وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
Dan Dia mengirim kepada mereka burung berbondong-bondong,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَwa-arsala 'alayhim thayran abaabiiladan Dia mengirim kepada mereka burung berbondong-bondong
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَرْسَلَwa-arsaladan Dia mengirimkan
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- طَيْرًاthayranburung
- أَبَابِيلَabaabiilaberbondong-bondong
Inti bacaan
Instrumen intervensi yang digunakan: 'dan Dia mengirim kepada mereka burung/berbondong-bondong', penggunaan kekuatan yang tampak kecil dan tidak berbahaya untuk mengalahkan kekuatan besar, ironi kekuasaan yang tidak bergantung pada skala fisik.
Penjelasan pilihan kata
"Tayran" diterjemahkan "burung" mengikuti pembacaan yang mapan secara leksikal, bukan pembacaan alternatif yang memperluas makna menjadi "hal-hal yang terbang" secara umum.
Kata (طَيْرًا, thayran) berbentuk tak bertakrif dan jamak, dari akar yang berarti terbang. Akar itu hadir di 24 ayat, di antaranya 2:260, 24:41, dan 67:19. Ketiadaan kata sandang membuatnya tidak menunjuk burung tertentu yang sudah dikenal, melainkan burung yang tidak ditentukan jenisnya. Yang disebut bukan jenis, bukan ukuran, dan bukan asalnya.
Kata sesudahnya (أَبَابِيلَ, abaabiila) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti rombongan yang berbondong. Ia dipakai di 3 ayat: di sini, lalu 6:144 dan 88:17 yang keduanya menyebut unta. Bentuknya jamak dan berfungsi menerangkan kata sebelumnya, sehingga yang dinyatakan bukan nama jenis burung melainkan keterangan tentang cara datangnya, yaitu berkelompok-kelompok. Padanan "berbondong-bondong" menahan sifat berkelompok itu tanpa memutuskan berapa jumlahnya.
Bentuk (طَيْرًا, thayran) juga perlu dibandingkan dengan pemakaiannya di tempat lain. Di 2:260 burung dipakai sebagai alat pembuktian tentang menghidupkan yang mati, di 24:41 ia disebut bertasbih sambil mengembangkan sayap, dan di 67:19 ia disebut ditahan di udara oleh Yang Maha Pengasih. Jadi di tempat lain burung hampir selalu muncul sebagai tanda yang mengarahkan perhatian ke atas. Di ayat ini ia justru menjadi pelaksana, dan pergeseran kedudukan itu yang membuatnya khas.
Kata kerjanya (وَأَرْسَلَ, wa-arsala) berbentuk keempat dan berasal dari akar yang sama dengan kata untuk rasul dan risalah. Pilihan kata itu bermuatan: yang dipakai bukan kata untuk melepas atau menjatuhkan, melainkan kata untuk mengutus dengan tugas. Burung-burung itu karena itu tidak digambarkan kebetulan lewat, melainkan dikirim dengan maksud. Kata depan (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) yang menyertainya berarti "atas mereka", menunjuk arah dari atas ke bawah, dan arah itu sejalan dengan apa yang dikerjakan burung tersebut di ayat berikutnya.
Perlu dicatat apa yang tidak dikerjakan ayat ini. Ia tidak menyebut berapa banyak burungnya, tidak menyebut dari mana mereka datang, tidak menyebut berapa lama, dan tidak menyebut bagaimana mereka tahu harus ke mana. Yang tersisa hanya dua hal: bahwa mereka dikirim, dan bahwa mereka datang berkelompok. Ketiadaan rincian itu bukan kekurangan, sebab ayat berikutnya justru memberi rincian pada hal lain, yaitu bahan batunya. Jadi yang dirinci dan yang dibiarkan kosong sama-sama dipilih, bukan kebetulan tersusun begitu.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan datangnya rombongan burung sebagai alat hukuman. Yang dipakai bukan alat yang sepadan dengan besarnya ancaman, melainkan sesuatu yang jauh lebih kecil dari apa yang dihadapinya.
Perbandingan itu tampaknya memang disengaja. Di 105:1 disebut gajah, yaitu hewan terbesar yang dikenal orang waktu itu, dan di sini disebut burung. Ketimpangan antara keduanya tidak disembunyikan, melainkan diletakkan berdekatan dalam surah yang cuma lima ayat. Yang menentukan hasil ternyata bukan ukuran, dan surah ini menunjukkannya tanpa satu pun kalimat penjelasan.
