بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِإِيلَافِ قُرَيْشٍli-iilaafi quraysyinkarena kebiasaan orang-orang Quraisy
Terjemahan per kata (2 kata)
- لِإِيلَافِli-iilaafikarena kebiasaan
- قُرَيْشٍquraysyinQuraisy
Inti bacaan
Argumen surah ini bertumpu pada stabilitas yang sudah dinikmati, bukan pada tuntutan yang belum dipenuhi. Konkretnya: dasar yang dipakai bukan mukjizat, bukan bencana, dan bukan janji masa depan, melainkan urusan dagang yang berjalan lancar dua kali setahun. Praktis: hal-hal yang tidak pernah macet justru menghilang dari kesadaran pemiliknya, sebab hanya kemacetan yang menerbitkan cerita. Seseorang mengingat tahun ketika usahanya gagal, dan melupakan sepuluh tahun ketika semuanya baik-baik saja. Surah ini memulai justru dari sepuluh tahun yang terlupakan itu.
Penjelasan pilihan kata
Kata pembuka ayat ini (لِإِيلَافِ, li-iilaafi) terdiri dari kata depan yang menyatakan sebab dan sebuah kata benda dari akar yang berarti terbiasa sampai menyatu. Bentuk (إِيلَافِ, iilaafi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua-duanya di surah ini, yaitu di ayat ini dan di 106:2. Padanan "kebiasaan" dipilih karena akarnya menunjuk sesuatu yang berulang sampai menjadi biasa dan mengikat, bukan sekadar perjalanan yang kebetulan berulang. Tambahan kurung "(dan jaminan keamanan)" tidak dipakai, sebab yang tertulis hanya kebiasaannya.
Kata keduanya (قُرَيْشٍ, quraysyin) adalah nama diri, dan inilah satu-satunya tempat nama itu disebut di seluruh Al-Qur'an. Penandaan korpus menyebutnya nama diri, bukan kata benda biasa, sehingga ia tidak punya akar yang bisa dilacak ke kata lain. Sebuah suku disebut namanya terang-terangan, sekali saja, di dalam kitab yang membahas banyak kaum tanpa menamai kebanyakan di antaranya.
Akar yang berarti terbiasa sampai menyatu itu sendiri hadir di 19 ayat dengan tiga wajah yang berbeda, dan perbandingannya menerangkan apa yang dimaksud di sini. Di 3:103 ia muncul sebagai (فَأَلَّفَ, fa-allafa), lalu Dia mempersatukan hati orang-orang yang tadinya bermusuhan. Di 8:63 ia muncul sebagai (وَأَلَّفَ, wa-allafa), dan di sana dinyatakan bahwa seandainya seluruh isi bumi diinfakkan pun, hati itu tidak akan dapat dipersatukan oleh manusia. Di 2:243 ia muncul sebagai (أُلُوفٌ, uluufun), bilangan ribuan. Jadi akar yang sama menyebut penyatuan, keterikatan, dan jumlah yang berkumpul. Kebiasaan yang disebut di ayat ini berdiri di keluarga makna itu: bukan sekadar berulang, melainkan terikat menjadi satu pola yang menyatu.
Kata depan (لِ, li) di kepala kata pertama menyatakan sebab atau tujuan, dan itulah yang membuat ayat ini tidak berdiri sendiri. Kalimatnya belum selesai di sini, dan baru tersambung di 106:3 yang memuat perintahnya. Susunan semacam itu menahan pembaca menunggu: dua ayat penuh dipakai untuk menyebut sebabnya, dan perintahnya baru datang sesudah itu. Padanan "karena" menahan hubungan sebab tersebut; menerjemahkannya sebagai "untuk" akan mengubahnya menjadi tujuan, dan tujuan menempatkan kebiasaan itu sebagai sesuatu yang hendak dicapai, bukan yang sudah ada.
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Perlu dicatat pula bahwa surah ini menyebut kebiasaan sehari-hari sebagai pembuka, bukan menyebut Allah lebih dahulu. Yang diletakkan di depan justru sesuatu yang sudah dikenal betul oleh yang disapa, dan pengenalan itu dipakai sebagai pintu masuk menuju perintah di 106:3.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan menyebut kebiasaan Quraisy sebagai landasan seruan berikutnya. Yang diletakkan di depan bukan perintah, bukan ancaman, dan bukan pernyataan tentang Allah, melainkan sesuatu yang sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari.
