فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Maka Dia menjadikan mereka seperti jerami yang habis dimakan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍfa-ja'alahum ka-'ashfin ma'kuulinmaka Dia menjadikan mereka seperti jerami yang habis dimakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَجَعَلَهُمْfa-ja'alahummaka Dia menjadikan mereka
  2. كَعَصْفٍka-'ashfinseperti daun
  3. مَأْكُولٍma'kuulinyang dimakan

Inti bacaan

Hasil akhir yang menghancurkan itu digambarkan dengan perumpamaan yang sangat rendah, bukan dengan gambaran keruntuhan yang megah. Konkretnya: pihak yang datang membawa perlengkapan paling mengesankan pada zamannya berakhir disamakan dengan bahan sisa yang bahkan tak punya nilai sebelum dikunyah ternak. Praktis: perbandingan semacam ini menutup satu penghiburan yang biasanya masih tersedia bagi yang kalah, yaitu kebanggaan atas beratnya perlawanan. Tidak ada perlawanan yang bisa dikenang, tidak ada puing yang bisa ditunjuk, dan tidak ada nama yang dicatat. Yang tersisa cuma satu pertanyaan pendek di ayat pembukanya.

Penjelasan pilihan kata

"Asf" diterjemahkan "jerami" (batang/kulit tanaman kering), pembacaan yang lebih mapan dibanding alternatif "daun", konsisten dengan konteks ternak yang memakannya hingga habis.

Rangkaian (كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ, ka-'ashfin ma'kuulin) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti angin kencang dan dedaunan kering. Ia dipakai di 6 ayat: di sini, lalu 55:12 yang menyebut biji-bijian berkulit, dan 10:22, 14:18, 21:81, serta 77:2 yang seluruhnya menyebut angin yang bertiup kencang. Jadi satu akar memikul dua gambaran yang saling berhubungan: yang ringan sampai mudah tertiup, dan yang meniupnya.

Perbandingan dengan 14:18 menerangkan gambaran ini dengan terang. Di sana perbuatan orang-orang yang kufur diumpamakan abu yang ditiup kencang oleh angin pada hari yang berangin. Kata yang dipakai untuk anginnya seakar dengan kata untuk jerami di ayat ini. Jadi dua ayat itu memakai keluarga kata yang sama untuk gambaran yang sama, yaitu sesuatu yang tampak ada lalu tidak menyisakan apa-apa.

Kata kerja pembukanya (فَجَعَلَهُمْ, fa-ja'alahum) memakai akar yang sama dengan kata kerja di 105:2, yaitu akar yang berarti menjadikan. Di sana yang dijadikan sia-sia adalah rencananya; di sini yang dijadikan seperti jerami adalah pelakunya. Satu akar memikul keduanya, sehingga dua ayat yang terpisah tiga ayat itu terbaca sebagai satu perbuatan yang dilihat dari dua sisi. Huruf (فَ, fa) di kepalanya menyatakan akibat, jadi ayat ini bukan tambahan melainkan hasil dari tiga ayat sebelumnya.

Perbandingan dengan 55:12 juga menerangkan pilihan padanannya. Di sana akar yang sama muncul sebagai (الْعَصْفِ, l-'ashfi) untuk menyebut biji-bijian berkulit, yaitu bagian tanaman yang membungkus isinya. Jadi kata ini memang menunjuk bagian tanaman yang bukan intinya, dan itu menguatkan padanan "jerami" ketimbang "daun". Yang dipakai sebagai pembanding bukan bagian yang berharga dari tanaman, melainkan bagian yang tersisa sesudah isinya diambil.

Kata (مَأْكُولٍ, ma'kuulin) berbentuk pasif dan berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu hadir di 101 ayat. Bentuk pasifnya berarti yang dimakan, bukan yang memakan, dan itu menutup gambarannya. Padanan "habis dimakan" menahan dua hal sekaligus: bahwa ia sudah dimakan, dan bahwa yang tersisa tinggal ampasnya. Huruf (كَ, ka) di depan menyatakan perumpamaan, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa mereka menjadi jerami melainkan bahwa keadaan mereka menyerupainya. Perlu dicatat bahwa yang dipakai sebagai pembanding adalah sesuatu yang bahkan tidak berharga sebelum dimakan, yaitu sisa tanaman kering, dan sesudah dimakan pun ia tidak menjadi apa-apa.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menggambarkan kehancuran total pasukan tersebut, disamakan dengan jerami yang telah habis dimakan. Yang dipilih sebagai pembanding bukan sesuatu yang hancur karena besar, melainkan sesuatu yang memang tidak berharga sejak awal.

