فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Rumah ini,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِfa-l-ya'buduu rabba haadzaa l-baytimaka hendaklah mereka menyembah Tuhan Rumah ini
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَلْيَعْبُدُواfa-l-ya'buduumaka hendaklah mereka mengabdi
- رَبَّrabbaTuhan
- هَٰذَاhaadzaaini
- الْبَيْتِl-baytiRumah
Inti bacaan
Respons yang seharusnya diberikan atas anugerah tersebut: 'maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) Rumah ini', tuntutan logis bahwa kemakmuran yang dinikmati seharusnya direspons dengan ibadah kepada sumber sesungguhnya dari keberkahan tersebut.
Penjelasan pilihan kata
"Haadzaa" (dekat) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan "ini", dan bentuknya memang menunjuk sesuatu yang berada di dekat pembicara. Tambahan kurung "(pemilik)" tidak dipakai, sebab penyandaran dalam Arab sudah menyatakan hubungan kepemilikan itu tanpa perlu satu kata tambahan pun.
Ayat ini memuat perintah yang ditunggu sejak 106:1, dan bentuknya khas. Kata kerja (فَلْيَعْبُدُوا, fa-l-ya'buduu) memakai huruf perintah yang ditujukan kepada orang ketiga, bukan orang kedua. Jadi yang tertulis bukan "sembahlah kalian" melainkan "hendaklah mereka menyembah". Padanan "hendaklah mereka menyembah" menahan bentuk itu. Perbedaannya terasa: perintah kepada orang ketiga terdengar seperti keputusan yang diumumkan, bukan seperti seruan yang diteriakkan kepada wajah orangnya.
Huruf (فَ, fa) di kepala ayat menyambungkan perintah ini dengan dua ayat sebelumnya sebagai akibat. Karena itu seluruh surah terbaca sebagai satu kalimat: karena kebiasaan mereka, karena perjalanan dua musim itu, maka hendaklah mereka menyembah. Tanpa huruf itu, perintahnya akan berdiri sendiri dan kehilangan alasannya, padahal alasannya justru menempati separuh surah, yaitu dua ayat dari empat.
Kata kerja (فَلْيَعْبُدُوا, fa-l-ya'buduu) berasal dari akar yang berarti mengabdi, dan korpus ini menerjemahkannya "menyembah" secara tetap di seluruh pemakaiannya. Bentuk yang dipakai di sini berbentuk jamak orang ketiga, sejalan dengan (قُرَيْشٍ, quraysyin) di 106:1 yang juga ditandai jamak oleh korpus meski berupa nama satu suku. Jadi yang diperintah bukan seorang tokoh melainkan seluruh anggotanya, dan perintahnya tidak bisa diselesaikan oleh perwakilan.
Yang disebut sebagai sasaran penyembahan adalah (رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ, rabba haadzaa l-bayti), Tuhan Rumah ini. Kata (الْبَيْتِ, l-bayti) berasal dari akar yang berarti rumah dan bermalam. Akar itu hadir di 54 ayat, dan bentuk bertakrif di sini menunjuk bangunan yang sudah dikenal oleh yang disapa. Penyandaran itu penting: yang disebut bukan Tuhan Quraisy, melainkan Tuhan Rumah yang mereka jaga. Kaum yang kedudukannya bersandar pada penjagaan Rumah itu diberi tahu bahwa Rumahnya punya Tuhan, dan Tuhan itulah yang harus disembah, bukan kedudukan yang mereka peroleh karenanya. Akar yang berarti rumah dan bermalam itu sendiri hadir di 54 ayat dan di kebanyakan tempat menyebut rumah tempat tinggal biasa, sehingga yang membedakan di sini bukan katanya melainkan kata sandang dan kata tunjuk yang menyertainya. Keduanya bersama-sama menunjuk satu bangunan tertentu yang sudah dikenal oleh yang disapa, tanpa perlu menyebut namanya sama sekali.
Tafsiran
Ayat ini menyerukan penyembahan kepada Tuhan pemilik Rumah tersebut sebagai balasan atas kebiasaan aman berdagang mereka. Perintahnya baru datang di ayat ketiga dari empat, sesudah dua ayat penuh menyebut apa yang sudah mereka terima.