Kata kerja yang dipakai juga menempatkan burung itu pada kedudukan tertentu. Ia berasal dari akar yang sama dengan kata untuk rasul, sehingga yang digambarkan pengiriman dengan tugas, bukan kebetulan alam. Bandingkan dengan 106:3 yang menyerukan penyembahan kepada Tuhan Rumah: yang di sini mengirim burung dan yang di sana harus disembah adalah Pihak yang sama, dan dua surah berdampingan itu menyebut-Nya dari dua sisi, yaitu sisi yang bertindak dan sisi yang dituju.
Burung di tempat lain hampir selalu muncul sebagai tanda yang mengarahkan perhatian ke atas: di 24:41 ia disebut bertasbih sambil mengembangkan sayap, di 67:19 ia disebut ditahan di udara oleh Yang Maha Pengasih, dan di 2:260 ia dipakai sebagai alat pembuktian tentang menghidupkan yang mati. Di ayat ini kedudukannya bergeser: ia bukan lagi tanda yang dipandangi, melainkan pelaksana yang dikirim. Pergeseran itu menyatakan sesuatu tentang bagaimana yang biasa dianggap sekadar pemandangan bisa berubah kedudukan tanpa berubah wujud sama sekali.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai burung untuk menghadapi gajah. Yang kecil melawan yang besar. Perbandingannya sengaja timpang. Kedua hewan itu diletakkan berdekatan dalam surah yang cuma lima ayat, dan ketimpangannya tidak disembunyikan sama sekali. Yang menentukan hasil ternyata bukan ukuran, dan surah ini menunjukkannya tanpa satu pun kalimat yang menjelaskannya. Allah meletakkan keduanya berdekatan dan membiarkan pembacanya sendiri yang menimbang jaraknya.
- Yang dikirim berbondong-bondong, bukan seekor. Jumlahnya yang menggantikan ukuran. Kecil tetapi banyak. Kata yang menerangkannya muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, dan ia tidak menyebut jenis melainkan cara datangnya, yaitu berkelompok-kelompok. Yang tidak ditentukan jumlahnya juga tidak bisa dihitung oleh yang menghadapinya, dan itu bagian dari bagaimana ia bekerja. Pasukan yang bisa menghitung lawannya masih bisa menyusun rencana; yang tidak bisa menghitung tidak punya tempat memulai.
- Kata mengirim dipakai Allah, seperti mengirim utusan. Burung itu bertugas. Bukan kebetulan lewat. Kata kerjanya berasal dari akar yang sama dengan kata untuk rasul dan risalah, jadi yang digambarkan pengiriman dengan maksud, bukan peristiwa alam yang kebetulan terjadi bersamaan. Yang diutus membawa tugas, dan tugasnya dirinci di ayat berikutnya. Di tempat lain burung justru muncul sebagai tanda yang dipandangi, bukan pelaksana yang dikirim.
- Burung itu disebut tanpa kata sandang, sehingga yang dimaksud bukan burung tertentu yang sudah dikenal. Tidak disebut jenisnya, tidak disebut ukurannya, dan tidak disebut dari mana asalnya. Yang ditinggalkan hanya fungsinya. Keterangan yang tidak diberikan itu sendiri menyatakan sesuatu: yang penting bukan apa yang datang, melainkan siapa yang mengirimnya. Ayat ini tidak menyebut berapa banyak, dari mana, berapa lama, atau bagaimana mereka tahu harus ke mana.
- Kata depan yang dipakai berarti atas mereka, menunjuk arah dari atas ke bawah. Arah itu sejalan dengan apa yang dikerjakan burung tersebut di ayat berikutnya. Pasukan yang bersiap menghadapi serangan biasanya menyiapkan diri untuk arah datangnya lawan di darat, dan yang datang justru dari arah yang tidak dijaga siapa pun. Dari mana biasanya masalah datang kepada orang yang sudah bersiap menghadapinya? Persiapan selalu menghadap ke arah yang dibayangkan, dan yang tidak dibayangkan tidak pernah dijaga.
- Yang mengirim burung di ayat ini dan Yang harus disembah di 106:3 adalah Pihak yang sama. Dua surah yang berdampingan itu menyebut-Nya dari dua sisi, yaitu sisi yang bertindak dan sisi yang dituju. Yang membaca keduanya berurutan menemukan bahwa keamanan yang disebut di surah berikutnya bukan keadaan yang muncul sendiri, melainkan akibat dari tindakan yang diceritakan di sini. Dua surah berdampingan itu terbaca sebagai satu keterangan yang dipotong oleh nomor surah.