Ayat 107:2
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَfa-dzaalika lladzii yadu'u l-yatiimamaka itulah orang yang menghardik anak yatim
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَذَٰلِكَfa-dzaalikamaka itulah
- الَّذِيlladziiyang
- يَدُعُّyadu'umenghardik
- الْيَتِيمَl-yatiimaanak yatim
Inti bacaan
Bukti perilaku pertama dari pendustaan tersebut: 'maka itulah orang yang menghardik anak yatim', identifikasi tindakan nyata yang mengungkap ketidakpedulian terhadap akuntabilitas, penolakan keyakinan yang termanifestasi dalam kekejaman terhadap yang rentan.
Penjelasan pilihan kata
Kata tunjuk di awal ayat, (فَذَٰلِكَ, fa-dzaalika), memuat dzaalika yang menunjuk jauh, dan hal itu dikonfirmasi morfologi. Karena itu ia diterjemahkan "itulah" dan bukan "inilah"; draf yang sudah memakai bentuk jauh sejak awal memang tepat, dan tidak diubah. Kata tunjuk jauh menaruh jarak antara yang berbicara dan yang ditunjuk, dan jarak itu sendiri sudah menyatakan sesuatu. Yang ditunjuk tidak sedang berdiri dekat; ia sedang diperlihatkan dari kejauhan kepada orang yang tadi ditanya.
Kata kerja (يَدُعُّ, yadu''u) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mendorong dengan kasar. Ia dipakai di 2 ayat saja, yaitu 52:13 dan 107:2. Yang di 52:13 berbunyi (يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا, yuda''uuna ilaa naari jahannama da''an), pada hari mereka dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya. Bentuknya di sana pasif dan diperkuat dengan pengulangan akarnya sendiri.
Jadi akar yang berarti mendorong dengan kasar yang cuma dipakai di 2 ayat memikul satu perbuatan sekaligus balasannya. Di ayat ini orangnya yang mendorong; di 52:13 bentuk yang dipakai (يُدَعُّونَ, yuda''uuna) berbentuk pasif, sehingga orangnya yang didorong. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan keduanya berada di surah yang berbeda dan jauh letaknya. Yang bisa dicatat cuma bahwa dua-duanya memakai akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Kata (الْيَتِيمَ, al-yatiima) dalam bentuk ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Di 89:17 tertulis (لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ, laa tukrimuuna l-yatiima), kalian tidak memuliakan anak yatim. Di 93:9 tertulis (فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ, fa-ammaa l-yatiima fa-laa taqhar), terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Jadi ketiga kemunculan bentuk ini seluruhnya tentang bagaimana anak yatim diperlakukan, tidak satu pun tentang hal lain. Akarnya berarti sendirian tanpa ayah. Ia dipakai di 22 ayat.
Yang dipilih sebagai bukti pertama juga perlu dicatat. Anak yatim adalah orang yang tidak punya siapa pun di belakangnya untuk menuntut. Menghardiknya tidak menimbulkan akibat apa pun bagi yang menghardik, dan justru karena itu perlakuan terhadapnya menjadi ukuran yang jujur. Yang dikerjakan seseorang ketika tidak ada yang bisa membalasnya menerangkan lebih banyak tentang dirinya daripada yang dikerjakannya ketika ada yang mengawasi.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang dikatakan orang itu kepada anak yatim, tidak disebut mengapa ia menghardiknya, dan tidak disebut apakah ada orang lain yang melihatnya. Ketiadaan keterangan itu menyisakan perbuatannya saja, telanjang, tanpa alasan yang bisa dipakai untuk meringankannya. Sebuah perbuatan yang diceritakan lengkap dengan sebabnya selalu menyediakan sedikit ruang untuk dimaklumi, dan yang diceritakan tanpa sebab tidak menyediakan ruang itu sama sekali.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan sebelumnya: dia adalah orang yang menghardik anak yatim. Yang paling patut diperhatikan adalah bahwa jawaban atas pertanyaan tentang pendustaan pertanggungjawaban ternyata berupa sebuah perbuatan, bukan sebuah pendapat. Tidak disebut apa yang dikatakannya dan tidak disebut apa yang diyakininya. Yang disebut apa yang dikerjakan tangannya.
