تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ
Melempari mereka dengan batu-batu dari tanah liat yang dibakar.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍtarmiihim bi-hijaaratin min sijjiilinmelempari mereka dengan batu-batu dari tanah liat yang dibakar
Terjemahan per kata (4 kata)
- تَرْمِيهِمْtarmiihimmelempari mereka
- بِحِجَارَةٍbi-hijaaratindengan batu
- مِنْmindari
- سِجِّيلٍsijjiilintanah keras
Inti bacaan
Detail metode kehancuran: 'melempari mereka dengan batu-batu sijjil', deskripsi konkret cara serangan tersebut dilaksanakan, presisi detail yang menegaskan realitas peristiwa.
Penjelasan pilihan kata
(سِجِّيلٍ, sijjiilin) adalah kata benda umum untuk material batu-tanah-liat, bukan nama diri seperti "Sijjiin". Ia diterjemahkan deskriptif "tanah liat yang dibakar" tanpa tanda kurung, karena inilah padanan makna leksikal langsungnya, bukan tambahan dari luar.
Bentuk (سِجِّيلٍ, sijjiilin) dipakai di 3 ayat, dan dua sisanya sama-sama menceritakan hujan batu atas kaum Lut, yaitu 11:82 dan 15:74. Akarnya berarti catatan yang digulung. Ia dipakai di 4 ayat, dan yang keempat adalah 21:104 yang memakainya untuk gulungan lembaran catatan ketika langit digulung. Jadi kata ini melekat pada dua gambaran: batu yang dijatuhkan sebagai hukuman, dan sesuatu yang tercatat lalu digulung. Yang dipakai di sini gambaran pertama, dan pemakaiannya sejajar persis dengan dua ayat tentang kaum Lut.
Kata kerjanya (تَرْمِيهِمْ, tarmiihim) berbentuk perempuan tunggal, bukan jamak, padahal pelakunya burung yang banyak. Susunan itu biasa dalam bahasa Arab untuk jamak benda dan hewan, dan ia dipertahankan apa adanya dalam terjemahan sebagai "melempari" tanpa penanda jumlah. Bentuknya juga sedang berlangsung, bukan lampau, sehingga yang digambarkan bukan satu lemparan yang selesai melainkan pekerjaan yang berjalan.
Kesejajaran dengan 11:82 dan 15:74 perlu dibaca teliti. Di kedua ayat itu kata (سِجِّيلٍ, sijjiilin) dipakai untuk hujan batu yang menimpa kaum Lut, dan susunannya pun mirip, yaitu menghujani dengan batu dari bahan tersebut. Jadi peristiwa di surah ini memakai kosakata yang sama persis dengan peristiwa yang di tempat lain diceritakan dengan latar, percakapan, dan nama. Di sini semua itu dihilangkan, dan yang tersisa cuma bahan batunya. Kesamaan kosakata itu yang menghubungkan keduanya, bukan kesamaan cerita.
Kata (بِحِجَارَةٍ, bi-hijaaratin) berasal dari akar yang berarti menahan dan membatasi. Akar itu hadir di 18 ayat, dan bentuknya di sini tak bertakrif, sehingga yang disebut batu-batu yang tidak ditentukan jumlah maupun ukurannya. Perlu diperhatikan bahwa yang dirinci di ayat ini justru bahannya, bukan kekuatannya. Tidak disebut seberapa keras, seberapa cepat, atau seberapa banyak. Yang disebut asal bahannya, yaitu tanah liat yang dibakar, dan bahan itu termasuk yang paling sederhana yang bisa ditemukan siapa pun.
Akar (سِجِّيلٍ, sijjiilin) itu, yaitu akar yang berarti catatan yang digulung, dipakai di satu tempat lagi dengan gambaran yang sama sekali berbeda. Di 21:104 ia muncul dalam susunan tentang langit yang digulung seperti gulungan lembaran catatan. Jadi satu akar memikul dua hal: batu yang dijatuhkan sebagai hukuman, dan lembaran yang memuat catatan lalu digulung. Kesejajaran itu tidak diterangkan di mana pun, dan ia tidak perlu dipaksakan menjadi satu makna. Yang bisa dicatat cuma faktanya, dan pembacanya boleh menimbang sendiri apakah bunyi yang sama itu membawa arti.
Tafsiran
Ayat ini merinci alat hukuman tersebut: batu-batu dari tanah liat yang dikeraskan. Yang dirinci bahannya, bukan kekuatannya, dan pilihan itu bekerja.
Sebuah kekuatan yang menghancurkan biasanya digambarkan lewat besarnya. Di sini yang disebut justru bahan paling sederhana yang bisa ditemukan siapa pun di tanah. Ketimpangan antara kesederhanaan alatnya dan besarnya akibat yang disebut di 105:5 tidak dijelaskan sama sekali, dan tidak dijelaskannya itu bagian dari cara surah ini bekerja.
