وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِwa-laa yahudhdhu 'alaa tha'aami l-miskiinidan tidak mendorong memberi makan orang miskin

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يَحُضُّyahudhdhumendorong
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. طَعَامِtha'aamimakanan
  5. الْمِسْكِينِl-miskiiniorang miskin

Inti bacaan

Ciri kedua dari orang yang mendustakan hari perhitungan, dan bentuknya negatif: ada sesuatu yang tidak dilakukannya. Yang disebut bukan kekikiran pada hartanya, melainkan diamnya ketika ada perut kosong di dekatnya. Letaknya sesudah anak yatim dan tepat sebelum surah berbelok kepada mereka yang bersalat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini sama persis huruf per huruf dengan 69:34. Rangkaian (وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, wa-laa yahudhdhu 'alaa tha'aami l-miskiini) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34 dan di ayat ini, tanpa satu huruf pun yang berbeda. Kata kerja (يَحُضُّ, yahudhdhu) sendiri juga cuma muncul 2 kali, keduanya di dalam kalimat kembar itu.

Letak kembarannya menerangkan. Di 69:33 tertulis bahwa dia tidak beriman kepada Allah Yang Agung, dan 69:34 menyusul persis sesudahnya. Jadi kalimat yang sama dipakai di dua tempat, dan di kedua tempat itu ia menyusul sebuah pernyataan tentang tidak percaya. Di sini yang mendahuluinya pendustaan pertanggungjawaban, di sana ketidakberimanan kepada Allah. Kalimat yang sama menjadi bukti bagi dua pernyataan yang bertetangga.

Yang dicela di ayat ini bukan menolak memberi makan. Kata (يَحُضُّ, yahudhdhu) berarti mendorong atau menganjurkan orang lain, sehingga yang tidak dikerjakannya adalah mengajak orang lain memberi makan. Ini satu tingkat lebih rendah daripada tidak memberi sendiri. Seseorang bisa saja tidak punya apa-apa untuk diberikan, tetapi mengajak tidak memerlukan harta sama sekali. Yang dituntut di sini adalah sesuatu yang bisa dikerjakan orang yang paling miskin sekalipun.

Rangkaian (طَعَامِ الْمِسْكِينِ, tha'aami l-miskiini) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3. Di 89:18 bentuk kata kerjanya berubah menjadi bentuk saling, yaitu kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin. Jadi ketiga kemunculan rangkaian ini tentang dorongan yang tidak ada, bukan tentang makanan yang tidak diberikan. Akar (طَعَامِ, tha'aami) sendiri dipakai di 41 ayat, dan akar (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) dipakai di 66 ayat.

Susunan dua bukti pertama juga patut dicatat. Yang pertama di 107:2 perbuatan yang dikerjakan, yang kedua di sini perbuatan yang tidak dikerjakan. Yang satu tangan yang bergerak, yang lain mulut yang diam. Menaruh keduanya berurutan menutup dua pintu sekaligus, sebab orang yang tidak menghardik siapa pun masih bisa tidak mengajak siapa pun, dan surah ini menghitung keduanya.

Yang tidak disebut di ayat ini juga patut dicatat. Tidak disebut berapa banyak yang seharusnya diberikan, tidak disebut siapa yang seharusnya diajak, dan tidak disebut dengan cara apa. Yang disebut cuma bahwa dorongan itu tidak ada. Ketiadaan ukuran menutup jalan yang paling sering dipakai orang untuk merasa sudah cukup, yaitu membandingkan diri dengan takaran tertentu. Tanpa takaran, yang tersisa cuma pertanyaan apakah ia mengajak atau tidak, dan pertanyaan itu tidak punya jawaban setengah.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi ciri pendusta tersebut: tidak peduli terhadap orang miskin. Yang paling patut diperhatikan adalah bahwa ayat ini sama persis huruf per huruf dengan 69:34, dan di sana ia menyusul pernyataan bahwa orang itu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Jadi kalimat yang sama dipakai sebagai bukti bagi dua pernyataan yang bertetangga: mendustakan pertanggungjawaban di sini, dan tidak beriman di sana.

Yang dicela bukan menolak memberi makan. Kata kerjanya berarti mendorong atau menganjurkan orang lain, sehingga yang tidak dikerjakannya adalah mengajak. Ini satu tingkat lebih rendah daripada tidak memberi sendiri. Orang bisa saja tidak punya apa-apa untuk diberikan, tetapi mengajak tidak memerlukan harta sama sekali. Yang dituntut di sini bisa dikerjakan orang yang paling miskin sekalipun, dan justru karena itu tidak mengerjakannya menerangkan sesuatu.