Kata kerja yang dipakai berasal dari akar yang cuma muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang satunya di 52:13, dan di sana bentuknya pasif: mereka yang dicampakkan ke api dengan sekuat-kuatnya. Jadi akar yang sama memikul perbuatan di sini dan balasannya di sana. Yang mendorong di dunia digambarkan didorong kelak, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun.
Pilihan anak yatim sebagai bukti pertama juga menerangkan. Ia adalah orang yang tidak punya siapa pun di belakangnya untuk menuntut. Menghardiknya tidak menimbulkan akibat apa pun bagi yang menghardik, dan justru karena itu perlakuan terhadapnya menjadi ukuran yang jujur. Bentuk kata yang dipakai untuknya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, di 89:17, 93:9, dan ayat ini, dan ketiganya tentang bagaimana ia diperlakukan.
Kata tunjuk di awal ayat adalah kata tunjuk jauh. Yang ditunjuk tidak berdiri dekat; ia diperlihatkan dari kejauhan kepada orang yang tadi ditanya. Jarak itu membuat pendengarnya melihat sosok itu dari luar, dan melihat dari luar adalah kedudukan yang paling mudah untuk merasa aman. Enam ayat berikutnya menutup rasa aman itu satu per satu.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan di ayat sebelumnya tentang pendustaan pertanggungjawaban, dan jawabannya di sini berupa sebuah perbuatan, bukan sebuah pendapat. Allah tidak menyebut apa yang dikatakannya dan tidak menyebut apa yang diyakininya. Yang disebut apa yang dikerjakan tangannya. Sesuatu yang biasanya dibayangkan orang sebagai perkara di dalam dada ternyata diperiksa lewat pintu yang paling terlihat, yaitu perlakuan terhadap orang lain. Apa gunanya membenarkan sesuatu di dalam kepala kalau tangan mengerjakan kebalikannya?
- Kata kerja yang dipakai Allah muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 52:13 dan 107:2. Di 52:13 bentuknya pasif dan diperkuat: mereka dicampakkan ke api dengan sekuat-kuatnya. Jadi satu akar memikul perbuatan di sini dan balasannya di sana. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan keduanya berada di surah yang berjauhan letaknya. Yang menyambungkan keduanya cuma satu akar yang tidak dipakai di tempat lain.
- Yang dipilih Allah sebagai bukti pertama adalah anak yatim, yaitu orang yang tidak punya siapa pun di belakangnya untuk menuntut. Menghardiknya tidak menimbulkan akibat apa pun bagi yang menghardik. Justru karena itu perlakuan terhadapnya menjadi ukuran yang jujur. Yang dikerjakan seseorang ketika tidak ada yang bisa membalasnya menerangkan lebih banyak tentang dirinya daripada yang dikerjakannya ketika ada yang mengawasi.
- Bentuk kata yang dipakai untuk anak yatim di ayat ini muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Di 89:17 Allah menyebut kalian tidak memuliakan anak yatim, dan di 93:9 Dia melarang berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Jadi ketiga kemunculan bentuk ini seluruhnya tentang bagaimana ia diperlakukan, tidak satu pun tentang hal lain. Kata itu seakan tidak pernah muncul tanpa membawa pertanyaan tentang perlakuan.
- Kata tunjuk di awal ayat adalah kata tunjuk jauh, dan morfologi mengonfirmasinya. Yang ditunjuk tidak berdiri dekat; ia diperlihatkan dari kejauhan kepada orang yang tadi ditanya. Jarak itu membuat pendengarnya melihat sosok itu dari luar, dan melihat dari luar adalah kedudukan yang paling mudah untuk merasa aman. Lima ayat berikutnya menutup rasa aman itu satu per satu, sampai yang dibicarakan berubah menjadi orang yang bersalat.
- Menghardik tidak memerlukan biaya, tidak memerlukan tenaga, dan tidak meninggalkan bekas yang bisa dituntut. Ia perbuatan yang paling murah yang bisa dikerjakan seseorang terhadap yang lebih lemah darinya. Allah memilih justru yang semurah itu sebagai bukti pertama, dan pilihan itu menyingkirkan pembacaan bahwa yang diperiksa cuma kejahatan besar. Yang murah dan tak berbekas ternyata cukup untuk menerangkan apa yang sesungguhnya dipercayai seseorang. Yang paling murah pun sudah cukup untuk membuka isi dadanya.
