بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
Tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِa-ra'ayta lladzii yukadzdzibu bi-d-diinitahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
- الَّذِيlladziiyang
- يُكَذِّبُyukadzdzibumendustakan
- بِالدِّينِbi-d-diinipada hari Pertanggungjawaban
Inti bacaan
Pembukaan Al-Ma'un dengan pertanyaan tentang karakter tertentu: 'tahukah engkau (orang) yang mendustakan pertanggungjawaban?', pengenalan profil yang akan dijelaskan lebih lanjut melalui manifestasi perilaku konkret.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Tambahan kurung "(orang)" tidak dipakai, sebab (الَّذِي, alladzii) sudah menunjuk orangnya dengan sendirinya dan menyisipkan kata benda ke dalamnya akan menambah sesuatu yang tidak ada di Arabnya.
Kata pembukanya (أَرَأَيْتَ, a-ra-ayta) dipakai 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan ayat ini. Bentuknya pertanyaan yang tidak menunggu jawaban dari yang ditanya, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia mendahului sesuatu yang hendak diperlihatkan, bukan sesuatu yang hendak ditanyakan. Padanan "tahukah engkau" menahan sisi menyapa langsungnya tanpa menjanjikan bahwa jawabannya akan datang dari pendengarnya.
Akar (أَرَأَيْتَ, a-ra-ayta) berarti melihat dan menimbang, salah satu akar yang paling banyak dipakai di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 297 ayat, dan artinya melihat. Akar yang sama muncul lagi di 107:6 sebagai (يُرَاءُونَ, yuraa-uuna). Jadi surah ini dibuka dengan melihat dan hampir ditutup dengan memperlihatkan diri, dan kedua kata itu berasal dari akar yang satu. Tidak ada satu pun kalimat di dalam surahnya yang menunjuk kesejajaran itu.
Rangkaian (يُكَذِّبُ بِالدِّينِ, yukadzdzibu bi-d-diini) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata kerjanya berbentuk sekarang, bukan lampau, sehingga yang disebut bukan orang yang sekali mendustakan melainkan orang yang terus-menerus begitu. Akar kata kerjanya berarti berdusta. Ia dipakai di 257 ayat, dan hampir seluruhnya untuk mendustakan tanda, rasul, atau hari akhir.
Kata (بِالدِّينِ, bi-d-diini) memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti tunduk dan pembalasan. Ia dipakai di 87 ayat, antara lain di 1:4, 109:6, dan 110:2. Di 1:4 tertulis (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, maaliki yawmi d-diini), Pemilik Hari Pertanggungjawaban, sedangkan di 109:6 dan 110:2 kata yang sama berarti agama. Padanan "pertanggungjawaban" di sini mengikuti makna yang pertama, dan pilihan itu menentukan: yang didustakan bukan seperangkat keyakinan melainkan bahwa akan ada hari perhitungan.
Yang paling perlu diperhatikan dari pembuka ini adalah bahwa (أَرَأَيْتَ, a-ra-ayta) berbentuk pertanyaan, bukan pernyataan. Sebuah surah yang hendak menerangkan siapa pendusta pertanggungjawaban bisa saja langsung menyebutkan cirinya, dan surah ini justru bertanya lebih dulu. Pertanyaan menaruh pendengarnya pada kedudukan yang berbeda dari pernyataan: yang diberi tahu boleh diam, sedangkan yang ditanya harus menoleh. Menoleh adalah gerakan yang tidak bisa setengah dikerjakan.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan pertanyaan retoris tentang orang yang mendustakan pertanggungjawaban, dan yang menarik bukan pertanyaannya melainkan jawabannya. Enam ayat berikutnya tidak menyebut satu pun keyakinan yang keliru. Yang disebut seluruhnya perbuatan, dan seluruhnya perbuatan terhadap orang lain.
Kata yang diterjemahkan pertanggungjawaban memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an. Di 1:4 ia berarti hari perhitungan, sedangkan di 109:6 dan 110:2 kata yang sama berarti agama. Pilihan padanan di sini menentukan cara membaca seluruh surahnya: yang didustakan bukan seperangkat keyakinan melainkan bahwa akan ada hari ketika perbuatan dihitung. Dan yang membuktikan pendustaan itu, menurut ayat-ayat berikutnya, bukan ucapannya melainkan bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa membalasnya.