Susunan dua bukti pertama menutup dua pintu sekaligus. Yang di 107:2 perbuatan yang dikerjakan, yang di sini perbuatan yang tidak dikerjakan. Yang satu tangan yang bergerak, yang lain mulut yang diam. Orang yang tidak menghardik siapa pun masih bisa tidak mengajak siapa pun, dan surah ini menghitung keduanya sebagai bukti dari pendustaan yang sama.

Rangkaian yang menyebut makanan orang miskin muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di 89:18 bentuknya berubah menjadi saling mendorong. Jadi ketiga kemunculannya tentang dorongan yang tidak ada, bukan tentang makanan yang tidak diberikan. Yang dihitung Al-Qur'an bukan cuma apa yang keluar dari tangan seseorang, melainkan juga apakah ia menggerakkan orang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini sama persis huruf per huruf dengan 69:34, dan rangkaian itu muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an tanpa satu huruf pun yang berbeda. Di 69:33 Allah menyatakan bahwa orang itu tidak beriman kepada-Nya, dan 69:34 menyusul persis sesudahnya. Jadi kalimat yang sama menjadi bukti bagi dua pernyataan yang bertetangga: mendustakan pertanggungjawaban di sini, dan tidak beriman di sana. Dua pernyataan yang berbeda ternyata diuji dengan alat ukur yang sama persis.
  • Yang dicela Allah bukan menolak memberi makan. Kata kerjanya berarti mendorong atau menganjurkan orang lain, sehingga yang tidak dikerjakannya adalah mengajak. Ini satu tingkat lebih rendah daripada tidak memberi sendiri. Seseorang bisa saja tidak punya apa-apa untuk diberikan, tetapi mengajak tidak memerlukan harta sama sekali. Apa yang tersisa sebagai alasan bagi orang yang bahkan tidak mengajak? Allah menaruh tuntutan pada tingkat yang tidak menyisakan alasan bagi siapa pun.
  • Bukti pertama di ayat sebelumnya perbuatan yang dikerjakan, dan bukti kedua di sini perbuatan yang tidak dikerjakan. Yang satu tangan yang bergerak, yang lain mulut yang diam. Allah menaruh keduanya berurutan, dan susunan itu menutup dua pintu sekaligus. Orang yang tidak menghardik siapa pun masih bisa tidak mengajak siapa pun, dan surah ini menghitung keduanya sebagai bukti dari pendustaan yang sama. Tidak berbuat jahat ternyata belum cukup untuk lolos dari daftar ini.
  • Rangkaian yang menyebut makanan orang miskin muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3. Di 89:18 bentuk kata kerjanya berubah menjadi bentuk saling, yaitu kalian tidak saling mendorong. Jadi ketiga kemunculannya tentang dorongan yang tidak ada, bukan tentang makanan yang tidak diberikan. Yang dihitung Allah bukan cuma apa yang keluar dari tangan seseorang, melainkan juga apakah ia menggerakkan orang lain.
  • Kata kerja yang berarti mendorong ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 69:34 dan 107:3, dan kedua kemunculannya berada di dalam kalimat yang sama persis. Jadi kata itu tidak pernah dipakai Allah di dalam susunan lain mana pun. Sebuah kata yang cuma hidup di satu kalimat menahan perhatian pada kalimat itu sendiri, dan kalimat itu ternyata diulang utuh di surah yang berbeda tanpa satu pun keterangan bahwa ia sedang diulang. Pengulangan yang tidak diumumkan cuma terlihat oleh pembaca yang membaca keduanya.
  • Mengajak orang lain berbuat baik tidak memerlukan harta, tidak memerlukan kedudukan, dan tidak memerlukan tenaga yang banyak. Ia sesuatu yang bisa dikerjakan orang yang paling tidak punya sekalipun. Allah menaruh justru yang semurah itu sebagai bukti kedua, dan penaruhan itu menyingkirkan alasan yang paling sering dipakai orang, yaitu bahwa ia sendiri belum berkecukupan. Yang tidak punya apa-apa pun masih punya suaranya. Yang tidak punya apa-apa pun tetap punya suaranya sendiri.