa-lamtidakkah
- يَجْعَلْyaj'almenjadikan
- كَيْدَهُمْkaydahumtipu daya mereka
- فِيfiidi
- تَضْلِيلٍtadhliilinkesia-siaan
Inti bacaan
Penegasan kegagalan rencana jahat: 'bukankah Dia menjadikan tipu daya/rencana mereka sia-sia?', konfirmasi bahwa upaya menghancurkan tempat suci berujung kegagalan total, kekuatan yang tampak besar tidak berdaya menghadapi perlindungan ilahi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini mengulang susunan bertanya dari 105:1 dengan bentuk yang sama, (أَلَمْ يَجْعَلْ, a-lam yaj'al), tidakkah Dia menjadikan. Pengulangan bentuk itu membuat kedua ayat terbaca sebagai satu tarikan: yang pertama menanyakan bahwa Dia bertindak, yang kedua menanyakan hasil tindakannya.
Kata (كَيْدَهُمْ, kaydahum) berasal dari akar yang berarti menyusun tipu daya. Akar itu hadir di 29 ayat, di antaranya 12:5, 21:57, dan 40:37. Ia menunjuk rencana yang disusun diam-diam untuk mencelakai pihak lain, bukan sekadar rencana biasa. Padanan "tipu daya" menahan sisi tersembunyi itu; menerjemahkannya sebagai "rencana" saja akan menghapus unsur yang justru membuatnya perlu digagalkan.
Kata terakhirnya (تَضْلِيلٍ, tadhliilin) berbentuk kata benda dari kata kerja bentuk kedua, dan bentuk persis ini muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti tersesat. Ia sendiri sangat luas, hadir di 170 ayat, dan di kebanyakan tempat ia berbicara tentang tersesat atau menyesatkan. Jadi akarnya dikenal semua orang sementara bentuk ini sendirian. Padanan "sia-sia" dipakai karena yang dimaksud bukan tersesat dalam arti kehilangan jalan, melainkan dibuat tidak sampai ke tujuannya.
Kata kerjanya (يَجْعَلْ, yaj'al) berasal dari akar yang berarti menjadikan. Akar itu bermakna menjadikan atau menempatkan, dan kata kerja yang sama muncul lagi di 105:5 sebagai (فَجَعَلَهُمْ, fa-ja'alahum). Jadi surah ini memakai satu kata kerja untuk dua hal: menjadikan rencana mereka sia-sia di sini, dan menjadikan mereka seperti jerami di penutupnya. Kesejajaran itu mengunci kedua ayat sebagai satu perbuatan yang sama dilihat dari dua sisi, yaitu sisi rencananya dan sisi pelakunya.
Kata depan (فِي, fii) sebelum kata itu juga perlu diperhatikan. Yang tertulis bukan bahwa Dia menyia-nyiakan tipu daya mereka, melainkan bahwa Dia menjadikan tipu daya itu berada di dalam kesia-siaan. Susunan tersebut menempatkan kesia-siaan sebagai keadaan yang meliputi, bukan sebagai tindakan yang menimpa. Rencana mereka tidak dihancurkan dari luar; ia diletakkan di dalam sesuatu yang membuatnya tidak sampai ke mana-mana.
Bentuk (تَضْلِيلٍ, tadhliilin) juga tak bertakrif, dan ketiadaan kata sandang itu menambah satu lapis lagi. Yang disebut bukan kesia-siaan tertentu yang sudah dikenal, melainkan kesia-siaan yang tidak diberi ukuran. Rencana yang diletakkan di dalam sesuatu yang tak berbatas tidak punya tepi yang bisa dijadikan pegangan untuk keluar. Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut apa isi rencana itu, tidak menyebut siapa yang menyusunnya, dan tidak menyebut berapa lama ia disiapkan. Yang disebut hanya bahwa ia ada, dan bahwa ia tidak sampai.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa rencana pasukan tersebut digagalkan sepenuhnya. Yang disebut gagal bukan pasukannya, melainkan rencananya, dan pembedaan itu bukan soal kata.
Sebuah pasukan yang kalah bertempur tetap merupakan pasukan yang sempat bertempur. Yang dinyatakan di sini lebih awal dari itu: rencananya sendiri yang tidak pernah sampai. Susunan dengan kata depan yang dipakai menempatkan kesia-siaan sebagai keadaan yang meliputi, sehingga tipu daya itu tidak dihancurkan melainkan diletakkan di dalam sesuatu yang membuatnya tidak berujung ke mana pun.