Kesejajaran dengan 11:82 dan 15:74 juga patut dibaca. Di kedua ayat itu kata yang sama persis dipakai untuk hujan batu yang menimpa kaum Lut, sehingga peristiwa di surah ini ditempatkan pada golongan yang sama dengan peristiwa yang sudah diceritakan panjang lebar di tempat lain. Yang di sana diuraikan dengan latar dan percakapan, di sini diringkas menjadi satu ayat tanpa nama dan tanpa tanggal. Bandingkan pula dengan 21:104 yang memakai akar yang sama untuk gulungan catatan: kata yang menyebut hukuman ternyata seakar dengan kata yang menyebut apa yang tercatat.
Bentuk kata kerjanya pun menambah satu lapis. Ia berbentuk perempuan tunggal meski pelakunya burung yang banyak, susunan yang biasa dalam bahasa Arab untuk jamak hewan, dan ia berbentuk sedang berlangsung, bukan lampau. Jadi yang digambarkan bukan satu lemparan yang selesai melainkan pekerjaan yang berjalan terus di hadapan yang menyaksikannya. Sesuatu yang kecil dan berulang menghasilkan apa yang tidak sanggup dihasilkan satu pukulan besar, dan penutup surah di 105:5 menyebut hasilnya.
Renungan dan Hikmah
- Bahannya disebut, bukan kekuatannya. Tanah liat yang dibakar. Allah memilih menyebut yang paling sederhana. Tidak disebut seberapa keras, seberapa cepat, atau seberapa banyak. Bahan yang dipakai termasuk yang bisa ditemukan siapa pun di tanah, dan ketimpangan antara kesederhanaan alat dengan besarnya akibat tidak dijelaskan sama sekali di dalam surah ini. Allah menyebut bahannya dan membiarkan pembacanya sendiri menimbang jarak antara keduanya.
- Yang membawa burung, bukan pasukan. Ukurannya kecil. Akibatnya tidak. Kata kerjanya pun berbentuk sedang berlangsung, bukan lampau, sehingga yang digambarkan bukan satu lemparan yang selesai melainkan pekerjaan yang berjalan terus. Sesuatu yang kecil dan berulang akhirnya menghasilkan apa yang tidak sanggup dihasilkan oleh satu pukulan besar. Bentuk kata kerjanya pun perempuan tunggal meski pelakunya banyak, susunan yang biasa untuk jamak hewan dalam bahasa Arab.
- Rinciannya diberikan Allah sampai ke jenis batunya. Bukan kabar samar. Peristiwanya diberi bukti. Sebuah cerita yang ingin dipercaya biasanya diperkuat dengan nama dan tanggal, sedangkan yang ini justru menghilangkan keduanya dan memberi rincian pada bahannya. Yang bisa diperiksa bukan siapa dan kapannya, melainkan apa yang tertinggal di tanah. Rincian yang diberikan Allah justru pada bagian yang paling bisa dipegang, bukan pada bagian yang paling mudah diperdebatkan.
- Kata yang dipakai untuk batu di ayat ini muncul di dua tempat lain, dan keduanya menceritakan hujan batu yang menimpa kaum Lut. Peristiwa di surah ini karena itu ditempatkan pada golongan yang sama dengan peristiwa yang sudah diceritakan panjang lebar di tempat lain. Yang di sana diuraikan dengan latar dan percakapan, di sini diringkas jadi satu ayat tanpa nama dan tanpa tanggal. Kesamaan kosakatanya yang menghubungkan keduanya, bukan kesamaan ceritanya, dan Allah memakai bahan yang sama untuk dua peristiwa yang jaraknya jauh.
- Akar kata untuk batu di ayat ini juga dipakai di satu tempat lain untuk gulungan lembaran catatan, yaitu ketika langit digulung. Kata yang menyebut hukuman ternyata seakar dengan kata yang menyebut apa yang tercatat. Kesejajaran itu tidak dijelaskan di mana pun, tetapi ia ada, dan yang membacanya boleh menimbang sendiri apa artinya bahwa keduanya memakai bunyi yang sama. Ia tidak perlu dipaksakan menjadi satu makna. Yang bisa dicatat cuma faktanya, dan Allah tidak menerangkannya di mana pun.
- Batu-batu itu disebut tanpa kata sandang dan tanpa bilangan, sehingga tidak ditentukan berapa banyak maupun seberapa besar. Yang tidak diberi ukuran tidak bisa dihitung oleh yang menghadapinya, dan tidak bisa disiapkan pertahanannya. Berapa banyak hal kecil yang harus datang sebelum seseorang menyadari bahwa yang sedang terjadi bukan kebetulan? Yang tak diberi ukuran juga tak bisa disiapkan pertahanannya, sebab pertahanan selalu disusun terhadap sesuatu yang terukur.