إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

Kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِiilaafihim rihlata sy-syitaa'i wa-sh-shayfikebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِيلَافِهِمْiilaafihimkebiasaan mereka
  2. رِحْلَةَrihlataperjalanan
  3. الشِّتَاءِsy-syitaa'imusim dingin
  4. وَالصَّيْفِwa-sh-shayfidan musim panas

Inti bacaan

Detail konkret pola kemakmuran: 'kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas', rujukan pada praktik perdagangan musiman yang menjadi sumber kesejahteraan ekonomi, bukti nyata anugerah yang dinikmati.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini mengulang kata yang sama dari 106:1, kali ini dengan kata ganti yang menempel: (إِيلَافِهِمْ, iilaafihim), kebiasaan mereka. Pengulangan itu menegaskan sekaligus merinci, sebab yang menyusul berikutnya adalah keterangan tentang bentuk kebiasaan tersebut.

Kata (رِحْلَةَ, rihlata) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti bepergian. Ia dipakai di 4 ayat: di sini, lalu 12:62, 12:70, dan 12:75, dan ketiga sisanya seluruhnya berada di dalam kisah Yusuf, menyebut karung perbekalan yang dibawa dalam perjalanan dagang. Jadi akar ini memang melekat pada gambaran perjalanan yang membawa barang, bukan perjalanan mana pun. Padanan "bepergian" dipakai untuk menahan sifat perjalanan berbekal itu tanpa menambahkan kata dagang yang tidak tertulis.

Dua musim yang disebut sesudahnya sama-sama berdiri sendirian di seluruh kitab. Bentuk (الشِّتَاءِ, sy-syitaa'i) muncul sekali, dan bentuk (وَالصَّيْفِ, wa-sh-shayfi) juga sekali, keduanya di ayat ini. Akar keduanya pun masing-masing cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini juga. Jadi satu ayat pendek menyimpan dua kata yang tidak dipinjamkan kepada ayat mana pun, dan keduanya justru kata yang paling biasa dalam kehidupan sehari-hari, yaitu nama musim.

Empat kata di dalam surah sependek ini berdiri sendirian di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di ayat ini. Selain (رِحْلَةَ, rihlata), (الشِّتَاءِ, sy-syitaa'i), dan (وَالصَّيْفِ, wa-sh-shayfi) yang sudah disebut, nama (قُرَيْشٍ, quraysyin) di 106:1 juga cuma muncul sekali. Pola semacam itu berulang di surah-surah pendek lain: 108 menyimpan dua akar yang tak dipakai di mana pun, 112 juga dua, 113 juga dua. Yang khas di sini jumlahnya empat, dan seluruhnya kata yang paling sehari-hari, yaitu nama suku, nama dua musim, dan kata untuk bepergian.

Penyebutan dua musim yang berlawanan itu bekerja sebagai penggenap: yang disebut bukan dua perjalanan tertentu melainkan sepanjang tahun. Bahasa memakai dua ujung untuk menyatakan seluruh rentang di antaranya, dan susunan itu berarti kebiasaan yang dimaksud tidak pernah putus. Perlu dicatat pula bahwa yang disebut perjalanannya, bukan hasilnya. Tidak ada satu pun kata tentang keuntungan, kekayaan, atau barang yang dibawa pulang. Yang dijadikan alasan justru kelancaran perjalanannya, bukan besarnya perolehan. Bentuk (رِحْلَةَ, rihlata) sendiri berbentuk tunggal meski yang dimaksud dua perjalanan, sehingga yang disebut jenis perjalanannya, bukan hitungan berapa kali ia dilakukan. Perbedaan itu menjaga supaya yang dihitung bukan kejadiannya melainkan kebiasaannya.

Tafsiran

Ayat ini merinci kebiasaan tersebut: perjalanan dagang rutin dua musim. Penyebutan dua musim yang berlawanan bekerja sebagai penggenap, sehingga yang dimaksud bukan dua perjalanan tertentu melainkan sepanjang tahun tanpa putus.

Yang dipilih sebagai bukti karunia di sini patut diperhatikan, sebab ia bukan yang paling mengesankan. Kaum yang disapa punya kedudukan terhormat, punya Rumah yang dijaga, dan punya kekayaan. Yang disebut justru hal yang paling teknis dan paling membosankan dari semuanya: bahwa rombongan mereka bisa berangkat dan pulang dua kali setahun tanpa halangan. Sesuatu yang tidak pernah masuk daftar syukur siapa pun justru diangkat menjadi dasar seluruh seruan.

