بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap pasukan bergajah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِa-lam tara kayfa fa'ala rabbuka bi-ashaabi l-fiilitidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap pasukan bergajah

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. تَرَtaraengkau memperhatikan
  3. كَيْفَkayfabagaimana
  4. فَعَلَfa'alamelakukan
  5. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  6. بِأَصْحَابِbi-ashaabiterhadap para penghuni
  7. الْفِيلِl-fiiligajah

Inti bacaan

Pembukaan Al-Fil dengan ajakan mengingat peristiwa historis: 'tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap ?', rujukan pada peristiwa terkenal yang menjadi bukti perlindungan terhadap tempat suci, pengingat akan intervensi ilahi dalam sejarah nyata.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. "Al-fiil" diterjemahkan "gajah" mengikuti pembacaan yang mapan secara leksikal. Identitas pelaku tidak ditambahkan nama dari luar, misalnya nama pemimpin pasukan, yang tidak eksplisit dalam Arab, konsisten dengan disiplin anti-penyisipan sejarah yang berlaku di seluruh korpus ini.

Bentuk (الْفِيلِ, l-fiili) berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an: ia muncul sekali, dan akarnya berarti gajah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Hewan yang menamai surah ini karena itu tidak pernah disebut lagi di mana pun, dan tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk membandingkan pemakaiannya. Ketakrifannya menunjuk gajah yang sudah dikenal oleh yang disapa, bukan gajah mana pun secara umum.

Ayat ini dibuka dengan susunan (أَلَمْ تَرَ, a-lam tara), gabungan huruf tanya dengan kata penyangkal, yang secara harfiah berarti "tidakkah engkau melihat". Bentuk semacam itu bukan pertanyaan yang menunggu jawaban, melainkan pernyataan yang dibungkus pertanyaan supaya pendengarnya sendiri yang menyimpulkan. Padanan "tidakkah engkau memperhatikan" menahan bentuk itu. Kata kerjanya berbentuk tunggal orang kedua, jadi yang disapa satu orang, sedangkan yang disebut sesudahnya sekumpulan besar orang.

Yang dikenai perbuatan disebut (بِأَصْحَابِ الْفِيلِ, bi-ashhaabi l-fiili), yaitu pemilik atau penyerta gajah. Kata (أَصْحَابِ, ashhaabi) berasal dari akar yang berarti menemani. Akar itu hadir di 89 ayat dan hampir selalu dipakai untuk menyebut golongan yang dikenali lewat sesuatu yang menyertainya, seperti penghuni suatu tempat atau pemilik suatu perkara. Jadi mereka tidak dinamai dengan nama sendiri, melainkan dengan benda yang mereka bawa. Padanan "pasukan bergajah" menahan sisi berkelompok itu, dan sekaligus menjaga supaya yang disebut bukan satu orang pemimpin.

Yang disebut sebagai pelaku adalah (رَبُّكَ, rabbuka), Tuhanmu, dengan kata ganti yang menempel pada orang yang disapa. Pilihan itu perlu diperhatikan: yang bertindak tidak disebut dengan nama-Nya, melainkan lewat hubungan-Nya dengan yang mendengar. Kata kerjanya (فَعَلَ, fa'ala) berbentuk lampau dan bermakna umum, yaitu berbuat atau bertindak, tanpa merinci caranya. Rinciannya baru datang di tiga ayat berikutnya. Susunan itu menahan: peristiwanya disebut sudah terjadi lebih dulu, caranya menyusul kemudian. Yang ditetapkan lebih awal pelakunya, bukan metodenya, dan urutan itu berlaku juga di 106:1 yang menyebut apa yang sudah diterima sebelum menyebut apa yang diminta.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan mengingatkan kegagalan pasukan bergajah yang hendak menyerang. Yang dipakai bukan cerita yang diuraikan, melainkan pertanyaan yang mengandaikan pendengarnya sudah tahu.

Bentuk bertanya semacam itu menentukan kedudukan seluruh surah. Sebuah kabar yang diberitakan menuntut pendengarnya percaya kepada yang memberitakan. Sebuah pertanyaan tentang apa yang sudah diketahui tidak menuntut apa-apa, ia hanya meminta yang ditanya menghubungkan sendiri apa yang sudah ada di ingatannya. Karena itu surah ini tidak berisi pembuktian sama sekali, dan tidak memerlukannya.

