الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Yang memberi mereka makan dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍalladzii ath'amahum min juu'in wa-aamanahum min khawfinyang memberi mereka makan dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan
Terjemahan per kata (7 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- أَطْعَمَهُمْath'amahummemberi mereka makan
- مِنْmindari
- جُوعٍjuu'inkelaparan
- وَآمَنَهُمْwa-aamanahumdan Dia mengamankan mereka
- مِنْmindari
- خَوْفٍkhawfinketakutan
Inti bacaan
Dua nikmat fundamental yang menjadi dasar argumen: 'yang memberi mereka makan dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan', identifikasi dua kebutuhan paling mendasar (pangan dan keamanan) yang telah dipenuhi, argumen kuat bagi kewajiban bersyukur melalui ibadah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat penutup ini menerangkan Tuhan yang disebut di 106:3 dengan dua perbuatan yang berpasangan: (أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ, ath'amahum min juu'in), memberi mereka makan dari kelaparan, dan (وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ, wa-aamanahum min khawfin), mengamankan mereka dari ketakutan. Kedua kata kerjanya berbentuk keempat, yaitu bentuk yang menyatakan menjadikan sesuatu terjadi pada pihak lain.
Kata depan (مِنْ, min) pada keduanya menandai asal, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar diberi makan dan diberi rasa aman, melainkan dikeluarkan dari keadaan lapar dan dari keadaan takut. Susunan itu mengandaikan keadaan sebelumnya. Yang dinyatakan bukan bahwa mereka tidak pernah kekurangan, melainkan bahwa mereka dikeluarkan dari kekurangan itu, dan pengeluaran tersebut yang menjadi karunianya.
Pasangan kedua kata benda itu muncul lagi di dua tempat lain dengan kedudukan yang sama sekali berbeda, dan perbandingannya menerangkan banyak. Di 2:155 tertulis (الْخَوْفِ وَالْجُوعِ, l-khawfi wa-l-juu'i), ketakutan dan kelaparan, dan di sana keduanya disebut sebagai ujian yang sengaja ditimpakan. Di 16:112 tertulis (الْجُوعِ وَالْخَوْفِ, l-juu'i wa-l-khawfi), dan di sana keduanya menjadi akibat yang menimpa sebuah negeri yang tadinya aman dan berkecukupan lalu kufur terhadap nikmat. Jadi dua hal yang sama bisa berkedudukan sebagai karunia yang dihilangkan, sebagai ujian yang diberikan, atau sebagai akibat yang ditimpakan.
Kedua kata kerjanya juga perlu dibandingkan satu sama lain. Yang pertama, (أَطْعَمَهُمْ, ath'amahum), berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu hadir di 41 ayat dan menyebut pemberian makan. Yang kedua, (وَآمَنَهُمْ, wa-aamanahum), berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu hadir di 723 ayat, yaitu akar yang juga melahirkan kata untuk iman dan untuk keamanan sekaligus. Jadi rasa aman yang disebut di sini berdiri di keluarga kata yang sama dengan keimanan yang diminta di 106:3, dan kesejajaran itu menyambungkan perintah dengan karunianya lewat bunyi katanya sendiri.
Akar kata (جُوعٍ, juu'in), yaitu akar yang berarti lapar, dipakai di 5 ayat saja: di sini, 2:155, 16:112, 20:118, dan 88:7. Bentuk tak bertakrifnya di ayat ini juga perlu diperhatikan: yang disebut bukan kelaparan tertentu yang pernah mereka alami, melainkan kelaparan sebagai keadaan. Hal yang sama berlaku pada kata untuk ketakutan. Keduanya dibiarkan tanpa batas, sehingga yang dihilangkan bukan satu peristiwa melainkan seluruh kemungkinan keadaan itu. Sesuatu yang tidak diberi batas juga tidak bisa dihitung oleh yang menerimanya, dan yang tidak terhitung paling sulit disyukuri.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan dua anugerah utama Tuhan bagi Quraisy: kecukupan pangan dan rasa aman. Keduanya disebut bukan sebagai keadaan yang mereka miliki, melainkan sebagai keadaan yang mereka dikeluarkan darinya.
Perbandingan dengan 16:112 membuat ayat ini terbaca sebagai peringatan sekaligus pemberitahuan. Di sana digambarkan sebuah negeri yang aman dan rezekinya berlimpah dari segala arah, lalu ia kufur terhadap nikmat Allah, dan Allah menimpakan kepadanya pakaian kelaparan dan ketakutan. Dua hal yang persis sama dengan yang disebut di sini, dalam urutan yang sama, tetapi berbalik arah. Surah ini menyebut apa yang sudah dihilangkan dari mereka; ayat itu menyebut apa yang bisa dikembalikan kepada siapa pun yang kufur terhadapnya.