Ayat 107:3
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِwa-laa yahudhdhu 'alaa tha'aami l-miskiinidan tidak mendorong memberi makan orang miskin
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَحُضُّyahudhdhumendorong
- عَلَىٰ'alaaatas
- طَعَامِtha'aamimakanan
- الْمِسْكِينِl-miskiiniorang miskin
Inti bacaan
Ciri kedua dari orang yang mendustakan hari perhitungan, dan bentuknya negatif: ada sesuatu yang tidak dilakukannya. Yang disebut bukan kekikiran pada hartanya, melainkan diamnya ketika ada perut kosong di dekatnya. Letaknya sesudah anak yatim dan tepat sebelum surah berbelok kepada mereka yang bersalat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini sama persis huruf per huruf dengan 69:34. Rangkaian (وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, wa-laa yahudhdhu 'alaa tha'aami l-miskiini) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34 dan di ayat ini, tanpa satu huruf pun yang berbeda. Kata kerja (يَحُضُّ, yahudhdhu) sendiri juga cuma muncul 2 kali, keduanya di dalam kalimat kembar itu.
Letak kembarannya menerangkan. Di 69:33 tertulis bahwa dia tidak beriman kepada Allah Yang Agung, dan 69:34 menyusul persis sesudahnya. Jadi kalimat yang sama dipakai di dua tempat, dan di kedua tempat itu ia menyusul sebuah pernyataan tentang tidak percaya. Di sini yang mendahuluinya pendustaan pertanggungjawaban, di sana ketidakberimanan kepada Allah. Kalimat yang sama menjadi bukti bagi dua pernyataan yang bertetangga.
Yang dicela di ayat ini bukan menolak memberi makan. Kata (يَحُضُّ, yahudhdhu) berarti mendorong atau menganjurkan orang lain, sehingga yang tidak dikerjakannya adalah mengajak orang lain memberi makan. Ini satu tingkat lebih rendah daripada tidak memberi sendiri. Seseorang bisa saja tidak punya apa-apa untuk diberikan, tetapi mengajak tidak memerlukan harta sama sekali. Yang dituntut di sini adalah sesuatu yang bisa dikerjakan orang yang paling miskin sekalipun.
Rangkaian (طَعَامِ الْمِسْكِينِ, tha'aami l-miskiini) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3. Di 89:18 bentuk kata kerjanya berubah menjadi bentuk saling, yaitu kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin. Jadi ketiga kemunculan rangkaian ini tentang dorongan yang tidak ada, bukan tentang makanan yang tidak diberikan. Akar (طَعَامِ, tha'aami) sendiri dipakai di 41 ayat, dan akar (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) dipakai di 66 ayat.
Susunan dua bukti pertama juga patut dicatat. Yang pertama di 107:2 perbuatan yang dikerjakan, yang kedua di sini perbuatan yang tidak dikerjakan. Yang satu tangan yang bergerak, yang lain mulut yang diam. Menaruh keduanya berurutan menutup dua pintu sekaligus, sebab orang yang tidak menghardik siapa pun masih bisa tidak mengajak siapa pun, dan surah ini menghitung keduanya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut berapa banyak yang seharusnya diberikan, tidak disebut siapa yang seharusnya diajak, dan tidak disebut dengan cara apa. Yang disebut cuma bahwa dorongan itu tidak ada. Ketiadaan ukuran menutup jalan yang paling sering dipakai orang untuk merasa sudah cukup, yaitu membandingkan diri dengan takaran tertentu. Tanpa takaran, yang tersisa cuma pertanyaan apakah ia mengajak atau tidak, dan pertanyaan itu tidak punya jawaban setengah.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri pendusta tersebut: tidak peduli terhadap orang miskin. Yang paling patut diperhatikan adalah bahwa ayat ini sama persis huruf per huruf dengan 69:34, dan di sana ia menyusul pernyataan bahwa orang itu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Jadi kalimat yang sama dipakai sebagai bukti bagi dua pernyataan yang bertetangga: mendustakan pertanggungjawaban di sini, dan tidak beriman di sana.
Yang dicela bukan menolak memberi makan. Kata kerjanya berarti mendorong atau menganjurkan orang lain, sehingga yang tidak dikerjakannya adalah mengajak. Ini satu tingkat lebih rendah daripada tidak memberi sendiri. Orang bisa saja tidak punya apa-apa untuk diberikan, tetapi mengajak tidak memerlukan harta sama sekali. Yang dituntut di sini bisa dikerjakan orang yang paling miskin sekalipun, dan justru karena itu tidak mengerjakannya menerangkan sesuatu.