Perumpamaan itu menutup ketimpangan yang dibangun sepanjang surah. Ayat pertama menyebut gajah, hewan terbesar yang dikenal; ayat ketiga menyebut burung; ayat keempat menyebut tanah liat; dan ayat ini berakhir pada sisa tanaman kering yang sudah dimakan ternak. Urutannya menurun terus, dan yang menurun itu justru pihak yang datang dengan kekuatan terbesar.

Bandingkan dengan 14:18 yang memakai keluarga kata yang sama untuk mengumpamakan perbuatan orang-orang yang kufur sebagai abu yang ditiup angin kencang. Dua ayat itu berbicara tentang hal berbeda, yaitu satu tentang pasukan dan satu tentang amal, tetapi keduanya berakhir pada gambaran yang sama: sesuatu yang tampak ada lalu tidak menyisakan apa pun yang bisa dipegang. Dan huruf perumpamaan di kepala kata terakhir surah ini menjaga jarak yang perlu, sebab yang dinyatakan bukan bahwa mereka berubah menjadi jerami, melainkan bahwa keadaan mereka menyerupainya. Kata kerja pembukanya pun memakai akar yang sama dengan 105:2, sehingga yang membatalkan rencana dan yang menghabiskan pelakunya ternyata satu perbuatan yang dilihat dari dua sisi, bukan dua tindakan terpisah.

Renungan dan Hikmah

  • Penutup surah ini menutup lingkaran tema kekuasaan Tuhan atas kekuatan duniawi yang tampak besar (105:1-2, pasukan bergajah dan tipu dayanya), kehancuran total menjadi bukti bahwa tak ada kekuatan yang mampu menandingi kehendak Tuhan. Urutan gambarannya pun menurun terus: gajah, lalu burung, lalu tanah liat, lalu sisa tanaman kering yang sudah dimakan ternak. Tidak ada satu pun kalimat yang menerangkan mengapa urutannya begitu, dan tidak diterangkannya itu bagian dari cara surah ini bekerja.
  • Yang dipilih Allah sebagai pembanding bukan sesuatu yang hancur karena besar, melainkan sesuatu yang memang tidak berharga sejak awal, yaitu sisa tanaman kering. Dan sesudah dimakan pun ia tidak menjadi apa-apa. Perumpamaan semacam itu tidak menyisakan kemuliaan bahkan pada kehancurannya, dan itu berbeda dari gambaran runtuh yang biasa dipakai untuk kekuatan besar. Yang runtuh masih meninggalkan puing yang bisa ditunjuk; yang dimakan habis tidak meninggalkan apa pun.
  • Kata terakhirnya berbentuk pasif, jadi yang dimaksud yang dimakan, bukan yang memakan. Bentuk itu menutup gambarannya. Pihak yang datang untuk menghancurkan berakhir pada kedudukan yang paling pasif yang bisa ditempati sesuatu, yaitu menjadi bahan yang dikunyah oleh pihak lain, dan bahkan pihak lain itu pun cuma ternak. Allah memilih pembanding yang tidak menyisakan kemuliaan sedikit pun, bahkan pada kehancurannya.
  • Akar kata untuk jerami di ayat ini juga dipakai di empat ayat lain untuk angin yang bertiup kencang. Satu akar memikul dua gambaran yang saling berhubungan: yang ringan sampai mudah tertiup, dan yang meniupnya. Di satu ayat perbuatan orang yang kufur diumpamakan abu yang ditiup angin, dan kedua gambaran itu berakhir pada hal yang sama, yaitu tidak menyisakan apa pun yang bisa dipegang. Di satu tempat lain akar yang sama menyebut kulit biji-bijian, yaitu bagian tanaman yang membungkus isinya lalu ditinggalkan.
  • Huruf di depan kata terakhir menyatakan perumpamaan, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa mereka berubah menjadi jerami melainkan bahwa keadaan mereka menyerupainya. Jarak satu huruf itu perlu, sebab ia menjaga kalimatnya tetap sebagai gambaran dan bukan sebagai laporan. Yang dibandingkan keadaannya, bukan wujudnya. Satu huruf menjaga kalimatnya tetap sebagai gambaran dan bukan sebagai laporan tentang perubahan bentuk.
  • Surah ini bergerak dari hewan terbesar yang dikenal manusia sampai ke sisa tanaman kering, dan yang menurun sepanjang perjalanan itu justru pihak yang datang dengan kekuatan terbesar. Tidak ada satu pun kalimat yang menerangkan mengapa. Apa yang tersisa dari sebuah kekuatan ketika yang menghentikannya bukan kekuatan yang lebih besar, melainkan sesuatu yang bahkan tidak dianggap? Kata kerja pembukanya seakar dengan kata kerja di ayat kedua, sehingga yang membatalkan rencana dan yang menghabiskan pelakunya ternyata satu perbuatan.