Susunan sebab-akibat itu menempatkan penyembahan pada kedudukan tertentu. Ia bukan syarat untuk memperoleh keamanan, sebab keamanannya sudah disebut lebih dulu sebagai sesuatu yang berjalan. Ia juga bukan pembayaran, sebab tidak ada takaran yang disebutkan. Yang ada hanyalah hubungan: karena begini, maka begitu. Bandingkan dengan 108:1 dan 108:2 yang memakai susunan yang sama, yaitu pemberian disebut lebih dulu lalu perintah menyusul dengan huruf penyambung yang serupa.
Pilihan sasaran penyembahan juga menutup satu jalan yang mudah diambil. Kaum yang disapa memperoleh kedudukan justru karena menjaga Rumah itu, dan kedudukan semacam itu gampang berubah menjadi kebanggaan atas dirinya sendiri. Ayat ini menyebut Tuhan Rumah, bukan Tuhan mereka, sehingga Rumah yang menjadi sumber kehormatan mereka dikembalikan kepada pemiliknya. Yang mereka pegang ternyata milik pihak lain, dan kehormatan yang lahir dari memegangnya bukan kehormatan atas apa yang mereka miliki.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyambungkan kemakmuran dengan penyembahan. Karena kalian aman berdagang. Maka sembahlah. Huruf penyambung di kepala ayat ini menyatakan akibat, sehingga seluruh surah terbaca sebagai satu kalimat yang alasannya menempati separuh bagian. Tanpa huruf itu, perintahnya akan berdiri sendiri dan kehilangan seluruh dasarnya, padahal dasarnya justru yang disebut paling panjang, yaitu dua ayat dari empat. Perbandingan panjang itu sendiri menyatakan mana yang lebih ingin ditanamkan.
- Yang disebut Tuhan Rumah, bukan Tuhan Quraisy. Rumahnya milik-Nya. Mereka cuma penjaganya. Kaum yang memperoleh kedudukan justru karena menjaga Rumah itu diberi tahu bahwa Rumahnya punya pemilik, dan pemiliknya yang harus disembah. Kehormatan yang lahir dari memegang sesuatu ternyata bukan kehormatan atas apa yang dimiliki sendiri. Penjaga tetap penjaga, betapa pun lama ia menjaga dan betapa pun besar penghormatan yang ia terima karenanya.
- Perintahnya baru datang di ayat ketiga. Allah menyebut sebabnya lebih dahulu. Alasan mendahului kewajiban. Penyembahan yang diminta karena itu bukan syarat untuk memperoleh keamanan, sebab keamanannya sudah disebut lebih dulu sebagai sesuatu yang sedang berjalan. Ia juga bukan pembayaran, sebab tidak ada takaran yang disebutkan di mana pun dalam surah ini. Yang tidak bertakaran tidak bisa dilunasi, dan yang tidak bisa dilunasi tidak menempatkan orangnya sebagai pihak yang berutang lalu selesai membayar.
- Bentuk perintahnya ditujukan kepada orang ketiga, bukan orang kedua. Yang tertulis bukan sembahlah kalian, melainkan hendaklah mereka menyembah. Perintah semacam itu terdengar seperti keputusan yang diumumkan, bukan seruan yang diteriakkan ke wajah orangnya. Yang mendengarnya diberi jarak untuk menimbang, bukan didesak untuk menjawab saat itu juga. Bentuknya juga jamak, sehingga yang diperintah seluruh anggotanya, dan perintahnya tidak bisa diselesaikan oleh perwakilan.
- Kata untuk Rumah di ayat ini bertakrif dan didahului kata tunjuk yang menyatakan kedekatan, jadi yang dimaksud bangunan yang sudah dikenal betul oleh yang disapa dan berada di dekat mereka. Tidak perlu diterangkan yang mana. Yang paling dekat dan paling dikenal itulah yang dipakai sebagai penunjuk arah, sebagaimana kebiasaan sehari-hari dipakai sebagai alasan di dua ayat sebelumnya. Allah memakai yang paling dekat dan paling dikenal, bukan yang paling megah, baik untuk alasannya maupun untuk arahnya.
- Penyandaran dalam ayat ini memindahkan kepemilikan tanpa satu pun kata bantahan. Rumah itu tidak dikatakan bukan milik mereka; ia hanya disebut sebagai Rumah yang bertuhan. Cara semacam itu tidak menyerang kedudukan siapa pun, tetapi juga tidak menyisakan ruang untuk mengaku. Apa yang tersisa dari kebanggaan seseorang ketika yang dibanggakannya ternyata dititipkan? Cara semacam itu tidak menyerang siapa pun, tetapi juga tidak menyisakan satu celah pun untuk mengaku.