Letaknya persis sebelum surah 106 juga menerangkan sesuatu. Di sana disebut kebiasaan berdagang yang berjalan aman dua kali setahun, dan di sini disebut apa yang terjadi pada pihak yang hendak mengganggu. Dua surah berdampingan itu terbaca sebagai satu keterangan yang dipotong: yang satu menyebut sebabnya, yang lain menyebut akibatnya yang dinikmati sehari-hari. Keamanan yang di 106:1 dijadikan alasan untuk menyembah ternyata punya riwayat, dan riwayatnya diletakkan tepat di halaman sebelumnya. Dua surah itu juga memakai cara yang berbeda untuk menunjuk hal yang sama-sama sudah dikenal: yang ini bertanya, yang berikutnya langsung menyebut, dan keduanya sama-sama tidak menyodorkan bukti baru kepada pembacanya.

Renungan dan Hikmah

  • Sebagian pembacaan kritis menghubungkan akar kata pada frasa ini dengan makna 'lemah dalam pertimbangan/penilaian', berbeda dari pembacaan mapan 'gajah' sebagai hewan tunggangan pasukan, pembacaan mapan dipilih di sini karena lebih kukuh secara leksikal. Bentuk yang dipakai di ayat ini pun berdiri sendirian di seluruh kitab, sehingga tidak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk mengujinya, dan pilihan itu diambil dengan menyadari batas tersebut.
  • Allah tidak menceritakan peristiwanya, melainkan menanyakannya. Bentuk itu bukan pertanyaan yang menunggu jawaban, melainkan pernyataan yang dibungkus pertanyaan supaya yang mendengar sendiri yang menyimpulkan. Kabar yang diberitakan menuntut orang percaya kepada pembawanya; pertanyaan tentang yang sudah diketahui tidak menuntut apa-apa. Karena itu surah ini tidak memuat satu pun pembuktian, dan memang tidak memerlukannya. Allah menyusun kalimatnya supaya yang mendengar mengambil kesimpulannya sendiri, bukan menerimanya dari orang lain.
  • Yang bertindak tidak disebut dengan nama-Nya, melainkan lewat hubungan-Nya dengan orang yang disapa: Tuhanmu. Kata ganti yang menempel itu menautkan peristiwa besar tersebut kepada satu orang yang sedang mendengar. Yang dibicarakan bukan kekuatan jauh yang pernah bertindak pada suatu masa, melainkan Pihak yang sudah punya hubungan dengan yang ditanya, dan hubungannya disebut sebelum perbuatannya diuraikan. Nama menyatakan siapa Dia; kata ganti yang menempel itu menyatakan siapa Dia bagi yang sedang ditanya.
  • Hewan yang menamai surah ini tidak pernah disebut lagi di mana pun dalam Al-Qur'an, dan akarnya pun cuma dipakai di ayat ini. Sesuatu yang paling besar di antara yang dikenal manusia waktu itu ternyata cuma dapat satu penyebutan, sekali, lalu tidak dipakai lagi. Ukuran yang mengesankan tidak menghasilkan tempat yang lebih luas di dalam kitab ini. Allah menyebutnya sekali, secukupnya, lalu tidak kembali lagi kepadanya sepanjang sisa wahyu.
  • Kata kerja di ayat ini berbentuk tunggal orang kedua, jadi yang ditanya satu orang, sedangkan yang dibicarakan sekumpulan besar orang beserta pasukannya. Perbandingan itu terasa. Satu orang diminta memperhatikan apa yang terjadi pada rombongan besar, dan yang diminta darinya bukan takut melainkan memperhatikan. Apa yang biasanya dilihat seseorang ketika ia menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya runtuh?
  • Kata kerja yang dipakai bermakna umum, yaitu berbuat, tanpa merinci caranya sama sekali. Rinciannya baru datang di tiga ayat berikutnya. Susunan itu menahan pembacanya: yang ditetapkan lebih dulu adalah bahwa Allah bertindak, dan bagaimana Dia bertindak menyusul kemudian. Yang diletakkan di depan pelakunya, bukan metodenya. Orang yang lebih dulu tahu siapa yang bertindak membaca rincian sesudahnya dengan cara yang berbeda dari orang yang cuma tahu apa yang terjadi.