Perbandingan dengan 12:62, 12:70, dan 12:75 menerangkan sesuatu tentang gambarannya. Di ketiga ayat itu akar yang sama menyebut karung perbekalan dalam kisah Yusuf, yaitu ketika saudara-saudaranya datang dari negeri jauh mencari makanan pada masa paceklik. Perjalanan berbekal itu di sana lahir dari kekurangan; di sini ia berjalan dalam keamanan. Kata yang sama, dua keadaan yang berlawanan, dan 106:4 nanti menyebut keduanya sekaligus, yaitu lapar dan takut, sebagai dua hal yang justru dihilangkan. Yang di kisah itu menjadi sebab orang menempuh perjalanan, di sini sudah tidak ada lagi.

Renungan dan Hikmah

  • Kebiasaan itu dirinci Allah jadi dua musim. Dingin. Dan panas. Dua ujung yang berlawanan dipakai untuk menyatakan seluruh rentang di antaranya, sehingga yang dimaksud bukan dua perjalanan tertentu melainkan sepanjang tahun tanpa putus. Dan kedua nama musim itu masing-masing cuma muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, keduanya di ayat ini, padahal keduanya kata yang paling biasa dalam hidup sehari-hari. Allah memakai kata yang tak dipinjamkan ke mana pun untuk menyebut hal yang paling rutin, dan susunan itu sendiri sudah menyatakan sesuatu.
  • Yang disebut perjalanannya, bukan hasilnya. Bukan kekayaannya. Kebiasaannya. Tidak ada satu pun kata tentang keuntungan, barang bawaan, atau apa yang mereka peroleh. Yang dijadikan Allah sebagai alasan justru kelancaran berangkat dan pulangnya, bukan besarnya perolehan. Yang dihitung bukan apa yang terkumpul, melainkan bahwa perjalanannya tidak pernah terputus. Harta bisa habis dan bisa bertambah, sedangkan kelancaran adalah keadaan yang tak bisa disimpan sebagai milik.
  • Kesimpulannya baru Allah sebutkan di ayat sesudahnya. Kebiasaannya dulu. Maka menyembahlah. Dua ayat dipakai untuk menyebut apa yang sudah diterima, dan satu ayat untuk perintahnya. Perbandingan itu sendiri sudah menyatakan sesuatu: bagian yang lebih panjang justru bagian tentang pemberian, bukan bagian tentang tuntutan. Yang lebih banyak diucapkan biasanya yang lebih ingin ditanamkan, dan di surah ini yang ditanamkan lebih dulu adalah apa yang sudah diterima.
  • Kaum yang disapa punya kedudukan terhormat, Rumah yang dijaga, dan kekayaan. Yang disebut Allah justru hal paling teknis dari semuanya: bahwa rombongan mereka bisa berangkat dan pulang dua kali setahun tanpa halangan. Sesuatu yang tidak pernah masuk daftar syukur siapa pun diangkat menjadi dasar seluruh seruan. Apa yang paling sering berjalan lancar dalam hidup seseorang, dan kapan terakhir ia menghitungnya? Daftar syukur biasanya berisi hal-hal yang jarang, dan hal yang tiap hari berhasil hampir tak pernah masuk ke dalamnya.
  • Akar kata untuk perjalanan di ayat ini cuma dipakai di empat ayat, dan tiga sisanya seluruhnya berada di kisah Yusuf, menyebut karung perbekalan ketika saudara-saudaranya datang dari negeri jauh mencari makanan pada masa paceklik. Perjalanan berbekal di sana lahir dari kekurangan; di sini ia berjalan dalam keamanan. Kata yang sama, dua keadaan yang berlawanan. Allah memakai satu akar untuk perjalanan yang lahir dari lapar dan untuk perjalanan yang berjalan dalam kenyang, dan ayat penutup surah ini menyebut lapar itu secara terang.
  • Yang dinyatakan bukan bahwa mereka pernah berdagang dengan lancar, melainkan bahwa kelancaran itu berlangsung terus di kedua musim, tahun demi tahun. Sesuatu yang tak pernah putus paling mudah dianggap sebagai keadaan alamiah, bukan sebagai pemberian. Justru ketetapannya yang membuatnya tak terlihat, dan surah ini menyebutnya terang supaya ketetapan itu berhenti menyamarkan asalnya.