Bentuk bertanya yang diulang dari 105:1 juga bekerja di sini. Dua ayat berturut-turut bertanya tentang hal yang sudah diketahui oleh yang ditanya, dan keduanya tidak menunggu jawaban. Yang dituntut hanya menghubungkan. Bandingkan dengan 106:1 yang tidak bertanya sama sekali melainkan langsung menyebut kebiasaan mereka: dua surah berdampingan memakai dua cara berbeda untuk menunjuk hal yang sama-sama sudah dikenal, dan keduanya sama-sama tidak memberikan bukti baru.
Kata kerja yang dipakai di ayat ini muncul lagi di penutup surah, yaitu di 105:5, dengan bentuk yang berbeda tetapi akar yang sama. Yang dijadikan sia-sia di sini adalah rencananya, dan yang dijadikan seperti jerami di sana adalah pelakunya. Satu kata kerja memikul keduanya, sehingga dua ayat yang berjauhan itu terbaca sebagai satu perbuatan yang dilihat dari dua sisi. Yang membatalkan rencana dan yang menghabiskan pelakunya bukan dua tindakan terpisah.
Renungan dan Hikmah
- Allah bertanya dengan bentuk yang sudah mengandung jawabannya. Bukankah Dia. Membuatnya sia-sia. Bentuk bertanya itu diulang dari ayat sebelumnya, sehingga dua ayat berturut-turut menanyakan hal yang sudah diketahui oleh yang ditanya. Yang dituntut darinya bukan mempercayai kabar baru, melainkan menghubungkan sendiri apa yang sudah ada di dalam ingatannya. Allah memakai bentuk yang sama dua kali berturut-turut, dan pengulangan itu membuat kedua ayat terbaca sebagai satu tarikan napas.
- Yang disebut gagal rencananya, bukan pasukannya. Bukan kalah bertempur. Rencananya yang batal. Pasukan yang kalah bertempur tetap merupakan pasukan yang sempat bertempur, sedangkan yang dinyatakan di sini lebih awal dari itu: rencananya sendiri tidak pernah sampai ke titik ia bisa dijalankan. Kegagalan yang terjadi sebelum pelaksanaan tidak menyisakan cerita kepahlawanan bagi siapa pun. Tidak ada pertempuran yang bisa dikenang, dan tidak ada korban yang bisa dihormati sebagai gugur.
- Bentuk tanya dipakai Allah untuk kejadian yang mereka saksikan sendiri. Bukan kabar lama. Yang mereka ingat. Sebuah kabar menuntut orang percaya kepada pembawanya; sebuah pertanyaan tentang yang sudah dilihat sendiri tidak menuntut kepercayaan apa pun. Itu sebabnya surah ini tidak memuat satu pun pembuktian, dan tidak memerlukannya sama sekali. Yang ditanya Allah bukan apakah mereka percaya, melainkan apakah mereka sudah memperhatikan.
- Kata depan yang dipakai menyatakan di dalam, sehingga yang tertulis bukan bahwa Allah menghancurkan tipu daya mereka melainkan meletakkannya di dalam kesia-siaan. Kesia-siaan menjadi keadaan yang meliputi, bukan pukulan yang menimpa. Rencana yang diletakkan di dalam sesuatu yang membuatnya tak berujung tidak pernah tahu bahwa ia sedang tidak berjalan, dan justru itu yang membedakannya dari kekalahan biasa. Yang kalah tahu ia kalah; yang rencananya diletakkan di dalam kesia-siaan bahkan tak punya saat untuk menyadarinya.
- Bentuk yang dipakai untuk kesia-siaan di ayat ini muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, padahal akarnya termasuk yang paling luas pemakaiannya dan hadir di ratusan ayat tentang tersesat dan menyesatkan. Akar yang dikenal semua orang, dalam bentuk yang cuma satu kali. Yang dimaksud pun bukan kehilangan jalan, melainkan dibuat tidak sampai ke tujuan yang sudah direncanakan. Bentuknya pun tak bertakrif, jadi kesia-siaan itu tidak diberi ukuran, dan yang tak berbatas tidak menyediakan tepi untuk keluar.
- Kata yang dipakai untuk rencana mereka menunjuk sesuatu yang disusun diam-diam untuk mencelakai pihak lain, bukan rencana biasa. Unsur tersembunyi itulah yang membuatnya perlu digagalkan, dan menerjemahkannya sekadar rencana akan menghapus alasan mengapa ia disebut sama sekali. Apa yang tersisa dari sebuah persiapan panjang ketika yang gagal bukan pelaksanaannya melainkan seluruh rancangannya? Ayat ini pun tidak menyebut apa isi rencana itu, siapa penyusunnya, atau berapa lama ia disiapkan.