Letaknya sebagai penutup juga menerangkan bentuk seluruh surah. Ia dimulai dari kebiasaan yang paling biasa, lalu naik ke perintah menyembah, lalu berhenti pada dua hal yang paling dasar dalam hidup manusia mana pun, yaitu makan dan rasa aman. Tidak ada janji tentang surga, tidak ada ancaman tentang siksa, dan tidak ada penyebutan hari akhir. Seluruh alasannya diambil dari hal-hal yang bisa diperiksa sendiri oleh yang disapa, di dalam hidupnya yang sekarang, dan itu yang membuat surah pendek ini tidak memerlukan satu pun pembuktian dari luar dirinya.
Renungan dan Hikmah
- Surah pendek ini menautkan kebiasaan duniawi (perjalanan dagang aman) dengan kewajiban spiritual (penyembahan), keamanan dan kecukupan yang dinikmati sehari-hari berasal dari Tuhan yang sama yang seharusnya disembah. Seluruh alasannya diambil dari hal yang bisa diperiksa sendiri oleh yang disapa, di dalam hidupnya yang sekarang, tanpa satu pun janji tentang surga atau ancaman tentang siksa. Seluruh alasan yang dipakai Allah di surah ini berupa hal yang sudah terjadi, bukan yang dijanjikan akan terjadi.
- Kata depan pada kedua perbuatan itu menandai asal, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar diberi makan dan diberi rasa aman, melainkan dikeluarkan dari keadaan lapar dan dari keadaan takut. Susunan itu mengandaikan ada keadaan sebelumnya. Yang menjadi karunia bukan kepemilikan atas sesuatu, melainkan jarak yang sudah dibuat Allah antara mereka dan keadaan yang tidak mereka inginkan. Yang menikmati jarak itu jarang menyadarinya, sebab yang tidak terjadi tidak meninggalkan kenangan apa pun.
- Pasangan lapar dan takut muncul juga di dua tempat lain dengan kedudukan yang berbeda sama sekali. Di satu tempat keduanya ujian yang sengaja ditimpakan, di tempat lain keduanya akibat yang menimpa negeri yang tadinya aman lalu kufur terhadap nikmat. Dua hal yang sama bisa berkedudukan sebagai karunia yang dihilangkan atau sebagai akibat yang dikembalikan, dan yang menentukan bukan keadaannya melainkan tanggapan atasnya. Di satu ayat digambarkan negeri yang tadinya aman dan berlimpah lalu kufur, dan kepadanya ditimpakan persis dua hal yang di sini justru dihilangkan.
- Surah ini dimulai dari kebiasaan berdagang, naik ke perintah menyembah, lalu berhenti pada dua hal paling dasar dalam hidup manusia mana pun: makan dan rasa aman. Yang paling dasar justru disimpan untuk penutup. Sesuatu yang selalu ada memang paling sulit dilihat, dan Allah meletakkannya di ujung supaya ia menjadi hal terakhir yang tertinggal di ingatan pembacanya. Yang selalu ada memang paling sulit dilihat, dan penutup adalah tempat yang paling lama tersimpan.
- Kedua kata untuk lapar dan takut dibiarkan tanpa kata sandang, sehingga yang disebut bukan satu peristiwa kelaparan atau satu ketakutan tertentu yang pernah dialami. Yang dihilangkan seluruh kemungkinan keadaan itu, bukan satu kejadian yang bisa dihitung. Apa yang tidak pernah terjadi pada seseorang, dan bagaimana ia bisa menghitung sesuatu yang tidak pernah ia alami? Yang tidak terjadi tidak punya tanggal, tidak punya cerita, dan tidak pernah masuk ke dalam ingatan siapa pun sebagai peristiwa.
- Tidak ada penyebutan surga, siksa, atau hari akhir di seluruh surah ini. Setiap alasan yang dipakai Allah berupa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh yang disapa di dalam hidupnya yang sedang berjalan: perjalanan yang lancar, perut yang tidak lapar, malam yang tidak menakutkan. Seruan yang dasarnya bisa diperiksa sendiri tidak memerlukan satu pun pembuktian dari luar. Allah memakai bukti yang tersedia di meja makan dan di jalan pulang, bukan bukti yang harus dicari ke tempat lain.