Akar kata pembukanya juga patut dicatat, sebab akar yang sama muncul lagi di 107:6. Surah ini dibuka dengan melihat dan hampir ditutup dengan memperlihatkan diri. Yang ditanya di ayat ini diminta melihat; yang dicela di ayat keenam sibuk membuat dirinya dilihat. Kesejajaran itu tidak ditunjuk oleh satu pun kalimat di dalam surahnya.
Bentuk pertanyaannya sendiri mengerjakan sesuatu. Sebuah surah yang hendak menerangkan siapa pendusta pertanggungjawaban bisa langsung menyebutkan cirinya, dan surah ini bertanya lebih dulu. Pertanyaan menaruh pendengarnya pada kedudukan yang berbeda dari pernyataan, sebab yang diberi tahu boleh diam sedangkan yang ditanya harus menoleh.
Renungan dan Hikmah
- Allah membuka surah ini dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Kata pembukanya dipakai 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:40, 6:47, 17:62, 18:63, 25:43, 96:9, 96:11, 96:13, dan ayat ini, dan di hampir seluruh pemakaiannya ia mendahului sesuatu yang hendak diperlihatkan. Sebuah surah yang hendak menerangkan siapa pendusta bisa langsung menyebutkan cirinya. Pertanyaan menaruh pendengarnya pada kedudukan yang berbeda: yang diberi tahu boleh diam, yang ditanya harus menoleh.
- Pertanyaan di ayat ini menanyakan siapa yang mendustakan pertanggungjawaban, dan enam ayat berikutnya tidak menyebut satu pun keyakinan yang keliru. Yang disebut Allah seluruhnya perbuatan, dan seluruhnya perbuatan terhadap orang lain. Pendustaan yang biasanya dibayangkan orang sebagai perkara di dalam kepala ternyata dibuktikan lewat bagaimana seseorang memperlakukan yang tidak bisa membalasnya. Apa yang sebenarnya sedang diuji ketika tidak ada yang menuntut?
- Kata yang diterjemahkan pertanggungjawaban memikul dua makna yang dipakai bergantian di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 87 ayat. Di 1:4 ia berarti hari perhitungan, sedangkan di 109:6 dan 110:2 kata yang sama berarti agama. Padanan di sini mengikuti makna yang pertama, dan pilihan itu menentukan seluruh pembacaan surahnya. Yang didustakan bukan seperangkat keyakinan, melainkan bahwa akan ada hari ketika perbuatan dihitung oleh Allah.
- Akar kata pembuka surah ini adalah akar yang sama dengan kata yang dipakai di 107:6, dan akar itu dipakai di 297 ayat dengan arti melihat. Jadi surah ini dibuka dengan melihat dan hampir ditutup dengan memperlihatkan diri. Yang ditanya di ayat ini diminta melihat; yang dicela di ayat keenam sibuk membuat dirinya dilihat. Allah tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu pun kalimat, dan tidak ditunjuknya membuat pembacanya sendiri yang harus menemukannya.
- Kata kerjanya berbentuk sekarang, bukan lampau, sehingga yang disebut Allah bukan orang yang sekali mendustakan melainkan orang yang terus-menerus begitu. Akar kata kerja itu dipakai di 257 ayat, dan hampir seluruhnya untuk mendustakan tanda, utusan, atau hari akhir. Bentuk yang menyatakan kelanjutan itu sejalan dengan seluruh surah, sebab ciri-ciri di ayat-ayat berikutnya juga bukan kejadian tunggal melainkan kebiasaan yang berjalan terus.
- Rangkaian dua kata yang menyebut pendustaan itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Mendustakan disebut di ratusan ayat dan pertanggungjawaban disebut di puluhan ayat, tetapi keduanya dirangkai persis begini cuma sekali. Allah memakai rangkaian yang tidak punya pembanding untuk membuka surah yang isinya justru perkara paling sehari-hari, yaitu anak yatim, orang miskin, dan barang pinjaman. Membuka surah dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan, menaruh pembacanya sebagai pihak yang diajak melihat. Yang diajak melihat tidak sedang dituduh, dan karena itu ia tidak segera memasang pertahanan. Ketika ciri-cirinya kemudian disebutkan satu per satu, pertahanan itu sudah telanjur diturunkan.