Susunan dua bukti pertama menutup dua pintu sekaligus. Yang di 107:2 perbuatan yang dikerjakan, yang di sini perbuatan yang tidak dikerjakan. Yang satu tangan yang bergerak, yang lain mulut yang diam. Orang yang tidak menghardik siapa pun masih bisa tidak mengajak siapa pun, dan surah ini menghitung keduanya sebagai bukti dari pendustaan yang sama.
Rangkaian yang menyebut makanan orang miskin muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di 89:18 bentuknya berubah menjadi saling mendorong. Jadi ketiga kemunculannya tentang dorongan yang tidak ada, bukan tentang makanan yang tidak diberikan. Yang dihitung Al-Qur'an bukan cuma apa yang keluar dari tangan seseorang, melainkan juga apakah ia menggerakkan orang lain.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini sama persis huruf per huruf dengan 69:34, dan rangkaian itu muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an tanpa satu huruf pun yang berbeda. Di 69:33 Allah menyatakan bahwa orang itu tidak beriman kepada-Nya, dan 69:34 menyusul persis sesudahnya. Jadi kalimat yang sama menjadi bukti bagi dua pernyataan yang bertetangga: mendustakan pertanggungjawaban di sini, dan tidak beriman di sana. Dua pernyataan yang berbeda ternyata diuji dengan alat ukur yang sama persis.
- Yang dicela Allah bukan menolak memberi makan. Kata kerjanya berarti mendorong atau menganjurkan orang lain, sehingga yang tidak dikerjakannya adalah mengajak. Ini satu tingkat lebih rendah daripada tidak memberi sendiri. Seseorang bisa saja tidak punya apa-apa untuk diberikan, tetapi mengajak tidak memerlukan harta sama sekali. Apa yang tersisa sebagai alasan bagi orang yang bahkan tidak mengajak? Allah menaruh tuntutan pada tingkat yang tidak menyisakan alasan bagi siapa pun.
- Bukti pertama di ayat sebelumnya perbuatan yang dikerjakan, dan bukti kedua di sini perbuatan yang tidak dikerjakan. Yang satu tangan yang bergerak, yang lain mulut yang diam. Allah menaruh keduanya berurutan, dan susunan itu menutup dua pintu sekaligus. Orang yang tidak menghardik siapa pun masih bisa tidak mengajak siapa pun, dan surah ini menghitung keduanya sebagai bukti dari pendustaan yang sama. Tidak berbuat jahat ternyata belum cukup untuk lolos dari daftar ini.
- Rangkaian yang menyebut makanan orang miskin muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3. Di 89:18 bentuk kata kerjanya berubah menjadi bentuk saling, yaitu kalian tidak saling mendorong. Jadi ketiga kemunculannya tentang dorongan yang tidak ada, bukan tentang makanan yang tidak diberikan. Yang dihitung Allah bukan cuma apa yang keluar dari tangan seseorang, melainkan juga apakah ia menggerakkan orang lain.
- Kata kerja yang berarti mendorong ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34 dan 107:3, dan kedua kemunculannya berada di dalam kalimat yang sama persis. Jadi kata itu tidak pernah dipakai Allah di dalam susunan lain mana pun. Sebuah kata yang cuma hidup di satu kalimat menahan perhatian pada kalimat itu sendiri, dan kalimat itu ternyata diulang utuh di surah yang berbeda tanpa satu pun keterangan bahwa ia sedang diulang. Pengulangan yang tidak diumumkan cuma terlihat oleh pembaca yang membaca keduanya.
- Mengajak orang lain berbuat baik tidak memerlukan harta, tidak memerlukan kedudukan, dan tidak memerlukan tenaga yang banyak. Ia sesuatu yang bisa dikerjakan orang yang paling tidak punya sekalipun. Allah menaruh justru yang semurah itu sebagai bukti kedua, dan penaruhan itu menyingkirkan alasan yang paling sering dipakai orang, yaitu bahwa ia sendiri belum berkecukupan. Yang tidak punya apa-apa pun masih punya suaranya. Yang tidak punya apa-apa pun tetap punya suaranya sendiri.