Cara membuka semacam itu menerangkan bagaimana surah ini bekerja. Ia tidak memperkenalkan sesuatu yang baru kepada pendengarnya, melainkan menunjuk apa yang sudah mereka miliki dan sudah mereka anggap wajar. Perjalanan dagang yang berulang tiap tahun tidak pernah terasa sebagai pemberian, sebab yang berulang berhenti terasa sebagai peristiwa. Surah ini mengambil hal yang paling tidak diperhatikan itu dan menjadikannya dasar seluruh seruannya.
Letaknya sesudah surah 105 juga patut diperhatikan. Surah sebelumnya menceritakan pasukan bergajah yang dihancurkan sebelum sampai, dan ayat ini langsung menyebut kebiasaan yang bisa berjalan aman. Dua surah itu berdampingan, dan yang satu menerangkan bagaimana yang lain mungkin terjadi. Keamanan berdagang yang disebut di sini bukan keadaan yang muncul dengan sendirinya, dan kitab ini meletakkan penjelasannya persis di halaman sebelumnya. Akar kata yang dipakai untuk kebiasaan itu sendiri juga dipakai di 3:103 dan 8:63 untuk penyatuan hati yang tidak sanggup diusahakan manusia, dan kesejajaran itu menempatkan kelancaran dagang mereka pada golongan hal yang sama, yaitu sesuatu yang menyatu bukan karena diatur oleh yang menikmatinya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kebiasaan mereka lebih dahulu, bukan perintahnya. Perjalanan dagang itu. Yang sehari-hari dijadikan pintu masuk. Sesuatu yang berulang tiap tahun berhenti terasa sebagai pemberian, sebab yang berulang berhenti terasa sebagai peristiwa. Surah ini justru mengambil hal yang paling tidak diperhatikan dan menjadikannya dasar seluruh seruannya, bukan mengambil sesuatu yang besar dan jarang terjadi. Yang jarang mudah diingat sebagai pemberian; yang tiap tahun berulang berubah menjadi latar yang tak lagi dilihat.
- Nama satu suku disebut terang-terangan. Quraisy. Surah ini menyapa mereka langsung. Dan nama itu cuma disebut sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini saja, padahal kitab ini membicarakan banyak kaum tanpa menamai kebanyakan di antaranya. Yang disapa dengan namanya sendiri tidak bisa menganggap kalimatnya ditujukan kepada orang lain. Nama menutup satu-satunya jalan keluar yang biasa dipakai orang ketika mendengar teguran, yaitu mengira yang dimaksud tetangganya.
- Kalimatnya belum selesai di ayat ini. Allah menyambungnya ke ayat berikutnya. Sebab disebut dahulu, perintahnya menyusul. Dua ayat penuh dipakai untuk menyebut sebabnya, dan perintahnya baru datang di ayat ketiga. Susunan itu menahan pembaca menunggu, dan yang ditunggu ternyata bukan tuntutan baru melainkan kesimpulan dari apa yang sudah ia terima. Perbandingan panjangnya sendiri menyatakan sesuatu: bagian tentang pemberian dua kali lebih panjang daripada bagian tentang perintah.
- Kata yang dipakai untuk kebiasaan mereka tidak muncul di luar surah ini sama sekali, dan di dalamnya pun cuma di ayat ini dan yang berikutnya. Akarnya menunjuk sesuatu yang berulang sampai menjadi biasa dan mengikat. Bukan kebetulan yang berulang, melainkan pola yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka, dan justru pola itu yang dipakai Allah sebagai alasan. Akar yang sama juga dipakai untuk penyatuan hati yang tak sanggup diusahakan manusia sekalipun seluruh isi bumi diinfakkan untuknya.
- Kata depan di kepala ayat ini menyatakan sebab, bukan tujuan. Perbedaan itu menentukan. Diterjemahkan karena, kebiasaan itu sesuatu yang sudah ada dan menjadi alasan. Diterjemahkan untuk, ia berubah menjadi sesuatu yang hendak dicapai, dan seluruh seruannya bergeser menjadi tawar-menawar. Apa yang berubah kalau seseorang menyembah supaya diberi, bukan karena sudah diberi? Yang pertama menunggu hasil dan bisa kecewa; yang kedua tidak menunggu apa-apa sebab bagiannya sudah diterima lebih dulu.
- Surah yang mendahului ini menceritakan pasukan bergajah yang dihancurkan sebelum sampai, dan ayat ini langsung menyebut kebiasaan yang bisa berjalan aman. Keduanya berdampingan, dan yang satu menerangkan bagaimana yang lain mungkin terjadi. Keamanan berdagang yang disebut di sini bukan keadaan yang muncul dengan sendirinya, dan Allah meletakkan penjelasannya persis di halaman sebelumnya. Dua surah yang berdampingan itu terbaca sebagai satu keterangan yang dipotong, bukan dua kisah yang kebetulan bertetangga.